Menikmati Nuansa Alami Air Terjun Coban Pelangi

Veröffentlicht: Dezember 23, 2012 in Indonesia, Malang Exkursion 2012

Oleh: Budi Fuad Hasan, Ilham Mohamad RA., Pradita Winda Teriyana

Wisata alam masih mendominasi objek wisata di Kabupaten Malang. Salah satunya wisata Air Terjun Coban Pelangi di Desa Gubuk Klakah Kecamatan Poncokusumo ini. Kondisi alam yang masih terjaga menjanjikan perjalanan yang tak akan pernah terlupakan.

Secara geografis Wisata Air Terjun Coban Pelangi terletak pada koordinat: 8° 1′ 32.27″ S  112° 49′ 1.06″ E. Untuk menempuh perjalanan menuju Coban Pelangi dibutuhan waktu sekitar satu setengah jam dari pusat kota. Namun, suguhan alam yang membentang di kanan dan kiri jalan membuat kami tak merasa bosan selama perjalanan. Sebaliknya, kami merasa kagum menikmati sejuknya udara dan pemandangan alami disana.

Ketika memasuki Desa Gubuk Klakah, kami disambut dengan perkebunan Apel di kedua sisi jalan. Apel-apel yang mulai matang menimbulkan keinginan kami untuk memetiknya. Dengan ketinggian 1.135 mdpl menjadikan suhu udara semakin dingin ketika perjalanan hampir sampai di pintu masuk wisata Coban Pelangi. Kami beristirahat sejenak di rest area yang terletak 1,5 km sebelum pintu masuk. Mata kami dimanjakan dengan bukit-bukit nan hijau berjajar layaknya bukit teletubis. Di sana juga terdapat penjual apel khas Poncokusumo sebagai oleh-oleh.

Untuk masuk dan menikmati dingin nan sejuknya air terjun Coban Pelangi, kami membayar hanya lima ribu rupiah per orang. Namun tidak sampai disitu, kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 1,3 km dengan berjalan kaki untuk mencapai lokasi air terjun. Perjalanan panjang menembus hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini terbayar dengan pemandangan kontur alam yang disajikan. Tak hanya itu, suara kicauan burung dan serang yang bersautan  menciptakan suasana alami dan asri yang menentramkan. Di sepanjang perjalanan tidak perlu khawatir jika merasa capek atau kehausan, karena bisa beristirahat di gubug-gubug bambu yang menjual makanan dan minuman.

Di tengah perjalanan kami melewati sebuah jembatan bambu sepanjang 15m untuk menyeberangi sebuah aliran sungai yang berhulu dari air terjun. Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan jembatan cinta. Kenapa kok jembatan cinta? Karena jembatan ini hanya bisa dilalui dua orang saja dan biasanya banyak pasangan muda-mudi yang berkunjung melewati jembatan ini dengan bergandengan tangan.

Suara deru air terjun mengantar kami tepat di depan Air Terjun Coban Pelangi yang memiliki ketinggian 110m. Hembusan angin disertai percikan air cukup membuat kami basah dan merasa cukup kedinginan. Air Terjun Coban Pelangi yang ditemukan oleh penduduk saat sedang mencari kayu bakar pada tahun 1987 ini dikelola oleh KPH Perhutani Malang. Kawasan wisatanya pun cukup bersih karena setiap 3 bulan sekali dilakukan kerja bakti dan banyak tempat sampah yang tersedia.

Menikmati nuansa alami air terjun Coban Pelangi dengan berpetualang ditengah hutan sangat berkesan dan cukup ampuh sebagai obat penat mahasiswa-mahasiswa seperti kami. Pesona air terjun itu bisa kami nikmati sambil menggelar tikar di atas zona lapang yang telah disiapkan pengelola. Satu pondok perlindungan juga disiapkan menghadap ke arah air terjun.

Jika cuaca sedang baik, pengunjung yang beruntung bisa menyaksikan ’Pelangi’ yang membiaskan di pucuk-pucuk tebing. Biasanya, Pelangi muncul pada jam 10 pagi sampai jam 2 siang. Fenomena alam itu muncul akibat butiran air terjun yang terbawa angin, serupa buliran-buliran kabut. Pembiasan pelangi yang sangat indah, menambah ketertarikan kami untuk berkunjung kedua kalinya. Tapi sayangnya kami belum beruntung melihat Pelangi tersebut karena terlalu pagi kami menuju kesana.

Jika masih belum puas menyaksikan dari zona lapang, mencelupkan diri di anak sungai bisa menjadi pilihan menarik. Namun, tentu saja, pengunjung harus menyiapkan pakaian ganti. Tumpahan air terjun diatas bebatuan menimbulkan percikan air seperti hujan gerimis.

Karena jarak tempuh yang lumayan jauh menuju ke kaki Air Terjun tersebut, pemerintah langsung bergerak tanggap dengan melibatkan kuda sebagai kendaraan menuju ke Air Terjun. Biasanya orang – orang menyebutnya dengan “Ojek Kuda”. Dengan harga yang terjangkau, menambah sisi positif dari Wisata Air Terjun Coban Pelangi.

Banyak budaya yang sangat kental dari Air Terjun Coban Pelangi diantaranya adanya Tradisi Unan – Unan (Ngarak Ndase Kebo) yang artinya dalam bahasa Indonesia  yaitu mengiring kepala kerbau. Kegiatan ini dilakukan sekali dalam 8 tahun. Selain itu ada kebudayaan lain yaitu Nyewu berupa selametan 1.000 harinya orang meninggal. Dan satu lagi info yang kami dapat dari wawancara kami dengan warga sekitar adalah Tumpengan. Itu dilakukan sebagai selametan setelah hari Raya Idul Fitri, lebih tepatnya 7 hari setelah hari Raya.

Kommentare
  1. […] Sumber : https://sobara.wordpress.com/2012/12/23/menikmati-nuansa-alami-air-terjun-coban-pelangi/ […]

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s