Linguistic Turn

Veröffentlicht: Mai 13, 2010 in Studi

Istilah linguistic turn mulai dikenal masyarakat luas ketika pada tahun 1967 Richard Rorty menulis sebuah essai dengan judul „Antologi The Linguistic Turn. Essays in Philosophical Method.“ Istilah „linguistic turn“ kemudian lebih tepatnya lagi berasal dari seorang filusuf Austria bernama Gustav Bergmann.

Adanya pergeseran paradigma ilmiah pada abad ke-20 memberi sumbangan berarti bagi ilmu humaniora dan ilmu sosial. Konsep linguistic turn mengacu pada pengembangan ilmu-ilmu humaniora seperti filsafat, linguistik, dan semiotika. Namun demikian, konsep ini juga memberi kontribusi pada ilmu-ilmu yang lainnya. Ludwig Wittgenstein dapat dianggap sebagai tokoh utama pada bidang ini. Hal ini bermula dari ide-idenya mengenai permasalahan filsafat yang muncul dari kesalahpahaman tentang logika bahasa dalam karya sebelumnya, yang kemudian membawa pengaruh untuk bidang kebahasaan di kemudian hari.

Pernyataan yang menyebutkan bahwa bahasa bukan merupakan medium transparan sebuah pemikiran telah ditekankan oleh Johann Georg Hamann dan Wilhelm von Humboldt. Pada tahun 1970-an bidang ilmu humaniora mengakui pentingnya bahasa sebagai agen penataan (a structuring agent). Akan tetapi, pendekatan linguistic turn mulai muncul jauh setelah itu, yaitu bersamaan dengan era strukturalisme yang dimunculkan oleh Ferdinand de Saussure dan pendekatan setelahnya `pascastrukturalisme`. Sederetan nama yang berpengaruh untuk pendekatan ini di antaranya adalah Judith Butler, Luce Irigaray, Julia Kristeva, Michel Foucault dan Jacques Derrida.

Pendekatan ini menilai (seperti halnya yang diutarakan oleh Imanuel Kant), bahwa tradisi filsafat menurutnya tidak lagi secara ontologis mengacu pada “hal-hal yang ada dalam diri mereka” (Dinge an sich), melainkan hanya berlatarkan “pengalaman” (Möglichkeit von Erfahrung). Kondisi semacam ini terutama dipengaruhi oleh bentuk-bentuk intuisi murni (waktu dan ruang) dan bentuk-bentuk murni pemahaman (kategori). Melalui kedua prasyarat tadi, kita memandangnya sebagai sebuah realita dan menjadikannya sebagai pengalaman  (a priori).

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s