Teori Tindak Tutur 1 (Austin)

Veröffentlicht: Mai 16, 2010 in Studi

Seperti yang kita ketahui, jika kita berbicara tentang teori tindak tutur, maka ada tiga nama tokoh penting yang selalu disebut-sebut orang. Mereka adalah L. Wittgenstein, John L. Austin, dan Searle. Wittgenstein terkenal dengan teorinya tentang „Investigasi Filsafat“ yang memunculkan istilah „permainan bahasa“ (Sprachspiel), yang dimaksudkan adalah seperti: pertanyaan, jawaban, permintaan, suruhan, bercerita, menerka sebuah ujaran, hinaan, dan lain-lain.

John L. Austin seorang berkebangsaan Inggris pada tahun 1955 disebut-sebut sebagai pemrakarsa teori tindak tutur melalui perkuliahan yang diberikannya. Pada tahun 1962, setelah kematiannya buku berjudul „How to Do Things with Words“ dipublikasikan.

Austin tidak memandang sebuah kalimat dari aspek filosofis, melainkan dari ujarannya (Äußerungen) yang direalisasikan melalui tindakan (Handlungen). Perhatikan contoh-contoh ujaran dalam Bahasa Jerman berikut ini:

Der Kürbis ist eine Gemüsepflanze. (Labu merupakan tanaman jenis sayuran.)

atau

Dieser Kürbis ist ungenißbar. (Labu ini rasanya tidak enak.)

Kedua kalimat di atas dapat dikatakan sebagai pernyataan (Feststellungen) yang dalam realitanya dapat berarti benar atau salah. Perhatikan pula contoh-contoh ujaran selanjutnya:

Ich taufe dich (hiermit) auf den Namen Romeo. (Saya baptis kamu dengan saya beri nama Romeo.)
Ich vermache (hiermit) meinen Erben die Summe von 30 Euro. (Saya wariskan harta kekayaanku sejumlah 30 Euro.
Ich befehle Ihnen (hiermit), für die Feldwerbeprüfung zu pauken. (Saya perintahkan pada Anda agar belajar untuk ujian kemiliteran.)
Wir erklären (hiermit) dem Fürstentum Unholdenburg den Krieg. (Dengan ini kami nyatakan perang pada kerajaan Unholdenburg).

Kata kerja pada kalimat-kalimat tersebut selalu mengacu pada orang pertama tunggal (1. Person) dalam bentuk sekarang (Präsens). Semua kalimat tersebut tidak dapat dikatakan mengandung kebenaran atau idak, melainkan hanya bisa dikatakan apakah berhasil (Erfolg haben) atau tidak. Austin menyebutnya dengan ujaran-ujaran performatif (performative Äußerungen), yang dapat diartikan kalimat tersebut hanya sebatas bisa dipahami. Sementara antonimnya adalah ujaran-ujaran konstantif (konstantive Äußerungen), ujaran-ujaran yang menyatakan atau memberitakan sesuatu.

Coba kita lihat contoh-contoh kalimat dengan ujaran-ujaran konstantif intensional pada sebuah situasi tertentu:

Sie sagt/erklärt: „Der Kürbis ist ungenießbar.“Du behauptest: der Kürbis sei ungenießbar. Dia berkata: „Labu itu rasanya tidak enak.“Kamu menjelaskan: Labu itu rasanya tidak enak.
Er stellte fest, dass der Kürbis ungenießbar ist. Dia menyatakan, bahwa labu itu rasanya tidak enak.
Ihr meint also, der Kürbis ist ungenießbar. Kalian beranggapan, labu itu rasanya tidak enak.
Sie warnten, der Kürbis sei ungenießbar. Mereka mengingatkan, labu itu rasanya tidak enak.

Kata-kata kerja tindak tutur di sini mengisyaratkan pada kita, bahwa dapat dipastikan dari kalimat-kalimat tersebut terdapat adanya suatu tindakan yang berbeda dengan contoh-contoh kalimat sebelumnya. Sebuah tindakan pada kalimat-kalimat sebelumnya di atas tersebut hanya dapat dipahami secara implisit (implizite performative Äußerungen), seperti:

Kamu sekarang bernama Romeo.Warisanmu berjumlah 30 Euro.

Belajarlah untuk menghadapi ujian!

(Pembaptisan/pemberian nama)(Pembagian harta warisan)

(Perintah)

atau

Ayah sekarang sedang marah besar. (Peringatan)

Yang tidak kalah pentingnya dari Austin adalah mengenai analisanya terhadap tindak tutur. Menurut dia, tindak tutur dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Kekuatan lokusi atau tutur ujaran (lokutionärer Akt = Äußerungsakt)
    1. Fonetis atau yang berhubungan dengan ucapan (phonetischer Akt – Äußerung von Lauten)
    2. Kosakata serta kalimat yang diujarankan (phatischer AktÄußerung von Wörtern und Sätzen)
    3. Makna ujaran (rhetischer AktÄußerung von Bedeutungen)
    4. Kekuatan ilokusi atau tindak tutur (illokutionärer Akt = Sprechhandlungsakt)
    5. Kekuatan perlokusi atau „Keberhasilan“ dari kekuatan ilokusi (perlokutionärer Akt = „Gelingen“ des illokutionären Akts)

Sumber rujukan:

Gross, Harro. -  Einführung in die germanistische Linguistik / Harro Gross ; neu bearb. von Klaus Fischer. -  München : Iudicium Verl., 1998

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ photo

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s