Buongiorno!!!

Veröffentlicht: Juli 23, 2010 in Ekskursi

Bagi kebanyakan orang Indonesia, negara Italia selalu diidentikkan dengan persepakbolaannya. Meskipun, prestasi di pentas piala dunia yang baru beberapa pekan berakhir kiprahnya tidak seperti yang diharapkan para penggemarnya. Tapi bagiku selain nuansa sejarahnya yang sangat kental, Italia juga identik dengan grup acapela „Neri Per Caso“. Salah satu lagunya yang aku sukai adalah „Quello che vuoi“ (Apa yang kau inginkan). Alunan harmonisasi vokalnya sangat tertata dengan apik.

§§§

Seorang perempuan Indonesia tiba-tiba menyapa temanku ketika ia kembali dari toilet kereta. Saat itu kami sedang mengarah ke stasiun Arth-Goldau. Ia rupa-rupanya mendengarkan pembicaraan kami.  Dari kata „warna-warni“, ia bisa menebak bahwa kami berasal dari Indonesia. Maka kami pun duduk bersama dan bercengkrama sesaat. Pada hari itu ia akan menuju ke kota Milan di Italia untuk tinggal berlibur selama seminggu di rumah salah satu temannya. Dari Indonesia, ia berasal dari kota Pematang Siantar dan telah lima tahun ini tinggal bersama suaminya yang seorang Swiss di kota Arbon di kanton Thurgau. Namun, di stasiun Arth-Goldau ia harus ganti kereta dan berpamitan dari kami. Sementara itu, aku dan temanku melanjutkan perjalanan hingga pemberhentian kereta terakhir di kota Locarno.

Prossima fermata : Locarno

Perjalanan menggunakan kereta dari kota Bern menuju Locarno melewati kota Zürich, Arth-Goldau serta Bellinzona kami tempuh sekitar empat jam. Kota Locarno merupakan kota yang terhitung kota paling hangat di Swiss. Namun, hari ini seluruh Swiss bercuaca tidak begitu bagus. Sedikit berbeda dengan kota-kota lainnya yang pernah aku kunjungi, di sini kita bisa melihat banyak pohon palm. Di kota ini juga setiap tahunnya biasa diadakan festival film tahunan yang bertempat di jantung kota Piazza Grande.

Dari kejauhan wisatawan bisa melihat sebuah puri peninggalan sekitar abad ke-12 yang bernama Castello Visconteo. Selain itu, obyek wisata yang paling banyak didatangi wisatawan di kota ini adalah puri Madonna del Sasso. Kedengarannya memang sangat bernuansa Italia. Memang tidak salah, karena kota Locarno merupakan salah satu kota di negara Swiss yang masyarakatnya berbahasa Italia. Maka, tidak heran jika di mana-mana kita akan disapa orang dengan „Bonjorno!“. Pengeras suara di kereta pun akan memandu kita dengan bahasa Jerman, Inggris, dan Italia. „Prossima fermata: Locarno“ atau dalam bahasa Indonesia „pemberhentian selanjutnya: Locarno“.

Locarno-Domodossola

Seorang kondektur mendatangi kami dan meminta kami membayar tiket ekstra sebesar 2 Swiss Frank. Tiket tersebut tiada lain sebagai biaya tambahan, karena sepanjang perjalanan nanti melewati bagian Italia, penumpang akan disuguhi pemandangan yang indah. Dan ternyata memang tidak salah. Kereta yang hanya memiliki beberapa gerbong yang tidak terlalu luas ini melintasi alam Italia yang hijau.  Kecepatannya sangat terjaga. Pegunungan, ladang, sungai, jurang, rumah-rumah tradisional semuanya bisa terlihat dari balik jendela kereta. Tidak hanya itu, setiap kali kereta berhenti dan memuntahkan penumpang bisa kita lihat gadis-gadis Italia yang begitu mempesona.

Jazz Montreux Festival

Nuansa Italia seketika itu lenyap saat kami melanjutkan perjalanan menuju kota Montreux di sebelah barat Swiss. Dari stasiun Domodossola, kami dihantarkan oleh kereta EuroCity yang sangat elegan. Di dalam gerbong kita bisa merasakan suasana di dalam badan sebuah pesawat terbang. Satu gerbong dilengkapi dengan lima buah monitor yang bisa memandu penumpang mengenai lokasi kereta sekarang berada. Atau juga ada tampilan-tampilan obyek wisata menarik dari negara Swiss dan Italia. Kereta yang kami tumpangi tersebut datang dari kota Milan dan akan menuju kota Jenewa. Namun, kami hanya akan menumpang hingga kota Montreux. Di sana kami akan bertemu dengan salah satu teman kami dari India dan sekalian nonton Montreux Jazz Festival yang sangat terkenal.

Tidak berapa lama setelah kereta meninggalkan stasiun datang dua orang berseragam berwarna biru menghampiri penumpang. Mereka adalah polisi yang memeriksa kelengkapan dokumentasi penumpang saat melewati perbatasan negara. Selama dua jam kami berada di dalam kereta. Tapi ternyata di tengah perjalanan, teman kami tersebut tidak bisa menemui kami karena keesokan harinya harus terbang ke London. Sesampainya di Montreux kami mencoba mencari-cari info tentang perhelatan Jazz Festival tersebut. Namun, di semua penjuru kota tidak ada tanda-tanda sama sekali. Akhirnya kami putuskan untuk makan malam terlebih dahulu di sebuah rumah makan oriental „Le Chalet“ milik orang Libanon. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, maka kami pun bergegas meninggalkan tempat tersebut. Kami seketika itu melupakan Montreux Jazz Festival karena memang pelaksanaannya ternyata telah berakhir pada hari sabtu yang lalu.

Di tengah perjalanan menuju ke Bern aku berpikir, mungkin hanya orang gila yang mau menghabiskan waktunya selama seharian dengan berkeliling Swiss tidak karuan seperti kami. Dan lagu dari Neri Per Caso pun terngiang di telingaku mengiringiku hingga tiba di kota Bern.

quello che vuoi, quello che vuoi
quello che vuoi tu

quello che vuoi
e‘ un tipo travolgente
senza paura di niente
quello che vuoi
e‘ una storia importante
e vuoi che sia per sempre

Bild: http://www.zermattguide.ch/cms/images/stories/locarno/locarno1.jpg

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s