Uni Eropa: Sejarah Integrasi Eropa

Veröffentlicht: November 16, 2012 in Deutschlandkunde

Pascaperang Dunia II menjadi titik tolak bagi beberapa negara di Eropa untuk mendorong terbentuknya integrasi Eropa. Jerman merupakan salah satu negara yang memiliki andil cukup besar bagi terwujudnya integrasi di kawasan Eropa ini. Awal mula Uni Eropa sebagai sebuah integritas bangsa-bangsa di Eropa seperti sekarang ini adalah dengan didirikannya The European Coal and Steel Community (ECSC) atau Masyarakat Eropa untuk Batu Bara dan Baja yang juga dikenal sebagai Montanunion pada tahun 1951. Adapun sebagai negara pendirinya adalah enam negara, yaitu: Belgia, Jerman, Perancis, Italia, Luxemburg, dan Belanda. ECSC adalah organisasi internasional yang melayani untuk menyatukan negara-negara demokratis Eropa selama Perang Dingin dan menciptakan fondasi bagi perkembangan modern Uni Eropa. ECSC merupakan organisasi pertama yang didasarkan pada prinsip-prinsip supranasionalis.

Berbagai macam perundingan yang sangat intensif mengenai ide pembentukan Uni Eropa seketika berakhir dengan mulai diberlakukannya Perjanjian Lisboa. Konsep ini tiada lain bertujuan untuk menciptakan politik bersama khusus negara-negara Uni Eropa selain uni ekonomi dan moneter. Perjanjian Maastricht merupakan saksi bisu bagi peletakan sokoguru pertama bagi rancangan politik besar ini. Namun, ketika itu uni politik masih baru sebatas visi Uni Eropa di masa yang akan datang. Tetapi lambat laun, uni politik mau tidak mau harus dikembangkan dalam beberapa tahap dan langkah, tentunya sambil meletakkan dasar yang lain. Oleh karena itulah, pada perundingan-perundingan selanjutnya yaitu pada perjanjian Amsterdam dan Nice serta dalam musyawarah konstitusi, Jerman memberikan dukungan bagi penyesuaian dan pengembangan struktur institusional secara bertahap. Selain itu, beberapa hal lain seperti penjernihan kewenangan dan perluasan kualitas demokratis dari keputusan Uni Eropa turut menjadi konsentrasi perjanjian tersebut.

Berakhirnya konflik Timur dan Barat menghembuskan angin baru bagi politik luar negeri Jerman tidak hanya di kawasan Eropa akan tetapi juga di seluruh dunia. Tujuan utama politik luar negeri Jerman adalah turut menjaga perdamaian serta keamanan di dunia. Tanggung jawab Jerman pada tataran internasional dalam hal politik dunia menjadi penting, sejalan dengan berakhirnya konflik Timur dan Barat yang cukup berkepanjangan. Jerman menerima tantangan serta tanggung jawab tersebut dengan cara bekerja sama dengan negara-negara mitra di seluruh penjuru dunia. Langkah yang diupayakan untuk merealisasikan hal tersebut adalah: Jerman secara sungguh-sungguh mendukung penegakan demokrasi, menjamin serta menegakkan hak asasi manusia, dan melakukan dialog antarbudaya.

Jerman menjadi salah satu pemrakarsa atas ide pembentukan Uni Eropa pada tahun 1957. Prakarsa akan pembentukkan Uni Eropa tersebut dengan ditandanganinya Perjanjian Roma. Perjanjian tersebut menghasilkan kesepakatan pendirian Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Hal ini menjadi awal yang baik bagi integrasi Eropa pada masa yang akan datang.

Letak negara Jerman yang strategis di daratan Eropa memberi keuntungan tersendiri. Pengembangan serta peningkatan bidang ekonomi di kawasan barat Eropa menjadi pusat perhatian didirikannya Uni Eropa ini. Melalui berbagai kerja sama antarnegara serta dukungan perdagangan diharapkan organisasi tersebut dapat menjadi titik awal bagi integrasi politik di Eropa. Tidak dapat dipungkiri bahwa bidang perekonomian merupakan salah satu pemikat bagi negara-negara lain untuk bergabung dengan Uni Eropa. Pada tahun 1970-an beberapa negara besar seperti Inggris, Denmark serta Irlandia bergabung dengan Uni Eropa karena alasan ekonomi tersebut. Pada dasawarsa selanjutnya yaitu pada tahun 1980-an tercatat beberapa negara lainnya seperti Yunani, Portugal, serta Spanyol bergabung ke dalam organisasi ini. Di tahun 1990-an, negara Austria, Swedia, dan Finlandia juga turut serta bergabung. 

Selain di bidang ekonomi, daya tarik magnetis Uni Eropa juga ternyata berlangsung untuk bidang lainnya, yaitu politik. Hal tersebut terlebih dirasakan bagi negara-negara demokrasi baru yang memiliki orientasi ekonomi pasar, baik di bagian timur Eropa Tengah maupun di Eropa Tenggara. Begitu juga halnya dengan negara Jerman yang pada saat itu masih tergolong negara demokrasi baru, penggabungan dengan Uni Eropa ini menandakan sebuah pengakuan dan penghargaan atas keberhasilan politik mereka. Tidak dapat dipungkiri proses demokrasi di negara Jerman yang cukup panjang ini telah berhasil menggulingkan kediktaturan dan kelaliman pada masanya.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s