Tinggi Gunung Seribu Janji

Veröffentlicht: Dezember 3, 2012 in Ekskursi

skiing

Sekali terpelanting, cukup menyiutkan nyali Hannah. Sambil menangis, ia minta untuk kembali ke penginapan.

„Pulang aja Papi,“ katanya sambil menyeka air matanya. Krisna, ayah Hannah, yang juga seorang koresponden sebuah harian nasional terkenal di Indonesia namun sudah lama tinggal di Swiss, lebih khawatir tentang kondisi fisiknya. Si kecil itu masih terduduk. Dua bilah ski terpental dua meteran darinya.

„Ada yang yang sakit?“, tanya Krisna.

Hannah menunjukkan pantatnya. Lalu perlahan berdiri, sambil meringis menahan sakit, entah dimana. Krisna memperhatikan Hannah mengangkat kaki, juga menggerakkan kakinya. Mudah-mudahan tak ada yang patah, Krisna berkata dalam hatinya sambil memeluk anak sulung kesayangannya.

Krisna kemudian menawarkan istirahat di restoran dekat tempat bermain ski. „Sambil minum coklat hangat,“ Krisna berkata pada Hannah. Hannah menggeleng, tetap berkeinginan kembali ke penginapan. Budi dan Kathia juga tak mampu membujuknya untuk sekadar menenangkan diri di restoran itu.

Kami pun meluncur ke bawah, dengan kereta gantung, di mana penginapan itu berada. Ketika kami berada dalam rumah kayu yang hangat, Hannah langsung ke lantai atas, duduk di sofa dan menghidupkan televisi.

Inilah pertama kali Krisna bermain ski dengan Hannah. Pada awalnya ia ragu, apa anak ini sudah cukup mahir meluncur di salju. „Sudah bisa, hanya tanpa tongkat,“ katanya. Guru ski pribadi yang ditawarkan Budi, ia tolak. Krisna sendiri belum begitu mahir bermain ski. Tapi sudah cukup untuk meluncur di es. „Aku selalu lebih cepat dari papi,“ katanya ketika keduanya kembali di Kriens tempat kediamannya.

Hannah memang selalu menyalip Krisna dan meliuk-liuk seperti ular di salju Grimentz, Wallis, Swiss Barat itu. Krisna lebih khawatir dengan anaknya daripada mencoba belajar memperbaiki slalomnya. Hanya pada menit-menit terakhir, sebelum Hannah jatuh, dia mulai belajar membelok.

Krisna dan Hannah pergi ke daerah Wallis sebagai perwujudan salah satu program mengenalkan anaknya itu ke dunia luar. Meski hanya di wallis, cukuplah baginya bahwa ia akan bertemu orang „asing“ termasuk aku, Budi dan Kathia. Budi dan Kathia sudah dikenalnya beberapa kali. Keduanya adalah pasangan suami istri yang mengajak kami untuk tinggal selama beberapa hari di salah satu villa milik ayah Kathia di Wallis ini. Sementara aku baru bertemu sekali dengan Hannah di rumahnya di Kriens. Bukan tempat yang asing sebetulnya. Namun, Grimentz setidaknya adalah ranah baru bagi mereka berdua.

Krisna sebetulnya ingin Hannah terbuka kepada dunia luar. Tidak menutup diri sebagaimana orang Swiss umumnya. „Caranya, ya dikenalkan dengan dunia baru, dengan manusia baru, juga hal asing.“ kilah Krisna saat itu. Salah satunya adalah ketika ia pertama kali melihat aku sholat. Aku yang saat itu sedang sholat dipanggilnya berkali-kali oleh Hannah yang ingin menunjukkan sesuatu. Namun, aku yang sedang khusyuk sholat tidak mengindahkan panggilannya itu. Setelah beberapa saat ayahnya menjelaskan padanya bahwa aku sedang sholat dan tidak boleh diganggu. Hannah adalah seorang anak campuran Indonesia Swiss. Ibunya seorang Swiss yang cinta tanah air dan pernah tinggal lama di Sumatera untuk penelitian. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Krisna di sana.

Biasanya mereka latihan ski di Obersaxen, Swiss Tenggara. Di sana, keluarga istri Krisna memiliki satu rumah yang biasa mereka kunjungi saat mereka berlibur untuk bermain ski. Mereka ingin mencoba tempat lain seperti di Grimentz ini. Terlebih Budi dan Kathia menawarkan rumah villa mereka.

Grimentz hanya sebuah desa kecil. Seperti umumnya pedesaan Swiss yang berada di pucuk gunung, jalanan naik turun serta mengular. Jika sopir mengantuk pasti masuk jurang. Krisna sering melewati jalanan seperti itu. Hannah pun demikian. Si kecil ini sudah biasa duduk anteng di kursi belakang, tanpa peduli jalanan melingkar atau belok 180 derajat. Aku yang ikut mobil mereka juga merasakan hal yang sama. Rute menuju Grimentz, terutama setelah keluar dari tol kami tempuh tanpa masalah.

Liburan ke gunung merupakan salah satu cara Krisna dan keluarga untuk bertahan di musim dingin. Kebetulan Hannah juga rupanya suka bermain ski, sehingga mereka akhirnya tak membenci Swiss dan gunungnya. Namun sebaliknya, mereka memanfaatkannya sepanjang musim. Jika salju tiba mereka bermain ski. Jika matahari penuh dan padang rumput menetas kuncup krokus, mereka menjelajah lembah Alpen dengan jalan kaki.

Tinggi gunung, seribu janji.

Grimentz, Swiss, Januari 2011

(Teks Asli ditulis oleh Krisna Diantha, Wartawan Seputar Indonesia)

Kommentare
  1. Alarm Alarm sagt:

    Alarm alarm alarm

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s