Jender dan Bahasa

Veröffentlicht: November 3, 2012 in Studi

„Jender dan Bahasa“ merupakan sebuah disiplin ilmu yang relatif masih baru dalam linguistik modern. Namun, para ahli antropologi telah meneliti keragaman bahasa laki-laki dan perempuan sejak abad ke-17. Pada penelitian-penelitian tersebut, diungkapkan karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki (Grimm, 2008: 19).  Lebih lanjut Grimm menyatakan bahwa Penggunaan istilah „bahasa perempuan“ dan „bahasa laki-laki“ banyak sekali  ditemukan dalam bahasa dan jender, yang mengartikan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan kekhasan berbahasa pada penggunaan „prefensi“ linguistik.

Pada awal abad ke-20 diskusi mengenai jender serta gaya bahasa yang digunakan telah banyak bermunculan. Seorang ahli sosiolinguistik bernama Otto Jespersen telah melakukan penelitian di bidang ini sejak tahun 1960. Kemudian pada dekade berikutnya yaitu dalam kurun waktu 1970-an, tiga buku yang mengambil tema “Jender dan Bahasa” ini diterbitkan. Ketiga buku tersebut masing-masing berjudul Language and the Woman`s Place yang dikarang oleh Robin Lakoff (1975); Male/Female Language dari Mary Ritchie Key (1975); dan satu karya lainnya yang ditulis oleh Barrie Thorne und Nancy Henley (1975) berjudul Language and Sex: Difference and Dominance (Grimm, 2008: 19).

Oppermann dan Weber (1995) mengatakan bahwa pria di mata perempuan berbicara lebih terkesan linear, sederhana, tidak komprehensif, tidak memperlihatkan emosi, biasanya dalam kalimat pendek, dan dalam bentuk pernyataan serta berorientasi hirarkis. Sebaliknya, pria berpendapat bahwa wanita berbicara tidak terstruktur, konstruksi kalimat biasanya dalam bentuk pasif, banyak menggunakan kalimat Konjunktiv untuk memperlihatkan kesopanan, lebih bersifat pertanyaan, serta cenderung tidak fokus pada pembicaraan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kaum pria berbicara lebih langsung pada tujuan (to the point) dan jelas, sementara kebanyakan wanita cenderung menggunakan bahasa tidak langsung.

Perbedaan cara berbahasa laki-laki dan perempuan tidak hanya terlihat ketika mereka melakukan komunikasi dalam bahasa ibu, melainkan juga ketika mereka berkomunikasi dalam bahasa asing (bahasa kedua). Hal tersebut dapat ditemukan dalam komunikasi pembelajar bahasa asing, misalkan bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Arab atau bahasa yang lainnya.

Perbedaan sikap dalam berbahasa juga terlihat dari karakteristik perbedaan penggunaan bahasa antara perempuan dan laki-laki. Sikap tersusun dengan kualitas dan kuantitas yang bervariasi dalam kontinum positif dengan melewati daerah-daerah netral ke arah negatif, sedangkan kualitas sikap dinyatakan dalam ekstrem dari kedudukan yang ditempati pada arah kontinum sikap. Intensitas sikap menyatakan kuatnya reaksi sikap, yaitu semakin jauh dari posisi netral akan semakin kuat reaksi sikapnya. Selanjutnya Sikap memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu 1) arah sikap, merupakan efek yang membekas dirasakan terhadap suatu objek, dapat bersifat negatif atau positif; 2) drajat perasaan, merupakan drajat penilaian terhadap sesuatu objek tertentu dengan istilah baik dan buruk dengan kontinum berkisar dari arah negatif sampai positif (Newcomb et al, 1977:1981). Ciri-ciri Sikap dikemukakan juga oleh Gordon (1960:293) yaitu: 1) sebagai suatu kesiapan untuk merespon, 2) bersifat individual, 3) membimbing prilaku, 4) bersifat bawaaan dan merupakan hasil belajar.

Lebih spesifik lagi adalah mengenai sikap berbahasa yang ditandai oleh tiga ciri, yaitu 1) kesetiaan bahasa (language loyality),  2) kebanggaan bahasa (language pride), dan 3) kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the norm).

  • Kesetiaan bahasa (language loyality)

Kesetiaan bahasa menurut konsep tersebut adalah sikap yang terdorong suatu masyarakat untuk turut mempertahankan kemandirian bahasanya dari pengaruh asing.

 

  • Kebanggaan bahasa (language pride)

Kebanggaan bahasa merupakan sikap yang mendorong seseorang atau kelompok menjadikan bahasanya sebagai lambang identitas pribadi atau kelompoknya untuk membedakannya dari orang atau kelompok lain.

 

  • Kesadaran adanya norma bahasa (awareness of the norm)

Kesadaran adanya norma bahasa mendorong seseorang menggunakan bahasa secara cermat, korek, santun, dan layak. Kesadaran yang demikian merupakan faktor yang sangat menentukan prilaku tutur dalam wujud pemakaian bahasa (language use).

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s