Sulitnya Tari Saman

Veröffentlicht: November 30, 2012 in Momen

SamanAcara yang mengusung misi mempromosikan produk-produk Indonesia di Swiss ini sesaat lagi akan dimulai. Persiapan matang sudah dilakukan sejak hampir setahun ini oleh pihak KBRI. Ibu Nurul sebagai ketua Dharma Wanita dan istri diplomat bidang ekonomi bertindak sebagai motor kegiatan ini. Beliau memercayakan padaku untuk menjadi pembawa acara untuk kegiatan besar tersebut dalam bahasa Jerman. Aku mengambil tawaran tersebut dan mempersiapkan segala hal yang nantinya aku perlukan saat acara berlangsung.

Promosi ini bertujuan untuk meningkatkan volume perdagangan Indonesia dan Swiss. Selama ini kerjasama Indonesia dan Swiss di bidang ekonomi sudah terjalin dengan baik. Namun, dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya seperti Thailand, Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam, negara kita masih kalah jauh. Untuk itulah pemerintah melalui inisiatif KBRI Bern menyelenggarakan kegiatan ini dan berharap agar pengusaha-pengusaha Swiss dapat mengenal lebih dekat Indonesia. Banyak produk negara kita yang sebetulnya bisa bersaing di pasar Eropa, namun entah mengapa tidak banyak dari produk tersebut yang dapat  kita jumpai di pasaran Swiss. Kita ambil contoh misalnya mie instant. Di banyak supermarket besar di Swiss produk mie instant Thailand dapat dengan mudah kita dapatkan. Namun, tak satu pun dari supermarket tersebut yang menawarkan produk Indonesia.

Panggung besar yang sudah kami sulap pada malam hari sebelumnya sudah siap digunakan. Untuk persiapannya kami harus beramai-ramai bekerja keras  mulai membuat rumah-rumahan bergaya betawi, tata lampu, hiasan panggung dan kebutuhan panggung lainnya. Di belakang para pengisi acara juga sedang mempersiapkan diri di kamar rias. Para tamu undangan telah banyak yang berdatangan. Salju di luar ruangan mengguyur kota Bern dan membuat udara terasa sangat segar.

Berbagai macam produk khas Indonesia mengisi penuh gedung. Ada berbagai macam produk kerjainan, makanan, pakaian, mebel dari rotan hingga mutiara dari Lombok. Di atas panggung Duta Besar Djoko Soesilo membuka acara. Setelah itu berbagai penampilan hiburan dapat dinikmati tamu udangan. Ratusan tamu undangan dimanjakan pula dengan makanan khas Indonesia seperti sate, bakmi goreng, nasi goreng, dan makanan lainnya sambil menikmati sajian hiburan.

Banyak sekali pertunjukan hiburan yang sudah disiapkan untuk menyemarakkan acara siang ini. Paduan suara, tarian tradisional dari Bali dan Aceh, angklung, serta banyak kemeriahan lainnya. Selain harus menjadi pembawa acara aku juga terlibat untuk tari saman dan pagelaran angklung.

Kelompok angklung kami dipimpin oleh Lia Posati. Dia adalah orang Indonesia asli yang telah lama tinggal di Swiss dan menikah dengan orang Italia. Kelompok angklung kami berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Philipina, Brasil, Portugal, Swiss, Jerman,  dan tentu saja masyarakat Indonesia. Untuk acara ini kami menyiapkan tiga buah lagu dengan bahasa berbeda, bahasa Jawa, Italia, dan bahasa Jerman. Tepuk tangan meriah dari audiens yang hadir membuat kami semakin bersemangat.

Aku masih terkesan hingga saat ini, bagaimana aku dengan teman-teman lainnya tampil membawakan tari Saman dari Aceh. Semua orang sudah mengenal tarian ini, tidak hanya orang Indonesia tapi juga orang asing. Aku masih ingat bagaimana kami berlatih dengan keras untuk tari Saman ini selama dua bulan lamanya. Pada awal-awal latihan banyak sekali kesulitan yang kami temui. Aku sendiri sebetulnya bukan orang yang suka tari. Namun, kesempatan yang baik ini sayang untuk dilewatkan. Kelompok tari Saman terdiri dari anak-anak muda Indonesia yang tinggal di Swiss. Banyak dari mereka adalah orang Indonesia keturunan, tapi dengan senang hati ikut bergabung untuk menari Saman ini. banyak sekali kelucuan yang terjadi pada masa-masa latihan. Aku sering sekali menerima tamparan dan sikutan dari teman di kanan dan kiriku karena gerakan mereka yang tidak seragam. Saat-saat menegangkan sebelum kami tampil harus kami lewati. Saat itu cd yang kami gunakan sebagai iringan tarian tidak ditemukan, padahal penampilan fashion show sebelum kami sudah hamper selesai. Kami semuanya panik. Tak satu pun dari kami yang memiliki kopian cd tersebut. Pada menit-menit terakhir setelah penampilan fashion show, teman kami menemukan cd tersebut. Di atas panggung kami membawakan tarian yang sangat sulit tersebut tanpa cacat sedikit pun. Semuanya berjalan dengan baik. Namun ada kelucuan saat tarian berakhir. Celana yang dikenakan salah satu teman kami saat beranjak dari tempat duduknya terlepas. Untungnya dia mengenakan  hot pants berwarna hitam.

Tarian Saman tadi rupa-rupanya menjadi idola dari seluruh audiens yang hadir. Acara secara keseluruhan berlangsung dengan sukses. Banyak tindak lanjut dari acara tersebut yang dijajaki oleh pengusaha-pengusaha baik dari Indonesia ataupun dari Swiss.

Bern, Desember 2010

Kommentare
  1. Aditya sagt:

    wieee keren bisa menampilkan kebudayaan Indonesia di Jerman…
    hai Salam Kenal😀

  2. iwa sobara sagt:

    Bukan di Jerman tapi di Swiss. Salam kenal juga🙂

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s