Angklung: The Heritage of Indonesia

Veröffentlicht: Oktober 22, 2010 in Indonesia, Momen

Bandung, 2005

Setelah selama sehari penuh mengunjungi berbagai tempat menarik di Bandung, aku dan beberapa siswa-siswi Sekolah Menengah Pariwisata  di Bandung yang sedang melakukan Bandung City Tour mengunjungi „Saung Angklung Mang Udjo“. Tempat yang berlokasi di Jln. Padasuka 118 Bandung Timur, Jawa Barat, ini menjadi tempat tujuan terakhir kami. Tidak begitu banyak tempat yang menyuguhkan atraksi wisata kesenian seperti ini. Adalah Bapak Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, tokoh yang berada di balik kesusksesan yang berhasil melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda di tengah-tengah gempuran seni modern. Mereka mendirikan padepokan ini pada tahun 1966 dan masih eksis hingga sekarang ini. selain kami, bayak pula wisatawan asing seperti dari Belanda, Amerika Serikat, serta Jepang yang pada sore hari itu juga memadati padepokan untuk menyaksikan pagelaran. Bagi rombongan turis yang hendak melihat pertunjukkan, jauh-jauh hari harus sudah memesan tempat, karena animo turis baik itu lokal ataupun mancanegara sangat besar sekali untuk menikmati seni-seni tradisional Sunda ini. Di akhir pertunjukan, semua audiens dilibatkan untuk mencoba dan bermain angklung bersama. Semua tampak terlihat senang dan gembira bermain angklung.

Bern, 2010

Cuaca di seputar kota Bern pada hari kamis ini cukup bersahabat. Meskipun suhu udara di luar ruangan berada di titik 5°C, tetapi matahari bersinar hampir sepanjang hari. Hari-hari sebelumnya di musim gugur ini, hujan hampir menghiasi keseharian kota. Sekitar pukul 16.30 aku pergi ke pusat kota menggunakan bis dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Tempat yang akan kutuju sore ini adalah Hotel National yang terletak di pusat kota, tepatnya di jalan Hirschengraben. Sore itu di restoran hotel dari kejauhan aku melihat beberapa orang Indonesia sedang bercengkrama. Setelah aku dekati ternyata salah satu diantaranya adalah Bapak Agum Gumelar. Ini adalah kali kedua aku bertemu dengan beliau, setelah sebelumnya empat tahun yang lalu bertemu beliau di gedung KONI, Senayan, Jakarta. Ketika itu, aku menghadiri pelepasan tim Softball junior Indonesia yang akan mengikuti turnamen persahabatan di Jepang. Beliau bersama dengan tiga orang ibu dan satu bapak lainnya sedang bersiap-siap untuk pagelaran malam ini.

Akupun terlibat pembicaraan dengan mereka. Salah seorang ibu bertanya mengenai kegiatanku di Swiss. Sementara yang lainnya bertanya asal kotaku di Indonesia. Ibu tersebut lalu menyambar jawabanku „Oh pantesan datang ke acara ini. Udah kangen Angklung Udjo, kan?“, begitu candanya. Tak lama kemudian kami meninggalkan cafe di teras tersebut dan masuk ke ballroom hotel. Di dalam ruangan sedang dilakukan gladi bersih sebelum pertunjukan dimulai. Di sana juga tampak koreografeer kenamaan Indonesia Ari Tulang yang sedang mempersiapkan artis-artisnya untuk fashion show.

The Heritage of Indonesia. Tema tersebut menjadi penting artinya untuk kegiatan malam ini. Melibatkan kurang lebih 58 artis dan akan mempertontonkan seni budaya Indonesia. Namun, suatu hal bodoh yang terjadi padaku adalah ketika baterai kameraku habis. Akan sangat sayang sekali pikirku melewatkan seni pertunjukan tanpa mengabadikannya lewat gambar. Maka aku putuskan untuk kembali lagi ke rumah membawa charger kamera. Untungnya di Bern tidak mengenal kemacetan lalulintas. Route yang sama seperti aku berangkat tadi harus aku lalui kembali. Acara yang akan dimulai pukul 18.00 terpaksa harus aku lewatkan beberapa menit dalam hitungan waktuku karena kebodohanku ini. Tiba di rumah, aku kemudian kembali ke kota. Tapi kali ini menggunakan kereta. Jadi waktu yang kubutuhkan lebih sedikit. Hanya lima menit saja.

Tepat pukul 18.00 acara resepsi diplomatik telah dimulai. Para undangan yang hampir keseluruhan diplomat dari berbagai negara telah memasuki ruangan acara dan menikmati hidangan yang disajikan. Acara malam budayanya sendiri baru akan dimulai pada pukul 19.00. jadi aku punya waktu untuk mengisi baterai kameraku di ruangan tersebut selama sekitar 40 menit.

Melalui belakang panggung aku menuju ke lantai atas, di mana di lantai tersebut dua orang teknisi sedang bekerja di belakang sebuah equalizer. Aku meminta ijin padanya untuk mengisi bateraiku. Dengan ramah ia memperbolehkan. Sedikit kami berbicara mengenai acara hari ini. Laki-laki tersebut ternyata pada tahun lalu pernah ke Indonesia, tepatnya ke Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur. Ketika aku tanya mengenai kesannya terhadap tanah air, ia menjawabnya sangat terkesan sekali dan suatu saat pasti akan kembali lagi. Namun, ia harus jujur ada satu hal yang sangat membuatnya kesal. Ketika itu, ia baru tiba di bandara Cengkareng, Jakarta. Di sana ia harus menghabiskan waktu selama 90 menit karena kamera besarnya yang ia bawa. Petugas bandara, akunya mengharuskan ia membayar uang sebanyak 5.000 US Dollar, entah karena alasan apa. Karena jika dilihat kamera tersebut bukanlah kamera baru yang akan dijualbelikan. Sering sekali ia bepergian ke luar negeri, tapi baru kali ini ia diperlakukan seperti ini. Ia kemudian memberi usul pada petugas imigrasi di bandara. Petugas bisa menuliskan catatan mengenai barang yang ia bawa tersebut, dan pada saat ia meninggalkan Indonesia bisa kembali dicek. Pada awalnya ia tidak setuju dengan opsi yang diajukan tersebut dan tetap mengemis uang sejumlah yang disebutkan tadi. Benar atau tidaknya, wallahu`alam. Tak lama berselang atasannya keluar dan menyelesaikan permasalahan tersebut. Laki-laki Swiss tersebut tidak diharuskan membayar uang tersebut. Memalukan sekali, pikirku.

Tepat pukul 19.00 acara malam budaya dimulai. Pertunjukan menyuguhkan beberapa kesenian Indonesia, seperti Tari Piring dari Sumatera Barat, Tari Jaipong dan Topeng dari Cirebon, Jawa Barat, Tari Saman dari Aceh, Ronggeng Betawi, Fashion Show Kain Tenun NTT, dan ditutup dengan penampilan Angklung.

Diese Diashow benötigt JavaScript.

Bapak Agum Gumelar sendiri adalah salah satu pendiri yayasan Citra Cinta Nusantara dan membina para pemuda yang sebelumnya pada saat mereka SMA tergabung dalam suatu wadah untuk mempromosikan seni dan budaya Indonesia untuk UNESCO. Setelah mereka berada di jenjang perguruan tinggi, anak-anak tersebut tetap dilibatkan dalam kegiatan seperti ini. kurang lebih seperti itu menurut cerita dari salah satu anggota yayasan. Setelah kota Bern, rombongan akan menuju Basel dan London untuk melakukan pertunjukan yang sama. Namun, sedikit berbeda untuk di kota Basel, karena kegiatan ini diorganisir oleh  Verein-Indonesia-Schweiz, maka acaranya pasti akan lebih seru.

Penampilan demi penampilan mengundam decak kagum publikum yang hadir. Namun, yang membuatku terkesan adalah penampilan Tari Saman dan tentunya Angklung. Tari Saman yang dipertontonkan pada malam ini baru aku lihat kali ini. Pada penampilan sebelum-sebelumnya yang pernah kutonton, para penarinya hanya memperlihatkan kecepatan gerakan saja. Tapi kali ini sangat lain karena mereka juga dilengkapi dengan alat musik rebana. Penonton begitu terpesona melihat keindahan koreografi di atas panggung. Beberapa diantara mereka merekamnya lewat handycam, digital camera ataupun handphone.

Tibalah saat-saat yang kutunggu-tunggu. Penampilan alunan rumpun bambu (arumba). Alat musik dari bambu ini bisa menjadi kebanggaan tersendiri sebagai warisan budaya bangsa. Harmonisasi alat musik natur ini tidak kalah menawan dibandingkan orkestra seperti di kota Wina atau Berlin yang sudah mendunia. Lagu pertama yang dibawakan adalah Lagu Keroncong Jakarta. Setelah itu, Bohemian Rhapsody dari The Queen menjadi lagu berikutnya. Lagu yang sangat sulit untuk dibawakan oleh grup band sekalipun, kini ditampilkan oleh para pemain angklung dihadapan publik Eropa. Lagu ketiga adalah  If We Hold On Together dari Diana Ross, yang membawa pesan perdamaian untuk seluruh umat di bumi ini.

Di sela-sela acara, salah seorang dari kru meminta tolong padaku untuk membetulkan stand mic yang menghalangi pemandangan penonton di atas panggung. Aku pergi ke belakang panggung dan menyampaikan hal itu pada Ari Tulang yang kebetulan berada di sana. Setelah kembali dari belakang panggung, ibu tersebut meintaku lagi untuk membetulkan stand mic lainnya. Untuk kali kedua ini aku dimarahi oleh Ari Tulang. „Mereka sedang main, siapa sih yang nyuruh?“. Aku bilang kalau salah satu di antara mereka yang menyuruhku. Kejadian lucu memang selalu terjadi.

Sebelum rangkaian acara ditutup, seperti biasa hadirin diundang untuk bermain angklung bersama. Mereka tampak senang memainkannya. Lagu demi lagu dipimpin oleh konduktor berpengalaman dari Saung Angklung Mang Udjo ini sangat rapi dibawakan secara spontan oleh mereka. Hingga akhirnya lagu Can`t Take My Eyes menutup semua penampilan dan para hadirin pun menari bersama. Namu, ternyata masih ada lagu Keong Racun yang menjadi penutup dari semua itu. Semua tentu sangat terhibur dan pulang meninggalkan acara dengan hati gembira.

Kommentare

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s