Mendaki gunung, lewati lembah (Snow shoe hike)

Veröffentlicht: März 2, 2010 in Ekskursi

Sabtu, 27 Februari 2009, tepat pukul 08.50 kami meluncur dari stasiun menuju tempat yang bernama Emmental. Kami berencana naik gunung pada hari ini. Seperti biasanya, rombongan berjumlah 10 orang yang berasal dari berbagai Negara. Kami semua adalah pemegang beasiswa ESKAS atau beasiswa dari pemerintah Swiss.

Langit tampak sangat bersih. Ini pertanda cuaca hari ini akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Peralihan dari musim salju ke musim semi ini memang sangat terasa sekali. Hujan ditambah angin yang berhembus dengan kencang mewarnai beberapa hari sebelumnya. Malahan di Jerman atau di Prancis, badai hebat menyebabkan akses transportasi terganggu. Di Jerman misalnya, banyak pohon yang tumbang menyebabkan perjalanan menggunakan kereta api harus dibatalkan. Ratusan bahkan ribuan penumpang tanpa adanya kejelasan harus menunggu semalaman di stasiun di Frankfurt ataupun di bandara. Di Prancis cuaca tidak lebih baik adanya, badai Cynthia yang menerjang perairan di salah satu kawasan di Prancis mengakibatkan tergenangnya kota dan meminta korban jiwa. Beruntung kami tinggal di sini dan Tuhan masih memberikan keselamatan.

Kereta yang kami tumpangi ternyata tidak berhenti di tempat yang kami harapkan. Kami perkirakan kereta akan berhenti di stasiun akhir Sumiswald-Grünen. Kemudian dari sana kami hendak melanjutkan perjalanan berikutnya dengan bis menuju Emmental. Namun, ternyata kereta yang kami tumpangi salah. Ini bisa jadi kereta tersebut ketika di stasiun kota tadi terbelah menjadi dua bagian. Bagian yang kami tumpangi berada di sektor A. Oleh karenanya, kami harus kembali ke stasiun Burgdorf dan ganti dengan kereta berikutnya. Itu menghabiskan waktu satu jam.

Kami datang terlambat  satu jam di Emmental. Patrick, pemandu kami dari salah satu agen perjalanan wisata khusus untuk olahraga winter ini sudah menunggu dan menyambut kami. Tidak lama kemudian, ia memberi pinjam kami peralatan yang akan kami pergunakan selama naik gunung, yaitu sepatu khusus beserta tongkat. Tanpa llama berbasa-basi kami kemudian menuju puncak gunung. Musim dingin kali ini memang lebih dingin dibandingkan tahun sebelumnya, namun juga lebih singkat. Sehingga, Patrick sepertinya kesulitan untuk menemukan route yang masih terdapat salju.

Kami berjalan cukup jauh sebelum kami menemukan salju yang bisa dilewati. Orang-orang di sini memang sangat senang sekali dengan olahraga seperti ini. Namun, tentu saja tidak murah. Setelah hampir setengah jam, kami kemudian mengenakan sepatu yang sebelumnya hanya kami bawa begitu saja. Bagiku ini pengalaman pertama kali. Tapi bagi kebanyakan olahraga ini tidaklah asing. Kata temanku yang tahun lalu juga ikut acara ini, perjalanan akan sangat melelahkan. Bahkan ia tidak tahan karena harus jalan selama dua jam tanpa sebelumnya sarapan pagi.

Semua tampak senang karena keinginan kami untuk naik gunung berlapiskan salju bisa terlaksana. Seandainya cuaca tidak bagus atau tidak ada salju, maka acara ini terpaksa harus dibatalkan.

Sepatu tersebut ternyata cukup berat untuk dikenakan. Temanku dari India berkali-kali ketinggalan dari rombongan. Ia begitu kelelahan. Berbeda dengan teman lainnya dari Kirghistan. Meskipun keduanya perempuan, temanku tersebut selalu memimpin rombongan. Ia memang sangat terbiasa naik gunung di negaranya. Di samping itu, ia seorang ambisius yang selalu ingin berada di depan dalam segala hal. Di tengah perjalanan, temanku dari India harus bergabung dengan orang Kirgis tadi.

Route kali ini memang begitu menantang. Kami melewati lahan yang curam untuk dilewati. Tapi akhirnya kami bisa melewati puncak gunung. Memang betul apa kata pepatah, „Takkan lari gunung dikejar“. Pemandangan di puncak gunung sangat indah sekali. Namun kami tidak bisa berlama-lama di sini. Kami harus melanjutkan perjalan menuju restoran yang terletak di tengah hutan. 25 menit waktu yang kami perlukan menuju restoran.

Di depan restoran, seekor anjing yang sangat besar sudah menunggu dan menyambut kami. Teman-temanku sangat menyukainya. Mereka berfoto dengannya. Restorannya sangat bernuansa Swiss. Rumah dari kayu tersebut sepertinya rumah satu-satunya di tempat tersebut. Menu yang disajikan adalah Fondue, makanan khas Swiss. Dua orang temanku tidak bisa makan Fondue karena tidak suka keju, maka mereka memesan Rösti.

Makan selesai, kami melanjutkan pulang dengan menuruni gunung tersebut. Sebelumnya Patrick menawarkan dua opsi, berjalan denga route lebih pendek namun berbahaya atau memilih jalan lebih lama tapi lebih aman. Serentak hampir semua ingin memilih jalan yang lebih pendek, karena bisa berpetualang. Patrick tidak bisa memandu semua peserta sehingga harus ada yang memilih jalan lebih panjang. Akhirnya kelompok terbagi dua, kelompok pertama yang akan berpetualang terdiri dari tujuh orang dan kebanyakan perempuan yang sebetulnya tidak yakin bisa melewati route tersebut mengingat tadi saja selalu tertinggal. Kelompok berikutnya „easy going“, terdiri atas empat orang saja dipimpin oleh ketua kelompok dari Universitas, temanku perempuan dari Kazakstan,  satu orang dari Ukraina yang memang salah mengenakan sepatu, dan aku yang terpaksa mengalah karena terlalu banyak orang di kelompok sebelumnya.

Kami tiba di titik yang telah ditentukan. Jarak yang agak jauh tetapi tidak menjadikan kami lebih lama tiba. Hanya lima menit perbedaan waktu yang kami tempuh. Namun. Teman-temanku di kelompok lain ternyata harus berjibaku dengan route yang dilewati. Celana dan sepatu mereka kotor semua. Namun, mereka terlihat bahagia sekali.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s