4 Konversationsmaximen: Prinsip Kerjasama

Veröffentlicht: Februar 19, 2012 in Studi

Herbert Paul Grice (1913-1988) adalah seorang filusuf asal Inggris. Ia dikenal  melalui karya-karyanya dalam bidang filosofi bahasa, terutama dalam hal analisa makna pembicara (Analyse der Sprecherbedeutung) serta istilah kebahasaan, seperti implikatur dalam pembicaraan (konversationelle Implikatur) dan prinsip kerjasama (Kooperationsprinzip). Dalam karyanya tentang prinsip kerjasama, Grice mengasumsikan bahwa pada saat terjadinya komunikasi terdapat adanya usaha yang mengarah pada tujuan yang sama pada diri setiap pembicara. Prinsip kerjasama tersebut kemudian dibagi lagi menjadi empat maksim (Konversationsmaximen), yaitu maksim kuantitas (Maxime der Quantität), maksim kualitas (Maxime der Qualität), maksim relevansi (Maxime der Relevanz), dan maksim cara (Maxime der Modalität).

Maksim kuantitas

  • Buatlah kontribusi percakapan seinformatif mungkin, agar berguna bagi jalannya percakapan. Tapi ingat, jangan pula terlalu berlebihan atau terlalu detail.

Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah: Seperti apakah yang terlalu berlebihan itu?

Jika kita coba perhatikan kebanyakan orang Jerman, lalu kita bandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya di duania internasional seperti contohnya orang Indonesia, mereka cenderung akan terlihat lebih sedikit berbicara. Hal itu akan lebih jelas terlihat, jika mereka sedang berada di tempat-tempat umum atau saat mereka menggunakan transportasi publik. Hal-hal yang mereka anggap penting tidak akan dengan mudah mereka ungkapkan di tempat-tempat tersebut. Banyak orang asing yang merasa tidak nyaman dengan sikap kebanyakan orang Jerman yang mereka anggap tertutup tersebut. Namun, jika mereka menginginkan atau mengeluhkan sesuatu, maka orang Jerman biasanya akan mengungkapkannya secara langsung (House/Kasper 1987). Hal tersebut bagi kebanyakan orang asing merupakan sesuatu hal yang kasar dan tidak sopan untuk dilontarkan. Berbeda halnya dengan orang-orang di negara tetangganya, bangsa Austria dinilai lebih santun dalam berbicara dibandingkan orang Jerman. Akan tetapi, adakalanya mereka malah terlalu berlebihan. Seperti contohnya jika orang Austria meminta sesuatu atau memohon maaf. Mereka biasanya mengungkapkannya dalam sebah konstruksi kalimat yang cukup panjang (Clyne, 1995:122).

Maksim Kualitas

  • Berbicaralah hal yang diyakini benar dan jangan berbicara sesuatu yang salah.
  • Jangan berbicara sesuatu yang tidak ada buktinya.

Pada maksim ini kita diharuskan untuk berbicara sesuatu yang benar atau dalam bentuk lain adalah bahwa kita berbicara sesuatu hal yang serius. Beberapa hal yang tersirat pada maksim ini di antaranya adalah kemampuan seseorang untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang sopan juga menyenangkan, atau mengungkapkannya dengan cara ironi. Jika seseorang mengungkapkan sesuatu secara terbuka dan langsung pada hal yang dimaksud, maka orang tersebut akan dikatakan sebagai seorang yang bijak di negara Jerman. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang asing hal tersebut dianggap sebagai suatu yang tidak sopan (Schwanitz, 1999:445)

Maksim relevansi

  • Berbicaralah sesuatu yang relevan.

Selain kita harus berbicara sesuatu yang relevan dengan tema pembicaraan, pada maksim ini pula dijelaskan bahwa pembicaraan kita tidak perlu “dibuat-buat” hingga hanya akan memberikan kebingungan pada lawan bicara kita saja. Pada pembicaran yang bersifat formal dan untuk teks khusus maksim ini diperhatikan lebih jauh lagi dibandingkan untuk obrolan santai sehari-hari. Akan tetapi, hal ini untuk setiap negara tentunya berbeda. Pada sebuah matapelajaran Bahasa Jerman untuk penutur asli Jerman misalnya, siswa harus memperhatikan banyak aspek yang relevan dengan tema, baik itu pada saat menulis sebuah karangan ataupun pada saat mereka berdiskusi. Siswa baru mengutarakan pendapat mereka pribadi menjelang akhir karangannya. Berbeda dengan karangan siswa Jerman, karangan ataupun essay yang ditulis siswa-siswa di Inggris biasanya lebih berorientasi pada pengembangan sebuah ide. Perbedaan konsep tradisi penulisan sebuah teks tersebut akan berujung pada perbedaan penulisan teks karya ilmiah (Clyne, 1995:138). Pada maksim relevansi ini kita dapat melihat bagaimana karakter orang Jerman, yaitu pada siatuasi yang informal atau pembicaraan yang bersifat pribadi mereka cenderung lebih tertutup. Namun, pada situasi ilmiah seperti yang dijelaskan di atas mereka terlihat lebih luas cara pandangnya, baik itu ketika berbicara ataupun saat mereka tuangkan ide tersebut pada tulisan.

Maksim cara

Maksim cara ada  kaitannya dengan situasi sosial dan orang yang kita ajak bicara. Berbeda seperti Bahasa Inggris, dalam Bahasa Jerman hal ini dapat dikatakan penting, karena ketika kita berkomunikasi seorang pembicara dapat memanggil lawan bicara dengan dua kemungkinan: „Sie“ (Anda) atau „Du“ (Kamu). Hal itu tergantung pada banyak faktor seperti: usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, afiliasi politik, lingkungan, serta faktor kedekatan keduanya (Besch 1998). Keputusan untuk menggunakan panggilan „Sie“ atau „Du“ tersebut terkadang tidaklah mudah terutama bagi para penutur asing. Dalam percakapan sehari-hari antara orang Jerman dan orang asing sering terjadi perubahan kata sapaan yang digunakan dari awalnya „Sie“ menjadi „Du“ secara tiba-tiba oleh orang Jerman yang merasa dirinya superior. Hal tersebut ia lakukan tanpa memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari lawan bicaranya.

Sebuah pembicaraan biasanya terdiri atas pembukaan, penutup, serta dibatasi oleh suatu tema sentral pembicaraan yang koheren. Dalam pembicaraan tersebut kita dapat menemukan pola struktural yang digunakan oleh pembicara secara garis besar. Baik pembicara ataupun lawan bicara, bekerja sama satu sama lainnya dalam percakapan tersebut. Mereka tidak hanya berbagi isi tematik percakapan, tetapi mereka juga mengkoordinasikan jalannya pembicaraan menjadi sebuah bingkai yang sesuai dengan referensi tertentu yang terdiri atas fase pembukaan dan berujung dengan fase penutup. Dalam percakapan biasanya mereka memperlihatkan karakter serta perannya masing-masing atas situasi yang sedang mereka hadapi. Kekhususan bahasa serta budaya masing-masing pembicara akan membawa kekhasan mereka saat mereka berkomunikasi, baik itu secara verbal ataupun pada saat komunikasi nonverbal.

Oleh karena itulah, pada pengajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing pengetahuan seperti „Abtönungspartikel“ (sebuah penekanan pada kalimat, seperti: „doch“, „halt“ dll.) diberikan kepada peserta didik. Hal ini bertujuan agar mereka dapat berpartisipasi secara aktif serta menggunakannya suatu saat nanti pada sebuah percakapan dengan penutur asli. Pengetahuan mengenai budaya lainnya terutama untuk mengawali sebuah percakapan, juga dirasa penting untuk diketahui oleh peserta didik. Pada budaya tertentu, sebuah pembicaraan dapat dibuka dengan small talk seputar cuaca, keluarga, pekerjaan dan tema-tema ringan lainnya. Dengan tema-tema tersebut biasanya sebuah percakapan akan terjadi. Namun demikian, lawan bicara bisa saja mengekspresikan persetujuannya akan hal itu atau juga keengganannya. Misalnya: seorang yang masih lajang tidak mau menceritakan kehidupan pribadinya atau masalah keluarganya. Atau seseorang sangat tidak suka membicarakan hal yang berbau pekerjaan, terlebih jika berbicara seputar pendapatannya.

Selain penjelasan di atas tadi, pada maksim ini Grice menyarankan bahwa kita hendaklah:

  • menghindari ketidakjelasan;
  • menghindari kata-kata ambigu;
  • menghindari kalimat yang bertele-tele; serta
  • menghindari struktur kalimat yang tidak beraturan.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s