Selamat Tinggal

Veröffentlicht: September 7, 2010 in Lain-lain

Ramadhan tahun ini aku lewatkan di berbagai tempat berbeda. Masing-masing tempat memiliki keistimewaan sendiri. Dua minggu pertama aku melewatkannya dengan keluarga di rumah. Aku sangat bahagia, karena waktuku tidak banyak untuk itu.

Suatu ketika aku dan keluargaku berbuka bersama di luar. Ketika itu masih awal-awal bulan Ramadhan. Tetapi suasana menjelang hari raya sepertinya dari jauh-jauh hari di Bandung sudah sangat terasa. Jalanan dipadati orang yang hendak berbelanja untuk keperluan lebaran. Rumah-rumah makan sesak dipenuhi orang yang sengaja berbuka bersama, baik itu dengan keluarga ataupun dengan teman-temannya. Pada suatu hari kami makan di sebuah tempat makan. Waktu berbuka baru pada pukul 17.54, akan tetapi para pengunjung sudah mengambil nomor antrian pada satu jam sebelumnya. Padahal tempatnya pun masih dibenahi oleh pemilik tempat makan tersebut. Memasuki saatnya berbuka, tempat tersebut terlihat sangat ramai. Tapi anehnya masih saja banyak orang yang rela menunggu mendapat giliran makan di tempat tersebut, padahal sudah tidak ada tempat yang kosong lagi. Ini barangkali yang disebut dengan berkah bulan Ramadhan bagi pemilik rumah makan tersebut.

Minggu berikutnya, karena spontanitas perjalananku ke negeri tetangga, Singapura, maka aku melaksanakan ibadah puasaku di sana. Meskipun sebetulnya sebagai musafir bisa mengambil fasilitas untuk tidak berpuasa, namun aku tetap berpuasa selama beberapa hari berada di sana. Pada hari pertama aku berbuka pada sekitar pukul 19.15 di dalam kereta menuju ke sebuah tempat untuk bertemu dengan teman di sana. Namun, pada hari berikutnya ada sebuah kesalahan teknis. Tepat di depan hostel tempat aku menginap ada sebuah masjid. Pada siang hari ketika shalat dzuhur tiba, aku sholat di masjid tersebut. Setelah selesai shalat, dari kejauhan aku melihat jadwal shalat maghrib untuk hari ini. Tulisannya cukup besar. Aku melihatnya dari jarak sekitar sepuluh meter. Di sana tertulis MAGHRIB 17.14. Saat sore hari menjelang dan waktu tepat menunjukkan pukul 17.14 tanpa ragu-ragu lagi aku berbuka. Selain itu, aku juga melihat di depan masjid banyak pria yang merokok. Dari mukanya aku mengira mereka berasal dari Timur Tengah dan sedang membatalkan puasa dengan merokok.

Begitupun di beberapa hari berikutnya. Tapi yang sedikit ganjil adalah ketika di luar ruangan masih terlihat terang-benderang. Meskipun demikian aku berkeyakinan, bahwa mungkin Singapura punya ketentuan sendiri dengan waktu. Seperti halnya waktu yang jika kita lihat dari letak geografisnya, maka negeri ini harusnya memiliki waktu yang sama dengan Waktu Indonesia Bagian Barat. Tapi aku tidak mau ambil pusing dengan hal itu.

Ketika aku hendak kembali ke Jakarta dengan pesawat pada pukul 18.40, di dalam pesawat  seorang penumpang di depanku bertanya pada seorang pramugari. Ia hendak meminta air minum untuk anaknya yang masih kecil. Pesawat belumlah take off, maka pramugari memberitahukan pada penumpang tersebut bahwa nanti ia akan diberi setelah pesawat take off. Selain itu, karena kru pesawat mencoba menyesuaikannya dengan waktu berbuka puasa di Jakarta. Dari sana, aku kemudian berpikir kemungkinan besar waktuku berbuka puasa selama beberapa hari ini salah. Ternyata memang aku salah melihat jadwal tesebut. Setelah aku cek di internet yang dimaksudkan bukan 17.14 melainkan 7.14 pm atau 19.14 waktu setempat.

Sepuluh hari terakhir sebelum bulan yang penuh berkah ini berlalu, aku harus kembali ke kota Bern. Pesawat yang aku tumpangi harus terlebih dahulu transit di kota Dubai sekitar 3,5 jam. Bandara yang sangat besar ini tidak pernah sepi dari penumpang. Para penumpang pesawat di sini hendak melanjutkan perjalanan berikutnya ke berbagai negara. Suasana bulan puasa di negara Uni Emirat Arab yang notabene memiliki penduduk mayoritas muslim ini tidak begitu terasa. Itu karena aku berada di dalam bandara. Entahlah kalau di luar sana.

Minggu terakhir bulan ini aku sudah kembali berada di ibukota Swiss. Meskipun di sekeliling kita tidak akan kita temukan nuansa Ramadhan, tapi jika kita pergi ke pusat Islam yang ada di kota ini misalnya, maka suasana seperti di tanah air akan terasa. Berbagai jamaah yang berasal dari negara berbeda biasanya menghabiskan sore hingga malam harinya di sini. Menjelang berbuka puasa sekitar pukul 20.00, mereka biasanya membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Begitu waktu buka puasa tiba, jemaah yang mayoritas pria ini membentuk kelompok-kelompok menikmati hidangan berbuka puasa (iftar) yang disediakan masjid atau donatur. Setelah shalat maghrib berjamaah, kemudian makanan utama berbuka bisa dinikmati. Pun mereka makan bersama dengan sebuah tempat berupa piring yang sangat besar untuk 7-8 orang. Menu makan biasanya adalah nasi couscous atau hidangan Timur Tengah atau Afrika lainnya.

Shalat tarawih berjamah di masjid yang terletak di Lindenrain kota Bern ini dipimpin seorang imam yang berasal dari Mesir. Setiap malamnya satu juz Al-Quran dibacakan pada 11 rakaat shalat. Namun sayangnya aku belum pernah sama sekali selesai hingga 11 rakaat mengikuti Shalat Tarawih berjamaah di sini. Di rakaat keempat biasanya diselingi dengan ceramah berbahasa Arab. Pada saat itu aku biasanya kembali ke rumah yang berjarak cukup jauh dari tempat tersebut.

Untungnya setiap minggu KBRI di Bern mengadakan pengajian, buka bersama, dan shalat tarawih berjamaah. Oleh karenanya rasa rindu warga Indonesia akan kampung halamannya dapat sedikit terobati di sini. Sekarang bulan penuh berkah itu sudah harus kembali meninggalkan kita semua. Mudah-mudahan tahun depan masih bisa dipertemukan kembali dengannya. Amien.

(Gambar: http://www.motor-talk.de/blogs/kopfueber-in-down-under/teil-1-aller-anfang-ist-schwer-oder-kopfueber-ins-abenteuer-t2719700.html)

Kommentare
  1. mia sagt:

    iwa….maaf lahir batin ya…
    jadi sempet pulang ke bandung nih?
    gimana kabarnya?wah, terharu juga nih baca tulisan2nya wa.siiip lah…

  2. iwa sobara sagt:

    Hi Ibu Mia,,,terimakasih udah sempat mampir🙂
    Maaf lahir bathin juga, ya.

    Kemarin sempat pulang ke Bandung, tp gak begitu lama. Ditambah sakit hampir seminggu pertama di sana.

  3. chuaka/Kasim sagt:

    Nggak ke Makassar sih lo…

  4. iwa sobara sagt:

    Tenang, suatu saat nanti pasti gue ke Makassar.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s