Singapura oh Singapura

Veröffentlicht: August 29, 2010 in Ekskursi

Sepuluh menit sebelum pesawat take off kami mendengar pengumuman dari sebuah pengeras suara, bahwa pesawat yang akan kami tumpangi akan mengalami keterlambatan selama 15-20 menit. Salah satu maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta-Singapura ini kami pilih karena saat itu sedang menawarkan promosi harga murah. Kamis pagi ini, aku dan kedua orang temanku akan melancong ke negeri kecil di seberang sana, Singapura. Pesawat kami pada kenyataannya mengalami keterlambatan selama 30 menit. Padahal untuk penerbangan pukul 11.20 WIB, dari Bandung kami harus pergi pukul 05.30 dengan menggunakan pemandu moda menuju bandara Soekarno-Hatta.

Penerbangan dari bandara Soekarno-Hatta menuju Changi International Airport di Singapura menghabiskan waktu 1 jam 40 menit. Tepat pukul 15 waktu setempat kami sudah menyelesaikan segala urusan perijinan tinggal di bagian keimigrasian bandara. Dari terminal 1 bandara Changi, kami kemudian pergi ke terminal 3 bandara. Dengan menggunakan Mass Rapid Transit/MRT (alat transportasi umum/kereta) kami meninggalkan bandara dan segera menuju ke pusat kota. Sistem transportasi Singapura ini sagat berkelas dunia. Bagaimana tidak, kereta api selalu tiba tepat waktu, nyaman, bersih, dan beroperasi mulai dari pukul 6 pagi hingga tengah malam. Ongkos sekali jalan mulai dari 1 Dollar Singapura. Kita cukup membeli sebuah kartu yang bernama Kartu EZ-Link yang tersedia di semua stasiun. Di sini kita tidak akan menemukan pemeriksa karcis seperti halnya di kebanyakan negara-negara Eropa, karena sistem yang digunakannya sudah sangat otomatis.

Kami harus bergegas mencari tempat penginapan, karena beberapa hostel yang kami hubungi via online internet tidak berhasil.  Setelah beberapa lama mencari, kami pun menemukan beberapa hostel untuk backpackers. Tempatnya berada di seputaran jalan Bugis.

Dunlop 28 Hostel

Hostel ini cukup nyaman dan bersih untuk menginap selama bebebrapa hari menghabiskan waktu liburan di Singapura. Harga sewa per malamnya adalah 28 Dollar per orang. Kamarnya dilengkapi dengan tiga ranjang susun, dua buah kamar mandi, serta AC. Selain itu, tamu hostel juga dapat fasilitas sarapan pagi dan internet gratis. Di kamar yang akan kami  tinggali ternyata sudah ada dua orang backpackers lainnya. Sepasang muda-mudi dari Eropa. Namun, saat kami memasuki kamar keduanya sedang tidak ada di tempat. Dari sabun yang ada di kamar mandi aku sudah dapat menyangka bahwa mereka berasal dari Jerman. Ternyata memang keduanya benar dari Jerman, tepatnya dari kota Stuttgart yang sedang berlibur. Mereka sebelumnya juga sudah mengunjungi pulau Sumatera.

Hostel yang terletak di Dunlop Rd. ini cukup strategis, karena tidak terlalu jauh dari stasiun MRT. Tidak hanya itu, hostel juga cukup dekat dengan pusat perbelanjaan Bugis dan Little India (sebuah perkampungan eksotik India). Di seputaran tempat ini pula bisa kita dapati berbagai hostel lainnya dengan harga mulai dari 15 Dollar per malamnya. Maka tidaklah heran jika kita sering bertemu dengan turis-turis dari Eropa, Australia, atau Amerika serta dari berbagai negara Asia.

Holland Village

Pada petang hari di hari pertama aku di Singapura, aku sudah punya janji untuk bertemu dengan salah seorang teman dari Swiss yang sekarang kuliah di National University of Singapore (NUS). Tempat ini terletak di daerah Commonwealth/Buona Vista. Di sana, temanku beserta kedua orang lainnya yang juga berasal dari Swiss sudah menunggu kami untuk makan malam bersama.

Holland Village merupakan salah satu tempat favorit bagi komunitas ekspatriat di Singapura. Sore hari memang waktu yang pas untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Suasana santai bisa dinikmati oleh para pengunjung dengan makan malam bersama teman atau keluarga. Selain itu, kita juga dapat melihat di sepanjang Lorong Mambong, berbagai bar wine serta restoran mewah yang berdiri berdampingan dengan toko-toko antik, kedai-kedai kopi serta pasar basah yang menjual daging-daging segar.

Bertepatan dengan buka puasa hari pertama di Singapura, kami memesan makanan dengan harga yang cukup terjangkau bila dibandingkan dengan kebiasaan tempat-tempat makan yang biasa aku kunjungi di Swiss. Untuk satu porsi besar Tom Yum misalnya, kita hanya perlu mengeluarkan uang 4 Dollar (Rp. 26.000,-). Atau segelas jus buah seharga 1 sampai 2 Dollar. Harga yang sama biasa kita dapati di Jakarta, atau bahkan lebih mahal.

Clarke Quay


Setelah makan malam selesai, Stephi, teman dari Swiss, mengajak kami untuk pergi ke Clarke Quay. Sementara dua orang teman Swiss lainnya harus segera pulang ke rumah, karena masih harus ada yang dikerjakan. Dari Holland Village menuju ke sana kami menggunakan taksi. Biaya taksi tidaklah terlalu mahal, itu disebabkan jalanan yang cukup lengang serta jarak yang tidak begitu jauh.

Saat memasuki kawasan ini, anganku menerawang ke sebuah kawasan luas untuk makan malam di Surabaya yaitu Ciputra Town Square. Clarke Quay bisa jadi merupakan sebuah tempat favorit turis untuk menghabiskan malam di kota ini. Puluhan cafe, bar, restoran serta kios lainnya yang dapat kita kunjungi di sini. Letaknya yang berada di bibir sungai Singapore, membuat kita bisa bersantai dan melihat pemandangan indah ke seberang sungai. Sungai ini pula yang dapat menceritakan sejarah masa lampau ketika para pendatang dari berbagai negara menciptakan impiannya untuk mewujudkan sebuah negeri yang hebat seperti sekarang ini.

Ada yang unik di Clarke Quay ini, tepatnya di sebuah kios yang menawarkan es krim. Seorang pria asal Turki dengan mengenakan T-shirt warna merah lengkap dengan peci khas Turki sibuk melayani pembeli. Ia melayani para pembeli dengan cara yang tidak biasa. Pembeli anak-anak sangat antusias saat mengambil es krim yang diberikan pria tersebut padanya. Namun, yang terjadi adalah pria tersebut memain-mainkan es krim tersebut hingga semua pengunjung tertawa kegelian. Maka tidak heran jika antrian di depan kios tersebut selalu tidak pernah putus.

Berjalan ke sudut lain, kita bisa melihat sebuah permainan yang bernama Extreem Swing. Permainan yang menguji adrenalin peserta. Sebuah wahana yang sangat berbahaya. Tiga orang duduk di sebuah tempat duduk mengenakan sabuk pengaman, setelah siap mereka akan di tembakkan ke udara seperti meriam. Spontan para penonton di seputaran wahana tersebut pun berteriak.

Kommentare
  1. lurah zürich sagt:

    wah karena seringnya menggunakan atau menyalahgunakan sabun, sehingga tahu dari baunya sabun buatan jerman wkwkwkwkwkwk….

  2. Kalau mau cari penginapan murah bisa masuk ke blog kami. Ada berbagai informasi yang berguna bagi anda sebagai panduan selama berwisata di singapura. Jangan lupa beli Singapore City Pass agar liburan menjadi lebih ekonomis.

  3. iwa sobara sagt:

    @ lurah Züri: s`okay laaah :))
    @ Wisata Singapura: nice info. thx.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s