Time is (not) money

Veröffentlicht: Januar 3, 2014 in Allgemein
Schlagwörter:,

Bild

Foto: http://hellinahandbasket.net

Peribahasa yang mengatakan bahwa waktu itu adalah uang di Indonesia tidaklah berlaku, karena sebagian besar orang Indonesia masih belum menganggap arti pentingnya waktu. Hal itu bisa dibuktikan seperti di tempat-tempat umum seperti di stasiun kereta atau terminal misalnya, kita akan kesulitan menemukan jam. Di sekolah atau kampus sekalipun, itu jarang sekali ada. Suatu hari seorang praktikan asal Jerman yang sedang melakukan praktik mengajar di kampus mengajarkan tema “Uhrzeit” pada mahasiswa saya. Dia menjelaskan bahwa bagi orang Jerman waktu itu sangat berharga. Tak heran jika kita berada di Jerman banyak sekali akan menemukan jam, bahkan di jalan raya sekalipun. Namun, setelah beberapa lama ia tinggal di Indonesia, ia dapat menyimpulkan bahwa bagi sebagian besar bangsa ini waktu tidak begitu berarti. Ia banyak menemukan bukti seperti moda transportasi umum yang selalu terlambat, mahasiswa datang sering tidak tepat waktu, acara dimulai lebih dari waktu yang ditentukan, dan serentetan keterlambatan lainnya.

Pada tanggal 7 Desember 2013, saya mencoba menggunakan kereta Penataran Express dari Surabaya menuju Malang. Kereta diberangkatkan tepat seperti yang tertera di tiket, yaitu pukul 17.45. Kereta seharusnya tiba di Malang pada pukul 19.53 waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu antara kota Surabaya dan Malang. Namun, apa yang terjadi? Ketika kereta transit di stasiun Lawang, kereta harus berhenti selama 30 menit dari pukul 20.00 hingga 20.30. Tidak ada informasi apapun dari petugas. Saya yang penasaran kemudian bertanya pada kondektur berseragam PT KAI yang memeriksa karcis penumpang. Petugas tersebut menjawab dengan tenang, „Ada persimpangan.“ Jawaban yang keluar dari mulut petugas “tidak kurang“ dan „tidak lebih“ seperti itu. Entah apa yang ada di benak para pegawai PT KAI ketika merugikan penumpang seperti kejadian itu. Tidak ada sama sekali raut muka menyesal atau bersalah. Keadaan seperti ini tentunya tidak akan terjadi di negara yang memiliki budaya tepat waktu seperti di negara-negara Eropa. Setidaknya petugas akan menginformasikan pada pengeras suara di dalam kereta perihal masalah yang dihadapi kereta dan tentu saja meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Hal tersebut sudah barang tentu merugikan para penumpang. Tapi di Indonesia rupanya konsumen harus selalu dirugikan dan tidak memiliki hak untuk menuntut apapun. Seolah-olah perusahaan jasa seperti PT KAI tersebut berkata „Emang gue pikirin? Bodo amat lu mau ada janjian dengan rekan bisnis lu kek, lu mau ngelanjutin perjalanan berikutnya kek, sodara lu sekarat dan mau mati sekalipun bukan urusan gue! Lu mau pake kereta gue sukur, kagak pun ya gapapa! Yang penting lu bayar dan gue untung!“ Beruntung dengan minimnya tanggung jawab mereka itu, penumpang tidak ada satupun yang complain. Mereka happy happy saja kelihatannya, meskipun kereta baru tiba satu jam berikutnya, yaitu pada pukul 20.53. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah mulai hari ini ada perbedaan waktu antara Surabaya dengan Malang seperti Waktu Indonesia bagian Barat dengan Waktu Indonesia bagian Tengah selama satu jam?

Time is not money. Time is only time in this country. 

Kommentare
  1. ilham ardiananta sagt:

    Hhaha bener beud😛

    Dikirim Melalui Google Mail pada Adroid

  2. iwa sobara sagt:

    Betul bingitt🙂

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s