Archiv für die Kategorie ‘Momen’

Petuah Eyang Habibie

Veröffentlicht: Dezember 20, 2012 in Momen

Dalam beberapa bulan aku memimpin PPI Swiss, kami sering mendapatkan undangan untuk mengikuti berbagai macam kegiatan dari rekan-rekan kami sesama pelajar di luar negeri. Salah satunya adalah undangan untuk mengikuti kuliah umum mantan menristek serta Presiden RI yang kedua, Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie. Acara ini adalah hasil kerjasama PPI Aachen, Jerman, dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. Tema yang diangkat untuk kuliah umum yang disampaikan juga sangat menarik, yaitu „Sinergi dan reorganisasi peneliti Indonesia di luar negeri dan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia“. Maka aku dan beberapa teman memutuskan untuk ikut serta pada kuliah umum ini.

Hari jumat siang aku dan lima orang teman lainnya dari PPI Swiss berkumpul di stasiun Bern. Kami akan menghadiri acara kuliah umum dari Pak Habibie yang akan digelar esok hari di kota Aachen. Aku bersama dengan Chandra dari kota Montreux, Dimas dari Zürich, Nurvit dari Jenewa, Tasqi dari Basel, dan Mirza dari Bern dengan penuh semangat ingin mengikuti kuliah umum tersebut.

Kereta membawa kami dari kota Bern menuju kota Basel terlebih dahulu. Di stasiun Basel tidak sengaja kami bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Turki. Ia sekarang sedang berlibur keliling Eropa hingga beberapa puluh negara, mulai Eropa daratan, negara-negara Skandinavia, sampai Eropa Timur. Christian, nama mahasiswa tersebut menyapa kami dan bertanya tujuan kepergian kami. Setelah kami menjawab akan pergi ke kota Aachen di Jerman, maka ia duduk di kursi kereta dekat kami. Christian yang sudah dua minggu berkeliling Eropa menggunakan Eurail Pass dan hendak kembali ke Turki, tiba-tiba membatalkan niat kepulangannya. Ia diberitahukan oleh temannya, bahwa pada tanggal 30 Juli 2011 ini akan ada kuliah umum dari Pak Habibie. Christian sangat mengagumi sosok Pak Habibie. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk membeli tiket Eurail kembali dan pergi dari Milan menuju Basel untuk selanjutnya menuju Aachen.

Sepanjang perjalanan kami banyak berdiskusi satu sama lain terutama permasalahan mengenai para ilmuan Indonesia yang lebih senang berkarier di luar negeri disbanding di negaranya sendiri. Bagaimana tidak, hal tersebut ada kaitannya juga dengan penghargaan pemerintah akan kesejahteraan para ilmuan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata tersebut. Selain itu, ketika ilmuan tersebut pulang ke tanah air, mereka banyak yang frustasi mengingat perbedaan karakteristik, sarana dan prasarana serta mentalitas kerja kebanyakan orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak dari ilmuan Indonesia yang betah berkiprah di dunia riset di luar negeri.Image

Setelah lima setengah jam perjalanan, pukul 21. 15 kami tiba di kota Aachen.  Kota yang terletak di perbatasan antara negara Jerman, Belanda dan Belgia.

Aula Gedung Utama Kampus RWTH Aachen pada hari sabtu pagi ini sudah dipadati mahasiswa yang berdatangan dari seluruh Eropa. Di kampus ini Pak Habibie pernah menghabiskan masa studinya. Setiap negara yang memiliki PPI mengirimkan masing-masing perwakilannya ke acara ini. Eyang sebutan kami untuk Pak Habibie, saat itu datang tepat waktu. Tak lama kemudian acara dibuka. Sambutan pertama datang dari rektor RWTH. Ia sangat bangga pada Pak Habibie sebagai salah satu alumnus RWTH yang sukses membangun Indonesia.

        Eyang hari itu mengenakan jas berwarna krem, memakai peci hitam serta kacamata. Beliau masih tampak begitu energik meski harus dipapah di kanan kirinya oleh cucu perempuannya. Beliau adalah guru dan orang tua yang bijak bagi kami. Dari beliau kami ingin belajar banyak hal tentang sumbangsih yang dapat kami berikan selaku generasi muda terhadap negeri tercinta.

Suka tidak suka kami adalah sejarah masa depan bangsa yang harus melanjutkan perjuangan negeri. Untuk itu, kami tidak boleh sedikitpun gentar karena Habibie sudah puluhan tahun berdiri di garis depan memberikan jalan bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Sosok Habibie saat itu menegaskan pada kami sebagai generasi muda yang harus menjadi kebanggaan republik tercinta. Pak Habibie menyuruh kami untuk berkata lantang pada dunia bahwa orang Indonesia tidak kalah hebatnya dengan ratusan orang dari negara lain. Isi kepala kami boleh diadu dengan ratusan orang lain di muka bumi ini. Beliau berpesan kepada kami, „Di mana pun engkau berada selalulah menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan.“

Selesai acara kami kembali pulang. Dari sini kami belajar bahwa membangun sebuah bangsa tidak boleh apa adanya. Membangun sebuah bangsa harus dengan banyak mimpi-mimpi besar. Ketika semua tidak percaya, kita tidak boleh menyerah. Kita genggam erat mimpi kita, seperti seorang ibu yang menggenggam bayinya. Kita harus yakin bahwa suatu hari mimpi ini akan terjadi.

Image

Advertisements

Berkunjung ke Markas FIFA

Veröffentlicht: Dezember 10, 2012 in Momen

Sekian lama tinggal di Swiss aku belum menyempatkan diri pergi mengunjungi gedung FIFA yang berada di kota Zürich. Hari ini, jum`at tanggal 25 Februari 2011 pukul 11.00 langit di kota Zürich, Swiss, ditutupi kabut tebal. Suhu udara di kota ini menunjukan  -1°C. Dari stasiun utama kota Zürich menuju ke gedung induk olahraga sepakbola FIFA yang sejak tahun 1932 pindah dari ibukota Perancis ini hanya memerlukan sekitar 22 menit dengan menggunakan tram. Kantor FIFA yang terletak di FIFA-Strasse nomor 20, pagi hari menjelang siang tersebut tampak seperti tidak ada kegiatan. Hanya sesekali saja terlihat pegawai keluar masuk gedung. Gedung megah yang diarsiteki oleh Tilla Theus yang berada di area seluas 44.000 meter persegi. Tidak ada penjagaan keamanan ketat di sini. Siapa saja boleh masuk. Beberapa wisatawan asing biasanya sengaja menyempatkan diri untuk melihat-lihat markas utama persepakbolaan ini.

Tidak jauh setelah kita memasuki gedung, kita akan disambut oleh dua orang resepsionis yang ramah. Pengunjung yang hanya sengaja mampir unuk melihat-lihat hanya bisa sampai lantai dasar saja. Di sini mereka dapat mengambil gambar, melihat memorabilia, atau bahkan membeli buah tangan yang ada hubungannya dengan FIFA dan sepakbola.

Setelah beberapa lama melihat-lihat, aku lalu secara tidak sengaja bertemu dengan beberapa orang berwajah Asia. Setelah aku coba dekati dan menyapa mereka, ternyata mereka berasal dari Indonesia. Hari ini mereka sengaja mendatangi kantor FIFA dari tempat mereka yang berjarak sekitar satu jam dari kota Zürich ini.  Salah satu diantaranya adalah Sutrisno. Pria yang beberapa tahun tinggal di kota Baden, Swiss, ini merasa terpanggil hatinya melihat carut-marut persepakbolaan di tanah air. „Saya sangat sedih dengan persepakbolaan di Indonesia. Untuk itu saya memberanikan diri untuk mendatangi kantor FIFA dan membagikan selebaran pada orang-orang di sini.“

Salah satu pegawai FIFA yang menerima selebaran tersebut adalah Alexander Koch. Pria Swiss setengah baya ini sangat ramah dan bertanya tentang apa selebaran tersebut. Sutrisno mencoba menjelaskan isi dari selebaran tersebut dan dengan seksama Koch menyimaknya. Ia adalah seorang jurnalis yang biasa membuat ataupun menyeleksi berita yang datang dari segala penjuru dunia yang ditujukan pada FIFA sebelum ditayangkan di situs resmi FIFA. Dengan Bahasa Jerman ia mencoba memberikan pandangannya mengenai polemik yang tengah terjadi yang melanda persepakbolaan di Indonesia. Baginya sangat tidak masuk akal, jika seorang petinggi sebuah asosiasi pernah tersangkut masalah kriminal. Ia mengambil contoh profesi guru atau PNS. Sudah sangat jelas baginya jika mereka melakukan pelanggaran hukum maka statusnya sebagai guru atau PNS secara otomatis akan dicabut. Apalagi seorang pejabat di tataran asosiasi sepakbola.

Ketika Sutrisno dan kawan-kawan bertanya kepada resepsionis tentang kemungkinan untuk dapat bertemu dan mengemukakan keluhannya tersebut pada petinggi FIFA, petugas resepsionis cantik di sana menjawab bahwa mereka tidak mungkin dapat bertemu tanpa ada janji terlebih dahulu. Akhirnya Sutrisno dan kawan-kawan memberikan selebaran tersebut pada resepsionis dan berpesan untuk dilanjutkan pada Joseph S. Blatter. Sebetulnya Blatter hari ini ada di ruangannya, namun selebaran tadi masih harus melalui  sekretarisnya terlebih dahulu. „Aber ich bin mir sicher. Er wird das bestimmt lesen.“ (Tapi saya yakin, beliau (Blatter) pasti akan membaca selebaran ini). Usaha Sutrisno dan kawan-kawan ternyata direspon positif oleh FIFA. Setidaknya petugas resepsionis tadi berjanji untuk melanjutkan pada atasannya.

Cukup banyak yang ditemui oleh Sutrisno ketika itu. Selain Koch, ada juga pria lain yang cukup antusias dengan informasi yang disampaikan tersebut. Seorang pria Perancis yang bekerja untuk FIFA di bagian pertelevisian dengan senang hati membaca dan menyimpan selebaran tadi untuknya. Ia berkata bahwa publik sepakbola di Indonesia sangat banyak sekali. Ia kemungkinan besar dapat tahu hal tersebut dari setiap Piala Dunia, Liga Champion ataupun liga-liga Eropa. Masyarakat penikmat bola di tanah air sangat besar akan hal itu. Lalu ia bertanya, “selain sepakbola, olahraga  apalagi yang digemari orang-orang Indonesia?”. Sutrisno menjawab bulutangkis dan Formula Satu. Pria Perancis tersebut berharap sekali bahwa Sepakbola di Indonesia dapat lebih maju lagi, seperti halnya persepakbolaan di Korea dan Jepang. “Itu memang tugas FIFA. Kami selalu senantiasa mendorong negara-negara di Asia untuk lebih berprestasi lagi di pentas sepakbola dunia.”

Kongres PSSI pada tanggal 23  Maret mendatang ternyata juga mendapat perhatian FIFA. Hal tersebut sudah ada di tangan General Secretary dan ia melanjutkannya pada Komisi Etik. Itu artinya Kongres serta Pemilihan Ketua PSSI mendatang sudah menjadi bagian dari media FIFA. Keteguhan serta sikap peduli Sutrisno dan kawan-kawan tadi patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, ia yang sudah tidak lagi tinggal di tanah air tetapi masih memikirkan masa depan persepakbolaan tanah air yang kian hari kian tidak menentu nasibnya.

Image

Foto: http://www.zeit.de/sport/2010-10/fifa-fussball-ethik

Sulitnya Tari Saman

Veröffentlicht: November 30, 2012 in Momen

SamanAcara yang mengusung misi mempromosikan produk-produk Indonesia di Swiss ini sesaat lagi akan dimulai. Persiapan matang sudah dilakukan sejak hampir setahun ini oleh pihak KBRI. Ibu Nurul sebagai ketua Dharma Wanita dan istri diplomat bidang ekonomi bertindak sebagai motor kegiatan ini. Beliau memercayakan padaku untuk menjadi pembawa acara untuk kegiatan besar tersebut dalam bahasa Jerman. Aku mengambil tawaran tersebut dan mempersiapkan segala hal yang nantinya aku perlukan saat acara berlangsung.

Promosi ini bertujuan untuk meningkatkan volume perdagangan Indonesia dan Swiss. Selama ini kerjasama Indonesia dan Swiss di bidang ekonomi sudah terjalin dengan baik. Namun, dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya seperti Thailand, Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam, negara kita masih kalah jauh. Untuk itulah pemerintah melalui inisiatif KBRI Bern menyelenggarakan kegiatan ini dan berharap agar pengusaha-pengusaha Swiss dapat mengenal lebih dekat Indonesia. Banyak produk negara kita yang sebetulnya bisa bersaing di pasar Eropa, namun entah mengapa tidak banyak dari produk tersebut yang dapat  kita jumpai di pasaran Swiss. Kita ambil contoh misalnya mie instant. Di banyak supermarket besar di Swiss produk mie instant Thailand dapat dengan mudah kita dapatkan. Namun, tak satu pun dari supermarket tersebut yang menawarkan produk Indonesia.

Panggung besar yang sudah kami sulap pada malam hari sebelumnya sudah siap digunakan. Untuk persiapannya kami harus beramai-ramai bekerja keras  mulai membuat rumah-rumahan bergaya betawi, tata lampu, hiasan panggung dan kebutuhan panggung lainnya. Di belakang para pengisi acara juga sedang mempersiapkan diri di kamar rias. Para tamu undangan telah banyak yang berdatangan. Salju di luar ruangan mengguyur kota Bern dan membuat udara terasa sangat segar.

Berbagai macam produk khas Indonesia mengisi penuh gedung. Ada berbagai macam produk kerjainan, makanan, pakaian, mebel dari rotan hingga mutiara dari Lombok. Di atas panggung Duta Besar Djoko Soesilo membuka acara. Setelah itu berbagai penampilan hiburan dapat dinikmati tamu udangan. Ratusan tamu undangan dimanjakan pula dengan makanan khas Indonesia seperti sate, bakmi goreng, nasi goreng, dan makanan lainnya sambil menikmati sajian hiburan.

Banyak sekali pertunjukan hiburan yang sudah disiapkan untuk menyemarakkan acara siang ini. Paduan suara, tarian tradisional dari Bali dan Aceh, angklung, serta banyak kemeriahan lainnya. Selain harus menjadi pembawa acara aku juga terlibat untuk tari saman dan pagelaran angklung.

Kelompok angklung kami dipimpin oleh Lia Posati. Dia adalah orang Indonesia asli yang telah lama tinggal di Swiss dan menikah dengan orang Italia. Kelompok angklung kami berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Philipina, Brasil, Portugal, Swiss, Jerman,  dan tentu saja masyarakat Indonesia. Untuk acara ini kami menyiapkan tiga buah lagu dengan bahasa berbeda, bahasa Jawa, Italia, dan bahasa Jerman. Tepuk tangan meriah dari audiens yang hadir membuat kami semakin bersemangat.

Aku masih terkesan hingga saat ini, bagaimana aku dengan teman-teman lainnya tampil membawakan tari Saman dari Aceh. Semua orang sudah mengenal tarian ini, tidak hanya orang Indonesia tapi juga orang asing. Aku masih ingat bagaimana kami berlatih dengan keras untuk tari Saman ini selama dua bulan lamanya. Pada awal-awal latihan banyak sekali kesulitan yang kami temui. Aku sendiri sebetulnya bukan orang yang suka tari. Namun, kesempatan yang baik ini sayang untuk dilewatkan. Kelompok tari Saman terdiri dari anak-anak muda Indonesia yang tinggal di Swiss. Banyak dari mereka adalah orang Indonesia keturunan, tapi dengan senang hati ikut bergabung untuk menari Saman ini. banyak sekali kelucuan yang terjadi pada masa-masa latihan. Aku sering sekali menerima tamparan dan sikutan dari teman di kanan dan kiriku karena gerakan mereka yang tidak seragam. Saat-saat menegangkan sebelum kami tampil harus kami lewati. Saat itu cd yang kami gunakan sebagai iringan tarian tidak ditemukan, padahal penampilan fashion show sebelum kami sudah hamper selesai. Kami semuanya panik. Tak satu pun dari kami yang memiliki kopian cd tersebut. Pada menit-menit terakhir setelah penampilan fashion show, teman kami menemukan cd tersebut. Di atas panggung kami membawakan tarian yang sangat sulit tersebut tanpa cacat sedikit pun. Semuanya berjalan dengan baik. Namun ada kelucuan saat tarian berakhir. Celana yang dikenakan salah satu teman kami saat beranjak dari tempat duduknya terlepas. Untungnya dia mengenakan  hot pants berwarna hitam.

Tarian Saman tadi rupa-rupanya menjadi idola dari seluruh audiens yang hadir. Acara secara keseluruhan berlangsung dengan sukses. Banyak tindak lanjut dari acara tersebut yang dijajaki oleh pengusaha-pengusaha baik dari Indonesia ataupun dari Swiss.

Bern, Desember 2010

Hari ini … yang lalu.

Veröffentlicht: April 28, 2012 in Momen

Hari ini 7 tahun yang lalu,
Hari yang Aneh!!! Di kelas waktu ngajar, ada dua siswi berantem gak penting…tapi ternyata itu sandiwara belaka. At the end, dapat kue tart dari anak-anak brandal itu

Hari ini 6 tahun yang lalu,
Dirayakan orang-orang sekota Malang. Semua orang, baik tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, waria, datang ke acara ini.
Mereka sengaja bikin hajatan besar untuk saya dengan judul “Malang Tempo Doeloe” 😉
Thx Malang, What a nice street festival!

Hari ini 5 tahun yang lalu,
Harus melewatkan seorang diri di sebuah ”apartement mewah”  di Menteng, Jakarta.

Hari ini 4 tahun yang lalu,
Ditipu mahasiswa dengan WO kuliah,,,tapi mereka “akhirnya datang juga!!!”
dan bawa kue tart, kejadiannya mirip seperti waktu 7 tahun yang lalu.

Hari ini 3 tahun yang lalu,
Ada salah satu mahasiswi pingsan setelah selesai presentasi di kelas. Wah gawat! Bisa-bisa berurusan dengan polisi nih…eh ternyata cuman Überraschungsparty  lengkap dengan kue tart seperti biasa!!!

Hari ini 2 tahun yang lalu,

Dapat kabar bahwa beasiswa master saya diperpanjang. Thank God!

Hari ini 1 tahun yang lalu,

Nama saya muncul di beberapa harian ibu kota setelah terlibat perbincangan dengan Wanda Hamidah  seperti di http://edukasi.kompas.com/read/2011/04/28/16143463/Beasiswa.Pemerintah.Swiss.Masih.Menumpuk

Hari ini 28 April 2012,

Langit di atas Gunung Bromo bertaburkan cahaya bintang seperti „Meteor Garden“. Di atas gunung itu berkumandang lagu

Viel Glück und viel Segen
Auf all deinen Wegen
Gesundheit und Frohsinn
Sei auch mit dabei

Swiss Team Spirit

Veröffentlicht: Februar 18, 2012 in Momen

Peserta Teambuilding dari berbagai negara

 

Agenda awal piknik pada hari sabtu pagi ini dari kampus tempat saya kuliah di Universitas Bern, Swiss, sebetulnya adalah Snowshoe hiking. Akan tetapi, dua pekan di awal bulan Februari ini salju sudah tidak lagi turun di hampir seluruh daratan Eropa Barat. Oleh karena itulah, rencana kami batal. Namun, beberapa hari sebelumnya kami mahasiswa di Universitas Bern penerima program beasiswa dari pemerintah Swiss diberitahukan lewat E-mail oleh pihak kampus, bahwa acara akan diganti menjadi Teambuilding. Teambuilding ini bernama Swiss Team Spirit.

Di Universitas Bern ada sebanyak 26 mahasiswa dari berbagai negara di dunia penerima beasiswa tersebut. Mulai dari negara maju seperti Amerika Serikat, Finlandia, Rusia, China, Italia, hingga negara-negara berkembang seperti Tunisia, Ukraina, Yunani, Kuba, Rumania, Kenya, Indonesia, dan masih banyak lagi negara lainnya. Keistimewaan para penerima beasiswa dari pemerintah Swiss ini adalah mereka setiap bulannya difasilitasi untuk mengikuti kegiatan darmawisata yang dikoordinir oleh pihak kampus melalui International Office. Mahasiswa dari seluruh penjuru dunia tersebut disuguhi keindahan alam Swiss. Saya mengira, bahwa hal positif semacam ini juga dapat mempromosikan pariwisata negeri Swiss yang sangat indah di luar negeri melalui mahasiswa.

Dari ibukota Swiss, Bern, kami menggunakan kereta api menuju kota Emmental. Kota ini dikenal sebagai salah satu tempat penghasil keju terbaik di Swiss. Perjalanan menuju kota Emmental menghabiskan waktu sekitar satu jam. Alat transportasi umum seperti kereta sangat digemari di Swiss, karena sangat tepat waktu, aman, dan nyaman. Namun, bagi wisatawan ongkos yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit. Untungnya segala sesuatu untuk kegiatan darmawisata ini ditanggung seluruhnya oleh pihak kampus.

Suhu udara pada pagi hari tersebut menunjukan 2° Celcius. Lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Tepat pukul 10.00, kami tiba di sebuah kawasan luas berbukit-bukit berwarna hijau. Di sana kami lihat sebuah „Tipi“ yang sangat besar. „Tipi“ atau tenda yang biasa digunakan oleh suku Indian tersebut biasanya dijadikan base camp bagi kelompok pada saat bertanding.

Patrick dari tim „Kreativtraining“ menyapa dan menyalami kami satu-persatu. Pria Swiss ini bekerja di bidang motivator dan team building. Patrick menjelaskan tentang apa yang akan kami lakukan sepanjang hari ini. Peserta dijamin akan senang setelah mengikuti permainan-permainan nanti, kilahnya.

Ski laufen

Tidak banyak kata, permainan pertama pun dimulai. Kami dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari empat peserta. Saya mengetuai kelompok yang kesemuanya perempuan. Mereka berasal dari Polandia, Jerman, dan Rusia. Sementara kelompok lawan diketuai oleh teman dari Kuba, dan anggotanya sama yaitu tiga orang perempuan dari Cina, Yunani, dan Romania. Permainan tersebut dinamakan « Ski laufen ». Tetapi permainannya bukan ski di atas salju, melainkan seperti permainan « sandal bakiak », kalau yang saya tahu waktu saya di Bandung. Dua buah kayu dilengkapi dengan tali yang harus dipegang peserta di kanan dan kiri tersebut diinjak dan kami harus bersama-sama melangkah hingga garis finish. Uji coba sebelumnya kami lakukan. Sekedar mencari strategi jitu untuk memenangkan pertandingan.

Lomba dimulai setelah pemanasan selama kurang lebih sepuluh menit. Kami pun berlomba dengan penuh semangat. Saat melangkahkan kaki aba-aba pun dilakukan « one, two, three » kaki kanan serempak dilangkahkan, « one, two, three » berikutnya kaki kiri. Begitu seterusnya hingga garis finish. Namun, setiap kelompok harus dapat melewati seutas tali sebagai garis finish tersebut sebelum dinyatakan sebagai pemenang. Semua anggota kelompok harus melewatinya tanpa menyentuh tali. Tim kami ternyata yang paling dahulu melewati tanpa kesalahan dan menjadi pemenang lomba ski tersebut.

 

Peserta berjalan di atas seutas tali.

Berikutnya adalah permainan yang menguras strategi dari semua peserta. Kami tidak bermain dalam kelompok kecil lagi, melainkan menjadi sebuah kelompok besar. Tugasnya adalah melewati rintangan di atas seutas tali. Tugas terasa semakin berat karena kami harus membawa berbagai benda yang dijadikan simbol tertentu. Ada bola dunia besar, ember berisi air, kacamata, dan tali. Masing-masing memiliki poin. Tidak hanya itu, waktu pun menjadi syarat. Setiap peserta yang menginjakkan kaki ke tanah akan mengurangi nilai keseluruhan. Di sini kerjasama tim betul-betul diuji. Dari waktu yang tersedia sekitar satu jam setengah, waktu yang kami pakai untuk diskusi saja sekitar 30 menit. Ciri khas mahasiswa. Namun kami dapat mengakhiri permainan ini dengan poin yang sangat fantastis.

Permainan lainnya adalah berjalan di atas ketinggian kira-kira sepuluh meter di atas seutas tali berpasangan. Permainan ini sangat menguji adrenalin peserta. Saat permainan berlangsung kami dipasangi pelindung layaknya pemanjat tebing. Semua pasangan dapat menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Namun, salah satu teman dari Romania yang memiliki altophobia atau takut ketinggian, mengurungkan niatnya setelah berada di atas. Akhirnya teman dari Kuba menggantikannya.

Terakhir, sebelum kami makan siang Patrick menyuruh kami bermain “tongkat ajaib”. Tongkat yang terbuat dari alumunium ini sangat unik. Kami diharuskan menempelkan kedua telunjuk kami di bawah tongkat, dan tongkat tersebut harus dapat mencapai tanah. Sangat simple tugasnya. Namun, ternyata tidak semudah yang kami kira. Tongkat bukannya mengikuti gravitasi bumi, melainkan seakan melayang ke udara dan memiliki ruh. Tapi inisiatif teman-teman untuk berkata “down, down, down”, dengan sendirinya tongkat perlahan-lahan mencapai bumi.

Acara kami tutup dengan makan siang bersama. Menu kami siang hari ini adalah Fondue.

 

Artikel ini dapat Anda baca juga di: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/03/07/swiss-team-spirit/

Sumber Gambar: Google

Bioskop „Cineplex“ yang terletak di Biegenstr. 8 di kota Marburg, Jerman, pada kamis malam (17/2/2011) dipadati pengunjung. Di tengah kepungan film-film Hollywood yang sekarang ini menjadi tema hangat di tanah air karena mereka enggan memasang filmnya karena alasan pajak yang tidak masuk akal, salah satu film berbahasa Jerman „Dschungelkind“ tidak kalah memikat penonton saat itu. „Dschungelkind“ atau di dalam bahasa Indonesia dapat diartikan „Anak Rimba“ ini merupakan film yang baru saja dirilis di Jerman pada tanggal 14 Februari lalu dan berdurasi 132 menit. Film yang disutradarai oleh Roland Suso Richter ini diambil dari cerita novel bestseller dengan judul yang sama. Sebagai lokasi shooting dipilih Taman Nasional Malaysia, taman ini sengaja dipilih sebagai lokasi pengambilan film, karena lokasinya terbebas dari penyakit malaria.

Kisah di film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh Sabine Kuegler (38), yang hijrah dari Jerman ke pedalaman Papua pada bulan Januari 1980. Bagi Sabine, hutan Papua merupakan tempat yang benar-benar memberikan kepuasan batin tersendiri. Sabine yang ketika itu berusia delapan tahun bersama dengan kedua orangtuanya Klaus dan Doris Kuegler serta kedua saudara kandungnya, Judith (10) dan Christian (6), terbang dari Jerman dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di hutan Papua. Ayah Sabine, Klaus Kuegler, menjalankan misi di sana sebagai peneliti bahasa dan juga sekaligus misionaris yang terjun di tengah-tengah suku Fayu di pedalaman Papua. Dengan serius ia meneliti bahasa yang digunakan oleh suku Fayu tersebut dalam kurun waktu yang sangat lama. Berkat jasa serta keramahan kepala suku Fayu, Klaus Kuegler dapat mendirikan sebuah pondok untuk keluarganya tinggal selama ia melakukan ekspedisinya di sana. Untuk dapat menuju ke pedalaman tempat suku Fayu berada, mereka harus menempuh perjalanan dengan menggunakan helikopter.

Rumah yang mereka tempati terletak di tepi sungai dan berjarak ratusan kilometer dari peradaban masyarakat modern. Suku Fayu hidup seperti halnya manusia di zaman purba, yaitu hidup dengan berburu dan bercocok tanam. Bagi Sabine dan kedua saudaranya, kehidupan di tengah-tengah hutan yang masih belum terjangkau oleh aliran listrik, air PAM, apalagi televisi dan radio tersebut menjadikan mereka lain dari anak-anak seumurannya. Justru bagi mereka, terutama bagi Sabine, hutan tiada lain adalah surga untuk melakukan segala „kegilaan“ mereka dengan cara berpetualang. Sabine sangat menyayangi binatang, bahkan ia memiliki koleksi laba-laba berukuran besar dan berbulu, yang bisa jadi untuk kebanyakan anak perempuan sangat menakutkan. Ia juga sangat lihai memanjat pohon dan tidak ragu-ragu duduk bersama dengan orang-orang dari suku Fayu dan makan buaya bakar.

Suku fayu tidak mengenal adanya kehidupan setelah kematian. Oleh karenanya, apabila jika salah satu di antara anggota keluarga mereka mati, maka jasad orang yang mati akan tetap disimpan dan hidup bersama dengannya. Mereka juga memercayai, bahwa jika seseorang sakit atau mati, itu berarti ia terkena kutukan. Mereka tidak percaya pada penyembuhan atau pengobatan. Bagi mereka kutukan merupakan hal yang harus diterima dengan lapang dada dan kapanpun harus siap untuk kehilangan.

Pada salah satu bagian film diceitakan, suatu ketika Sabine dan Christian menemukan Auri, seorang anak dari suku Fayu, sedang terisak tangis akibat menahan rasa sakitnya di tengah hutan sendirian selama berhar-hari. Sabine yang merasa iba padanya sangat ingin menolong dan menyelamatkan Auri dari kematiannya yang sia-sia tersebut. Ia kemudian memutuskan untuk secepat mungkin memberitahukan kepada ayahnya, namun agar ia tidak kehilangan jejak, ia meminta Christian untuk tetap tinggal di samping Auri. Si kecil Christian yang awalnya tidak mau dipaksa oleh Sabine untuk tetap berada di sana, sementara ia pulang dan memberitahukan pada ayahnya. Ide yang sangat brilian dari Sabine saat itu adalah ketika ia menyuruh Christian bernyanyi selama ia menemani Auri. Di samping untuk menghilangkan rasa takut, juga sebagai tanda di mana mereka berdua berada. Secepat kilat Sabine berlari dan Christian harus bernyanyi dengan menangis tersedu-sedu di tengah hutan tersebut. Sore menjelang malam, Klaus menemukan keduanya di dalam hutan. Ia langsung membawanya pulang dan beberapa hari berikutnya Auri bisa diselamatkan oleh Doris. Mulai saat itu, Auri menjadi sahabat baik Sabine.

Saat Sabine berusia 17 tahun, ia memutuskan untuk kembali ke Jerman. Ketika itulah ia merasakan «culture shock », karena tidak mudah untuknya beradaptasi dengan kehidupan baru yang sangat berbeda dengan kehidupannya selama ini di dalam hutan. Baginya kehidupan di hutan memang secara fisik membuat siapa saja lelah, akan tetapi kehidupan di dunia modern seperti yang ia alami di Jerman membuatnya lelah secara kejiwaan.

Sabine kecil diperankan oleh Stella Kunkat yang memiliki talenta bermain film sangat bagus. Sementara itu, Sabine dewasa diperankan oleh Sina Tkotsch. Thomas Kretschmann berperan sebagai ayah Sabine, Klaus Kuegler, dan Doris diperankan oleh Nadja Uhl yang sebelumnya pernah juga berperan di dalam film « Mogadischu » yang juga sukses di pasaran. Sebanyak 85 orang pemain didatangkan langsung dari Papua New Guinea dan berperan sebagai suku Fayu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kehidupan hutan seperti diceritakan Sabine Kuegler di dalam bukunya. Oleh karenanya, mereka harus dilatih bagaimana menari dan belajar teknik berperang yang biasa dilakukan oleh suku Fayu.

Film yang banyak memberi ilmu tentang kehidupan ini membuat para penonton yang memenuhi gedung bioskop merenung, seperti halnya Mariana Malkova (34). Baginya banyak sekali pelajaran yang dapat diambil setelah menyaksikan film tersebut. Ia melihat bagaimana kehidupan yang sangat jauh dari modernisasi, kejujuran, dan kebersamaan di antara sesama mereka. Perempuan cantik dari kota Bratislava, Slowakia, yang bekerja di Universitas Marburg di bagian International Office ini matanya terlihat berkaca-kaca. Ia mengaku pada bulan Januari 2010 pernah mengunjungi beberapa tempat di Indonesia seperti Bandung, Yogyakarta, Ambon, dan Bali. Namun, karena kesannya yang sangat mendalam pada film tersebut ia ingin kembali pergi ke Indonesia dan melakukan petualangan serupa suatu saat nanti.

Kontingen Indonesia

Musim semi di Swiss tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu teman saya seorang Swiss berkata, “Dieser Frühling war genial wie noch nie – ein tropischer Mai!“ (Musim semi kali ini benar-benar sangat indah dan sepertinya belum pernah terjadi sebelumnya. Seperti bulan Mei di negara beriklim tropis). Oleh karenanya, tidak heran jika sebagian besar penduduk negara Swiss memanfaatkan waktu yang indah tersebut dengan berbagai macam aktivitas. Sedari kecil mereka telah terbiasa untuk hidup sehat dan itu dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Jika cuaca cerah seperti sekarang-sekarang ini mereka biasanya pergi naik gunung, berenang di sungai, jalan-jalan ke hutan dan berbagai kegiatan lainnya yang membuat mereka menggerakkan badannya. Di musim dingin ketika salju menyelimuti sebagian besar negeri, tidak membuat mereka bermalas-malasan. Mereka berbondong-bondong pergi ke gunung menyatu dengan alam dan melakukan aktivitas seperti „snow-shoe-hiking“ (naik gunung dengan menggunakan sepatu khusus untuk salju), bermain ski, snowboard, ice skating, ice hockey, dan segudang aktivitas lainnya. Kemungkinan kebiasaan hidup seperti ini juga yang menyebabkan mereka dapat hidup bugar hingga usia senja. Di samping tentunya makanan yang sehat dan udara segar tanpa banyak polusi. Kebiasaan baik seperti itu menular kepada masyarakat Indonesia yang tinggal di Swiss.

Pada hari sabtu dan minggu (21-22/5/2011), digelar sebuah ajang tahunan yang bertajuk „Swiss Two-Day-March”. Pada tahun ini penyelenggaraannya sudah memasuki usia ke-52 tahun. Acara yang selalu diselenggarakan pada minggu ketiga di bulan Mei ini, berlokasi di Belp tidak jauh dari ibukota Swiss, Bern. Partisipan dari berbagai mancanegara selalu hadir mengikuti kegiatan ini. Acara „Swiss Two-Day-March” ini seperti halnya kegiatan gerak jalan ataupun jalan santai di Indonesia. Dulu kegiatan seperti ini banyak sekali diselenggarakan. Namun, sekarang sepertinya hanya sedikit saja yang biasa melakukannya seperti korps ABRI, polisi, PNS, dan lain sebagainya. Masyarakat umum seperti sudah tidak ada waktu lagi mengikuti kegiatan semacam ini. Adapun di kota-kota besar kegiatan seperti ini biasanya dihelat oleh pemerintahan kota ataupun perusahaan dan agar menarik minat massa peserta disuguhi hiburan dan door prize menarik.

 

Tentara Jerman

Acara „Swiss Two-Day-March” ini biasanya selalu diikuti satuan-satuan seperti angkatan bersenjata, polisi, patroli perbatasan, pemadam kebakaran, penembak junior, siswa ataupun mahasiswa, serikat pekerja atau perorangan. Dari Indonesia tidak ketinggalan, diwakili oleh masyarakat Indonesia yang kini tengah berada di Swiss. Mereka berpartisipasi mengikuti acara „Swiss Two-Day-March” ini. Kontingen Indonesia menjadi kontingen terbesar di ajang ini, yakni berjumlah 30 orang. Mereka berasal dari berbagai elemen masyarakat seperti staff kedutaan, ekspatriat, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan masyarakat umum lainnya. Acara ini diinisisai oleh perwakilan Dharma Wanita di Bern, Swiss.

Setiap peserta dapat memilih jauh lintasan yang ditawarkan oleh panitia, mulai dari 10, 20, 30 hingga 40 kilometer. Kami sepakat untuk mengawali keikutsertaan kami ini di lintasan paling pendek, yakni 10 kilometer. Sementara peserta yang tergabung di satuan seperti polisi, tentara, pemadam kebaran tentu saja memilih jarak yang lebih panjang, 40 kilometer. Sepanjang lintasan kami bisa melihat pemandangan indah Swiss, mulai dari ladang perkebunan, hutan, sungai, rumah-rumah petani hingga pelabuhan udara yang terdapat di kota Belp ini. Jumlah kontingen yang gemuk ini dipecah menjadi beberapa kelompok kecil.

Peserta dari Perancis

Pada 5 kilometer pertama, peserta dapat beristirahat di sebuah restoran yang terletak di tengah hutan. Namun, saya dan juga beberapa teman di kelompok pertama tidak menggunakan kesempatan itu. Kami terlalu bersemangat hingga akhirnya meninggalkan kelompok lainnya jauh di belakang. Karena kegiatan ini dapat pula diikuti oleh peserta perorangan, di tengah perjalanan kami berjumpa dengan seorang pria yang telah berusia lanjut sekitar 70-an tahun. Ia berasal dari Norwegia. Baginya kegiatan ini bukan pertama kali yang diikutinya. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengikuti kegiatan ini di berbagai negara.

Dari waktu yang masih banyak tersedia, kami rupanya lebih cepat dibandingkan kelompok lainnya. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 90 menit untuk mencapai garis akhir. Itupun dikarenakan kami salah mengambil jalan. tanda jalan yang diberikan panitia tidak kami lihat hingga akhirnya kami harus kembali ke arah semula. Adapun peta yang kami miliki sebagai penunjuk jalan tidak kami baca dengan seksama karena kami berjalan dengan berbicara satu sama lainnya.

Saat menginjak garis akhir

Namun demikian, merah putih akhirnya berkibar di ajang tahunan „Swiss Two-Day-March” ini. Di tahun-tahun mendatang, kami sepakat akan mengikuti kegiatan ini dengan memilih lintasan yang lebih