Berkunjung ke Markas FIFA

Veröffentlicht: Dezember 10, 2012 in Momen

Sekian lama tinggal di Swiss aku belum menyempatkan diri pergi mengunjungi gedung FIFA yang berada di kota Zürich. Hari ini, jum`at tanggal 25 Februari 2011 pukul 11.00 langit di kota Zürich, Swiss, ditutupi kabut tebal. Suhu udara di kota ini menunjukan  -1°C. Dari stasiun utama kota Zürich menuju ke gedung induk olahraga sepakbola FIFA yang sejak tahun 1932 pindah dari ibukota Perancis ini hanya memerlukan sekitar 22 menit dengan menggunakan tram. Kantor FIFA yang terletak di FIFA-Strasse nomor 20, pagi hari menjelang siang tersebut tampak seperti tidak ada kegiatan. Hanya sesekali saja terlihat pegawai keluar masuk gedung. Gedung megah yang diarsiteki oleh Tilla Theus yang berada di area seluas 44.000 meter persegi. Tidak ada penjagaan keamanan ketat di sini. Siapa saja boleh masuk. Beberapa wisatawan asing biasanya sengaja menyempatkan diri untuk melihat-lihat markas utama persepakbolaan ini.

Tidak jauh setelah kita memasuki gedung, kita akan disambut oleh dua orang resepsionis yang ramah. Pengunjung yang hanya sengaja mampir unuk melihat-lihat hanya bisa sampai lantai dasar saja. Di sini mereka dapat mengambil gambar, melihat memorabilia, atau bahkan membeli buah tangan yang ada hubungannya dengan FIFA dan sepakbola.

Setelah beberapa lama melihat-lihat, aku lalu secara tidak sengaja bertemu dengan beberapa orang berwajah Asia. Setelah aku coba dekati dan menyapa mereka, ternyata mereka berasal dari Indonesia. Hari ini mereka sengaja mendatangi kantor FIFA dari tempat mereka yang berjarak sekitar satu jam dari kota Zürich ini.  Salah satu diantaranya adalah Sutrisno. Pria yang beberapa tahun tinggal di kota Baden, Swiss, ini merasa terpanggil hatinya melihat carut-marut persepakbolaan di tanah air. „Saya sangat sedih dengan persepakbolaan di Indonesia. Untuk itu saya memberanikan diri untuk mendatangi kantor FIFA dan membagikan selebaran pada orang-orang di sini.“

Salah satu pegawai FIFA yang menerima selebaran tersebut adalah Alexander Koch. Pria Swiss setengah baya ini sangat ramah dan bertanya tentang apa selebaran tersebut. Sutrisno mencoba menjelaskan isi dari selebaran tersebut dan dengan seksama Koch menyimaknya. Ia adalah seorang jurnalis yang biasa membuat ataupun menyeleksi berita yang datang dari segala penjuru dunia yang ditujukan pada FIFA sebelum ditayangkan di situs resmi FIFA. Dengan Bahasa Jerman ia mencoba memberikan pandangannya mengenai polemik yang tengah terjadi yang melanda persepakbolaan di Indonesia. Baginya sangat tidak masuk akal, jika seorang petinggi sebuah asosiasi pernah tersangkut masalah kriminal. Ia mengambil contoh profesi guru atau PNS. Sudah sangat jelas baginya jika mereka melakukan pelanggaran hukum maka statusnya sebagai guru atau PNS secara otomatis akan dicabut. Apalagi seorang pejabat di tataran asosiasi sepakbola.

Ketika Sutrisno dan kawan-kawan bertanya kepada resepsionis tentang kemungkinan untuk dapat bertemu dan mengemukakan keluhannya tersebut pada petinggi FIFA, petugas resepsionis cantik di sana menjawab bahwa mereka tidak mungkin dapat bertemu tanpa ada janji terlebih dahulu. Akhirnya Sutrisno dan kawan-kawan memberikan selebaran tersebut pada resepsionis dan berpesan untuk dilanjutkan pada Joseph S. Blatter. Sebetulnya Blatter hari ini ada di ruangannya, namun selebaran tadi masih harus melalui  sekretarisnya terlebih dahulu. „Aber ich bin mir sicher. Er wird das bestimmt lesen.“ (Tapi saya yakin, beliau (Blatter) pasti akan membaca selebaran ini). Usaha Sutrisno dan kawan-kawan ternyata direspon positif oleh FIFA. Setidaknya petugas resepsionis tadi berjanji untuk melanjutkan pada atasannya.

Cukup banyak yang ditemui oleh Sutrisno ketika itu. Selain Koch, ada juga pria lain yang cukup antusias dengan informasi yang disampaikan tersebut. Seorang pria Perancis yang bekerja untuk FIFA di bagian pertelevisian dengan senang hati membaca dan menyimpan selebaran tadi untuknya. Ia berkata bahwa publik sepakbola di Indonesia sangat banyak sekali. Ia kemungkinan besar dapat tahu hal tersebut dari setiap Piala Dunia, Liga Champion ataupun liga-liga Eropa. Masyarakat penikmat bola di tanah air sangat besar akan hal itu. Lalu ia bertanya, “selain sepakbola, olahraga  apalagi yang digemari orang-orang Indonesia?”. Sutrisno menjawab bulutangkis dan Formula Satu. Pria Perancis tersebut berharap sekali bahwa Sepakbola di Indonesia dapat lebih maju lagi, seperti halnya persepakbolaan di Korea dan Jepang. “Itu memang tugas FIFA. Kami selalu senantiasa mendorong negara-negara di Asia untuk lebih berprestasi lagi di pentas sepakbola dunia.”

Kongres PSSI pada tanggal 23  Maret mendatang ternyata juga mendapat perhatian FIFA. Hal tersebut sudah ada di tangan General Secretary dan ia melanjutkannya pada Komisi Etik. Itu artinya Kongres serta Pemilihan Ketua PSSI mendatang sudah menjadi bagian dari media FIFA. Keteguhan serta sikap peduli Sutrisno dan kawan-kawan tadi patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, ia yang sudah tidak lagi tinggal di tanah air tetapi masih memikirkan masa depan persepakbolaan tanah air yang kian hari kian tidak menentu nasibnya.

Image

Foto: http://www.zeit.de/sport/2010-10/fifa-fussball-ethik

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s