Archiv für die Kategorie ‘Indonesia’

 

Gending Jawa yang dibawakan kelompok gamelan “Lindhu Raras” yang sebagian besar pemainnya adalah warga negara asing membuka acara “Lomba Pidato dan Bercerita Rakyat 2018” untuk para penutur asing di Jerman. Kegiatan lomba dilaksanakan di aula Rumah Budaya Indonesia yang terletak di Theodor-Franke-Strasse 11, Berlin, pukul 15.00 waktu setempat.

Tema dari lomba pidato tahun ini adalah „Persatuan dalam Keberagaman“. Sementara itu, „Cerita Rakyat Indonesia“ menjadi tema lomba bercerita.

Dalam sambutannya, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Dr. Achmad Saufi mengutarakan „Negara Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke di 17.000 pulau. Keberagaman yang begitu besar tersebut sudah merupakan suratan takdir dari Tuhan. Namun, bagaimana kita mengikatnya dalam persatuan?”

Sebanyak sepuluh peserta yang semuanya masih menyandang status mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Jerman tampil pada acara puncak final lomba. Enam orang peserta lomba tengah studi di perguruan tinggi HTWG Konstanz pada jurusan Studi Terapan Bahasa-bahasa Ekonomi se-Dunia, satu orang dari Universitas Leipzig di jurusan Ilmu tentang Islam, dan tiga peserta lainnya dari Universitas Hamburg yang sedang mendalami ilmu Bahasa dan Budaya Asia Tenggara.

Lomba Pidato dan Bercerita Rakyat merupakan program rutin tahunan KBRI. Kegiatan lomba ini sudah digelar sejak tahun 2012. Lomba pidato dan bercerita rakyat di KBRI Berlin khususnya telah memasuki tahun yang kedua.

Kegiatan lomba bertujuan untuk memotivasi warga negara asing untuk belajar bahasa Indonesia. Lomba ini diharapkan dapat menjadi wadah pendukung untuk meningkatkan kompetensi penutur asing berbahasa Indonesia baik secara lisan ataupun tulisan. Selain itu, lomba ini dapat menjadi sarana untuk menyalurkan bakat pemelajar bahasa Indonesia dalam berpidato dan bercerita.

Tampil sebagai pemenang lomba pidato pada tahun ini adalah Leon (22) dari Universitas Hamburg yang tengah mengambil jurusan Bachelor on East Asia and South East Asia dengan fokus bahasa Indonesia. Pidatonya berisi mengenai kebersamaan komunitas Indonesia di dalam dan di luar negeri. Meski baru enam bulan belajar bahasa Indonesia, namun penggunaan bahasa Indonesia dan pelafalannya hampir sempurna. Leon pernah melakukan magang di Kalimantan Barat selama 2,5 bulan.

Di dalam pidatonya ia juga menyisipkan pengalaman menariknya ketika ia berada di Kalimantan Barat. Ia merasa kagum dengan kehidupan tiga komunitas besar di Kalimantan Barat, yaitu masyarakat suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa.

Leon memaparkan kekaguman lainnya. Komunitas Indonesia di luar negeri seperti di kota Hamburg, Jerman, sering mengadakan pertemuan dengan sesama orang Indonesia. Mereka memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman. Tradisi arisan dan gotong royong orang Indonesia yang tidak dimiliki oleh komunitas lainnya sangat membuatnya terkesan.

Sementara itu, pemenang lomba bercerita rakyat tahun ini adalah Samantha Grace (23) mahasiswi dari HTWG Konstanz. Ia sedang menempuh jurusan Bahasa Perekonomian Asia dan Manajemen. Menurutnya melodi bahasa Indonesia sangatlah Indah. Oleh karenanya, ia mendalami bahasa Indonesia.

Pada lomba tahun 2017 sebelumnya, ia masih belum berhasil menjadi pemenang. Dongeng “Timun Mas” yang dikisahkan pada tahun ini membawanya sebagai pemenang lomba mengalahkan peserta lainnya. Bagaimana ia berkisah membuat penonton seisi ruangan berdecak kagum. Ia bercerita seperti halnya penutur asli bahasa Indonesia. Media bantu yang dibawa saat bercerita membuat penonton dapat lebih dengan asyik menyimak dongeng yang dibawakannya.

Kedua pemenang lomba berhak untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, serta mendapatkan hadiah berupa kesempatan untuk melakukan kunjungan budaya ke situs-situs bersejarah di Indonesia.

 

Tulisan ini dimuat juga di:

http://www.malangtimes.com/baca/28093/19700101/070000/seru-orang-jerman-berpidato-dan-mendongeng-cerita-rakyat-indonesia/

 

Bulan Ramadhan tahun ini baru saja berlalu. Bulan Ramadhan di Jerman tahun ini cukup ekstrem karena umat muslim  harus berpuasa selama hampir 19 jam sehari. Hal itu tapi tidak menyurutkan semangat ibadah umat muslim Indonesia khususnya yang sedang bermukim di Berlin, Jerman.

Tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang dilakukan muslim di tanah air saat Ramadhan, umat muslim Indonesia di Berlin mengisi kegiatan sehari-hari dengan berbagai kegiatan ibadah. Setiap hari masjid Al-Falah yang terletak di Feldzeugmeisterstraße 1, Berlin, selalu diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan.

Masjid Al-Falah didirikan pada tahun 1986. Masjid ini dikenal juga dengan nama Indonesisches Weisheits- und Kulturzentrum e.V. atau IWKZ, yaitu semacam Pusat Kajian Budaya Indonesia khususnya masalah Islam. Masjid ini dapat menampung sekitar 300 orang untuk shalat berjamaah.

Khusus di bulan Ramadhan hari-hari di masjid Al-Falah diisi dengan kegiatan seperti Kibas atau Kajian Ba’da Subuh selama Ramadhan. Berbagai tema dikaji setiap harinya, di antaranya Siroh Nabawiyyah, serta Sejarah Nabi dan Khilafiyah. Jamaah yang tidak dapat langsung datang ke masjid dapat menyaksikan melalui Live Instastory Instagram @IWKZ.

Ada pula Kajian Menjelang Magrib selama Ramadhan (Karib). Tafsir Juz ke-28 menjadi fokus bahan kajian Karib untuk tahun ini. Selain itu, pengurus masjid juga menawarkan Pengajian Pemuda yang membahas tema seputar Fiqih Keluarga dan sekelumit kehidupan pranikah. Tidaklah heran, karena banyak mahasiswa muslim Indonesia yang tengah menempuh studi di berbagai kampus kenamaan di ibukota Jerman ini. Tidak ketinggalan pula pengajian serta tadarus Al-Qur’an untuk pemudi.

Untuk kaum ibu, pengurus masjid memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti pengajian ibu-ibu (Ummul Falah) setiap hari rabu dan kamis. Sementara itu, untuk pengajian bapak-bapak (Al-Hisab) digelar setiap hari minggu sore. Bagi anak-anak usia TK, ada Taman Pendidikan Al-Quran untuk Anak-anak. Mereka belajar mengenai fiqih, tata cara sholat, serta hapalan surat-surat Al-Quran.

Nuansa Ramadhan di tanah air masih dapat tetap terasa ketika muslim Indonesia menghabiskan waktunya di masjid Al-Falah atau IWKZ Berlin ini. Kegiatan-kegiatan Ramadhan 1439 H di sini sebetulnya hampir sama dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka dapat berbuka puasa bersama setiap hari, shalat Tarawih berjamaah, dan makan sahur bersama. Tahun ini masjid Al-Falah mengundang Ustadz Muhibudin dari Indonesia sebagai penceramah dan narasumber berbagai kajian selama bulan Ramadhan.

Hal tersebut juga diungkapkan salah satu Jamaah, Harry Rizky, anak rantau Minang yang juga mahasiswa master di Technische Universität Berlin. „Meskipun jauh dari kampung halaman, nuansa Ramadhan di Berlin masih terasa hangat, karena IWKZ bisa memberikan fasilitas kajian-kajian Islam selama Bulan Ramadhan bagi jamaah muslim Indonesia. Bertemu dengan teman-teman perantau, ikut merayakan kegiatan-kegiatan Ramadhan dari mulai Sahur sampai Tarawih berjamaah bisa kita temukan di sini“, tutur Harry.

Menariknya adalah panitia Ramadhan di sini terdiri dari anak-anak muda. Mereka bertugas di bawah arahan Muhammad Juan Akbar. Buka puasa bersama setiap hari dapat terselenggara berkat sumbangan dari para donatur. Untuk masalah zakat, infaq dan fidyah masjid Al-Falah atau IWKZ Berlin bekerja sama dengan PKPU Indonesia serta KBRI Berlin.

Jadi, tidak ada alasan umat muslim di sini rindu akan nuansa Ramadhan di tanah air. Puasa ekstrem selama hampir 19 jam juga bukan kendala untuk mereka bermalas-malasan. Sebaliknya, hal itu merupakan tantangan tersendiri terlebih di tengah cuaca musim semi menuju musim panas seperti saat ini.

 

Tulisan ini dimuat juga di:

http://www.malangtimes.com/baca/28390/20180608/064151/hampir-20-jam-berpuasa-simak-perjuangan-muslim-indonesia-saat-berada-di-jerman/

 

Oleh: Annisa Maya Sari, Dini Ariati P., Ery Kurniawati

 

Batik Andis terletak di desa Druju Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), kabupaten Malang. Pemilik dari usaha batik ini adalah Antik dan Eddi Subagio. Kata “Andis” berasal dari nama dua pemilik usaha batik ini. Kemudian kata “Andis” dijadikan nama merek dan nama galeri dari batik tersebut. Galeri Andis hanya terdapat di Jakarta dan di desa Druju, kabupaten Malang.

Batik Andis mulai berproduksi pada tahun 1994. Akan tetapi, batik ini mulai dikenal masyarakat pada tahun 1996. Awalnya Batik Andis ini diperkenalkan di butik Milos, Bali. Butik Milos merupakan butik milik orang Jerman dan kemudian ia memperkenalkan batik Andis ke luar negeri. Oleh karena itu, batik Andis dapat menembus pasar Internasional.

Alasan mengapa Batik Andis dapat menembus pasar Internasional juga karena memiliki keunikan dan sering mengikuti pameran-pameran baik nasional maupun internasional. Produk Andis Batik ini, sudah beredar di luar negeri seperti Italia, Jerman, Singapura dan Malaysia. Bahkan batik yang berasal dari Druju ini juga sempat tembus ke Amerika. Produk Andis ini bermacam-macam, misalnya: baju, kain, tas, sepatu, sandal, mukena, assesoris, selimut, dan sprei. Karya batik Druju memiliki pangsa pasar kelas menengah ke atas. Rata-rata peminat dari batik Andis ini dari Jakarta karena batik Andis cukup terkenal di Jakarta. Koleksi baju pada butik Andis ini memiliki keunikan dalam segi pembuatannnya. Baju batik pada umumnya terbuat dari kain yang telah dibatik terlebih dahulu. Sedangkan baju batik Andis ini dijahit terlebih dahulu kemudian baru dibatik sehingga menghasilkan baju batik dengan motif yang menyambung. Proses pembuatannya terbilang sangat lama. Pembuatan satu baju membutuhkan waktu satu bulan, sedangkan batik yang terbuat dari kain sutera membutuhkan waktu pembuatan sekitar satu tahun lamanya dan harga dari batik sutra tersebut bisa membuat orang ternganga yakni seharga 25 juta.

Batik Druju ini identik dengan warna hitam pekat, lebih pekat dari batik manapun. Selain itu, terdapat keunikan lain dari batik ini yakni “one motive, one cloth and one colour” artinya satu motif batik hanya digunakan untuk satu baju begitu pula dengan warnanya juga berbeda setiap batiknya. Jadi, anda tidak perlu khawatir, karena tidak akan ada orang yang akan menyamai baju batik anda! Oleh karena itu, batik Andis menerima penghargaan dari Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009 untuk kategori desain terbaik kedua di Indonesia.

Awal pembuatan batik Andis ini didesain di Druju tetapi proses pembatikannya dilakukan di Madura. Lambat laun batik Andis di desain di Druju dan juga di buat di Druju, tetapi di lukis oleh orang asli Pekalongan yang bekerja di industri batik tersebut.

Harga batik Druju, dipatok sesuai motif, bahan yang digunakan, dan kerumitan teknik pembuatannya. Harga per item, bisa dibeli dengan harga yang bisa dikatakan tidak murah yaitu mulai harga Rp 400 ribu hingga Rp 25 juta. Mulai sekarang, sebaiknya anda segera menyiapkan uang yang cukup dan segera pula membeli batik desa kualitas internasional ini.

Oleh: Budi Fuad Hasan, Ilham Mohamad RA., Pradita Winda Teriyana

Wisata alam masih mendominasi objek wisata di Kabupaten Malang. Salah satunya wisata Air Terjun Coban Pelangi di Desa Gubuk Klakah Kecamatan Poncokusumo ini. Kondisi alam yang masih terjaga menjanjikan perjalanan yang tak akan pernah terlupakan.

Secara geografis Wisata Air Terjun Coban Pelangi terletak pada koordinat: 8° 1′ 32.27″ S  112° 49′ 1.06″ E. Untuk menempuh perjalanan menuju Coban Pelangi dibutuhan waktu sekitar satu setengah jam dari pusat kota. Namun, suguhan alam yang membentang di kanan dan kiri jalan membuat kami tak merasa bosan selama perjalanan. Sebaliknya, kami merasa kagum menikmati sejuknya udara dan pemandangan alami disana.

Ketika memasuki Desa Gubuk Klakah, kami disambut dengan perkebunan Apel di kedua sisi jalan. Apel-apel yang mulai matang menimbulkan keinginan kami untuk memetiknya. Dengan ketinggian 1.135 mdpl menjadikan suhu udara semakin dingin ketika perjalanan hampir sampai di pintu masuk wisata Coban Pelangi. Kami beristirahat sejenak di rest area yang terletak 1,5 km sebelum pintu masuk. Mata kami dimanjakan dengan bukit-bukit nan hijau berjajar layaknya bukit teletubis. Di sana juga terdapat penjual apel khas Poncokusumo sebagai oleh-oleh.

Untuk masuk dan menikmati dingin nan sejuknya air terjun Coban Pelangi, kami membayar hanya lima ribu rupiah per orang. Namun tidak sampai disitu, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 1,3 km dengan berjalan kaki untuk mencapai lokasi air terjun. Perjalanan panjang menembus hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini terbayar dengan pemandangan kontur alam yang disajikan. Tak hanya itu, suara kicauan burung dan serang yang bersautan  menciptakan suasana alami dan asri yang menentramkan. Di sepanjang perjalanan tidak perlu khawatir jika merasa capek atau kehausan, karena bisa beristirahat di gubug-gubug bambu yang menjual makanan dan minuman.

Di tengah perjalanan kami melewati sebuah jembatan bambu sepanjang 15m untuk menyeberangi sebuah aliran sungai yang berhulu dari air terjun. Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan jembatan cinta. Kenapa kok jembatan cinta? Karena jembatan ini hanya bisa dilalui dua orang saja dan biasanya banyak pasangan muda-mudi yang berkunjung melewati jembatan ini dengan bergandengan tangan.

Suara deru air terjun mengantar kami tepat di depan Air Terjun Coban Pelangi yang memiliki ketinggian 110m. Hembusan angin disertai percikan air cukup membuat kami basah dan merasa cukup kedinginan. Air Terjun Coban Pelangi yang ditemukan oleh penduduk saat sedang mencari kayu bakar pada tahun 1987 ini dikelola oleh KPH Perhutani Malang. Kawasan wisatanya pun cukup bersih karena setiap 3 bulan sekali dilakukan kerja bakti dan banyak tempat sampah yang tersedia.

Menikmati nuansa alami air terjun Coban Pelangi dengan berpetualang ditengah hutan sangat berkesan dan cukup ampuh sebagai obat penat mahasiswa-mahasiswa seperti kami. Pesona air terjun itu bisa kami nikmati sambil menggelar tikar di atas zona lapang yang telah disiapkan pengelola. Satu pondok perlindungan juga disiapkan menghadap ke arah air terjun.

Jika cuaca sedang baik, pengunjung yang beruntung bisa menyaksikan ’Pelangi’ yang membiaskan di pucuk-pucuk tebing. Biasanya, Pelangi muncul pada jam 10 pagi sampai jam 2 siang. Fenomena alam itu muncul akibat butiran air terjun yang terbawa angin, serupa buliran-buliran kabut. Pembiasan pelangi yang sangat indah, menambah ketertarikan kami untuk berkunjung kedua kalinya. Tapi sayangnya kami belum beruntung melihat Pelangi tersebut karena terlalu pagi kami menuju kesana.

Jika masih belum puas menyaksikan dari zona lapang, mencelupkan diri di anak sungai bisa menjadi pilihan menarik. Namun, tentu saja, pengunjung harus menyiapkan pakaian ganti. Tumpahan air terjun diatas bebatuan menimbulkan percikan air seperti hujan gerimis.

Karena jarak tempuh yang lumayan jauh menuju ke kaki Air Terjun tersebut, pemerintah langsung bergerak tanggap dengan melibatkan kuda sebagai kendaraan menuju ke Air Terjun. Biasanya orang – orang menyebutnya dengan “Ojek Kuda”. Dengan harga yang terjangkau, menambah sisi positif dari Wisata Air Terjun Coban Pelangi.

Banyak budaya yang sangat kental dari Air Terjun Coban Pelangi diantaranya adanya Tradisi Unan – Unan (Ngarak Ndase Kebo) yang artinya dalam bahasa Indonesia  yaitu mengiring kepala kerbau. Kegiatan ini dilakukan sekali dalam 8 tahun. Selain itu ada kebudayaan lain yaitu Nyewu berupa selametan 1.000 harinya orang meninggal. Dan satu lagi info yang kami dapat dari wawancara kami dengan warga sekitar adalah Tumpengan. Itu dilakukan sebagai selametan setelah hari Raya Idul Fitri, lebih tepatnya 7 hari setelah hari Raya.

Oleh: Anjar Rahmawati, Khuliyatul Mustafidah, Risky Oktavianti

Sejak beberapa dekade terakhir ini, wisata pendidikan menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat diminati. Di kabupaten Malang, tepatnya di Poncokusumo, ada beberapa wisata pendidikan yang bisa menjadi alternatif tujuan wisata, baik untuk keluarga maupun individu. Dengan kesejukan udara dan suasana kental pedesaan yang masih asri, destinasi wisata ini mampu membawa pengunjungnya melupakan sejenak kepenatan yang mereka rasakan.

Kali ini, wisata pendidikan yang menarik minat kami adalah bisnis budidaya bunga krisan di Poncokusumo yang menjanjikan. Untuk mencapai tempat ini hanya diperlukan waktu + 1 jam dari pusat kota Malang dengan menggunakan kendaraan pribadi. Bunga Krisan yang disebut juga bunga seruni ini menjadi salah satu produk unggulan dari Poncokusumo selain apel. Budidaya bunga krisan ini dibuka dan dikembangkan oleh beberapa kelompok tani Poncokusumo sejak tahun 2007 karena saat itu, perkebunan apel mengalami kerusakan. Namun, trend wisata pendidikan di lahan krisan ini berawal sejak tahun 2010.

Di area budidaya bunga krisan ini, kami mengunjungi 3 lahan untuk mengetahui setiap proses dalam budidaya bunga krisan, yaitu pembibitan, penanaman, dan produksi.

Pertama-tama, kami mengunjungi sentra pembibitan. Di tempat ini, kami mengunjungi 2 green house. Green house pertama digunakan untuk menanam bunga krisan yang pucuk tanamannya digunakan untuk bibit. Setiap tanaman bisa menghasilkan lebih dari satu bibit. Bibit-bibit ini dipotong saat tanaman telah berumur 2 bulan dengan panjang minimal 7cm.

Bibit-bibit yang telah dipotong, kemudian diseleksi terlebih dahulu dan dipotong kembali sampai tersisa 5cm. Setelah itu, bibit dicelupkan ke dalam cairan perangsang akar dan ditanam pada arang sekam yang berada pada green house kedua.

Setelah belajar bagaimana melakukan pembibitan, kami melanjutkan ke lahan kedua, yaitu lahan produksi. Di lahan ini kami belajar bagaimana menanam dan merawat tanaman bunga krisan. Bibit-bibit yang berasal dari lahan pembibitan harus ditanam pada saat matahari telah terbenam agar tanaman tidak mengalami stress. Bunga krisan ini dipanen setelah berumur 3 bulan. Dibandingkan dengan daerah lainnya, cara tanam dan produksi bunga Krisan Poncokusumo berbeda dengan daerah lainnya, yaitu Krisan Poncokusumo hanya dapat di panen sekali saja.

Saat mengunjungi lahan ketiga yang bunganya telah siap panen, mata kami dimanjakan dengan warna-warni bunga krisan yang indah. Di sana terdapat berbagai jenis bunga Krisan mulai Krisan jenis Spray, Gelbra, Snow Queen, dll. Saat menyusuri sepanjang lahan diantara bunga yang bermekaran, kami serasa dalam video klip lagu-lagu india. Suasana panas dalam green house pun bisa sejenak terlupakan. Wisata potong bunga Krisan yang berbasis edukasi ini cocok untuk semua kalangan. Hanya dengan uang Rp10.000,00 kami telah mendapat banyak ilmu (mulai dari pembibitan sampai produksi dan juga praktek menanam secara langsung) dan menikmati eksotika seruni yang menawan.

Garuda Wisnu Kencana

Veröffentlicht: Dezember 22, 2012 in Indonesia

Oleh: Felisitus Angelino, Galih Rendhi S.

 

GWK atau Garuda Wisnu Kencana adalah salah satu tempat obyek wisata di Bali dan salah satu tempat terindah di Bali, yang sangat menawan, menarik.

Terletak di atas dataraan tinggi batuan kapur padas dan menatap kawasan wisata di pesisir selatan Bali, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park adalah jendela seni dan budaya Pulau Dewata yang memiliki latar belakang alami serta panorama yang sangat mengagumkan. Dengan jarak tempuh 15 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai dan kurang dari satu jam dari lokasi perhotelan utama, GWK menjadi salah satu tujuan utama untuk berbagai pertunjukan kesenian, pameran dan konferensi ataupun kunjungan santai bahkan kunjungan spiritual.

Kawasan seluas 250 hektar ini merangkum berbagai kegiatan seni budaya, tempat pertunjukan serta berbagai layanan tata boga. Sebagaimana istana-istana Bali pada jaman dahulu, pengunjung GWK dapat menyaksikan kemegahan monumental dan kekhusukan spiritual yang kesemuanya disempurnakan dengan sentuhan modern, fasilitas dan pelayanan yang tepat guna. Selain menyaksikan event kebudayaan kita juga dapat manikmati hidangan ringan dan minuman sembari menyaksikan matahari terbenam, dan kita akan merasakan keindahan alam dan budaya Bali serta keramah-tamahan penduduknya.

PERWUJUDAN MODERN SEBUAH TRADISI KUNO

Wisnu – Simbol Hindu yang melambangkan kekuatan utama pemelihara alam semesta yang mendominasi kawasan ini. Diwujudkan sebagai patung berukuran raksasa terbuat dari kuningan dan tembaga dengan ketinggian mencapai 22 meter, menjadikan figur ini sebagai perwujudan modern sebuah kebudayaan dan tradisi kuno. Wujud yang menyertainya adalah Garuda – seekor burung besar yang menjadi kendaraan Dewa Wisnu sebagai perlambang kebebasan sekaligus pengabdian tanpa pamrih.

Gapura Batu – beberapa buah pilar batu cadas alami setinggi 25 meter yang berdiri kokoh yang akan ditatah dengan berbagai ornamen yang diambil dari kisah dramatis Ramayana yang menjadi sumber inspirasi seni pertunjukan Bali. Pahatan ukiran latar belakang relief bercorak seni pahat pewayangan (Kayon atau Gunungan) yang sangat khas dari Bali dan Jawa.

SEBUAH LOKASI KUNJUNGAN SPIRITUAL

Berdekatan dengan patung Dewa Wisnu terdapat Parahyangan Somaka Giri, sebuah mata air keramat yang mengalir dengan kandungan mineral-mineral utama. Keberadaan air di puncak bukit kapur padas ini memang merupakan sebuah keajaiban dan belum dapat dijelaskan dengan ilmiah, sehingga menjadikannya sebagai tempat kunjungan spiritual dan meditasi.

Air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit dan telah dipergunakan luas di kalangan penduduk setempat dalam upacara memohon hujan guna mendapatkan panen yang baik. Keberadaan Parahyangan Somaka Giri sangat menggugah naluri seseorang dalam mencari pencerahan pikiran, lahir dan batin

TEMPAT UNTUK BERBAGAI KESEMPATAN

Fasilitas yang dimiliki GWK menjadi sangat ideal dengan curah hujan yang relatif rendah namun terbuka untuk dapat menikmati hembusan angin tropis. Amphitheatre dengan kapasitas 800 tempat duduk dan tatanan acoustic kelas satu, merupakan tempat yang tak tertandingi untuk pagelaran seni budaya. Lotus Pond yang dikelilingi pilar-pilar batu cadas serta latar belakang patung kepala Burung Garuda menjadikan areal berkapasitas 7500 orang ini sangat dramatis untuk berbagai perhelatan akbar. Sebagaimana arena upacara desa-desa di Bali, Street Theatre merupakan tempat yang sangat tepat untuk berbagai prosesi, fashion show dan berbagai pertunjukan bergerak. Tempat untuk beramah-tamah yang ideal adalah Plaza Kura-kura, yang memiliki kapasitas sampai 200 orang. Sebagai tambahan, yang terbuka untuk umum, Exhibition Gallery yang memiliki luas 200m2 terdapat 10m2 halaman terbuka di dalamnya.

Menilik Pantai Goa Cina

Veröffentlicht: Dezember 22, 2012 in Indonesia, Malang Exkursion 2012

Oleh : Mentari Ayu Diana Putri, Susiani, Zulham Ismail

 

Hamparan pasir putih yang luas, batu karang tinggi menjulang ke atas langit dan ombak- ombak besar yang saling berkejaran, itulah salah satu ciri dari pantai Goa Cina. Pantai yang terletak di Dusun Trowotratih, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang ini sangatlah indah. Pemandangan yang ditawarkan masih asri dan alami. Pulau- pulau kecil di tengah pantai ikut menghiasi keindahan pantai Goa Cina ini. Cukup dengan 5000 rupiah per orang, anda sudah masuk area pantai dan menikmati pemandangan disana. Selain itu anda juga dapat masuk ke goa cina.

Goanya tidak cukup besar. Di dalamnya terdapat lubang yang bisa dimasuki, tetapi anda harus merangkak sejauh 500 meter dan anda akan menemukan kubangan air di dalamnya. “Saya pernah masuk ke dalam goa itu. Tetapi saat ingin memasuki lobang goa, saya dan teman saya tiba- tiba megurungkan niat untuk masuk, takut- takut ada buaya dan semacamnya”, ucap salah seorang pengunjung goa.

Perjalanan menuju tempat ini dari kota Malang memakan waktu satu hingga dua jam. Anda dapat menggunakan kendaraan umum. Dimulai dengan angkot kode LG arah gadang yang bisa anda temukan di terminal arjosari. Setelah sampai di daerah gadang, carilah bus arah dampit dan turunlah di daerah Talok Manjing. Kemudian dilanjut dengan menaiki angkot warna biru arah Sumberwanjing Wetan. Biaya untuk angkotnya jauh-dekat berkisar 2500 hingga 3000 rupiah dan untuk bus berkisar antara 4000 hingga 5000 rupiah. Tetapi disarankan untuk naik kendaraan pribadi saja karena angkot biru arah Sumberwanjing Wetan tidak membawa anda sampai spot, melainkan hanya sampai gapura bertuliskan pantai Goa Cina. Anda masih harus menempuh 1.5 km lagi untuk sampai di Pantai Goa Cina. Untuk transport tidak ada. Maka dari itu lebih baik untuk naik kendaraan pribadi atau menyewa.

Selama perjalanan menuju pantai Goa Cina, anda akan disambut oleh pemandangan alam dari pegunungan kapur yang sangat indah. Selain itu jalanan yang masih belum di aspal, akan cukup membuat perut anda terguncang dengan dahsyatnya, karena akses jalan yang memang susah dan tanjakan yang tajam.

Sayangnya pantai ini masih belum ramai pengunjung karena masih belum dikenal banyak orang. Orang –orang lebih mengenal pantai tetangga, misalnya pantai Balekambang, Sendang Biru dan Kondang Merak yang letaknya bertetangga dengan pantai Goa Cina. Pengunjung yang datang kebanyakan berasal dari kota Surabaya. Mereka camping di pinggir- pinggir pantai sambil bakar- bakar ikan. Aktivitas bersantai sambil menikmati makanan ini cukup diminati para pengunjung.

Asal muasal dijuluki pantai Goa Cina bermula dari seorang pertapa keturunan Cina pada tahun 1950 yang menemukan pantai ini. Karena di sekeliling pantai terdapat banyak goa, maka tersebutlah pantai ini dengan nama pantai Goa Cina.

Ombak yang besar, derasnya arus, dan kedalaman laut yang curam membuat para pengunjung yang datang tidak diperkenankan untuk berenang. Pantai ini merupakan pantai yang terletak di garis selatan. Maka dari itu ombaknya pun sangat besar dan deras.

Murni, wanita kelahiran tahun 1954 yang sehari- hari berjualan es degan, kaos- kaos, dan jajanan lainnya di sekitar pantai mengatakan bahwa pantai ini tidak hanya digunakan untuk wisata rekreasi tetapi juga tempat bertapa. Masih ada pengunjung yang bertapa di dalam goa itu dan tak lain hanyalah untuk mencari wangsit. Tidak hanya pada bulan suro, melainkan hari- hari biasa banyak orang datang untuk bertapa di malam hari di dalam goa cina. Mereka membawa dupa, buah- buahan, dan sesajen. Biasanya mereka menginap di rumah Bu Murni. Untuk biaya penginapannya, janda dengan 3 orang anak ini tak bisa mematok harga. Beliau mengatakan seikhlasnya saja.

Di sekitar pantai dihuni oleh sekitar 48 kepala keluarga, termasuk keluarga dari ibu Murni sendiri. Mereka bergotong royong untuk menyiapkan fasilitas umum seperti kamar mandi untuk pengunjung pantai. Mereka menggunakan uang dari biaya masuk untuk memperbaiki semuanya. Termasuk perbaikan jalan masih diusahakan karena uangnya pun masih belum terkumpul banyak. Belum ada kabar dari pihak Pemerintah Kabupaten untuk memberikan dana perbaikan.

Sayangnya pantai yang terbilang indah ini, tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Akses jalannya pun masih harus diperbaiki dan fasilitas umumnya pun harus dilengkapi agar tempat ini benar- benar layak mendapat gelar sapta pesona. Tujuannya tak lain adalah untuk menambah aset pendapatan daerah.