Kursus Percakapan Bahasa Jerman

Veröffentlicht: Mai 6, 2010 in Studi

Pada semester musim semi ini atau Frühjahrsemester 2010, aku memprogram cukup banyak matakuliah. Salah satu di antaranya adalah Deutsch als Fremdsprache atau DaF-Übung-Praxis. Pada matakuliah ini, mahasiswa yang mengambil matakuliah mayor Germanistik, harus menjadi pendamping peserta kursus atau tutor percakapan Bahasa Jerman (Deutschkonversationskurs B2). Adapun para pesertanya adalah mahasiswa Universitas Bern Swiss yang tidak berbahasa ibu Bahasa Jerman. Oleh karena itulah, pesertanya pun datang beragam dari berbagai penjuru dunia. Mulai dari negara-negara Eropa Timur, seperti Ukraina, Ceko, Slowakia, Rusia; dari Asia seperti Cina, Jepang, Korea; Turki, serbia, Kossovo, Finlandia, Belgia, dan ada juga ternyata beberapa mahasiswa asal Swiss. Ini bisa dimaklumi, karena tidak semua warga Swiss berbicara bahasa Jerman. Di antara mereka memiliki bahasa ibu Prancis atau Italia, meskipun dominan adalah Bahasa Jerman.

Universitas memberikan fasilitas gratis bagi mahasiswanya untuk mengikuti kursus semacam ini di semua bidang, tidak hanya bahasa Jerman. Kursus bahasa yang lainnya misalnya Bahasa Inggris, Finlandia, Rusia, Spanyol, Italia, Prancis, Berndeutsch atau Bahasa Jerman dialek kota Bern, bahkan Bahasa Tagalog. Mahasiswa bisa menjadikan kursus tersebut sebagai matakuliah minornya. Di samping kursus bahasa, universitas juga memiliki Uni-Sport yang menawarkan berbagai cabang olahraga menarik untuk diikuti, seperti panjat tebing, renang, kayak, fitness, tinju, hingga macam-macam tarian juga ditawarkan. Semuanya tidak perlu bayar.

Kursus percakapan berlangsung setiap minggu pada hari rabu mulai dari pukul 12.15 sampai 14.00 di Hauptgebäude Universitas. Jumlah pesertanya kira-kira 25-30 orang. Sementara itu, mahasiswa jurusan Germanistik baik mayor ataupun minor sekitar tujuh orang. Itu berarti setiap tutor harus mendamping sekitar empat peserta kursus.

Karena tingkatnya sudah lumayan tinggi, yaitu tingkat B2 menurut Gemeinsame Europäische Referenzrahmen für Sprachen (GER) atau dalam Bahasa Inggris disebut juga Common European Framework of Reference for Languages (CEFR), jadi rata-rata mahasiswa sudah lancar berbahasa Jerman. Selain kami sebagai tutor, tentunya ada juga dosen yang memimpin perkuliahan ini.

Pengalamanku menjadi tutor pada kursus ini betul-betul sangat berharga. Aku jadi tahu betapa seriusnya mahasiswa tersebut untuk mengikuti kursus setiap minggunya, meskipun itu bagi kebanyakan cuma-cuma. Pada saat diskusi di dalam kelompok kecil, aku juga jadi sedikit banyak tahu mengenai karakter mereka dengan dilatarbelakangi asal negaranya. Seperti contoh, beberapa kali aku mendampingi Anna, peserta kursus dari Serbia. Mungkin bahasa Jermannya boleh dibilang lebih baik dari aku, karena ia telah tinggal di Swiss lebih lama. Ia selalu memiliki pendapat lain dari yang lain. Tidak wajar. Itu ia akui, karena maklumlah negara Serbia baru lepas dari konflik yang berkepanjangan. Negara ini sangat tertutup dari dunia luar. Itu berimbas pada watak bangsanya.

Lain pula dengan mahasiswa dari Swiss, mereka lebih terbuka. Aku pernah bekerja sama dengan Claudia. Ia berasal dari sebuah desa di selatan Swiss yang berbatasan dengan negara Italia, oleh karenanya Bahasa Jermannya pun bernada Italia. Atau Estelle yang berbahasa ibu Prancis-Swiss, aksen Prancisnya betul-betul sangat kental terbawa ke dalam bahasa Jerman. Mereka memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Anna.

Dosen di kelas sepertinya begitu terkesan dengan aku dan dua teman Indonesiaku. Ia juga sebelumnya pernah kursus Bahasa Indonesia dari salah satu temanku tersebut. Namun, kini ia sudah lupa semuanya. Pernah suatu hari kami membicarakan tema „perjalanan wisata“, ia menghampiri kelompokku dan cukup lama juga ia di tempat kami. Setelah peserta menceritakan berbagai pengalamannya tentang perjalanan di luar negeri yang paling menantang, seperti perjalanan di padang pasir Marokko beberapa hari, atau menjelajahi hutan belantara di Afrika, Amerika latin, dan di Suriname. Dosenku meminta aku menjelaskan tentang negara Indonesia dengan bantuan peta. Aku menceritakan Bali, Pulau Komodo, Sumatera, Borneo yang sangat terkenal dengan Orang Utannya dan lain-lain. Ia menambahkan, orang Eropa sepertinya banyak yang suka dengan Orang Utan. Tak ketinggalan ia juga memujiku. Katanya aku bisa saja bekerja di biro perjalanan wisata atau sejenisnya.

Peserta kursus pun bertanya padaku, bagaimana aku bisa berbahsa Jerman? Apakah pernah tinggal lama di Jerman? Aku hanya menjawab, memang pernah ke Jerman sebelum kuliah di Swiss. Tapi itupun hanya kunjungan singkat selama satu bulan. „Tapi Bahasa Jermanmu bagus sekali.“ Mereka semakin memujiku dan aku semakin tidak tahan dengan pujian tersebut, mengingat bahasa Jermanku yang masih sangat terbatas dibandingkan mereka tentunya.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s