Don Juan dari Asrama Fellergut

Veröffentlicht: März 23, 2010 in Lain-lain

Beberapa hari yang lalu di salah satu tayangan TV di Jerman dikabarkan bahwa seorang pria Inggris mengaku pernah melakukan hubungan intim dengan hampir 500 gadis. Hal tersebut ia lakukan untuk pertama kalinya ketika berusia 17 tahun atau hampir 10 tahun yang lalu. Kini pria yang memiliki sosok pendiam itu harus berada di bawah pengawasan ketat seorang psikiater.

Kisah itu mengingatkanku pada kejadian yang baru saja kuketahui dari salah satu temanku satu asrama. Ceritanya tetapi memang lain. Thomas, temanku dari Jerman, beberapa bulan ini sudah mendapatkan pekerjaan yang merupakan bidang garapannya. Ia menjadi seorang ahli hukum di sebuah perusahaan di Bern. Seperti halnya kebanyakan orang Jerman lainnya, ia sangat gemar sekali pesta. Di asrama, tepatnya di lantai kami, dia menjadi floor chef.

Selepas pulang ujian lisan matakuliah  psikolinguistik aku pulang dengan hati gembira, karena dapat lulus ujian tersebut. Menuju ke kamar aku bertemu Theresia, salah satu temanku dari Innsbrück, Austria. Dia adalah beasiswan ERASMUS, suatu beasiswa yang dikhususkan untuk para mahasiswa Eropa untuk kuliah di negara lain dengan durasi waktu satu hingga dua semester. Aku dengan Theresia mengambil dua matakuliah yang sama. Bidangnya adalah Linguistik murni, sedangakan aku Linguistik Bahasa Jerman. Aku mengikuti dua matakuliah di Institut tersebut sebagai matakuliah minorku.

Karena cuaca cerah maka setelah kami masak, maka kami makan siang bersama di atas balkon. Di lantai kami memang ada sesuatu yang tidak beres. Itu mungkin sangat wajar, karena di sini tinggal 18 orang dengan berbagai latar belakang kehidupan. Satu-satunya ruangan yang bisa membuat kami bertemu satu sama lainnya adalah tempat makan. Tapi orang-orang di sini sangat jarang sekali masak. Hanya orang-orang tertentu saja.

Boleh dikatakan hampir 80% teman-temanku ini memiliki kecenderungan pendiam dan tidak terlalu suka bergaul dengan yang lainnya. Memang banyak diantara kami yang karena kesibukan di tempat kuliah atau kerja untuk kandidat Doktor atau Phd., menyebabkan kelelahan luar biasa. Itu mengakibatkan, setelah mereka pulang langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Akupun barangkali hanya sering bertemu separuhnya saja dengan tetangga-tetanggku itu. Jangan dibandingkan suasana itu dengan kos-kosan ataupun asrama di Indonesia. Bahkan lucunya, Theresia sama sekali belum pernah bertemu dengan tetangga sebelah kiri kamarnya yang berasal dari Prancis.

Masing-masing orang memiliki karakter yang berbeda. Marcello, salah satu temanku dari Brazil adalah tipe orang yang perfeksionis. Ia selalu bicara kalau dapur kotor. Pernah suatu hari di awal-awal aku tinggal di sini, temanku Sonia dari India setelah masak ia biarkan begitu saja. Marcello marah besar. Teman baik Sonia seorang gadis dari Kosovo membela temannya. Klimaksnya terjadi ketika kami mengadakan rapat atau biasa disebut floor meeting. Di sini biasanya kami membicarakan segala hal mengenai sumbangan untuk membeli alat-alat dapur seperti wajan baru, piring, gelas, atau sabun cuci, hingga permasalahan lain seperti kebersihan dapur, toilet dan pembagian tugas membuang sampah. Besha dan Marcello terlibat percekcokan sengit. Kami semua hanya diam, tidak ikut campur masalah itu. Enam bulan berikutnya Marcello keluar dari asrama dan pindah ke tempat lain.

Kembali ke permasalahan Thomas. Theresia bercerita panjang lebar mengenai ulah sang floor chef tersebut. Ternyata ia adalah seorang Don Juan. Di bulan-bulan pertama aku tinggal, aku pernah kenal baik teman asal Jerman bernama Pamela. Namun hanya beberapa bulan saja dia betah tinggal di lantai ini dan untuk selanjutnya pindah ke lantai bawah. Usut punya usut ternyata Thomas ingin menjadikan Pamela sebagai kekasihnya. Kekasih yang bisa „dimanfaatkan“. Belakangan ia sangat dekat dengan teman dari Manchaster, Inggris. Aku sering melihat mereka baik berdua ataupun ditemani Edward dari Kenia, mereka mengobrol sambil menghisap Shisha. Namun, belakangan aku lihat hubungan anatara Thomas dan Claudia menjadi renggang. Begitupun Theresia, ia juga mengaku pernah didekati oleh Thomas, tapi tidak berhasil. Thomas lagi-lagi harus menggigit jari. Sungguh nahas memang nasib Don Juan kita itu. Ia selalu bertepuk sebelah tangan.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s