Selamat tinggal mantan kekasih terindah!

Veröffentlicht: April 20, 2010 in Lain-lain

Schock! Saat tahu dia harus tiada.

Perjalanan Bandung-Jakarta sebelum ada jalan tol Cipularang biasanya aku tempuh menggunakan kereta. Murah meriah. Berkali-kali aku harus kost di Jakarta untuk waktu beberapa lama. Tujuannya adalah untuk kursus bahasa Jerman di Goethe-Institut di Jalan Sam Ratulangi. Oleh karenanya, aku pun kost di tempat terdekat, pernah di Menteng kecil dan di waktu lain tinggal di jalan Kali Pasir. Dari stasiun Gambir Jakarta tempat-tempat tersebut tidaklah jauh. Bisa ditempuh dengan ojek, bajaj, metromini atau taksi.

Waktu kursus biasanya dimulai pukul 08.00, maka dini hari pukul 04.00 aku sudah harus pergi meninggalkan rumah dengan Kereta Api Parahyangan menuju ibukota. Di dalam kereta sudah banyak penghuni tetap yang harus hilir mudik Bandung-Jakarta setiap minggunya. Mereka bermatapencaharian di Jakarta, sementara keluarganya tinggal di Bandung. Maka di antara merekapun muncul istilah PJKA yaitu Pergi Jum`at Kembali Ahad. Ya, karena biasanya memang setelah selesai bekerja di hari Jum`at mereka pulang ke Bandung pada sore atau malam hari dan kembali lagi pada hari minggu untuk minggu selanjutnya. Aku pernah satu kost dengan bapak-bapak dari Bandung yang bekerja di salah satu bank swasta di Jakarta dan di PTPN salah satu perusahaan BUMN. Mereka mau tidak mau, suka tidak suka harus menjalani perjalanan hidupnya bertahun-tahun seperti itu.

Harga ticket KA Parahyangan baik bisnis ataupun eksekutif memang tidaklah mahal, tapi mash banyak saja penumpang yang tidak membeli karcis. Seperti yang diceritakan salah satu bapak dari Bandung tadi. Dia bukannya membeli karcis di locket, tapi biasanya hanya memberi tips pada kondektur saja. Dan itu tidak masalah. Pernah juga suatu hari kami berempat dari Jakarta menggunakan KA ini, salah satu temanku tidak membeli karcis. Tapi ia tetap saja mencoba menjadi penumpang gelap dan mendapatkan tempat duduk. Saat ditanya oleh kondektur, ia menjawab tadi ia tidak sempat membelinya dan segera memberikan sejumlah uang itu pada dia. Kondektur pun menerima dengan senang hati dan memasukkan uang karcis ke dalam saku bajunya sambil berkata „Jangan melakukan ini lagi, ya!“.

Pemandangan yang bisa kita lihat selama di perjalanan memang cukup indah. Kita masih bisa melihat gunung, sawah, sungai dari atas kereta. Bagi turis asing tentu saja pemandangan tersebut sangat eksotis dan biasanya mengabadikan dengan lensa kameranya. Tapi pada beberapa tahun terakhir ini, eksistensi KA Parahyangan terancam dengan hadirnya jasa transportasi travel Badung-Jakarta. Belakangan ini penumpang lebih memilih travel, karena waktu tempuh lebih pendek, nyaman, dan kita bisa memilih pool terdekat dengan tempat tinggal kita. Hingga klimaksnya adalah kemarin aku baca di media, bahwa KA Parahyangan dihapus dari peta perkereteaapian Indonesia. Kereta yang selalu menghantarku pada saat-saat krusial dengan selamat sampai tujuan ini kini harus tiada.

Kommentare
  1. Hallo,

    Kebetulan saya sedang cari kosan di daerah dekat PPM situ. Boleh tahu alamat kosan Anda dulu tidak? dulu harga sewanya berapa?

    Trims.

  2. iwa sobara sagt:

    Wah saya lupa mas udah lama banget🙂

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s