Difitnah Menzalimi

Veröffentlicht: Januar 31, 2016 in Allgemein

Hari itu, Selasa tanggal 14 Juli 2015. Beberapa hari menjelang hari raya. Tengah hari menjelang shalat dhuhur. Di kala semua muslim tengah menjalankan ibadah puasa. Seorang perempuan setengah baya tanpa tedeng aling-aling seperti yang kemasukan setan. Di dalam sebuah ruang perkantoran yang tidak begitu besar hanya ada seorang pegawai pria berumur 30-an tahun, seorang mahasiswi yang tidak jelas sedang melakukan apa, dan perempuan setengah baya tadi.

„Kenapa saya tidak dikasih tahu?“, perempuan setengah baya tadi memulai kemarahannya. Amarahnya tersebut ditujukan pada si pria yang kala itu memiliki istri yang tengah hamil tua. Muka perempuan tersebut merah padam seperti bara api dalam tungku.

„Soal apa bu?“, jawab si pria tenang. „Soal acara konferensi di Kualalumpur bulan november!!!“ Suara perempuan setengah baya menggelegar laksana membelah langit ketujuh.

Si pria kebingungan dengan jawaban nenek sihir tersebut. Mengapa dia ditanya tentang suatu hal yang dia sendiri tidak mengerti. Tak lama kemudian si pria teringat bahwa dia iseng dengan beberapa teman kerjanya untuk applied mengikuti konferensi di Kualalumpur tersebut. Tapi ia lupa, informasi itu didapat dari mana. Ia teringat kawannya yang berada di luar kota yang sangat rajin share informasi pada semua temannya di kantor. Beberapa saat kemudian, Desi yang sebenarnya tengah tugas luar kota memasuki ruangan. Si pria langsung mencari ‚perlindungan‘ dari terkaman macan yang ada di hadapannya itu. Ia menanyakan sumber informasi mengenai konferensi tersebut.

Desi yang semula datang dengan raut muka sumringah, seketika terlihat ketakutan dan menjawab „Itu kan semua orang dapat lewat email yang dikirim komunitas yang berkedudukan di Solo.“ Di tengah ketakutannya itu, Desi merogoh tasnya. Diambil dari dalam tas tersebut sebuah telpon genggam. Ia mencari email yang didapatnya beberapa bulan lalu tentang konferensi di Kualalumpur. Ia menunjukkan padaku email yang ditulis seorang pengurus di Solo itu. Tertulis dengan jelas nama serta alamat email perempuan setengah baya tadi. Email tersebut tak lupa ia tunjukkan juga pada perempuan yang kian murka.

„Itu kan emailku yang sudah lama gak dipake!!!“ Ia tidak mau tahu dengan alamat email yang sangat jelas terpampang namanya sendiri. Tak mau berdebat kusir si pria langsung menghubungi pengurus di Solo yang biasanya share info lewat mailing list komunitas. Ia berikan telpon genggam miliknya tersebut pada si perempuan setengah baya. Berbicara ditelpon dengan orang yang tidak terlalu ia kenal baik pun seolah tak mau tahu, pengurus itu dimurkainya. Ia tidak terima karena ia adalah orang satu-satunya yang tidak menerima info itu. Padahal ia merasa berhak atas semua itu. Perkara dia ikut atau tidak ke Kualalumpur itu masalah dia.

Tanpa bilang terima kasih ia kembalikan telpon genggam si pria. Terlihat matanya semakin ingin menerkam hewan di depannya.  Ia lalu meninggalkan ruangan dengan amarah yang tiada tara. Mulai saat itu si perempuan membenci si pria.

Tak cukup hanya membenci, yang ia tunjukkan dengan muka masamnya ketika memasuki ruangan, ia juga menganggap si pria itu telah mati. Tidak pernah ditegur. Sekalipun berpapasan ia seolah melihat sekelebat mahluk halus di hadapannya.

Beberapa kali si pria mengundang temannya untuk makan bersama dengan semua teman kantor. Sebagian besar datang ke acara yang dihelat si pria. Namun, perempuan setengah baya tadi ogah untuk memenuhi semua undangan si pria.

Kejadian demi kejadian membuat semakin hubungan keduanya merenggang. Hingga suatu hari ia dengan terang-terangan berkata dengan keras kepada beberapa teman kantornya. Ia senantiasa mendoakan orang yang menzaliminya agar diazab oleh Tuhan YME. Suatu doa dari seorang yang sudah cukup usia, berpendidikan tinggi, dan berkecukupan materi. Dalam rapat ia selalu berusaha untuk menjungkirbalikan semua kebiasaan selama ini yang sudah menjadi kebiasaan baik. Salah satunya ingin agar pungutan yang hanya 10.000 perak dihapuskan. Padahal dari 10.000 perak per bulan sari tiap pegawai kantor itu suatu saat dia pernah meminjamnya untuk kebutuhan hidupnya. Selain itu, dia dengan sangat arogan berkata „Pokoknya saya tidak mau mengerjakan hal yang akan MENYITA WAKTU saya!!!“ di forum rapat dengan dewan direksi.

Ia betul-betul merasa dizalimi oleh si pria yang juga menjadi pengurus komunitas yang berkedudukan di Solo. Pada saat debat tanggal 14 Juli 2015, ia berkata bahwa ia telah memutakhirkan data pada tahun 2011. Namun, ia kecewa karena datanya masih salah. Si pria sangat merasa heran  dan bingung. Ia diangkat menjadi pengurus barulah awal tahun 2015. Ketika tahun 2011 dia kebetulan sedang bertugas di Perancis. Adapun data yang diperoleh pengurus di Solo adalah warisan pengurus lama, termasuk alamat-alamat email yang menjadi alamat mailing list semua anggota. Rasa dizaliminya itu membawa fitnah yang sangat besar bagi si pria.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s