Archiv für die Kategorie ‘Studi’

Jender dan Bahasa

Veröffentlicht: November 3, 2012 in Studi

„Jender dan Bahasa“ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19).  Lebih lanjut Grimm menyatakan bahwa Penggunaan istilah „bahasa perempuan“ dan „bahasa laki-laki“ banyak sekali  ditemukan dalam bahasa dan jender, yang mengartikan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan kekhasan berbahasa pada penggunaan „prefensi“ linguistik.

Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai jender serta gaya bahasa yang digunakan telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema “Jender dan Bahasa” ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19).

Oppermann dan Weber (1995) mengatakan bahwa pria di mata perempuan berbicara lebih terkesan linear, sederhana, tidak komprehensif, tidak memperlihatkan emosi, biasanya dalam kalimat pendek, dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. Sebaliknya, pria berpendapat bahwa wanita berbicara tidak terstruktur, konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif, banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan, lebih bersifat pertanyaan, serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas, sementara kebanyakan wanita cenderung menggunakan bahasa tidak langsung.

Perbedaan cara berbahasa laki-laki dan perempuan tidak hanya terlihat ketika mereka melakukan komunikasi dalam bahasa ibu, melainkan juga ketika mereka berkomunikasi dalam bahasa asing (bahasa kedua). Hal tersebut dapat ditemukan dalam komunikasi pembelajar bahasa asing, misalkan bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Arab atau bahasa yang lainnya.

Perbedaan sikap dalam berbahasa juga terlihat dari karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki. Sikap tersusun dengan kualitas dan kuantitas yang bervariasi dalam kontinum positif dengan melewati daerah-daerah netral ke arah negatif, sedangkan kualitas sikap dinyatakan dalam ekstrem dari kedudukan yang ditempati pada arah kontinum sikap. Intensitas sikap menyatakan kuatnya reaksi sikap, yaitu semakin jauh dari posisi netral akan semakin kuat reaksi sikapnya. Selanjutnya Sikap memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu 1) arah sikap, merupakan efek yang membekas dirasakan terhadap suatu objek, dapat bersifat negatif atau positif; 2) drajat perasaan, merupakan drajat penilaian terhadap sesuatu objek tertentu dengan istilah baik dan buruk dengan kontinum berkisar dari arah negatif sampai positif (Newcomb et al, 1977:1981). Ciri-ciri Sikap dikemukakan juga oleh Gordon (1960:293) yaitu: 1) sebagai suatu kesiapan untuk merespon, 2) bersifat individual, 3) membimbing prilaku, 4) bersifat bawaaan dan merupakan hasil belajar.

Lebih spesifik lagi adalah mengenai sikap berbahasa yang ditandai oleh tiga ciri, yaitu 1) kesetiaan bahasa (language loyality),  2) kebanggaan bahasa (language pride), dan 3) kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the norm).

  • Kesetiaan bahasa (language loyality)

Kesetiaan bahasa menurut konsep tersebut adalah sikap yang terdorong suatu masyarakat untuk turut mempertahankan kemandirian bahasanya dari pengaruh asing.

 

  • Kebanggaan bahasa (language pride)

Kebanggaan bahasa merupakan sikap yang mendorong seseorang atau kelompok menjadikan bahasanya sebagai lambang identitas pribadi atau kelompoknya untuk membedakannya dari orang atau kelompok lain.

 

  • Kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the norm)

Kesadaran adanya norma bahasa mendorong seseorang menggunakan bahasa secara cermat, korek, santun, dan layak. Kesadaran yang demikian merupakan faktor yang sangat menentukan prilaku tutur dalam wujud pemakaian bahasa (language use).

Advertisements

Bahasa „Plurisentris“

Veröffentlicht: März 23, 2012 in Deutschunterricht, Studi

Apakah itu Plurisentris?

Plurisentris adalah sebuah perantara yang menjembatani antara „bahasa“ dan „dialek“. Ciri utama bahasa plurisentris adalah bahwa bahasa ini bisa dijumpai di dua negara atau lebih. Status bahasa di negara-negara tersebut menduduki posisi penting sebagai bahasa resmi pemerintahan. Konsep bahasa plurisentris ini untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Kloss  pada tahun 1952. Dalam karyanya tersebut, ia menjelaskan tentang bahasa Jerman yang tidak hanya digunakan di negara Jerman, melainkan juga muncul di beberapa negara lainnya. Fakta ini tentunya juga harus didukung oleh sebuah teori linguistik. Oleh karena itulah, dia menciptakan istilah „polisentris“ untuk bahasa yang  digunakan di dua negara,  sedangkan untuk bahasa-bahasa yang digunakan di lebih dari dua negara ia menyebutnya dengan istilah „plurisentris“.

Hal penting dari pengertian bahasa „plurisentris“ tersebut adalah bahwa bahasa tersebut memiliki fungsi sebagai bahasa formal atau juga digunakan sebagai bahasa pemerintahan. Akan tetapi,  karena bahasa minoritas juga adakalanya bertatus sebagai bahasa resmi, maka harus juga ditambahkan bahwa suatu bahasa menjadi „plurisentris“ ketika bahasa tersebut memiliki sentral kebahasaan. Hal ini hanya dapat terjadi jika bahasa tersebut bertatus sebagai bahasa nasional, bahasa resmi kedua atau lainnya, atau bahasa daerah dengan jumlah penutur yang cukup besar. Karena status inilah, maka bahasa tersebut digunakan secara resmi di kantor-kantor pemerintahan, di berbagai institusi, organisasi, sekolah serta media. Selain itu, bahasa ini pun digunakan di bidang politik, sosial dan ekonomi negara masing-masing.

Semua bahasa di dunia yang memiliki penutur bahasa yang besar dapat dikategorikan sebagai bahasa „plurisentris“, yaitu antara lain: bahasa Arab, Mandarin, Inggris, Prancis, Hindi-Urdu, bahasa Indonesia atau bahasa Melayu, Spanyol, dan Portugis. Selain itu ada beberapa bahasa lainnya, seperti: bahasa Armenia, Belanda, serta Korea. Adanya perubahan serta perkembangan politik juga dapat menyebabkan munculnya negara baru, sehingga memunculkan pula bahasa plurisentris yang baru pula. Hal ini dapat terjadi, jika negara-negara pecahan yang telah membentuk sebuah pemerintahan baru tetap menggunakan bahasa yang sama atau juga karena alasan politik. Bahasa Rusia dan bahasa Albania dengan alasan yang telah dikemukakan tadi dapat menjadi sebuah bahasa „plurisentris“.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa bahasa Jerman juga merupakan bahasa „plurisentris“ karena digunakan di empat negara, yaitu: Jerman, Liechtenstein, Austria dan Swiss. Di samping itu, bahasa Jerman juga digunakan di Belgia dan di Südtirol Italia. Di kedua negara tersebut bahasa Jerman memiliki fungsi sebagai suatu varian bahasa.

Bahasa Jerman dianggap sebagai bahasa „plurisentris“ salah satunya adalah karena pengaruh sebuah tulisan Michael Clyne dalam bukunya yang ia tulis pada tahun 1984 yang mengangkat tema „Language and Society in the German-speaking Countries“. Berikutnya pada tahun 1992 muncul buku lainnya yang berjudul „Pluricentric Languages. Different Norms in Different Countries“ dan „The German Language in a Changing Europe“ pada tahun 1995. Lalu bagaimana halnya dengan bahasa Inggris? Khusus untuk bahasa Inggris, dikatakan ada sebuah jarak yang terlalu besar antara bahasa Inggris di Amerika dan bahasa Inggris dari tempat asalnya. Namun, biar bagaimanapun bahasa Inggris adalah contoh sebuah bahasa „plurisentris“ yang dapat dijumpai di 76 negara di dunia, baik itu sebagai bahasa pertama ataupun bahasa kedua. Diperkirakan ada sekitar 750 juta penutur bahasa Inggris di seluruh dunia.

Disarikan dari:

Muhr, Rudolf (2003): Die plurizentrischen Sprachen Europas – Ein Uberblick. Dalam: Gugenberger, Eva/Blumberg, Mechthild (Hrsg.) Vielsprachiges Europa. Zur Situation der regionalen Sprachen von der Iberischen Halbinsel bis zum Kaukasus. Frankfurt u.a. Peter Lang Verlag. S. 191-233. (Bd. 2 Osterreichisches Deutsch – Sprache der Gegenwart.)

Gender dan Bahasa

Veröffentlicht: Februar 24, 2012 in Studi

„Gender dan Bahasa“ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan ini sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19).

Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai gender serta gaya bahasa yang digunakannya telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema “Gender dan Bahasa” ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19).

Menurut Grimm (2008:7), gender merupakan:

 „eine über biologische Geschlechtsunterschiede hinausgehende Bezeichnung, die primär erlerntes geschlechtsspezifisches Verhalten kennzeichnet, das nicht notwendigerweise an biologische Funktionen gekoppelt ist. Gemeint sind also  die psychologischen, kulturellen und sozialen Dimensionen von Geschlechtszugehörigkeit, die gesellschaftlichen Erwartungen und Konventionen, die mit Männlichkeit und weiblichkeit verbunden werden. Male und female geben die beiden Ausprägungen der Variablen sex an, und masculine und feminine sind die entsprechenden Werte für gender“.

Istilah „gender“ dalam bahasa menurut Grimm adalah salah satu yang menjadikan perbedaan jenis kelamin biologis, terutama menunjuk pada perilaku gender secara spesifik yang belum tentu terkait dengan fungsi biologis. Oleh karena itu, kita harus memahami berbagai dimensi seperti: psikologis, budaya dan sosial. Dalam kehidupan sosial gender sangat berkaitan erat dengan maskulinitas dan feminitas. Coates (2004: 4) mencoba membedakan kedua istilah itu sebagai berikut: istilah ’seks‘ atau jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis. Sementara itu,  istilah ‚gender‘ digunakan untuk menggambarkan kategori sosial berdasarkan jenis kelamin tersebut.

Istilah „bahasa perempuan“ dan „bahasa laki-laki“ banyak sekali kita temukan dalam bahasa dan gender. Grimm (2008: 8) berpendapat, bahwa kedua istilah ini menyiratkan baik perempuan ataupun laki-laki memiliki kekhasan bahasa. Sebetulnya baik perempuan ataupun laki-laki tidak sepenuhnya menggunakan kata-kata yang berbeda. Perbedaan itu hanyalah terletak pada penggunaan „preferensi“ linguistik. Dalam kaitannya dengan bahasa dan gender yang biasa kita dengar saat ini, „bahasa laki-laki“ atau „bahasa perempuan“ digunakan sebagai bentuk generalisasi mengenai perilaku „bahasa laki-laki“ dan „bahasa perempuan“ (Grimm 2008:10).

Oppermann dan Weber (1995) mengatakan di dalam buku mereka yang berjudul „Frauensprache – Männersprache“, bahwa pria di mata perempuan pada saat berbicara, mereka lebih terkesan linear, sederhana, tidak komprehensif, tidak memperlihatkan emosi, biasanya dalam kalimat pendek, dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. Sebaliknya, wanita di mata pria biasanya mereka pada saat berbicara tidak terstruktur, konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif, banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan, lebih bersifat pertanyaan, serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. Khusus di dalam percakapan berbahasa Jerman, biasanya wanita sering menggunakan frase seperti „vielleicht“ (mungkin), „eigentlich“ (sebenarnya) atau „Ich würde vorschlagen“ (kalau boleh saya menyarankan).  Wanita juga dikatakan sebagai pendengar yang baik dan lebih mudah saat berinteraksi. Lalu kita dapat menarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas, sementara kebanyakan wanita berbicara biasanya tidak langsung.

4 Konversationsmaximen: Prinsip Kerjasama

Veröffentlicht: Februar 19, 2012 in Studi

Herbert Paul Grice (1913-1988) adalah seorang filusuf asal Inggris. Ia dikenal  melalui karya-karyanya dalam bidang filosofi bahasa, terutama dalam hal analisa makna pembicara (Analyse der Sprecherbedeutung) serta istilah kebahasaan, seperti implikatur dalam pembicaraan (konversationelle Implikatur) dan prinsip kerjasama (Kooperationsprinzip). Dalam karyanya tentang prinsip kerjasama, Grice mengasumsikan bahwa pada saat terjadinya komunikasi terdapat adanya usaha yang mengarah pada tujuan yang sama pada diri setiap pembicara. Prinsip kerjasama tersebut kemudian dibagi lagi menjadi empat maksim (Konversationsmaximen), yaitu maksim kuantitas (Maxime der Quantität), maksim kualitas (Maxime der Qualität), maksim relevansi (Maxime der Relevanz), dan maksim cara (Maxime der Modalität).

Maksim kuantitas

  • Buatlah kontribusi percakapan seinformatif mungkin, agar berguna bagi jalannya percakapan. Tapi ingat, jangan pula terlalu berlebihan atau terlalu detail.

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah: Seperti apakah yang terlalu berlebihan itu?

Jika kita coba perhatikan kebanyakan orang Jerman, lalu kita bandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya di duania internasional seperti contohnya orang Indonesia, mereka cenderung akan terlihat lebih sedikit berbicara. Hal itu akan lebih jelas terlihat, jika mereka sedang berada di tempat-tempat umum atau saat mereka menggunakan transportasi publik. Hal-hal yang mereka anggap penting tidak akan dengan mudah mereka ungkapkan di tempat-tempat tersebut. Banyak orang asing yang merasa tidak nyaman dengan sikap kebanyakan orang Jerman yang mereka anggap tertutup tersebut. Namun, jika mereka menginginkan atau mengeluhkan sesuatu, maka orang Jerman biasanya akan mengungkapkannya secara langsung (House/Kasper 1987). Hal tersebut bagi kebanyakan orang asing merupakan sesuatu hal yang kasar dan tidak sopan untuk dilontarkan. Berbeda halnya dengan orang-orang di negara tetangganya, bangsa Austria dinilai lebih santun dalam berbicara dibandingkan orang Jerman. Akan tetapi, adakalanya mereka malah terlalu berlebihan. Seperti contohnya jika orang Austria meminta sesuatu atau memohon maaf. Mereka biasanya mengungkapkannya dalam sebah konstruksi kalimat yang cukup panjang (Clyne, 1995:122).

Maksim Kualitas

  • Berbicaralah hal yang diyakini benar dan jangan berbicara sesuatu yang salah.
  • Jangan berbicara sesuatu yang tidak ada buktinya.

Pada maksim ini kita diharuskan untuk berbicara sesuatu yang benar atau dalam bentuk lain adalah bahwa kita berbicara sesuatu hal yang serius. Beberapa hal yang tersirat pada maksim ini di antaranya adalah kemampuan seseorang untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang sopan juga menyenangkan, atau mengungkapkannya dengan cara ironi. Jika seseorang mengungkapkan sesuatu secara terbuka dan langsung pada hal yang dimaksud, maka orang tersebut akan dikatakan sebagai seorang yang bijak di negara Jerman. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang asing hal tersebut dianggap sebagai suatu yang tidak sopan (Schwanitz, 1999:445)

Maksim relevansi

  • Berbicaralah sesuatu yang relevan.

Selain kita harus berbicara sesuatu yang relevan dengan tema pembicaraan, pada maksim ini pula dijelaskan bahwa pembicaraan kita tidak perlu “dibuat-buat” hingga hanya akan memberikan kebingungan pada lawan bicara kita saja. Pada pembicaran yang bersifat formal dan untuk teks khusus maksim ini diperhatikan lebih jauh lagi dibandingkan untuk obrolan santai sehari-hari. Akan tetapi, hal ini untuk setiap negara tentunya berbeda. Pada sebuah matapelajaran Bahasa Jerman untuk penutur asli Jerman misalnya, siswa harus memperhatikan banyak aspek yang relevan dengan tema, baik itu pada saat menulis sebuah karangan ataupun pada saat mereka berdiskusi. Siswa baru mengutarakan pendapat mereka pribadi menjelang akhir karangannya. Berbeda dengan karangan siswa Jerman, karangan ataupun essay yang ditulis siswa-siswa di Inggris biasanya lebih berorientasi pada pengembangan sebuah ide. Perbedaan konsep tradisi penulisan sebuah teks tersebut akan berujung pada perbedaan penulisan teks karya ilmiah (Clyne, 1995:138). Pada maksim relevansi ini kita dapat melihat bagaimana karakter orang Jerman, yaitu pada siatuasi yang informal atau pembicaraan yang bersifat pribadi mereka cenderung lebih tertutup. Namun, pada situasi ilmiah seperti yang dijelaskan di atas mereka terlihat lebih luas cara pandangnya, baik itu ketika berbicara ataupun saat mereka tuangkan ide tersebut pada tulisan.

Maksim cara

Maksim cara ada  kaitannya dengan situasi sosial dan orang yang kita ajak bicara. Berbeda seperti Bahasa Inggris, dalam Bahasa Jerman hal ini dapat dikatakan penting, karena ketika kita berkomunikasi seorang pembicara dapat memanggil lawan bicara dengan dua kemungkinan: „Sie“ (Anda) atau „Du“ (Kamu). Hal itu tergantung pada banyak faktor seperti: usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, afiliasi politik, lingkungan, serta faktor kedekatan keduanya (Besch 1998). Keputusan untuk menggunakan panggilan „Sie“ atau „Du“ tersebut terkadang tidaklah mudah terutama bagi para penutur asing. Dalam percakapan sehari-hari antara orang Jerman dan orang asing sering terjadi perubahan kata sapaan yang digunakan dari awalnya „Sie“ menjadi „Du“ secara tiba-tiba oleh orang Jerman yang merasa dirinya superior. Hal tersebut ia lakukan tanpa memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari lawan bicaranya.

Sebuah pembicaraan biasanya terdiri atas pembukaan, penutup, serta dibatasi oleh suatu tema sentral pembicaraan yang koheren. Dalam pembicaraan tersebut kita dapat menemukan pola struktural yang digunakan oleh pembicara secara garis besar. Baik pembicara ataupun lawan bicara, bekerja sama satu sama lainnya dalam percakapan tersebut. Mereka tidak hanya berbagi isi tematik percakapan, tetapi mereka juga mengkoordinasikan jalannya pembicaraan menjadi sebuah bingkai yang sesuai dengan referensi tertentu yang terdiri atas fase pembukaan dan berujung dengan fase penutup. Dalam percakapan biasanya mereka memperlihatkan karakter serta perannya masing-masing atas situasi yang sedang mereka hadapi. Kekhususan bahasa serta budaya masing-masing pembicara akan membawa kekhasan mereka saat mereka berkomunikasi, baik itu secara verbal ataupun pada saat komunikasi nonverbal.

Oleh karena itulah, pada pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing pengetahuan seperti „Abtönungspartikel“ (sebuah penekanan pada kalimat, seperti: „doch“, „halt“ dll.) diberikan kepada peserta didik. Hal ini bertujuan agar mereka dapat berpartisipasi secara aktif serta menggunakannya suatu saat nanti pada sebuah percakapan dengan penutur asli. Pengetahuan mengenai budaya lainnya terutama untuk mengawali sebuah percakapan, juga dirasa penting untuk diketahui oleh peserta didik. Pada budaya tertentu, sebuah pembicaraan dapat dibuka dengan small talk seputar cuaca, keluarga, pekerjaan dan tema-tema ringan lainnya. Dengan tema-tema tersebut biasanya sebuah percakapan akan terjadi. Namun demikian, lawan bicara bisa saja mengekspresikan persetujuannya akan hal itu atau juga keengganannya. Misalnya: seorang yang masih lajang tidak mau menceritakan kehidupan pribadinya atau masalah keluarganya. Atau seseorang sangat tidak suka membicarakan hal yang berbau pekerjaan, terlebih jika berbicara seputar pendapatannya.

Selain penjelasan di atas tadi, pada maksim ini Grice menyarankan bahwa kita hendaklah:

  • menghindari ketidakjelasan;
  • menghindari kata-kata ambigu;
  • menghindari kalimat yang bertele-tele; serta
  • menghindari struktur kalimat yang tidak beraturan.

Prinsip Kerjasama

Veröffentlicht: Mai 18, 2010 in Studi

Herbert Paul Grice (1913-1988) adalah seorang filusuf asal Inggris. Ia dikenal  melalui karya-karyanya dalam bidang filosofi bahasa, terutama dalam hal analisa makna pembicara (Analyse der Sprecherbedeutung) serta istilah kebahasaan, seperti implikatur dalam pembicaraan (konversationelle Implikatur) dan prinsip kerjasama (Kooperationsprinzip). Dalam karyanya tentang prinsip kerjasama, Grice mengasumsikan bahwa pada saat terjadinya komunikasi terdapat adanya usaha yang mengarah pada tujuan yang sama pada diri setiap pembicara. Prinsip kerjasama tersebut kemudian dibagi lagi menjadi empat maksim (Konversationsmaximen), yaitu maksim kuantitas (Maxime der Quantität), maksim kualitas (Maxime der Qualität), maksim relevansi (Maxime der Relevanz), dan maksim cara (Maxime der Modalität).

Maksim kuantitas

  • Buatlah kontribusi percakapan seinformatif mungkin, agar berguna bagi jalannya percakapan. Tapi ingat, jangan pula terlalu berlebihan atau terlalu detail.

Maksim Kualitas

  • Berbicaralah hal yang diyakini benar dan jangan berbicara sesuatu yang salah.
  • Jangan berbicara sesuatu yang tidak ada buktinya.

Maksim relevansi

  • Berbicaralah sesuatu yang relevan.

Maksim cara

  • Hindari ketidakjelasan.
  • Hindari kata-kata ambigu.
  • Hindari kalimat yang bertele-tele.
  • Hindari struktur kalimat yang tidak beraturan.

Fedinand de Saussure (1857-1913)

Veröffentlicht: Mai 17, 2010 in Studi

Fedinand de Saussure adalah seorang ilmuan di bidang bahasa asal Swiss yang mengemukakan teori mengenai strukturalisme dan semiotik. Saussure adalah anak dari pasangan  Henri de Saussure und der Louise Elisabeth de Pourtalès. Ayahnya Henri de Saussure adalah seorang ilmuan.

Ia menempuh studi dan mengambil jurusan Indogermanistik di Universitas Leipzig dan juga di Berlin, Jerman. Setelah menyelesaikan program doktornya di Universitas Leipzig, ia kemudian mulai tahun 1881 sampai 1891 mengajar di École pratique des hautes études di Paris, Perancis. Mulai tahun 1891 hingga akhir hayatnya, ia merupakan seorang Professor di Universitas Jenewa, Swiss, pada bidang sejarah serta linguistik Indo-Eropa. Mulai tahun 1906 hingga tahun 1911, ia memberikan perkuliahan linguistik di universitas tersebut.

Ia adalah seorang penggagas linguistik modern dan aliran strukturalisme, yang dilatarbelakangi oleh sebuah kesalahpahaman. Pada tulisannya yang berjudul Grundfragen der allgemeinen Sprachwissenschaft (Cours de linguistique générale), ia mengembangkan teori umum mengenai  bahasa sebagai sistem bentuk (Sprache als Zeichensystem). Menurut teori tersebut, disebutkan bahwa bahasa merupakan suatu sistem yang abstrak dari sebuah bentuk (langue), yang bisa kita pahami sebagai satu-satunya obyek linguistik yang relevan. Terlepas dari berbicara atau parole, bahasa sebetulnya dapat diteliti secara lebih mendalam.

Karya yang sangat penting dari Saussure tersebut, yang merupakan cikal bakal dari munculnya faham strukturalis, tidak ia tulis sendiri. Adalah Charles Bally dan Albert Sechehaye, murid-murid Saussure, yang menulis buku tersebut.

Teori Tindak Tutur 2 (Searle)

Veröffentlicht: Mai 16, 2010 in Studi

Selain Austin, tokoh lainnya yang mengembangkan teori tindak tutur adalah John Rogers Searle. Ia tiada lain dan tiada bukan adalah murid dari Austin. Pada tahun 1969, Searle menulis buku berjudul “Speech Acts”.

Sedikit berbeda dengan Austin, Searle menyebutkan ada empat aspek tindak tutur, yaitu:

1. Kekuatan ujaran (Äußerungsakt). Austin menyebut istilah tersebut dengan sebutan fonetis dan fatis.

2. Kekuatan proporsional (proportionaler Akt). Austin menyebutnya dengan makna ujaran. Ia memperkenalkan istilah tema dan rema, atau ia lebih suka menyebutnya dengan Referenz dan Prädikation.

Misalnya: Die Studentin (Ref) – dolmetscht gut (Präd).

(Mahasiswi tersebut menerjemahkannya dengan bagus).

3. Kekuatan ilokusi seperti halnya pada Austin, misalnya:

Pernyataan (Behauptung): Die Studentin dolmetscht gut.

Pertanyaan (Frage):            Die Studentin dolmetscht gut? Atau

Dolmetscht die Studentin gut?

Dugaan (Vermutung):         Die Studentin dolmetscht sicher (pasti) gut?

Keraguan (Zweifel):             Ob (apakah) die Studentin gut gedolmetscht?

Harapan (Hoffnung):            Hoffentlich (mudah-mudahan) dolmetscht die Studentin gut.

Keinginan (Wunsch):          Wenn (seandainya saja) die Studentin doch gut dolmetschte!

Prakiraan (Voraussage):     Die Studentin wird (akan) gut dolmetschen.

4. Kekuatan perlokusi


Searle juga membedakan dua jenis aturan pada saat kita berkomunikasi yang telah kita kenal sebelumnya dari aturan tata bahasa. Kedua aturan tersebut:

  1. Aturan regulatif (regulative Regeln): aturan yang mengatur sikap, seperti halnya tata krama atau adab sopan santun, table manner, dan lain sebagainya.
  2. Aturan konstitutif (konstitutive Regeln): aturan ini mengatur sikap itu sendiri, yang tidak mungkin ada jika aturan ini tidak ditegakkan, seperti halnya aturan permainan atau pada olah raga.

Searle bahkan mengemukakan bahwa ada sembilan persyaratan penting agar tindak tutur seperti janji (Versprechen) dapat dimengerti oleh lawan bicara. Tiga dari Sembilan persyaratan yang disebutkan oleh Searle tersebut termasuk ke dalam kekuatan ilokusi. Sementara lima dari enam yang lainnya, di antaranya adalah:

1. Aturan kadar proposisi (Regel des propositionalen Gehalts),

misalnya: Sebuah janji (Versprechen=V) harus dapat mengatakan apa yang akan dilakukan oleh pembicara (Sprecher=S) di masa yang akan dating (einen zukünftigen Akt=A).

2. Aturan Pengantar I (Einleitungsregel I)

Janji (V) hanya boleh diucapkan, jika seorang pendengar (Hörer=H) memang menghendaki (A) apa yang diucapkan oleh si pembicara (S) – dan memang jika S mempercayainya.

3. Aturan Pengantar II (Einleitungsregel II)

Janji (V) hanya boleh diucapkan, dengan syarat jika S memang tidak dapat melakukannya (A).

4. Aturan Ketulusan (Aufrichtigkeitsregel)

Janji (V) hanya boleh diucapkan, jika S bersungguh-sungguh akan melakukannya (A).

5. Aturan Penting (Wesentliche Regel)

Ujaran janji (V) bisa dikatakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan (A) oleh S.

Seperti halnya Austin, Searle juga mengklasifikasikan tindak tutur menjadi lima jenis kata kerja ilokusi:

  1. Representatif:     sesuatu yang terjadi         meyakinkan (Überzeugung)
  2. Direktif:                H harus melakukannya     keinginan (Wunsch)
  3. Komisif:                S akan melakukannya        niat (Absicht)
  4. Ekspresif:             ekspresi dari S                      bervariasi
  5. Deklaratif:            hal-hal ekstra linguistis    bervariasi

Contohnya:

Representatif: menyatakan, menggambarkan, memberitakan, …

Direktif:          menyuruh, mengijinkan, memohon, …

Komisif:          berjanji, mengancam, berniat, …

Ekspresif:      berterima kasih, mengucapkan selamat, meminta maaf, …

Deklaratif:      menyatakan perang, menikah, memecat, …

Sumber rujukan:

Gross, Harro. –  Einführung in die germanistische Linguistik / Harro Gross ; neu bearb. von Klaus Fischer. –  München : Iudicium Verl., 1998