Archiv für die Kategorie ‘Studi’

Era globalisasi dan kehidupan di dalam masyarakat multikultural memberi tantangan tersendiri untuk kita. Oleh karena itu, kita memerlukan berbagai kompetensi untuk dapat secara fleksibel beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah dengan sangat cepat dan memerlukan jaringan yang kuat. Kompetensi utama seperti pendidikan formal, kompetensi sosial, inisiatif pribadi dan kompetensi kewirausahaan atau melek komputer termasuk bahasa asing dan kompetensi antar budaya sangat diperlukan agar dapat berkompetisi di dunia nyata.

Strategi untuk pergaulan dengan orang dari latar belakang budaya berbeda dan pengembangan kompetensi antarbudaya yang kuat saat ini adalah tugas penting dari pengajaran bahasa asing, yang diharapkan dapat berkontribusi positif dalam kehidupan masyarakat multikultural. Selain kompetensi bahasa asing, kompetensi antarbudaya dianggap sebagai instrumen penting untuk berkomunikasi dan bertindak dalam masyarakat yang majemuk dan dunia ekonomi global. Pelajaran bahasa asing di lembaga pendidikan formal memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengenal budaya bahasa tujuan dan juga untuk lebih mengenal budaya dan kekhususan budaya mereka sendiri.

Orang yang tahu apa yang dibutuhkan untuk komunikasi yang sukses dapat mengimbangi kurangnya pengetahuan konkret. Memahami budaya asing, mengurangi prasangka, dan kemampuan untuk mentolerir adalah tiga buah aspek yang membentuk dasar untuk strategi yang diperlukan dalam komunikasi antarbudaya. Knapp-Potthoff (1997) lebih lanjut membedakan dua jenis strategi utama, sebagai berikut:

Agar komunikasi antarbudaya dapat terjalin dengan sukses, seseorang tidak perlu merasa terancam dengan identitasnya sendiri. Misalnya, sebagai orang Indonesia kita tidak perlu menjadi orang Jerman, orang Inggris, Portugis, Turki atau Cina dengan harapan agar kita diterima dalam berkomunikasi. Menjadi diri sendiri, berusaha menjadi toleran, dan empatik adalah cara terbaik untuk mengenal konvensi bahasa dan perilaku budaya lain.

Antara pengajaran kompetensi antarbudaya dan pendidikan bahasa asing harus ada hubungan yang erat. Pengajaran bahasa asing sebagai tempat untuk pertemuan sistematis antara pelajar dan budaya asing dengan semua dimensinya dapat menjadi sebuah tindakan antarbudaya. Namun, untuk menyampaikan tujuan pembelajaran yang kompleks dari kompetensi komunikatif antarbudaya, bentuk-bentuk tradisional pengajaran dan konten perlu dipertimbangkan kembali.

Dalam didaktik bahasa asing, pendekatan kognitif, komunikatif, dan interkultural berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pendekatan kognitif berfokus pada komunikasi materi faktual, numerik dan data pada struktur politik, geografi, dan ekonomi dari budaya bahasa target. Masa kejayaan pendekatan faktual dapat dilihat pada tahun 1970-an dan 1980-an. Di sisi lain, elemen pendekatan komunikatif telah ditambahkan ke pengajaran bahasa saat ini.

Pendekatan komunikatif adalah dasar dari pendekatan antarbudaya. Pendekatan komunikatif sebagian besar didasarkan pada situasi kehidupan sehari-hari, misalnya bagaimana orang tinggal, bekerja, mendidik diri mereka sendiri, makan, dll. Tujuan paling penting dari kompetensi komunikatif untuk para pembelajar adalah untuk dapat berkomunikasi secara linguistik dengan perwakilan dari budaya bahasa target dalam situasi yang berbeda. Tujuannya adalah seorang pemelajar bahasa asing dapat mencapai tahap “native speaker” (Bredella, 1999: 89). Pendekatan antarbudaya terutama ditujukan pada pemahaman budaya asing. Pendekatan ini mempertanyakan istilah “native speaker” yang kurang realistis. Konsep “intercultural speaker” diperkenalkan sebagai pengganti atas istilah „native speaker“ (Byram, 1997: 32; Kramsch, 1998).

Aturan, konvensi, nilai-nilai dan sikap yang berlaku dalam budaya asing harus betul-betil diperhatikan. Hal tersebut untuk menghindarkan kita misalnya dari permasalahan tabu dalam lingkaran budaya itu. Menurut pendekatan ini pemelajar tidak dituntut untuk berbicara dengan struktur kebahasaan yang sempurna. Mereka hanya harus belajar berkomunikasi dalam situasi antarbudaya. Sebagai kesimpulan, dapat dinyatakan bahwa perbandingan budaya menjadi semakin penting dan bahwa seseorang seharusnya tidak hanya dapat berbicara dengan orang yang berasal dari negara bahasa tujuan, tetapi ia juga harus memahami aturan, konvensi, nilai-nilai serta sikap terhadap bahasa sasaran. Dalam arti harfiah, interkultural berarti bahwa pemelajar dalam pengajaran bahasa berdiri di antara budaya.

Dalam pengajaran dan pelatihan kompetensi antarbudaya, dua pendekatan dalam didaktik bahasa asing antarbudaya telah dikembangkan:

Pendekatan pertama menyebutkan bahwa kemampuan linguistik tidak diperlukan untuk keberhasilan komunikasi antarbudaya. Kesalahan linguistik yang dilakukan oleh guru dan pemelajar bahasa asing tidak lebih buruk dibandingkan jika mereka melanggar konvensi komunikasi dan tidak memahami „dos & don’ts“ dari budaya lain. Tujuan pembelajaran dalam pengajaran bahasa asing pada dasarnya adalah bahwa pemelajar mampu bersosialisasi dan memelihara kontak sosial tanpa menekankan kebenaran kebahasaan (linguistik).

Pendekatan lainnya adalah bahwa pengajaran bahasa asing seharusnya tidak mengabaikan kemampuan bahasa. Kompetensi antarbudaya tumbuh dari kompetensi komunikatif.

Disarikan dari artikel berjudul:

ZUM ERWERB VON INTERKULTURELLER KOMPETENZ IM FREMDSPRACHENUNTERRICHT

Penulis:

Mihaela ZOGRAFI

Menurut konsep yang dikemukakan oleh Knapp-Potthoff, ada berbagai tingkatan interkultural. Namun, dalam hal ini fokus yang akan dibahas adalah mengenai lintas budaya ketika menyangkut kontak antara komunitas komunikasi yang menggunakan bahasa yang berbeda.

Proses pembelajaran budaya dapat terjadi baik pada tingkat pengalaman pembelajaran yang tidak direncanakan, informal, ataupun spontan ketika ada kontak budaya secara langsung. Namun, dapat terjadi juga melalui pembelajaran formal, misalnya dalam persiapan untuk kontak antar budaya, seperti dalam pengajaran bahasa asing. Pentingnya pembelajaran antarbudaya untuk pengajaran bahasa asing saat ini tidak dapat ditawar lagi.

Pemerolehan pengetahuan tentang budaya asing dan pengembangan kompetensi antar budaya disebut oleh Byram (1990) dan Doyé (1992) sebagai „sosialisasi tersier“. Sosialisasi primer dapat kita pahami bahwa setiap orang merupakan bagian dari keluarga. Sementara itu, karena setiap orang menjadi bagian dari lingkungan dan masyarakat yang lebih luas, maka hal itu disebut sebagai sosialisasi sekunder. Dalam sosialisasi tersier, setiap orang bersosialisasi melampaui lingkungan masyarakat sekitarnya, yaitu belajar untuk bergerak di luar budaya asal (Boeckmann 1997).

Tiga dimensi utama interkultural dalam pemebelajaran bahasa asing menurut Klaus-Börge Boeckmann (2006) adalah sebagai berikut:

  1. Konteks pengajaran / pembelajaran (Lehr- / Lernkontext),
  2. Proses belajar mengajar (Lehr-/ Lernprozess), dan
  3. Tujuan mengajar / belajar (Lehr-/ Lernziel).

Dimensi konteks pengajaran sering pula disebut dengan istilah dalam bahasa Jerman „Interkulturelles Lernen“ (pembelajaran antarbudaya), sedangkan dimensi tujuan belajar sering disebut dengan istilah „Interkulturelle (kommunikative) Kompetenz“ (kompetensi komunikatif antarbudaya). Menurut Boeckmann, pengembangan kurikulum dan bentuk-bentuk latihan, misalnya, harus memperhatikan ketiga dimensi tersebut. Berikut penjelasan singkat mengenai tiga dimensi tersebut:

Dimensi Pertama: Konteks pengajaran / pembelajaran (Lehr- / Lernkontext)

Salah satu bagian penting dari jejak budaya kita terima melalui proses pengajaran dan pembelajaran formal dan informal yang berlangsung secara kultural spesifik. Tradisi pengajaran dan pembelajaran yang sudah berlangsung selama berabad-abad menentukan bagaimana situasi pengajaran dan pembelajaran dibentuk, tidak terkecuali untuk pembelajaran bahasa kedua dan bahasa asing. Ini berarti bahwa penggunaan metode pengajaran tertentu, seperti yang disarankan oleh buku teks, memberikan informasi budaya dan dengan demikian menciptakan situasi antarbudaya.

Dimensi Kedua: Proses belajar mengajar (Lehr-/ Lernprozess)

Apa yang sebenarnya terjadi dalam proses belajar dan pembelajaran antarbudaya? Tidak seperti banyak proses pembelajaran, yang dapat dianggap sebagai memperoleh pengetahuan atau keterampilan tambahan, dalam pembelajaran antarbudaya, seperti dalam proses pembelajaran tertentu lainnya, disposisi kognitif yang ada harus dipisahkan. Karena proses ini menyentuh identitas kultural seseorang, yaitu mempengaruhi lapisan kepribadian yang relatif dalam, ia bisa menjadi sangat „aneh“, mengganggu, dan memunculkan krisis serta konflik, bahkan dapat mengejutkan.

Pembelajaran interkultural berarti juga memperoleh sebuah pengetahuan baru. Namun, banyak dari pengetahuan ini tidak bersifat deklaratif, tetapi prosedural. Ini bukan menyangkut tentang isi, tetapi pada dasarnya tentang aplikasi pengetahuan, yaitu semacam proses metakognitif.

Cara kerja pembelajaran antarbudaya sebagai suatu proses dan bagaimana proses belajar mengajar ini dapat dioptimalkan adalah hal yang penting setidaknya untuk tiga penelitian dan bidang praktis yang terkait: untuk pembelajaran bahasa kedua, untuk pembelajaran bahasa asing, dan untuk pelatihan antarbudaya.

Dimensi Ketiga: Tujuan mengajar / belajar (Lehr-/ Lernziel)

Sementara itu, interkulturalitas secara teratur muncul sebagai tujuan eksplisit dari pengajaran bahasa kedua dan bahasa asing serta sering dipahami sebagai „kompetensi antarbudaya“ (Interkulturelle Kompetenz) atau Byram (1997) menyebutnya sebagai „kompetensi komunikatif antarbudaya“ sebagai perluasan dari „kompetensi komunikatif“ yang ditujukan untuk pengajaran bahasa asing komunikatif. Berbagai penelitian mengenai tersebut telah dilakukan oleh beberapa ahli, antara lain oleh Seelye (1974; 1993), Byram (1997), Knapp-Potthoff (1997), dan Bolten (2003). Bukan hanya pengetahuan, seperti pengetahuan budaya tentang budaya ‚target‘ yang harus diajarkan, tetapi pelatihan keterampilan seperti empati atau toleransi harus pula diajarkan.

Disarikan dari artikel:

„Dimensionen von Interkulturalität im Kontext des Fremd- und Zweitsprachenunterrichts“ dalam Zeitschrift für Interkulturellen Fremdsprachenunterricht 11 :3, 2006, 19 hal.

Penulis: Klaus-Börge Boeckmann

 

Volkmann et al. (2002: 23) nennen Lernziele der Interkulturellen Kompetenz wie folgt:

  • Kenntnisse der interkulturellen Kodes, des Selbstimage der eigenen Kultur;
  • Wissen um das sog. ‚fremde Heterostereotyp’, d.h. wie Mitglieder einer anderen Kultur subjektiv betrachten;
  • Wissen um konventionelle Stereotype, welche die Wahrnehmung der anderen Kultur kontrollieren und beeinflussen;
  • Wissen um konventionelle Stereotype, welche das Bild des eigenen Lands in der anderen Kultur prägen;
  • Wissen um heterogene Struktur der eigenen und fremden Kultur, um Teil-, Sub- und Alternativkulturen;
  • Keine blinde Übernahme der kulturellen Standards der anderen Kultur: “eine zu starke mimicry wird in der Regel sogar als unangenehm empfunden.” (Donnerstag 1997: 32);
  • Rückgriff auf in der eigenen Kultur erworbene Kommunikationsstrategien;
  • Die Fähigkeit, kulturelle Barrieren “bewusst und kompetent zu überschreiten” (Arend-Herlyn 2001: 46);
  • Der Unterricht kann Situationen modellieren, identifizieren oder vorstellen, welche interkulturelle Konfliktelemente in sich tragen (sog. Critical Incidents).

 

Quelle:

Arend-Herlyn, M., (2001): Interkulturelle Kompetenz und TZI. Themenzentrierte Interaktion, 15/1, 42-51.

Donnerstag, Jürgen, (1997): „Landeskunde vs Interkulturalität: Zu den Grundlagen interkulturellen Lernens im Fach Englisch” in Wolfgang Börner; Klaus Vogel (Hrsg.) 1997, 21-36.

Volkmann, Laurenz; Stiertorfer, Klaus; Gehring, Wolfgang (Hrsg.), (2002): Interkulturelle Kompetenz. Konzepte und Praxis des Unterrichts. Tübingen: Gunter Narr Verlag.

Gudykunst menggunakan 47 aksioma sebagai blok bangunan untuk teorema Anxiety / Uncertainty Management (AUM). Aksioma dapat dianggap sebagai denominator umum terendah dari mana semua teorema kausal berasal.

Self-concepts

Aksioma satu sampai lima semuanya berhubungan dengan pandangan kita tentang diri kita sendiri, atau konsep diri. Menurut Gudykunst aksioma tersebut mencakup identitas pribadi, identitas sosial, dan harga diri kolektif dalam kategori ini. Identitas sosial digunakan ketika kita mencoba memprediksi perilaku antarkelompok dan identitas pribadi yang secara alami digunakan untuk perilaku interpersonal. Kedua hal itu bertindak sedemikian rupa untuk membantu kita mengelola ketidakpastian dan kecemasan dengan memprediksikan perilaku yang cukup. Jika salah satu dari identitas ini merasa terancam, Gudykunst percaya bahwa kita akan berusaha untuk meningkatkan harga diri dan karenanya mendorong hasil yang lebih positif. Semakin besar harga diri kita, semakin baik kita mampu mengelola kecemasan kita.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
1 Peningkatan tingkat di mana identitas sosial kita memandu interaksi kita dengan orang asing sehingga akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita aman dalam identitas sosial kita, kita tidak peduli, jika orang asing dianggap oleh anggota luar kelompok yang khas, dan ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum kita.
2 Peningkatan kecemasan dan kemampuan untuk memprediksi perilaku orang asing. Aksioma ini hanya berlaku dalam budaya individualistik, ketika kita tidak sadar, kita aman dalam identitas pribadi kita, dan kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum.
3 Peningkatan harga diri kita ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
4 Peningkatan harga diri kolektif ingroup-spesifik ketika berinteraksi dengan orang asing dari kelompok luar berdasarkan ingroup tertentu akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku untuk ingroup yang mendasari harga diri kolektif, ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum kita, dan ketika kita tidak sadar.
5 Peningkatan ancaman yang dirasakan terhadap identitas sosial kita dalam berinteraksi dengan orang asing akan meningkatkan kecemasan kita dan menurunkan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita tidak sadar.

 

Motivation

Aksioma selanjutnya menunjukkan bahwa motivasi kita untuk berinteraksi dengan orang asing secara langsung berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan. Pertama, kita harus mempercayai orang lain untuk berperilaku baik atau setidaknya dengan cara yang diharapkan. Kedua, dan hanya dalam konteks hubungan antarkelompok, kita harus berempati dengan kelompok atau mengembangkan rasa takut.. Paradoksnya, kebutuhan ketiga yang Gudykunst tunjukkan adalah kebutuhan kita akan konfirmasi konsep diri. Kita ingin dimasukkan ke dalam sebuah kelompok tertentu, tetapi jangan sampai identitas sendiri menjadi hilang.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
6 Peningkatan kebutuhan kita untuk inklusi kelompok ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita tidak sadar.
7 Peningkatan kebutuhan kita untuk mempertahankan konsep diri kita ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita tidak sadar.
8 Peningkatan dalam tingkat yang orang asing mengkonfirmasi konsep diri kita akan menghasilkan penurunan kecemasan kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum kita, dan ketika kita tidak sadar.
9 Peningkatan kepercayaan diri, kemampuan kita untuk memprediksi perilaku orang asingnakan menyebabkan berkurangnya kecemasan kita; Penurunan kecemasan kita akan meningkatkan kepercayaan diri kita dengan memprediksi perilaku orang asing. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum kita, dan ketika kita tidak sadar.

 

Reactions to strangers

Kita cenderung bertindak lebih baik terhadap orang asing yang bertemu dengan kita. Dalam hal ini, kita memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk menunjukkan empati, mentolerir lebih banyak ambiguitas, dan memiliki sikap sosial yang tidak terlalu kaku. Sikap yang kaku, atau pemikiran yang berpikiran sempit, membuat kita mencari cara untuk mengakhiri sebuah interaksi dengan cara yang paling langsung. Jika kita menunjukkan empati dan mencoba untuk berpikir secara lebih obyektif tentang perspektif orang asing, kita harus lebih memposisikan diri untuk menerima lebih banyak ambiguitas dan mencari solusi yang paling tepat.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
10 Peningkatan kemampuan kita untuk memproses informasi secara kompleks tentang orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan dan peningkatan kemampuan kami untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
11 Peningkatan kekakuan sikap kita terhadap orang asing akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita dan penurunan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
12 Peningkatan orientasi ketidakpastian kita akan menghasilkan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku orang asing secara akurat Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
13 Peningkatan toleransi kita terhadap ambiguitas akan menghasilkan penurunan kecemasan kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
14 Peningkatan kemampuan kita untuk berempati dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita menghormati orang asing dan ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
15 Peningkatan tingkat di mana orang asing berkumpul ke arah kita akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku dalam budaya individualistik ketika kita aman dalam identitas sosial kita dan kita tidak melihat ancaman dari orang asing, ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.

 

Social categorization of strangers

Tujuh aksioma berikutnya dari teori ini berfokus pada bagaimana orang-orang mengkategorikan dirinya di dalam lingkungan sosial. Ketika orang mengkategorikan diri mereka, mereka menjadi sadar menjadi anggota ingroup dan outgroup, yang menghasilkan kecemasan dan ketidakpastian. Orang cenderung memiliki lebih banyak kategori untuk ingroup mereka daripada yang mereka lakukan untuk outgroup. Namun, semakin mereka akrab dengan outgroup, maka semakin banyak kategori yang bisa mereka lihat. Kategori yang dibuat orang untuk kelompok luar akan mengarah pada harapan tentang perilaku anggota kelompok itu, yang dapat berupa positif atau negatif. Ekspektasi membantu orang untuk dapat memprediksi baik secara akurat atau tidak akurat mengenai perilaku orang asing.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
16 Peningkatan pemahaman kita tentang persamaan dan perbedaan antara kelompok kita dan kelompok orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk secara akurat memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum kita, kita tidak sadar, dan hanya untuk orang asing yang sangat mengidentifikasi dengan kelompok mereka.
17 Peningkatan kemiripan pribadi yang kita rasakan antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
18 Peningkatan kemampuan kita untuk mengkategorikan orang asing dalam kategori yang sama yang mereka kategorikan sendiri akan menghasilkan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
19 Peningkatan variabilitas yang kita rasakan dalam kelompok orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
20 Peningkatan dalam merasakan bahwa kita berbagi identitas ingroup yang lebih tinggi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
21 Peningkatan harapan positif kita terhadap perilaku orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku saat kecemasan dan ketidakpastian berada di antara batas minimum dan minimum kita, dan kita tidak sadar.
22 Peningkatan kemampuan kita untuk menunda ekspektasi negatif kita terhadap perilaku orang asing ketika mereka diaktifkan akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita memperhatikan proses komunikasi, dan kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum kita.

 

Situational processes

Empat aksioma berikutnya didasarkan pada situasi di mana komunikasi terjadi. Orang-orang memiliki skrip yang berbeda yang mereka harapkan untuk mengikuti situasi tertentu, sama halnya seperti aktor yang harus berdialog sesuai dengan naskah film. Kesalahpahaman terjadi ketika orang mengikuti skrip yang mereka anggap akrab bagi orang asing yang mereka ajak berkomunikasi. Orang bereaksi berbeda terhadap orang asing, tergantung pada kondisi di mana mereka berinteraksi.

Orang-orang juga cenderung memiliki lebih sedikit kecemasan ketika ada anggota lain dari ingroup mereka yang hadir. Kekuatan juga memengaruhi komunikasi, dan orang yang merasa memiliki kekuatan lebih sedikit daripada orang asing dalam suatu interaksi akan merasa lebih cemas terhadap interaksi tersebut.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
23 Peningkatan struktur kooperatif dari tugas yang kita lakukan dengan orang asing akan menyebabkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kepercayaan diri dalam memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
24 Peningkatan dukungan normatif dan kelembagaan untuk komunikasi dengan orang asing menyebabkan penurunan kecemasan kita dan meningkatkan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
25 Peningkatan persentase keanggotaan dalam kelompok yang hadir dalam satu momen tertentu menyebabkan penurunan kecemasan. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
26 Peningkatan kekuatan yang kita rasakan terhadap orang asing akan menyebabkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan akurasi prediksi kita tentang perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.

 

Connections with strangers

Aksioma lima berikutnya didasarkan pada koneksi antara orang-orang. Apa yang dihadapi aksioma adalah semakin banyak orang yang terhubung dengan orang asing, semakin sedikit kecemasan dan ketidakpastian yang mereka rasakan dalam berkomunikasi dengan mereka. Koneksi ini berasal dari daya tarik, interdependensi, tingkat keintiman, dan jumlah orang yang sama yang dikenal oleh kedua komunikator.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
27 Peningkatan ketertarikan kita kepada orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kepercayaan diri kita dalam memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
28 Meningkatkan kuantitas dan kualitas kontak kita dengan orang asing dan anggota kelompok mereka akan mengurangi kecemasan kita dan meningkatkan kemampuan kita untuk secara akurat memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
29 Peningkatan interdependensi kita dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
30 Peningkatan keintiman hubungan kita akan menghasilkan pengurangan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk secara akurat memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku untuk tren luas lintas tahap pengembangan hubungan. Dalam setiap tahap pengembangan hubungan atau dalam percakapan tertentu, kecemasan dan ketidakpastian berfluktuasi (yaitu bertindak sebagai dialektika). Aksioma hanya berlaku ketika kita tidak sadar.
31 Peningkatan jaringan yang kita bagi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk secara akurat memprediksi perilaku mereka. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.

 

Ethical interactions

Tiga aksioma berikutnya didasarkan pada martabat dan rasa hormat. Martabat dan rasa hormat diasumsikan akan dikembalikan lagi kepada kita ketika diberikan kepada orang asing. Ini mengarah pada inklusivitas moral, yang baik untuk interaksi dengan orang asing karena kedua belah pihak mengharapkan aturan main yang adil untuk diterapkan pada mereka. Mengabaikan orang asing secara moral contohnya adalah mereka hampir diperlakukan seperti tidak ada atau tidak diperhatikan.

Inklusivitas moral berlaku tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga bagi orang-orang yang tidak aktif terlibat dalam komunikasi dengan orang asing. Sebagai contoh, ketika seseorang membuat pernyataan anti-prasangka, kecil kemungkinannya bahwa orang yang bekerja dengannya akan membuat pernyataan yang bias kepada orang asing.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
32 Peningkatan kemampuan kita untuk mempertahankan martabat kita sendiri dan orang asing dalam interaksi kita dengan mereka akan menghasilkan penurunan kecemasan kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
33 Peningkatan rasa hormat kita kepada orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.
34 Peningkatan inklusif moral kita terhadap orang asing akan menyebabkan penurunan kecemasan kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan kita berada di antara batas minimum dan maksimum, dan kita tidak sadar.

 

Anxiety, uncertainty, mindfulness, and effective communication

Langer mengatakan bahwa perhatian untuk membuat kategori baru, berarti keterbukaan informasi baru dan persepsi prospek asing. Mindfulness adalah hal yang penting untuk komunikasi efektif dan kita harus mengembangkan cara-cara sadar untuk belajar tentang orang asing. Langer menyimpulkan bahwa ini harus mencakup: Keterbukaan untuk hal baru, kesadaran atas perbedaan, kepekaan terhadap konteks yang berbeda, kesadaran atas berbagai perspektif dan berorientasi pada saat ini. Misalnya, orang asing cenderung lebih penuh perhatian dan mampu merundingkan interaksi sosial yang berpotensi bermasalah secara lebih efektif daripada anggota kelompok sendiri.

Oleh karena itu, anggota kelompok harus menyadari proses komunikasi, bukan hasil dari interaksi yang harus diperhatikan. Berikut lima aksioma yang penting untuk komunikasi yang efektif, karena mereka fokus pada akar penyebab dan proses komunikasi yang efektif, sedangkan sebelumnya 34 aksioma berfokus pada pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian kita ketika berkomunikasi dengan orang asing.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
35 Peningkatan kemampuan kita untuk menggambarkan perilaku orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita sadar akan proses komunikasi, kita tidak terlalu waspada, dan kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum.
36 Peningkatan pengetahuan kita tentang bahasa asing dan / atau dialek akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi perilaku mereka secara akurat. Aksioma ini hanya berlaku ketika kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum kita, dan ketika kita tidak sadar.
37 Peningkatan dalam kesadaran kita akan proses komunikasi kita dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan kita untuk mengelola kecemasan kita dan peningkatan kemampuan kita untuk mengelola ketidakpastian kita. Aksioma ini hanya berlaku jika kita tidak terlalu waspada.
38 Peningkatan dalam mengenali secara sadar dan memperbaiki kesalahan pragmatis yang terjadi dalam percakapan kita dengan orang asing memfasilitasi negosiasi dengan orang asing yang akan menghasilkan peningkatan keefektifan komunikasi kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita sadar akan proses komunikasi dan kita tidak terlalu waspada, dan kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum.
39 Peningkatan kemampuan kita untuk mengelola kecemasan kita tentang berinteraksi dengan orang asing dan peningkatan akurasi prediksi dan penjelasan kita mengenai perilaku mereka akan menghasilkan peningkatan efektivitas komunikasi kita. Aksioma ini hanya berlaku ketika kita sadar akan proses komunikasi dan kita tidak terlalu waspada, dan kecemasan dan ketidakpastian kita berada di antara batas minimum dan maksimum.

 

Cross-cultural variability in AUM processes

Gudykunst yakin bahwa kelengkapan teori memerlukan tingkat analisis budaya dan bahwa aksioma variabilitas budaya hanya harus diuji pada tingkat budaya. Penting untuk membahas variabilitas antarbudaya dalam komponen utama teori, karena jenis kecemasan yang berbeda lebih ditekankan dalam beberapa budaya daripada yang lain. Ini karena ada perbedaan dalam dinamika hubungan antarbudaya. Sebagai contoh, Triandis menunjukkan bahwa budaya kolektivis membuat perbedaan yang lebih kuat antara anggota ingroup dan outgroup, sementara anggota budaya individualistik biasanya berbeda sangat tajam di antara kelompok etnis yang berbeda.

Aksioma Deskripsi Kondisi Batas
40 Peningkatan kolektivisme budaya akan menghasilkan peningkatan ketajaman yang membedakan orang asing-ingroup. Aksioma ini tidak berlaku untuk hubungan orang asing-ingroup berdasarkan etnis, dan ketika kita sadar.
41 Peningkatan penghindaran ketidakpastian budaya akan menghasilkan peningkatan xenofobia anggota ingroup tentang interaksi dengan orang asing. Aksioma ini tidak berlaku ketika kita sadar.
42 Peningkatan maskulinitas budaya akan menghasilkan peningkatan ketajaman perbedaan orang asing-ingroup yang ditarik untuk hubungan lawan jenis. Aksioma ini tidak berlaku ketika kita sadar.
43 Peningkatan jarak kekuasaan budaya akan menghasilkan peningkatan ketajaman perbedaan orang asing-ingroup yang ditarik untuk hubungan yang melibatkan status yang tidak setara. Aksioma ini tidak berlaku ketika kita sadar.
44 Peningkatan penghindaran ketidakpastian budaya akan menghasilkan peningkatan ketajaman perbedaan orang asing-ingroup yang ditarik berdasarkan usia. Aksioma ini tidak berlaku untuk komunikasi antargenerasi di dalam keluarga atau ketika kita sadar.
45 Peningkatan individualisme budaya akan menghasilkan peningkatan penggunaan informasi berbasis personel ingroup untuk mengelola ketidakpastian dengan orang asing; peningkatan kolektivisme budaya akan menghasilkan peningkatan penggunaan anggota ingroup berbasis kelompok dan informasi berbasis situasi untuk mengelola ketidakpastian dengan orang asing. Aksioma ini tidak berlaku ketika kita sadar.
46 Ketika ada aturan yang jelas untuk interaksi orang asing-ingroup, peningkatan penghindaran ketidakpastian budaya akan menghasilkan penurunan kecemasan dan ketidakpastian yang dialami berkomunikasi dengan orang asing. Ketika tidak ada aturan yang jelas untuk interaksi orang asing-ingroup, peningkatan penghindaran ketidakpastian budaya akan menghasilkan peningkatan kecemasan dan ketidakpastian yang dialami berinteraksi dengan orang asing. Aksioma ini tidak berlaku ketika kita sadar.
47 Peningkatan individualisme budaya akan menghasilkan peningkatan fokus pada pemahaman kognitif untuk berkomunikasi secara efektif dengan orang asing. Peningkatan kolektivisme budaya akan menghasilkan peningkatan fokus pada menjaga hubungan baik antara komunikator untuk berkomunikasi secara efektif. Aksioma ini tidak berlaku ketika kita sadar.

(mehr …)

Teori Anxiety / Uncertainty Management (AUM) diperkenalkan oleh William B. Gudykunst untuk mendefinisikan bagaimana manusia berkomunikasi secara efektif berdasarkan keseimbangan kecemasan dan ketidakpastian mereka dalam situasi sosial. Gudykunst percaya bahwa agar komunikasi antarbudaya sukses, pengurangan kecemasan atau ketidakpastian harus terjadi. Ia berasumsi bahwa satu orang dalam pertemuan antarbudaya adalah orang asing.

AUM adalah teori yang didasarkan pada Uncertainty Reduction Theory (URT) yang diperkenalkan oleh Berger dan Calabrese pada tahun 1974. URT menyediakan banyak kerangka awal untuk AUM. dan sangat mirip dengan teori-teori lain dalam bidang komunikasi. AUM adalah teori yang terus berkembang yang didasari oleh pengamatan perilaku manusia dalam situasi sosial.

URT didasarkan pada proses pemikiran manusia dan pendekatan mereka terhadap situasi sosial di mana mereka memiliki ketidakpastian. URT menunjukkan bahwa ketidakpastian berasal dari upaya manusia untuk „secara proaktif memprediksi sikap, nilai, perasaan, keyakinan, dan perilaku orang lain“ ketika terjadinya pertemuan sosial. Manusia berusaha untuk mengurangi ketidakpastian mereka dalam pertemuan sosial ketika ada motivasi untuk melakukannya, URT menyoroti tiga motivasi inti, yaitu sebagai berikut: 1) mereka mengantisipasi interaksi sosial lainnya pada titik waktu lain, 2) penerima memiliki sesuatu yang dibutuhkan atau diinginkan manusia sebagai bentuk hadiah dan / atau 3) penerima bertindak dalam hal aneh atau menyimpang yang tidak diharapkan.

Berger mengidentifikasi 7 aksioma dan 21 teorema dalam URT. Teorema-teorema tersebut memberikan inspirasi untuk teori-teori komunikasi selanjutnya, salah satunya adalah AUM. AUM menggunakan landasan URT untuk memformulasikan 47 aksioma. AUM mengintegrasikan manajemen kecemasan manusia dalam situasi sosial serta manajemen ketidakpastian mereka. AUM dibangun berdasarkan fokus URT pada komunikasi individu atau komunikasi satu lawan satu. Aksioma dan teorema berfokus pada komunikasi antarbudaya dan antarkelompok.

AUM menggabungkan URT dan hasil penelitian Stephan dan Stephan pada kecemasan dalam aksioma-nya untuk memperluas URT dalam menjelaskan komunikasi antarkelompok. AUM berfokus pada pengurangan kecemasan dan ketidakpastian. Hasil URT hanya untuk mengurangi ketidakpastian, sedangkan hasil AUM adalah untuk adaptasi budaya dan bukan semata-mata pengurangan ketidakpastian. Perbedaan yang melekat adalah bahwa mengelola kecemasan adalah mempertahankannya antara batas minimum dan maksimum di sepanjang spektrum sambil mengurangi kecemasan tidak searah. Untuk menciptakan komunikasi yang efektif, Gudykunst menyebut penelitiannya: Anxiety / Uncertainty Management theory (AUM).

Gudykunst berasumsi bahwa setidaknya satu orang dalam perjumpaan antarbudaya adalah orang asing. Dia berpendapat bahwa orang asing mengalami kecemasan dan ketidakpastian; mereka tidak merasa aman dan mereka tidak yakin bagaimana harus bersikap. Gudykunst mencatat bahwa orang asing dan anggota dalam kelompok mengalami beberapa tingkat kecemasan dan ketidakpastian dalam situasi interpersonal baru, tetapi ketika pertemuan itu terjadi antara orang-orang dari budaya yang berbeda, orang asing terlalu memandang berlebihan tentang perbedaan budaya. Mereka kemudian cenderung melebih-lebihkan pengaruh identitas budaya pada perilaku orang dalam masyarakat asing sehingga dapat mengaburkan perbedaan individu.

Tujuan pertama AUM adalah menjadi aplikasi praktis dengan tingkat kebermanfaatan yang tinggi. Format AUM mencakup banyak aksioma, yang pada gilirannya bertemu satu sama lain dan bergerak ke arah komunikasi yang efektif. Jumlah aksioma tertentu telah bervariasi selama lima belas tahun terakhir sesuai  penelitian-terbaru terbaru di bidang komunikasi lintas budaya.

Teori komunikasi umumnya berfokus pada empat tingkatan berikut: individu, interpersonal, antarkelompok, dan budaya.

  • Tingkat individu adalah motivasi untuk komunikasi manusia, mempengaruhi cara manusia menciptakan dan menafsirkan pesan (misalnya kebutuhan untuk inklusi kelompok dan dukungan konsep diri).
  • Tingkat interpersonal adalah cara bertukar pesan ketika manusia berkomunikasi sebagai individu (misalnya komunikasi satu lawan satu, hubungan kekerabatan dan jaringan sosial).
  • Tingkat antarkelompok adalah pertukaran pesan ketika manusia berkomunikasi secara kolektif (misalnya identitas sosial, harga diri kolektif).
  • Tingkat budaya adalah bagaimana orang berkomunikasi dengan cara yang sama atau berbeda tergantung pada budaya mereka (misalnya dimensi variabilitas budaya).

AUM berfokus pada komunikasi tingkat interpersonal dan antarkelompok karena aksioma Gudykunst cocok untuk kategori interpersonal atau antarkelompok. AUM membedakan antara komunikasi interpersonal dan antarkelompok dengan memeriksa prediksi perilaku. Jika perilaku dapat dijelaskan dengan norma-norma budaya atau dengan norma-norma sosiologis, itu dapat diklasifikasikan sebagai komunikasi antarkelompok. Ketika perilaku paling baik dijelaskan oleh faktor psikologis, maka kemungkinan itu adalah komunikasi interpersonal. Pembeda efektif kedua adalah untuk memeriksa identitas yang memandu perilaku manusia. Ketika perilaku kita dipandu oleh faktor pribadi atau manusia, perilaku interpersonal cenderung terjadi. Ketika dipandu oleh faktor sosial, kebalikannya adalah benar.

Teori kompleks seperti AUM perlu menerima asumsi tertentu sebagai hal yang benar sebelum konten yang sebenarnya dapat dieksplorasi. Beberapa asumsi yang dibuat Gudykunst tentang AUM bersifat realitas, seperti bagaimana cara kita mendapatkan pengetahuan dan dasar perilaku manusia. Gudykunst mengasumsikan bahwa proses dasar komunikasi sebenarnya sama di seluruh budaya; hanya metode penafsirannya saja yang bervariasi. Dia juga menganggap interpretasi adalah bagaimana kita mendapatkan data untuk menciptakan teori. Terakhir yang juga penting untuk AUM adalah bahwa manusia secara sadar memiliki kendali yang lebih besar atas perilaku komunikasi mereka. Aspek sifat manusia ini kadang-kadang disebut sebagai determinisme.

Gudykunst juga menggunakan beberapa asumsi teoretis. Yang pertama adalah bahwa orang asing akan memicu kecemasan antar-pribadi dan antarkelompok. Perspektif yang dia ambil untuk mengembangkan aksioma adalah orang asing yang tenggelam dalam ingroup.

Asumsi lain berkaitan dengan konsep ketidakpastian. Gudykunst mengasumsikan bahwa ketika ketidakpastian berada di antara tingkat minimum dan maksimum yang dapat diterima individu, komunikasi yang efektif akan terjadi. Ambang batas maksimum didefinisikan sebagai jumlah ketidakpastian yang dapat kita miliki dan masih nyaman memprediksi perilaku orang asing. Ketidakpastian di atas ambang batas minimum membuat kita tidak bosan dengan orang asing dan karenanya menghambat komunikasi.

Kecemasan untuk tujuan manajemen kecemasan / ketidakpastian (anxiety/uncertainty management) dapat digambarkan sebagai kekhawatiran berdasarkan rasa takut akan konsekuensi negatif. Ini lebih lazim dalam hubungan antarkelompok karena ada ketakutan tambahan untuk muncul berprasangka ketika berhadapan dengan outgroup. Mirip dengan ketidakpastian, Gudykunst mendalilkan bahwa komunikasi yang efektif bergantung pada pengelolaan kecemasan antara batas minimum dan maksimum. Begitu kita mencapai batas atas kecemasan kita, sebenarnya semua perhatian kita berfokus pada sumbernya dan bukan pada komunikasi yang efektif. Konsep mengelola tingkat kecemasan dapat dibandingkan dengan mengelola eustress dan tekanan untuk mencapai kinerja optimal. Manfaat positif dari jumlah kecemasan yang optimal adalah kepercayaan, atau „keyakinan bahwa seseorang akan menemukan apa yang diinginkan dari yang lain daripada apa yang ditakuti“, konsekuensi negatifnya adalah penghindaran. Jika kita diliputi kecemasan, maka kita akan memilih untuk tidak berkomunikasi.

Istilah lain yang membutuhkan definisi kerja untuk tujuan manajemen kecemasan / ketidakpastian adalah „komunikasi yang efektif“. Secara sederhana, komunikasi yang efektif adalah sejauh mana pesan ditafsirkan oleh penerima dengan makna yang tepat sebagaimana yang dimaksudkan oleh  pengirim. Komunikasi lebih efektif ketika pengirim dan penerima menggunakan kerangka acuan yang sama. Namun, dalam komunikasi antarbudaya hal ini sering tidak benar dan interaksi dengan orang asing pada gilirannya dapat menjadi lebih sulit.

Em Griffin, penulis buku tentang ilmu komunikasi yang berjudul “ A First Look At Communication Theory“ dan Profesor Emeritus Komunikasi di Wheaton College di Illinois mendefinisikan kesadaran sebagai „cara anggota kelompok dan orang asing dapat mengurangi kecemasan dan ketidakpastian mereka ke tingkat optimal“.

Perilaku secara tertulis melayani kita dengan baik dalam situasi yang akrab, tetapi tidak dalam komunikasi lintas budaya. Oleh karena itu, William Howell menyarankan empat tingkat kompetensi komunikasi.

  • Ketidakmampuan dalam ketidaksadaran (unconscious incompetence): Kita tidak menyadari bahwa kita salah menafsirkan perilaku orang lain.
  • Ketidakmampuan secara sadar (conscious incompetence): Kita tahu bahwa kita salah menafsirkan perilaku orang lain, tetapi kita tidak melakukan apa-apa.
  • Kompetensi sadar: Kita memikirkan komunikasi kita dan terus bekerja untuk menjadi lebih efektif.
  • Kompetensi tidak sadar: Keterampilan komunikasi kita adalah sesuatu yang otomatis.

Gudykunst mendefinisikan kesadaran sebagai tahap ketiga (kompetensi sadar) sesuai model Howell. Pada tahap ini, pilihan kognitif memoderasi kekuatan destruktif dari keraguan atau kecemasan. Tahap terakhir (unconscious competence) kurang kompeten daripada tahap ketiga dan dapat dengan cepat berubah menjadi ketidakmampuan yang tidak jelas.

Gudykunst menggunakan dua jenis pernyataan teoritis untuk membangun teorinya; aksioma dan teorema. Aksioma adalah „Pernyataan yang mengandung variabel yang dianggap kausal langsung. Aksioma merupakan pernyataan yang menyiratkan hubungan sebab akibat langsung antar variabel.” Aksioma dapat dikombinasikan untuk menurunkan teorema. Ketika dikombinasikan aksioma dan teorema membentuk „proses kasual“ teori primer tertentu dalam konstruksi teori.

Gudykunst menyatakan bahwa dalam menghasilkan aksioma untuk teori itu dia berasumsi bahwa pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian adalah „penyebab dasar“ yang mempengaruhi komunikasi yang efektif. Variabel lain (misalnya konsep diri, motivasi, reaksi terhadap orang asing, kategorisasi sosial, proses situasional, hubungan dengan orang asing, interaksi etika, kecemasan, ketidakpastian, perhatian dan komunikasi yang efektif), diperlakukan sebagai „penyebab superfisial“ komunikasi yang efektif. Pengaruh dari “penyebab yang dangkal” ini pada komunikasi yang efektif dimediasi melalui kecemasan dan ketidakpastian.

Gudykunst menggunakan 47 aksioma sebagai blok bangunan untuk teorema AUM. Aksioma dapat dianggap sebagai denominator umum terendah dari mana semua teorema kausal berasal.

Sumber: dari berbagai bacaan.

Sama halnya dengan definisi dan model kompetensi antarbudaya yang beraneka ragam, ada berbagai pendekatan metodologis untuk menilai kompetensi antarbudaya seseorang. Wawancara (interview), pengamatan (observasi), studi kasus atau analisis buku harian hanyalah beberapa alternatif dari metode kuantitatif (Deardorff 2006; Fantini 2009). Oleh karena itu, perhatian khusus diberikan kepada penilaian diri kuantitatif dan tes penilaian situasional. Selain itu, metode langsung dan tidak langsung dapat digunakan untuk mengukur hal tersebut.

Instrumen Pengukur Tidak Langsung

Instrumen pengukur tidak langsung digunakan secara khusus untuk melihat kompetensi antarbudaya. Instrumen tes ini merupakan tes standar di mana seseorang setuju untuk pernyataan tertentu mengenai kompetensi antarbudaya mereka yang dinyatakan melalui skala Likert yang diberikan. Tingkat kompetensi antarbudaya ditentukan sendiri oleh orang yang mengisi tes itu. Dengan cara ini, hasilnya mencerminkan self-efficacy lintas budaya seseorang (Bandura, 1997). Self-efficacy adalah prediktor penting (Stajkovic & Luthans, 1998), karena secara tidak langsung hasil pengukuruan tersebut dapat memberikan informasi berharga tentang seseorang dalam konteks antarbudaya. Cara lain untuk melihat kompetensi antarbudaya seseorang yang jarang digunakan melalui penilaian diri adalah metode wawancara. Metode ini lebih mengarah ke metode langsung (Leung et al. 2014; Schnabel 2015).

Keunggulan dari instrumen pengukuran tidak langsung dibandingkan dengan alat pengukur langsung  ̶  terutama tes penilaian diri  ̶  terletak pada objektivitas, karena lebih ekonomis, dan dapat menggeneralisir sesuatu (Schnabel et al., 2014). Dari segi pendanaan dan waktu, tes ini membutuhkan relatif sedikit biaya dan waktu. Tes ini mengukur kompetensi antarbudaya seseorang secara independen dan dapat menafsirkan sejauh mana kompetensi antarbudaya seseorang sesuai dengan aturan yang jelas dan independen. Selain itu, dari hasil pengukuran yang diperoleh,  tes ini memungkinkan untuk dapat menyimpulkan perilaku antarbudaya di luar situasi penelitian (Moosbrugger & Kelava, 2012). Sejauh mana kualitas kriteria benar-benar berlaku dalam kasus-kasus individu tergantung pada metode spesifik yang dipilih.

Kelemahan utama dari instrumen pengukuran tidak langsung adalah kemungkinan distorsi respon yang mungkin terjadi, misalnya karena keperluan sosial tertentu atau karena kemampuan untuk penilaian diri yang benar kurang memadai (Gabrenya et al., 2013). Keperluan sosial dalam hal ini memiliki arti kecenderungan manusia untuk menunjukkan perilaku yang sesuai untuk menghindari penolakan atau kutukan sosial dan seseorang secara sadar lebih mengorientasikan diri sebagai tanggapan terhadap norma dan harapan sosial umum (Bortz & Döring, 2006).

Distorsi respon yang dihasilkan cenderung terjadi terutama dalam kasus-kasus tertentu ketika seseorang menjanjikan konsekuensi positif tingkat tinggi kompetensi antarbudayanya, misalnya dalam proses seleksi (Leung et al., 2014). Di sisi lain, masalah kemampuan yang kurang memadai mengenai penilaian diri yang tepat dapat berepengaruh terhadap mereka yang memiliki sedikit pengalaman dalam konteks antarbudaya.

Kelemahan lain dari tes penilaian diri adalah pendokumentasian kompetensi antarbudaya yang relatif statis. Biasanya, sejumlah item dijawab dalam kondisi pengujian yang khas tapi mengabaikan sifat prosedural kompetensi antarbudaya (Gabrenya et al., 2013). Dengan bantuan klasifikasi model kompetensi antarbudaya Bolten (2007), dapat dinyatakan bahwa instrumen pengukuran tidak langsung sebagian besar didasarkan pada daftar dan model struktural. Namun, model proses ini sulit untuk dioperasionalkan menggunakan alat pengukuran tidak langsung (Schnabel et al., 2014).

Dengan menggunakan skala Likert 5 poin para peserta dapat memperkirakan seberapa besar kemungkinan mereka akan berperilaku melalui opsi yang diberikan. Penelitian-penelitian awal yang menggunakan prosedur CCSI-SJT menyarankan prosedur konten dan konstruksi yang valid. Di sisi lain, review validitas kriteria masih tampak ketinggalan zaman (Ascalon et al. 2008, Leung et al. 2014).

Sementara CCSI-SJT menyajikan berbagai skenario antarbudaya dalam bentuk tertulis dengan cara yang biasa, „Intercultural Situational Judgment Test“ (iSJT) yang dikembangkan oleh Rockstuhl, Ang, Ng, Lievens, dan Van Dyne (2015) terdiri dari tujuh sketsa multimedia. Selain itu, iSJT berbeda dari tes penilaian situasional yang menggunakan format respons terbuka. Sehabis tayangan, peserta ditanya pendapat, perasaan, dan niat orang-orang dalam video tersebut (pengetahuan) dan bagaimana mereka akan berperilaku dalam situasi yang terkait (perilaku). Tanggapan peserta kemudian akan dievaluasi oleh para ahli independen, seperti pada Assessment Center (Lievens et al. 2008). Selain bukti validitas konstruk, Rockstuhl et al. (2015) juga memberikan bukti pertama validitas kriteria prosedur mereka.

Instrumen Pengukur Gabungan

Penggunaan metode yang berbeda untuk mengukur kompetensi antarbudaya direkomendasikan oleh beberapa ahli. „Intercultural Competence Assessment“ (INCA; Intercultural Competence Assessment Projektteam, 2004) membuat salah satu dari beberapa upaya untuk menggabungkan metode langsung dan tidak langsung untuk mendeteksi kompetensi antarbudaya. Instrumen ini terdiri dari beberapa jenis metode, yaitu kuesioner, role-playing dan berbagai teks dan skenario berbasis video dengan pertanyaan terbuka dan tertutup. Metode gabungan ini dimaksudkan agar dapat mencakup enam dimensi (1) „toleransi ambiguitas“, (2) „fleksibilitas perilaku“, (3) „kesadaran komunikasi“, (4) „pemerolehan pengetahuan“, (5) „keterbukaan terhadap budaya lain“, dan (6) untuk memahami „empati“. Namun, seberapa berhasil penelitian ini menggunakan gabungan metode tidak dapat dinilai karena kurangnya publikasi tentang INCA (Gabrenya et al. 2012; Sinicrope et al. 2007). TMIK (Schnabel et al., 2014) adalah metode pertama yang dipelajari secara ilmiah untuk menggabungkan penilaian diri dan tes penilaian situasional (Schnabel, 2015).

Straffon (2003) dan juga Fantini dan Tirmizi (2006) mampu membedakan kompetensi antarbudaya dari orang yang diuji dengan penggunaan eksklusif instrumen ukur tidak langsung dengan tambahan instrumen ukur langsung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode tidak langsung lebih baik dibandingkan metode langsung (Leung et al., 2014). Schnabel dkk. (2014) menunjukkan bahwa menggabungkan penilaian diri dan kuesioner penilaian situasi TMIK mereka, dibandingkan dengan hanya menggunakan salah satu dari dua bagian dari tes ini, dapat mengungkapkan varians yang lebih besar dalam berbagai kriteria yang dianggap kompetensi antarbudaya. Schnabel (2015), mengacu pada Bledow dan Frese (2009), menjelaskan bahwa penilaian diri dan tes penilaian situasional mengukur aspek yang berbeda dari seseorang. Sementara tes penilaian diri mengacu pada konsep diri seseorang, tes penilaian situasional menangkap preferensi perilaku. Perlu diketahui pula bahwa tambahan dari tes penilaian situasi di Schnabel et al. (2014) hanya menunjukkan sedikit keuntungan dalam penjelasan varians.

 

Disarikan dari buku berjudul: “Interkulturelle Kompetenz durch Auslandsaufenthalte. Längsschnittanalyse der Wirkung dreimonatiger Auslandserfahrungen” (Penulis: Fabian Wolff)

Literatur:

Silahkan menghubungi saya melalui e-mail jika memerlukan sumber bacaan tersebut.

Variabel Kompetensi Komunikasi Antarbudaya

Veröffentlicht: August 23, 2018 in Studi
Schlagwörter:, , , ,

Berikut adalah hubungan antara lima variabel (report type, age, context, ethnic group, and study design) dalam kaitannya dengan kompetensi dan keefektifan komunikasi antarbudaya.

Report Type

Para peneliti telah banyak melakukan diskusi untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kompetensi komunikasi antarbudaya dapat diukur. Biasanya data self-report dikumpulkan, tetapi para ahli juga menganjurkan penggunaan metode laporan lain atau kombinasi self-report dan metode laporan lainnya (Chen, 1990). Ide tentang pengukuran menggunakan penilaian lain atau kombinasi dari dua metode tersebut muncul dari pengakuan para ahli yang berasalan bahwa tingkat kelayakan harus dinilai untuk menentukan kompetensi. Perspektif kelayakan dinilai tidak hanya dari perspektif target tetapi juga dari sisi peserta atau pengamat komunikasi yang terlibat saat interaksi. Selain itu, beberapa pakar menyarankan pengumpulan data relasional sebagai lawan dari data tingkat individu untuk secara lebih valid menangani operasionalisasi kompetensi komunikasi antarbudaya (Imahori & Lanigan, 1989).

Age

Kebanyakan studi tentang kompetensi komunikasi antarbudaya atau keefektifan komunikasi antarbudaya melibatkan responden penelitian dari remaja usia kuliah, baik yang pernah belajar atau bekerja di luar negeri ataupun belum pernah sama sekali. Responden lainnya adalah mereka yang pernah tinggal atau bekerja di luar negeri, mereka yang pernah mengikuti pelatihan setelah tamat kuliah atau mereka yang memiliki pengalaman di dunia bisnis. Ada kecenderungan pendapat yang menyebutkan jika subyek lebih tua mungkin pengalaman interpersonal dan antarbudaya yang dimilikinya lebih banyak. Hal itu akan berkontribusi pada perbedaan dalam persepsi kompetensi.

Context

Kritik terhadap penelitian kompetensi komunikasi antarbudaya di masa lalu sering membahas mengenai kurangnya usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menjelaskan peran konteks dalam analisis mereka tentang kompetensi komunikasi antarbudaya. Lebih lanjut, hubungan komunikasi dan konteks menjadi sangat penting bagi para ahli antarbudaya. Chen (1990), menunjukkan bahwa salah satu perbedaan utama antara pakar komunikasi antarbudaya dan pakar interpersonal (intracultural) komunikasi adalah para pakar komunikasi antarbudaya memberi penekanan pada faktor lingkungan. Kurangnya pertimbangan terhadap konteks dan jenis konteks yang diukur dapat membuat perbedaan dalam persepsi kekuatan hubungan antara kompetensi komunikasi antarbudaya dan efektivitas komunikasi antarbudaya.

Ethnic Background

Kim (1993) mengungkapkan, „At the heart of the concept of culture is the notion that people from different cultures develop distinctive interaction styles and preferred communication strategies.“

Sebagian besar studi yang meneliti tentang kompetensi komunikasi antarbudaya menitikberatkan pada perbedaan budaya karena hal tersebut dimanifestasikan melalui perilaku komunikasi. Para peneliti mempertanyakan apakah ada perbedaan pada tingkat konseptual? Apakah budaya memiliki kesamaan atau perbedaan dalam mempersepsikan keefektifan (effectiveness) dan kepantasan (appropriateness) kompetensi? Sebagian besar peneliti menggunakan pendekatan yang berorientasi pada tujuan untuk mengukur kompetensi (Lynch & Mosier), tetapi apakah semua budaya mengambil pendekatan yang berorientasi pada tujuan pada kompetensi konseptualisasi (Martin, 1993)?

Design Type

Berbagai jenis desain telah digunakan untuk mengeksplorasi kompetensi dan efektivitas dalam interaksi antarbudaya. Fokus utama para peneliti adalah mengukur kompetensi antarbudaya perorangan secara umum (individu) atau interaksi yang ditentukan untuk menjadi kompeten dalam hal antarbudaya (diad). Beberapa penelitian berfokus pada individu yang tinggal di luar negeri serta keterampilan atau pengetahuan apa yang mereka dapatkan terkait dengan performa kompeten atau efektif. Selain itu, para peneliti juga berusaha memikirkan tentang bagaimana tipe desain dapat mempengaruhi persepsi kompetensi.

Disarikan dari artikel berjudul: “An Evaluation and Meta-Analysis of Intercultural Communication Competence Research” (Penulis: Lisa Bradford, Mike Allen, Kevin Beisser)

Literatur:

Silahkan menghubungi saya melalui e-mail jika memerlukan sumber bacaan tersebut.