Hopp Schwiiz

Veröffentlicht: Juni 29, 2010 in Ekskursi

Berlin Exkursion 1

Kereta ICE 873 yang kami tumpangi pada jumat pagi hari itu sangat dipadati penumpang. Untungnya jauh-jauh hari kami telah memesan tempat duduk. Kalau tidak bisa-bisa beberapa jam kami harus berdiri, seperti salah satu teman kami. Ia terpaksa harus mencari-cari tempat duduk karena tidak memesan tempat duduk pada saat memesan tiket.

Perjalanan dari kota Bern menuju kota Berlin akan menghabiskan waktu sekitar delapan jam. Keseluruhan yang pergi menggunakan kereta pada pagi itu adalah 12 orang. Sementara yang lainnya ada yang menggunakan pesawat atau ada yang sudah beberapa lama di Berlin karena kebetulan ia mendapat beasiswa ERASMUS.

Aku duduk bersebelahan dengan Claudia. Sepanjang perjalanan kami banyak berbincang tentang tema studi, pariwisata atau tema-tema menarik lainnya. Ia memuji makanan Indonesia, seperti Bakmi Goreng dan Nasi Goreng yang memang dijual di supermarket-supermarket di Swiss. Temanku yang lainnya, Aninna, pada bulan Juli nanti akan menghabiskan liburan musim panasnya di tanah air. Maka, ia banyak mengorek informasi dariku tentang tempat-tempat menarik di Indonesia yang bisa dikunjungi. Akupun memberi beberapa tipps padanya.

Kereta api terus melaju meninggalkan kota Bern dan Swiss menuju ibu kota Jerman. Banyak kota-kota menarik di Jerman yang kami lewati, seperti: Freiburg im Breisgau, Karlsruhe, Mannheim, Frankfurt am Main, Kassel, Göttingen, Hildesheim, dan Braunschweig. Cuaca beberapa hari mendatang sudah betul-betul memasuki musim panas. Aku sangat senang dengan hal itu, karena cuaca seminggu sebelumnya ketika aku menghadiri St. Gallen-Fest hujan hampir mengguyur kota tersebut sepanjang hari.

Di dalam kereta semakin siang semakin terasa gerah. Tidak heran kalau kebanyakan dari penumpang hanya mengenakan pakaian seadanya saja. Kereta ICE yang kami tumpangi terlambat sekitar 30 menit dari seharusnya, karena akibat gangguan sinyal (Signalstörung). Tapi itu memang sering kali terjadi belakangan ini di Jerman, seperti yang dikatakan oleh salah satu temanku yang juga berasal dari Jerman. Berbeda dengan di Swiss, aku belum pernah mengalami hal itu. Malah yang ada kereta justru tiba satu atau dua menit dari waktu seharusnya.

Kami akan menginap di sebuah hostel yang bernama „Wombat“ yang tepat terletak di pusat kota Berlin, tidak begitu jauh dari Alexanderplatz (Info hostel tersebut bisa dilihat di: http://www.wombats-hostels.com/). Cukup murah biaya menginap di hostel ini. Permalamnya hanya dikenakan biaya 27 Euro. Jika ingin dengan sarapan pagi, maka tinggal menambah uang 3,50 Euro. Satu kamar berisi tiga ranjang susun. Aku satu kamar dengan lima orang teman lainnya. Laki-laki dan perempuan kamarnya digabung. Di dalam kamar terdapat satu buah kamar mandi dan kamarpun cukup nyaman dan bersih untuk harga seperti itu.

Hopp Schwiiz

Dua kata tersebut biasa diucapkan sebagai penyemangat atlet Swiss yang sedang bertanding membela negaranya.

Tidak lama setelah kami tiba di hostel, kami langsung menuju ke daerah Ostkreuz. Di sana kami berencana untuk menonton pertandingan piala dunia antara Swiss melawan Honduras. Tim Nati sebutan untuk kesebelasan Swiss pada hari ini harus menang melawann Honduras bila ingin melaju ke babak 16 besar. Di tengah-tengah kepungan semua cafe yang menayangkan pertandingan lainnya yaitu antara Spanyol melawan Chili, cafe Lykia menayangkan pertandingan Swiss melawan Honduras. Serempak kami pun memasuki cafe untuk nonton bareng dan minum. Kami tentunya mendukung timnas agar menang. Hari itu sungguh sangat kebetulan aku mengenakan T-shirt bertuliskan Suisse. Semua teman-temanku menyukainya.

Cafe Lykia semarak dengan kehadiran kami. Di kanan serta kiri cafe tersebut terdapat puluhan cafe lainnya. Para pengunjung di cafe lainnya sangat penasaran dengan rombongan kami. Terlebih karena semua teman-temanku berbicara bahasa Berndütsch. Saat bola mengarah ke tim lawan dan tendangan bisa ditahan oleh penjaga gawang, maka semuanya berkata „Neeiiiiiiiiiiiiii…!!!“.

Tapi ada yang mengganggu kenyamanan kami saat itu. Pengunjung cafe di seberang kami, yang seprtinya orang Jerman tidak simpati dengan tim Swiss dan lebih memilih lawan. Ia sengaja memancing kekesalan kami dengan ucapa-ucapan provokativnya. Tim Swiss hingga akhir pertandingan tidak dapat memasukkan bola ke gawang lawan, dan pertandingan berakhir dengan kedudukan 0:0. Semua sangat kecewa dengan hasil tersebut.

Kami kemudian beranjak meninggalkan tempat tersebut. Temam-teman masih ingin menghabiskan malamnya dengan minum-minum. Maka setelah berjalan lumayan jauh, kami menemukan sebuah bar bernama „Primitiv Bar“. Kami bisa minum di luar bar. Malam di Berlin saat itu masih sangat hidup. Kami baru meninggalkan bar pada sekitar pukul 02.00.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s