Petuah Eyang Habibie

Veröffentlicht: Dezember 20, 2012 in Momen

Dalam beberapa bulan aku memimpin PPI Swiss, kami sering mendapatkan undangan untuk mengikuti berbagai macam kegiatan dari rekan-rekan kami sesama pelajar di luar negeri. Salah satunya adalah undangan untuk mengikuti kuliah umum mantan menristek serta Presiden RI yang kedua, Prof. Dr.-Ing. B.J. Habibie. Acara ini adalah hasil kerjasama PPI Aachen, Jerman, dan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional. Tema yang diangkat untuk kuliah umum yang disampaikan juga sangat menarik, yaitu „Sinergi dan reorganisasi peneliti Indonesia di luar negeri dan sumbangsih terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia“. Maka aku dan beberapa teman memutuskan untuk ikut serta pada kuliah umum ini.

Hari jumat siang aku dan lima orang teman lainnya dari PPI Swiss berkumpul di stasiun Bern. Kami akan menghadiri acara kuliah umum dari Pak Habibie yang akan digelar esok hari di kota Aachen. Aku bersama dengan Chandra dari kota Montreux, Dimas dari Zürich, Nurvit dari Jenewa, Tasqi dari Basel, dan Mirza dari Bern dengan penuh semangat ingin mengikuti kuliah umum tersebut.

Kereta membawa kami dari kota Bern menuju kota Basel terlebih dahulu. Di stasiun Basel tidak sengaja kami bertemu dengan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Turki. Ia sekarang sedang berlibur keliling Eropa hingga beberapa puluh negara, mulai Eropa daratan, negara-negara Skandinavia, sampai Eropa Timur. Christian, nama mahasiswa tersebut menyapa kami dan bertanya tujuan kepergian kami. Setelah kami menjawab akan pergi ke kota Aachen di Jerman, maka ia duduk di kursi kereta dekat kami. Christian yang sudah dua minggu berkeliling Eropa menggunakan Eurail Pass dan hendak kembali ke Turki, tiba-tiba membatalkan niat kepulangannya. Ia diberitahukan oleh temannya, bahwa pada tanggal 30 Juli 2011 ini akan ada kuliah umum dari Pak Habibie. Christian sangat mengagumi sosok Pak Habibie. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk membeli tiket Eurail kembali dan pergi dari Milan menuju Basel untuk selanjutnya menuju Aachen.

Sepanjang perjalanan kami banyak berdiskusi satu sama lain terutama permasalahan mengenai para ilmuan Indonesia yang lebih senang berkarier di luar negeri disbanding di negaranya sendiri. Bagaimana tidak, hal tersebut ada kaitannya juga dengan penghargaan pemerintah akan kesejahteraan para ilmuan yang memiliki kemampuan di atas rata-rata tersebut. Selain itu, ketika ilmuan tersebut pulang ke tanah air, mereka banyak yang frustasi mengingat perbedaan karakteristik, sarana dan prasarana serta mentalitas kerja kebanyakan orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak dari ilmuan Indonesia yang betah berkiprah di dunia riset di luar negeri.Image

Setelah lima setengah jam perjalanan, pukul 21. 15 kami tiba di kota Aachen.  Kota yang terletak di perbatasan antara negara Jerman, Belanda dan Belgia.

Aula Gedung Utama Kampus RWTH Aachen pada hari sabtu pagi ini sudah dipadati mahasiswa yang berdatangan dari seluruh Eropa. Di kampus ini Pak Habibie pernah menghabiskan masa studinya. Setiap negara yang memiliki PPI mengirimkan masing-masing perwakilannya ke acara ini. Eyang sebutan kami untuk Pak Habibie, saat itu datang tepat waktu. Tak lama kemudian acara dibuka. Sambutan pertama datang dari rektor RWTH. Ia sangat bangga pada Pak Habibie sebagai salah satu alumnus RWTH yang sukses membangun Indonesia.

        Eyang hari itu mengenakan jas berwarna krem, memakai peci hitam serta kacamata. Beliau masih tampak begitu energik meski harus dipapah di kanan kirinya oleh cucu perempuannya. Beliau adalah guru dan orang tua yang bijak bagi kami. Dari beliau kami ingin belajar banyak hal tentang sumbangsih yang dapat kami berikan selaku generasi muda terhadap negeri tercinta.

Suka tidak suka kami adalah sejarah masa depan bangsa yang harus melanjutkan perjuangan negeri. Untuk itu, kami tidak boleh sedikitpun gentar karena Habibie sudah puluhan tahun berdiri di garis depan memberikan jalan bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Sosok Habibie saat itu menegaskan pada kami sebagai generasi muda yang harus menjadi kebanggaan republik tercinta. Pak Habibie menyuruh kami untuk berkata lantang pada dunia bahwa orang Indonesia tidak kalah hebatnya dengan ratusan orang dari negara lain. Isi kepala kami boleh diadu dengan ratusan orang lain di muka bumi ini. Beliau berpesan kepada kami, „Di mana pun engkau berada selalulah menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan.“

Selesai acara kami kembali pulang. Dari sini kami belajar bahwa membangun sebuah bangsa tidak boleh apa adanya. Membangun sebuah bangsa harus dengan banyak mimpi-mimpi besar. Ketika semua tidak percaya, kita tidak boleh menyerah. Kita genggam erat mimpi kita, seperti seorang ibu yang menggenggam bayinya. Kita harus yakin bahwa suatu hari mimpi ini akan terjadi.

Image

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s