Bule Juga Doyan Nasi Timbel Komplit

Veröffentlicht: Februar 18, 2012 in Lain-lain

Jika Anda jalan-jalan ke kota Bandung, makanan apa saja dapat Anda temui. Bandung memang kota sejuta makanan dengan segala inovasi para penjualnya. Para wisatawan di sini begitu dimanjakan dengan makanan. Namun, keadaan akan menjadi lain jika makanan tersebut kita dapatkan di suatu tempat yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari tempat asalnya.

Pada akhir pekan yang lalu, saya diundang oleh seorang teman untuk makan malam di rumahnya. Ia dan suami tinggal di sebuah kota kecil di Swiss bernama Couvet. Dari tempat saya tinggal di kota Bern, tempat tersebut berjarak sekitar 96 kilometer. Karena kota ini terletak di dekat perbatasan dengan negara Perancis, maka penduduknya pun mayoritas berbicara Bahasa Perancis. Negara Swiss memang salah satu negara yang multilingual, karena memiliki tiga bahasa nasional, yaitu Bahasa Jerman, Perancis, dan Italia. Sementara satu bahasa lagi, yaitu Bahasa Retoromanis, hanya digunakan oleh sekitar sepuluh ribu orang saja.

Menu makan malam kami pada hari ini sangat spesial, karena tuan rumah masak „Nasi Timbel Komplit“. Teman saya tersebut adalah orang Bandung yang telah sejak beberapa tahun ini tinggal di Swiss dan bersuamikan orang Swiss. Selain saya, ada juga beberapa rekan bisnis dari Swiss. Agak sulit bagi saya untuk dapat berkomunikasi dengan mereka, karena mereka hanya bisa Bahasa Perancis. Tapi, mereka sangat antusias sekali dengan makanan dan tempat-tempat wisata menarik di Indonesia.

 

Tepat pukul 20.00 kami sudah dapat menyantap makanan khas Sunda tersebut. Di atas piring masing-masing sudah terlihat nasi timbel yang masih terbungkus daun pisang, ayam dan tahu goreng, ikan asin, lalapan seperti terong, timun, tomat, dan basilikum sebagai pengganti daun kemangi, ada pula sayur asem di dalam mangkuk, serta tentu saja sambal. Tidak ketinggalan ada juga kerupuk. Persis seperti kita makan di rumah makan Sunda. Menu yang sangat tidak mungkin sebetlnya kita dapatkan di Swiss.

Beberapa suap pertama teman-teman Swiss tersebut sangat terkesan sekali dengan makanan yang baru saja ia makan. “Délicieuse!“, tiba-tiba salah satu dari mereka memuji makanan yang tengah mereka santap. Sementara kami makan dengan menggunakan tangan, bule-bule tersebut seperti biasa menggunakan garpu dan pisau. Minumannya pun bukan air putih atau teh, melainkan anggur merah. Suatu kombinasi makanan dan minuman yang baru saya temui. Mereka betul-betul sangat senang dan begitu terkesan sampai-sampai tidak menyisakan makanan sedikit pun di piringnya masing-masing. Ternyata bule juga doyan nasi timbel komplit. Sebagai makanan penutup, kami dijamu dengan pudding, kue, serta buah strawberry yang diberi cream.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s