Malam Dana untuk Gempa Padang

Veröffentlicht: März 14, 2010 in Momen

Wanita tua itu berusia 88 tahun. Ia berjalan dengan bantuan tongkat di lengan sebelah kannya. Kali itu ia mengenakan topi khas noni-noni zaman Belanda serta memakai kaca mata. Tidak lama kemudian ia memasuki bis di terminal Freienwil, Post, di kanton Aargau.

Sabtu itu matahari menampakkan dirinya tanpa malu-malu. Hangatnya terasa bagaikan berada di negeri sendiri. Di negeri hutan hujan tropis. Indah sekali.

Tanja dan aku memasuki bis yang sama dengan wanita tua tadi. Dari terminal kami menuju ke Schulstrasse, tempat perhelatan malam dana untuk korban gempa bumi di Padang tahun lalu. Ternyata di dalam bis sudah ada penumpang lainnya yang juga akan menuju ke sana, seorang perempuan Swiss.

Tempat penyelenggaraan acara memang terhitung jauh dari pusat kota. Orang Swiss biasanya menyebut tempat seperti ini dengan istilah Kaff. Di dalam bahasa Indonesia berarti sebuah desa yang memiliki tidak lebih dari 100 penduduk.

Begitu tiba di hall ternyata sudah berkumpul banyak undangan serta partisipan. Acara memang akan segera di mulai tepat pukul 16.00. Tetapi seperti biasanya di Indonesia, waktu bukanlah hal yang utama untuk suatu acara. Pukul 16.00 bukanlah waktu untuk dimulai acara, melainkan tamu-tamu barulah tiba pada pukul tersebut.

Beberapa saat kemudian hall yang telah tertata dengan meja makan panjang dilengkapi peralatan makan dan minum layaknya di sebuah restoran dipenuhi oleh partisipan. Diana Schmitt, seorang Indonesia yang menjadi penggagas acara ini membuka acara dengan sambutannya. Ia adalah seorang pengajar Bahasa Indonesia di kota Zürich untuk penutur asing. Tanja adalah salah satu muridnya. Pada sambutannya itu dia mengucapkan terimakasih pada tamu undangan seperti dari pihak KBRI, undangan lainnya dan tentu saja murid-muridnya karena telah datang ke acara itu.

Untuk bisa hadir di acara tersebut memang undangan dikenakan biaya 35 SFr per kepala. Registrasinya sudah ditutup satu bulan sebelum pelaksanaan acara.

Satu meja dengan kami ternyata ada juga beberapa murid Diana lainnya. Andrea dan Claudia. Andrea belajar Bahasa Indonesia dengan alas an setiap liburan ia pasti mengunjungi Indonesia. Lebih dari sepuluh kali ia mengunjungi Bali. Sementara Claudia, ia belajar karena suaminya bertugas di Aceh. Tepat di sampingku ada Linda. Ia tidak belajar, melainkan dalam proses untuk menikah dengan orang Indonesia asal Bandung. Namun, niatnya itu selalu terbentur kendala pengurusan visa di kedutaan Swiss di Jakarta. Kesempatan pada malam itu ia betul-betul gunakan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk memuluskan niatnya tersebut. Ia ingin memboyong pacarnya ke Swiss. Jika aku perhatikan, Linda yang seorang psikolog ini memang betul-betul sedang dilanda kasmaran.

Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama. Tampak menu yang bisa disantap anatara lain rendang, opor ayam, sayuran, sambal dan kerupuk. Orang-orang Swiss terlihat lahap dan sudah familiar dengan makanan-makanan itu.

Panggung yang didekorasi dengan ciri khas Padang, rumah minang, tampak sangat eksotis. Orang yang berada di balik itu semua adalah temanku asal Aceh. Setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan nyanyian dan tarian khas Sumatera Barat. Tari piring cukup memukau penonton saat itu. Seorang pria Swiss melanjutkan acara dengan menunjukkan gambar-gambar yang ia ambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat Padang. Mulai dari petani yang menanam padi, menyemainya hingga memanen. Seorang pembuat batu bata yang sama halnya ia melihat dari sisi kehidupannya. Berbagai hewan khas hutan tropis, tumbuhan, panorama alam Sumatera Barat dan foto-foto menarik lainnya. Itu sangat menggugah hadirin untuk mengunjungi ranah minang ini, termasuk aku. Akan lain jika gambar-gambar tadi dipresentasikan oleh orang Indonesia. Maksudku, gambar yang diambil barangkali tidak akan seperti itu, hanya gambar-gambar orang saja biasanya.

Hadir di tengah-tengah kami pula duta besar Indonesia baru untuk Swiss. Beliau tiba sekita dua minggu yang lalu di Swiss.

Acara masih akan terus berlanjut hingga hampir tengah malam nanti. Namun, pukul setengah sepuluh kami memtuskan untuk kembali ke Bern. Karena perjalanan yang harus kami tempuh hampir satu setengah jam. Di tengah perjalanan menuju ke halte bis, kami baru tersadar bahwa wanita tua tadi kami tinggalkan. Memang pada saat awal acara pun kami sudah tidak bersama. Wanita itu pernah tinggal di Indonesia pada tahun 1938 hingga kurun waktu sepuluh tahun. Ia ikut dengan kedua orang tuanya pada zaman penjajahan tersebut. Ibunya seorang guru matematika. Hidup mereka berpindah-pindah, mulai dari Batavia, Semarang, dan Medan.

Aku bersama-sama dengan beberapa orang lainnya yang tadi kami kenal memasuki bis. Setelah kami duduk, ternyata wanita tua sudah duduk seperti pada keberangkatan sebelumnya ada pada deretan paling depan. Namun, hal yang berbeda jika pada saat berangkat ia tepat persis di belakang sopir dan banyak bertanya kapan ia akan sampai di tempat tujuan, kini ia berada di samping kanannya. Ia seorang yang berdarah penjajah, namun mencintai negeri kita.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s