Berburu Beasiswa ke Swiss

Veröffentlicht: Februar 17, 2012 in Tipps

Bincang Santai Jilid 39

(9.9.2011)

Berburu Beasiswa ke Swiss

oleh: Iwa Sobara

Sore itu langit sedikit berawan, matahari bersinar terik menyambut peserta bincang santai spesial di kediaman Ita di kota Brugg. Satu persatu mereka berdatangan, ada yang bisa datang sendiri, ada pula yang mau dijemput karena takut nyasar. Apalagi Ita memberikan ancer-ancernya kalau perumahan tempat ia tinggal melewati makam umum.

Segera Bincang Santai dimulai saat peserta „dianggap“ sudah komplit dan peserta kali ini berdatangan dari beragam kota di Swiss, seperti Rosidi dari Luzern, Pak Franz dan Krisna dari Kriens, Sigit dari Zug, Iwa dari Bern, Mona dari Baden, Catharina dari Mumpf, Ronny dari Sissach serta Ita tuan rumah dari Brugg.

Iwa memulai kisahnya yang bertopik „Berburu beasiswa di Swiss“ dengan alasan utama mengapa ia studi bidang bahasa Jerman di Swiss. Berawal dari kesenangannya atas bahasa itu sendiri sejak dia masih duduk di bangku SMA 7 Bandung.

Motivasi lewat pengalaman pribadi dari guru Bahasa Jerman di SMA tersebut membuat dia lebih lekat lagi dengan Bahasa Jerman. Itu membawanya saat selesai dengan pendidikan menengah atas memutuskan untuk mengambil studi bahasa Jerman di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Selama pendidikan itu bakat kebahasaannya lebih terasah dan makin terukir hingga ia malahan membantu kakak seniornya dalam permasalahan kebahasaan dan bukan sebaliknya.

Kesempatan untuk mengamalkan ilmu lewat pengajaran, ia dapatkan juga saat ia masih berstatus mahasiswa, di antaranya adalah „Deutsche Schule“ di Bandung, SMA 7 Bandung, SMKN 3 Bandung, D1 Farmasi (SMKN 13 Bandung) dan beberapa institusi lainnya. Karena „profesi“nya sebagai guru ini ia dicalonkan juga mendapatkan beasiswa untuk kursus bahasa Jerman di Jerman. Selepas lulus kuliah pada bulan Oktober tahun 2005, ia diterima sebagai tenaga dosen muda di Universitas Negeri Malang (UM) pada bulan maret tahun 2006. Di tahun yang sama, ia kemudian mengikuti seminar internasional  yang bertemakan „Bahasa Jerman untuk bidang Pariwisata dan Ekonomi“ di Freiburg, Jerman. Selain dibidang pengajaran, ia aktif juga di bidang sosial sehingga dipilih sebagai sekretaris Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia Pusat.

Kemudian Iwa beralih ke tema inti yakni kisah hingga ia bisa studi di Swiss. Diawali dengan browsing di internet hingga mengumpulkan selebaran di jurusan dan fakultas yang menawarkan beasiswa untuk studi di luar negri. Kebanyakan mempersyaratkan sudah menyelesaikan studi S-2. Akhirnya ia dapatkan juga kesempatan lewat penawaran beasiswa dari kedutaan Swiss di Jakarta. Persyaratan tidak harus S-2 tetapi sudah mempunyai tema penelitian, konversi hasil studi sudah harus terakreditasi universitas tujuan serta rekomentasi dari profesor asal Indonesia dan „letter of acceptance“ dari universitas tujuan. Kuota sedunia menurut Iwa lebih dari 100 beasiswa. Dan beasiswa ini terbatas hanya untuk studi jenjang Master of Arts (MA).

Setelah persyaratan terpenuhi datanglah panggilan tes kebahasaan dan lisan di kedutaan Swiss di Jakarta. Masalah bahasa bukanlah persoalan bagi Iwa, tetapi saat pengujian, sang penguji menggunakan aksen khas Swiss Jerman yang sangat asing bagi Iwa yang mendalami Bahasa Jerman secara baku. Itu kali pertama Iwa bersentuhan dengan budaya Swiss.

Setelah itu harus menunggu 3 sampai 5 bulan hingga ada kepastian dan setelah mendapat kepastian itu baru bisa mendaftar sebagai mahasiswa resmi di universitas pilihannya, yakni di Universitas Bern.

Per tahun dari Indonesia hanya 2-4 orang yang berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Untuk menyelesaikan studi harus menggenapi 120 SKS /ECTS dengan pembagian rata-rata 30 SKS per semester. Iwa mengambil mata studi bidang mayor „ilmu kebahasaan Jerman“/Linguistik Terapan. Dalam perkuliahan itu Iwa bertemu juga dengan pemegang beasiswa yang sama dari negara lainnya. Selain perkuliahan, organisator pemberi beasiswa juga memberikan kesempatan bagi penerima beasiswa untuk mengikuti tour-tour khusus sesuai dengan mata kuliahnya.

Dengan besar beasiswa CHF 1920 per bulan, pemberi beasiswa mengharapkan pemegang beasiswa bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari serta juga cukup untuk kegiatan saat waktu senggang.

Dari semua pengalaman yang Iwa alami yang paling berkesan selama tinggal di Swiss ini adalah budaya tepat waktu, disiplin di beragam bidang dan ketekunan.

Bau asap ikan pepes panggang memenuhi teras tempat bincang santai itu diadakan. „Timing“nya tepat. Topik utama selesai, makanan siap saji. Sambel super pedas menemani santapan kali ini hingga memberikan alasan untuk nambah nasi lagi. Sambil bersantap percakapan bergulir dalam beragam tema.

Terima kasih buat Iwa atas kesediaannya sebagai pembicara. Sewaktu tulisan ini dipasang kabarnya Iwa baru saja lulus ujian Masternya. Selamat buat Iwa dan semoga sukses selalu dan lanjutkan dengan beasiswa S3nya. Kalau bisa di Swiss juga. Terima kasih buat Ita atas kesediaannya ditempati. Terima kasih atas jamuannya dan sampai jumpa di Bincang Santai yang akan datang.

(Team Bincang Santai)

Bisa juga dilihat di:

http://indonesiaclub.jimdo.com/catatan-berbincang-santai/catatan-berbincang-santai-31-40/

dan

http://motivasibeasiswa.org/category/negara/swiss/

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s