Banyak Terowongan Menuju Roma

Veröffentlicht: April 29, 2011 in Ekskursi

Mungkin pepatah lama yang menyebutkan „Banyak jalan menuju Roma“ benar adanya. Namun, ceritanya akan menjadi sedikit lain jika kita pergi menuju kota Roma lewat darat menggunakan mobil. Dari kota Montreux di bagian barat Swiss yang terkenal dengan ajang musik tahunannya „Montreux Jazz Festival“, saya pergi bersama-sama dengan teman yang kini tengah menjadi tenaga ekspatriat untuk perusahaan multinasional di Swiss dan keluarganya. Hari kamis pukul empat dini hari, kami sudah memulai perjalanan panjang kami menuju negara yang terkenal dengan Pizza, Spaghetti, es krim, dan sepakbolanya ini.

Tempat tujuan pertama kami adalah kota Pisa. Dari kota Montreux waktu yang diperlukan kurang lebih sekitar enam hingga tujuh jam. Perjalanan yang cukup panjang, tapi tidak terlalu terasa melelahkan karena jalanannya yang nyaman untuk dilalui. Namun, yang membuat perjalanan sedikit terganggu ketika kami harus melalui puluhan terowongan yang membelah pegunungan mulai hendak meninggalkan Swiss hingga memasuki Italia. Mengganggu, karena di samping kiri dan kanannya kita tidak bisa melihat pemandangan alam Italia yang indah. Italia bagian utara dengan datarannya yang berbukit-bukit ini membuat sistem transportasi daratnya harus banyak membangun terowongan.

Setelah tujuh jam di perjalanan akhirnya kami tiba juga di kota Pisa. Kota ini begitu terkenal dengan simbolnya yang mendunia dan menjadi salah satu keajaiban dunia, yaitu « Menara Miring ». Pada awalnya menara ini dibangun sebagai menara lonceng  (Campanile) untuk katedral. Dua belas tahun kemudian, setelah peletakan batu pertama pada tanggal 9 Agustus 1173, saat bangunan telah mencapai setinggi tiga lantai, pembangunan menara dihentikan akibat adanya pergeseran permukaan tanah. Hampir 100 tahun lamanya, bangunan tersebut dihentikan. Beberapa saat kemudian, lantai keempat lalu dibangun untuk membuat keseimbangan bangunan. Proses pembangunan menara untuk lonceng tersebut berakhir pada tahun 1372.

Menara Pisa

Menara Miring Pisa ini memiliki ketinggian 55 meter dan berdiameter 12 meter merupakan  menara yang terbuat dari 14.200 ton marmer jenis Carrara putih. Pada waktu-waktu tertentu ketujuh lonceng di atas menara tersebut berbunyi dalam waktu yang tidak lama karena dikhawatirkan akan membahayakan bangunan. Bentuk menara ini cukup berbeda dibandingkan dengan menara-menara lainnya di kawasan Italia tengah yang pada umumnya berbentuk persegi. Begitu pula dengan kebanyakan menara di kawasan Eropa Utara yang biasanya berbentuk meruncing. Menurut legenda, penemuan Gerak Jatuh Bebas (Free Fall) yang kita kenal dalam ilmu Fisika yang ditemukan oleh Galileo Galilei ada hubungannya dengan tempat ini. Pada tahun 1987 menara ini dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Yang membuatku cukup heran adalah ketika para penjual di sekitar komplek ini mengatakan « Terimakasih ». Itu ternyata karena turis Malaysia cukup banyak yang datang ke kawan Menara Miring di Pisa ini. Kami pun disangka berasal dari Malaysia oleh mereka.

Karena hari ini bertepatan dengan hari libur di sebagian besar negara-negara di Eropa Tengah, maka pengunjung di sini sangat banyak. Kami ingin sekali dapat memasuki menara tersebut. Setelah kami cari informasi ternyata kami baru dapat masuk setelah tiga jam kemudian, mengingat antrian yang sangat panjang. Harga tiket masuknya tidak terlalu mahal, hanya 15 Euro. Namun, karena keterbatasan waktu kami mengurungkan niat kami tersebut dan meninggalkan kota Pisa ini untuk menuju Roma.

Diperlukan waktu sekitar empat jam hingga kami bisa masuk ke Roma. Di sepanjang jalan, kemacetan bisa kami rasakan. Hari kamis sore menjelang long weekend volume kendaraan di ruas-ruas jalan ibukota Italia ini tidak kalah padatnya seperti di kota-kota di tanah air. Kami sempat terjebak kemacetan di dalam terowongan menuju pusat kota. Namun, pada akhirnya kami tiba juga di tempat penginapan kami yang terletak cukup strategis karena terletak di pusat kota. Hanya tujuh menit berjalan kaki menuju ke stasiun Roma. Nama hotel tempat kami menginap tersebut adalah Hotel D´Este. Harga permalamnya untuk bisa menginap di hotel berbintang tiga ini mulai dari 85 Euro dan sudah termasuk sarapan pagi. Fasilitas kamar pun cukup lengkap. Kebanyakan pegawai hotel ini jika saya lihat-lihat berwajah China, saya rasa pemilik hotel ini adalah seorang pengusaha China.

Keesokan harinya kami memulai wisata kami dengan berkeliling menggunakan bis terbuka atau biasa disebut “sight seeing”. Harga perharinya adalah 10 Euro. Kita bisa menggunakan tiket tersebut selama 24 jam dan bisa naik turun di halte mana saja dan kapan saja.

Roma memiliki banyak sekali peninggalan sejarah kejayaannya. Mulai dari Piazza del Campidoglio, Piazza Venezia, Piazza del Popolo, Piazza San Pietro atau Petersdom, Colloseum dan masih banyak lagi. Kami sangat penasaran sekali dengan Colloseum. Dari bis yang kami tumpangi, kami kemudian turun di halte tepat di depan bangunan berada. Colloseum adalah amfiteater Romawi kuno terbesar yang dibangun antara tahun 72 hingga 80 Masehi. Hingga kini amfitheater tersebut menjadi salah satu landmark kota dan juga menjadi saksi bisu dari sebuah mahakarya arsitektur tinggi zaman Romawi kuno. Waktu masih menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi ketika kami tiba di tempat ini. Namun, antrian pengunjung yang hendak memasuki Colloseum sudah sangat panjang. Lagi-lagi kami harus menunda keinginan kami untuk dapat memasuki amfitheater ini. Akhirnya kami hanya melihat-lihat seputaran bangunan saja.

Colosseum dibangun berbentuk elips. Luasnya sekitar 156 meter, dengan panjang 188 meter, berdiameter 527 meter, dan tinggi 48 meter. Selain itu, lantai arena pun berbentuk  elips dengan lebar 54 meter dan panjang 86 meter. Bentuk bulat itu bangunan dimaksudkan untuk menghindarkan gladiator yang dijatuhi hukuman mati atau hewan yang diburu mencari perlindungan ke sudut bangunan. Bentuk elips  tersebut memungkinkan  juga penonton untuk dapat melihat lebih dekat di dalam arena.

Di bagian belakang Colloseum kami jumpai orang-orang mengenakan pakaian tentara Romawi yang sangat gagah. Mereka benar-benar seperti tentara Romawi yang sering kujumpai di buku-buku sejarah. Mereka memiliki postur tinggi besar yang dibalut pakaian khas Romawi Kuno dan berusia 50an tahun. Setiap wisatawan yang berjalan ke arah mereka ditawarinya untuk berfoto bersama. Kami pun ingin mengabadikan berfoto bersama mereka. Di awal mereka berkata, bahwa kami dapat member imbalan mereka berapa saja. Saat pengambilan gambar, kami menjadi tontonan turis-turis lain. Setelah selesai, kepala kelompok tersebut meminta kami membayar mereka per kepala 10 Euro. Pikirku, ini penipuan secara tidak langsung. Tapi, biar bagaimana pun juga kami tidak ingin membuat masalah di sini.

Die Römer

Dari kawasan Colloseum kami berjalan kaki menuju piazza Venezia. Dan dari tempat ini perjalanan dengan bis kami lanjutkan hingga stasiun akhir di Vatikan. Suasana Jumat Agung di Vatikan memang lebih terlihat ramai. Di samping banyak turis yang ingin melihat gereja tertua di sini, banyak juga jamaat yang akan beribadah Misa Paskah. Di pelataran Petersdom atau Basilika St. Peter sudah dipasang kursi. Layar monitor yang terpampang besar di dinding-dinding luar gereja dapat kita temukan di berbagai arah. Gereja ini dapat menampung sekitar 20.000 jamaat. Luasnya yang mencapai 15.160 meter persegi menjadikan gereja ini sebagai gereja terbesar di dunia.

Saat malam hari menjelang, kami menuju sebuah Trattoria atau rumah makan Italia yang terletak di dekat hotel. Saya memesan spaghetti tutto mare atau lebih tepatnya spaghetti sea food. Rasa spaghettinya benar-benar sangat menggugah selera. Baru pertama kali saya merasakan pasta seenak ini. Sementara yang lain ada yang pesan Pizza dan rasanya pun sangat berbeda dengan Pizza yang pernah saya jumpai sebelum-sebelumnya. Tidak heran jika negeri ini termasyur akan makanannya hingga ke berbagai negara di dunia. Sebagai penutup, saya pun mencoba gelato atau es krim Italia yang tidak kalah terkenal.

Sebagai akhir dari penutup rangkaian perjalanan wisata kami, keesokan harinya kami singgah sebentar di kota Firenze. Kota ini merupakan ibukota dari Provinsi Toscana dan disebut-sebut sebagai « Athena » nya Italia, karena kebudayaannya, khususnya untuk seni lukis yang sudah berkembang sejak abad ke-19. Pada sekitar abad 14 hingga 15 atau disebut juga sebagai era Renaissance banyak seniman yang menghabiskan masa hidupnya di sini, seperti Donatello, Botticelli, Michelangelo, Machiavelli, Leonardo da Vinci, dan Galileo Galilei.

Petersdom, Vatikan

Perjalanan terakhir adalah menuju kota Milan. Bagi saya ini adalah untuk kesekian kalinya. Namun demikian, Milan masih tetap menyenangkan untuk dikunjungi. Berbagai merk beken dunia bisa kita jumpai di sini. Setiap boutique tidak hanya menjual barangnya tetapi menata sedemikian rupa agar para pengunjung terkesan hingga akhirnya dapat memborong barang jualan mereka. Seperti yang biasa dilakukan wisatawan dari Asia pada umumnya. Malam minggu di kota Milan terasa sangat lain. Terlebih cuaca pada sabtu malam ini cukup mendukung karena tidak terlalu dingin tapi belum begitu panas. Setelah senja berubah menjadi gelap, maka kami pun kembali ke negeri Swiss melewati jalur yang sama seperti kami pergi. Puluhan terowongan harus kami lewati.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s