Jelajah Holland

Veröffentlicht: April 9, 2010 in Ekskursi

I see skies of blue, and clouds of white

The bright blessed day, the dark sacred night

And I think to myself, what a wonderful world

Lirik lagu “What a wonderful world” dari Louis Amstrong tersebut pasti selalu terngiang-ngiang dalam lamunanku pada saat aku melakukan perjalanan, terlebih ketika aku berada di dalam pesawat terbang. Swiss Air dengan kode pesawat LX 707 yang aku tumpangi, kini tengah lepas landas dari bandara internasional Basel. Di atas udara kita bisa melihat gumpalan-gumpalan awan berwarna putih berterbangan. Langit pada sabtu siang hari itu berwarna biru tampak sangat jernih. Aku duduk di kursi paling belakang pesawat dengan nomor duduk 20A, tepat di pinggir jendela. Itu adalah posisi duduk yang paling aku sukai ketika berpergian dengan pesawat terbang. Dari kurang lebih 120 tempat duduk yang tersedia, barangkali hanya 80 saja yang terisi. Tempat duduk di sebelah kananku pun kosong.

Tepat satu jam sepuluh menit setelah pesawat mengudara, kini lepas landas dengan sempurna di bandara Schiphol Amsterdam, salah satu bandara tersibuk di dunia yang terletak lima meter di bawah permukaan laut normal. Bandara inipun dikenal dengan bandara terendah di dunia. Itu tidaklah heran, karena letak kota Amsterdam sendiri lebih rendah dari permukaan laut. Berbeda dengan bandara Basel di Swiss pada saat tadi pagi sebelum aku berangkat, di dalam bandara Schiphol terlihat begitu banyak penumpang yang akan pergi ke berbagai tujuan. Dari sini aku dijemput oleh salah satu teman yang tinggal di kota Amsterdam beserta keluarganya. Dengan mobil perjalanan dari bandara menuju rumah yang terletak di dekat Olympic Stadion Amsterdam hanya berkisar dua puluh menit.

Cuaca di Amsterdam pada saat kedatanganku memang tidak begitu bagus. Udara dingin disertai hujan terlihat di sepanjang perjalanan kami menuju ke rumah. Di rumah milik teman yang berasal dari Bandung dan beristrikan orang Sumedang inilah aku akan tinggal beberapa hari. Begitu tiba, maka kami langsung makan siang. Selang beberapa saat kemudian, kami meluncur menuju kota Almere.

Keesokan harinya, aku diajak menuju ke pusat kota Amsterdam. Dari rumah letaknya tidak begitu jauh. Halte tram terdekat terletak di depan stadion. Untuk menuju ke sana kita bisa membeli ticket tram seharga 2,60 Euro yang berlaku selama satu jam. Ticket yang kita beli dari sopir tram harus di scan terlebih dahulu pada alat yang telah tersedia di dekat pintu. Begitu juga pada saat kita turun, ticket harus di scan lagi. Jika tidak, ticket tidak akan berlaku pada saat kita gunakan berikutnya. Di setiap negara di Eropa ini sistem transportasi umum memang memiliki perbedaan.

Red Light District

Dua tahun yang lalu, aku dan beberapa teman hendak menghabiskan malam di kota pahlawan Surabaya. Banyak sekali yang bisa kita lakukan pada malam hari di Surabaya. Kami iseng pergi melewati jalan yang selalu membuat penasaran pengguna jalan. Di kanan serta kiri jalan aku melihat banyak pria seumuran 30 tahunan berpakaian rapih. Beberapa diantaranya mengenakan baju batik berjejer seperti penerima tamu di acara hajatan. Ada pula yang berpakaian hitam putih. Mereka berusaha untuk menarik minat pengendara mobil ataupun motor untuk mampir sesaat.

Malam minggu tesebut jalanan cukup ramai. Banyak orang yang duduk-duduk di pinggiran jalan sambil menikmati makanan ataupun minuman di warung-warung. Bunyi klakson motor yang terhalang oleh mobil terdengar memekakan telinga. Mobil sedan yang kami tumpangi tiba-tiba di kemacetan di tengah jalan terhenti. Temanku yang membawa mobil saat itupun terlihat panik, kemacetan aku lihat hingga hampir ke ujung jalan. Disaat kepanikan tersebut, seorang anak muda yang membawa sepeda motor terus-menerus menyalakan klakson karena tidak sabar untuk pergi. Kami berempat semakin panik. Ia sepertinya sudah betul-betul emosi di jalan yang sangat padat ini dan memukul bagian belakang mobil. Untungnya beberapa saat kemudian mobil dapat kembali nyala. Anak muda tersebut pergi serta mengeluarkan sebuah kata umpatan.

Jalan yang aku maksudkan tersebut tiada lain adalah jalan Dolly yang merupakan “Red Light District” di Surabaya. Di sini sekitar 1600 penjaja seks komersial (PSK) tinggal serta mencari penghidupan.

***

Pagi itu di Red Light District (RDL) Amsterdam banyak orang berlalu-lalang. Mereka adalah turis dari berbagai Negara yang ingin tahu kehidupan penjaja seks di kota ini. Minggu ini bertepatan dengan libur paskah bagi sebagian besar Negara di Eropa. Jika biasanya kita window shopping di pertokoan, maka lain halnya di sini. Kita bisa melihat-lihat banyak gadis dengan hanya mengenakan pakaian dalam di balik jendela. Mungkin itu juga yang banyak menarik minat jutaan wisatawan sepanjang tahunnya ke daerah ini. Di sepanjang jalan ini kita bisa mendapatkan aneka sex shops. Letaknya memang sangat strategis karena berada di antara stasiun pusat kota Amsterdam dan Nieuwenmarkt.  RDL Amsterdam menjadi tempat prostitusi legal sejak Oktober sepuluh tahun yang silam. Semenjak itulah pekerja seks di sini dikenakan wajib pajak.

Zaanse Schans

Kota Amsterdam memang merupakan kota salah satu tujuan wisata internasional. Namun, dibalik kota yang super sibuk dan modern ini ternyata kita masih dapat melihat potret pedesaan khas Belanda zaman dulu. Kita bisa mengunjungi Zaanse Schans. Di tempat ini kita diantaranya bisa mengunjungi pabrik pembuatan keju tradisional khas Belanda ‚Catharina Hoeve‘, Supermarket pertama dan tertua „Albert Heijn“, pabrik kelom seperti halnya Tasik yang terkenal dengan „Kelom Geulis“, museum jam, melihat rumah-rumah tradisional Belanda serta kincir angin.

Kincir angin memang sangat menjadi motor yang sangat berguna di negeri yang meiliki banyak angin ini. Selain untuk pembangkit tenaga listrik, kincir ini pula bisa digunakan untuk pembuatan minyak dari kacang tanah, pembuatan tepung terigu, atau untuk menumbuk kopi. Di sini aku melihat sendiri bagaimana kincir tersebut bekerja dan menghasilkan tepung dari bahan  gandum untuk kemudian dijadikan roti. Pengunjung hanya perlu membayar 3 Euro untuk dapat masuk ke dalam kincir yang sangat besar dan memiliki lebih dari empat tingkat ini. Bangunannya sangat tua. Dari lantai yang terbuat dari kayu yang satu ke yang lainnya kita perlu menaiki tangga sempit dari kayu. Kincir-kincir di sini kebanyakan sudah ada semenjak abad ke 17.

Volendam

Perjalanaku berikutnya adalah menuju Volendam. Tempatnya terletak di salah satu provinsi di Belanda yang bernama Nordholland. Di sini kita bisa melihat sebuah desa yang berada di pinggir pantai Ijssel. Sesekali kita bisa melihat seorang perempuan Belanda mengenakan pakaian khas dan pakaian tersebut diklaim menjadi pakaian khas negeri ini. Selain toko-toko souvenir, di sini juga kita bisa mendapatkan studio foto dengan pakaian khas Belanda. Tidaklah heran jika seseorang yang pergi ke Belanda, maka pasti ia akan memiliki foto dirinya mengenakan pakaian ini. Di etalase studio foto aku melihat berbagai foto orang terkenal yang pernah berpose di sini, termasuk orang-orang terkenal dari Indonesia seperti: Ruth Sahanaya, Melly Manuhutu, Elfa`s Singer, Ineke Koesherawati, Maya Rumantir, O.C. Kaligis hingga almarhum Gus Dur serta keluarganya. Biaya untuk sekali foto mulai dari 9 Euro.


Di salah satu restoran kita bisa mencoba menu makan siang Haring Fish. Ikan ini hanya di makan begitu saja tanpa dimasak sebelumnya. Pada akhir bulann Mei atau awal bulan Juni, biasanya ikan ini akan lebih banyak kita temukan.

Madame Tussauds Amsterdam

Hari rabu tanggal 7 April, kota Amsterdam lebih hangat dari sebelumnya.  Suhu udara mencapai 18°C, lebih hangat dari beberapa hari sebelumnya.  Sayang untuk melewatkan hari dengan cuaca indah seperti sekarang ini, aku kemudian pergi ke pusat kota. Hal pertama yang aku lakukan adalah pergi ke Madame Tussauds. Beberapa hari sebelumnya antrian pengunjung obyek wisata ini memang sangat panjang. Tapi karena hari ini masih pagi, maka aku tidak perlu mengantri panjang seperti mereka. Ticket masuk Madame Tussauds Amsterdam ini adalah 17 Euro.

Begitu masuk, pengunjung sudahdisambut oleh Presiden Amerika Serikat Barrack Obama untuk foto bersama. Sesaat kemudian di ruangan berikutnya “William of Orange” seorang bapak bangsa Belanda memberi beberapa informasi sekilas mengenai negeri ini. Setelah selesai, maka pengunjung dewasa bisa masuk ke bagian yang membuat jantung kita berdebar. Kita bisa melihat suasana negeri yang porak poranda zaman dahulu. Cukup lama juga kita harus melalui bagian horror ini.

Di tempat lain sang ratu sudah menunggu kedatangan kami. Ratu Beatrix serta puteri kerajaan Maxima tampak terlihat sangat hangat menyambut kami. Momen yang langka seperti inipun dimanfaatkan pengunjung untuk berfoto bersama. Hadir pula sang pemilik merk bir ternama di dunia Freddy Heineken di tengah-tengah kami. Banyak tokoh-tokoh dunia lainnya yang bisa kita jumpai di sini, misalnya presiden Cina Hu Jintao, tokoh pembebasan Tibet Dalai Lama, Perdana mentri Belanda yang mirip dengan Harry Potter yaitu Jan Peter Balkenende, mantan Preseiden Afrika Selatan Nelson Mandela dan masih banyak yang lainnya. Selain itu mendiang puteri Inggris Ratu Diana juga dapat kita jumpai, serta tentu saja puluhan artis top dunia seperti Madonna, Britney Spears, Robbie Williams Angelina Jolie, Brad Pitt dan juga bintang olah raga seperti David Beckham dan Ronaldo.

Canal Cruise

Negeri Belanda yang dikelilingi oleh ribuan kanal dan memiliki lebih dari seribu jembatan bisa kita telusuri dengan menumpang boot yang ditawarkan beberpa perusahaan jasa transportasi. Untuk satu jam perjalanan mengelilingi kota Amsterdam dengan menggunakan boot ini kita hanya perlu mengeluarkan uang 10 Euro. Kita bisa menikmati pesona kota ini selama satu jam dengan informasi dari guide dengan berbagai bahasa seperti Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis. Amsterdam memang dikenal dengan Venesia di bagian utara Eropa, karena kanal-kanalnya.

Sepanjang perjalanan kita bisa melihat rumah-rumah perahu. Rumah-rumah tersebut seperti juga rumah pada umumnya memiliki nomor. Di samping itu, gedung-gedung penting bisa kita lihat dari tour ini. Yang menarik adalah ketika kita bisa melihat jembatan dari beton ditarik hingga membuka memberi jalan pada boot yang berukuran besar. Para pengendara mobil dan sepeda harus menunggu sesaat hingga jembatan kembali ke posisi semula.

Belanda Bagian Selatan

Selesai tur dengan boot aku melihat di panduan ada tur menuju ke bagian selatan Belanda tepatnya menuju Delft, Den Haag serta Madurodam. Tur ini bisa kita ikuti setiap harinya pada pukul 14.30. Durasi waktunya adalah selama lima jam. Biaya yang kita perlukan adalah 35 Euro.

Pertama-tama kita akan diajak menuju ke kota Delft. Kota ini terkenal dengan keramiknya yang telah mendunia. Di kota yang memiliki 90.000 penduduk ini terdapat Universitas Teknik Delft, yang didirikan oleh seorang ahli mikrobiologi. Tour Guide kali ini bernama Astrid, seorang Belanda sekitar 40-an tahun. Ia fasih sekali menggunakan beberapa bahasa, seperti Prancis, Spanyol, Jerman, dan tentu saja Inggris. Banyak turis yang iktu serta pada tur ini dari negara-negara berbahasa Spanyol serta Prancis, maka ia menggunakan tiga bahasa sekaligus.

Dari Delft kami melanjutkan perjalanan ke kota Den Haag. Di sini tinggal sekitar 410.000 jiwa. Di kota ini pula pemerintahan dijalankan. Kita mampir di istana ratu sesaat, sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Sepanjang jalan kita dapat melihat gedung-gedung kementrian, kedutaan, serta perusahaan. Sesaat bis yang kami tumpangi harus berhenti dan sirine meraung-raung terdengar di jalan, ternyata keluarga kerajaan saat itu lewat.

Tidak lama kemudian kami sampai di Madurodam. Bila Jakarta memiliki Taman Mini Indonesia Indah, maka Belanda juga punya Taman Super Mini Madurodam. Di sini kita bisa berjelajah seluruh Belanda dalam waktu satu hari. Semua yang ada di Belanda bisa kita lihat dalam ukuran mini. Cukup satu jam kami di Madurodam. Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Amsterdam. Tidak jauh dari Madurodam kita bisa melihat kawasan kedutaan. Pertama-tama yang kita lihat adalah kedutaan Vatikan, selanjutnya kedutaan RI yang bersebelahan dengan kedutaan Swiss, berikutnya adalah Jepang, Kuwait, AS, Australia, Rusia, dll.

Salah satu kawasan elit yang kami lewati adalah Wasernaar. Di kawasan ini tinggal orang-orang kaya. Sebuah rumah bisa jadi satunya seharga empat juta Euro. Puteri Maxima tinggal juga di kawasan ini. Liburan paskah selama seminggu ini aku habiskan di Holland dengan sejuta kenangan indah.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s