Fastnacht 2010

Veröffentlicht: Februar 21, 2010 in Momen

Jalan Dago di Bandung setiap malam minggu pasti dipadati anak muda. Mereka biasanya hanya sekedar jalan-jalan melepas penat atau banyak juga yang sengaja memburu makanan. Aku masih ingat ketika SMA, di sepanjang jalan Dago ini digelar acara bertajuk “Dago Festival”. Beraneka ragam hiburan untuk warga Bandung digelar di sini. Biasanya acara diselenggarakan pada penghujung tahun. Semua orang tumpah ruah di sini. Setiap tahunnya acara menuai kesuksesan. Pengunjung yang dating tidak terbatas dari kota Bandung sendiri melainkan ada yang dari Jakarta dan sekitarnya, Lampung, bahkan Kalimantan. Acaranya sangat menarik. Kita bisa melihat karnaval yang mengangkat seni tradisional, kontemporer, hingga modern di sini. Penggagasnya sepengetahuanku adalah beberapa radio swasta di Bandung dan disponsori oleh rokok terbesr di Indonesia. Oleh karenanya, apabila kita meluangkan waktu di acara tersebut maka mulai dari jalan H. Juanda bawah hingga dago atas semuanya sangat meriah. Sembilan radio menggelar acara di panggung berbeda dengan bintang-bintang tamu yang sangat digemari kawula muda pada waktu itu. Makin malam acara makin seru, hingga sekali waktu aku sampai-sampai tak bisa melangkahkan kaki di tengah para pejalan kaki, karena sepanjang jalan betul-betul dipenuhi pengunjung. Seketika itu kota ini pun menjadi „Bandung Lautan Manusia“.

Sepenggal kisah tersebut sangat mengingatkanku pada acara Fastnacht kali ini di Bern, Swiss. Fastnacht atau di Jerman dikenal juga dengan perayaan Fasching merupakan perayaan yang diselenggarakan di penghujung musim dingin untuk menyambut datangnya musim semi. Tradisi semacam ini sudah berlangsung sangat lama. Adapun hubungannya dengan religi, yaitu khususnya bagi mereka yang memiliki kepercayaan atau beragama Katolik, ini merupakan simbol sebagai awal mereka untuk menahan diri dari minum bir, makan makanan daging dan lain-lain seperti halnya umat muslim berpuasa di bulan ramadhan. Namun, kepercayaan tersebut sudah tergerus oleh berjalannya waktu. Di masa sekarang mungkin kebanyakan orang bisa berbuat hal yang berbeda untuk itu, yakni puasa dari sesuatu yang berbau komputer, puasa tidak membawa mobil pribadi, dan sebagainya. Seperti yang kusimak dari interview terhadap warga di Jerman pada berita di stasiun TV yang bernama RTL.

Hari ini merupakan hari ketiga atau hari terakhir perayaan Fastnacht di kota Bern. Cuaca sangat bagus di luar. Aku berniat untuk melihat bagaimana perayaan tersebut di pusat kota. Berbeda dengan hari-hari sabtu sebelumnya, stasiun dekat rumahku sangat dipadati orang yang hendak pergi ke kota. Di antara mereka tampak kulihat seorang ibu yang telah berusia senja berpakaian mirip badut. Ada juga kakak beradik yang berkostum mengerikan dengan warna hitam dominan. Ketika memasuki kereta, tenyata di dalam gerbong tidak kalah menarik. Satu gerbong kereta malah diisi penuh oleh orang-orang yang mengenakan kostum seragam berwarna biru dengan motif bulu-bulu dengan wajah dicat warna-warni. Mereka membawa peralatan musik seperti trompet, saxophone, drum, pianika, dan lain-lain.

Kereta membawa kami ke pusat kota. Hari ini stasiun kota terlihat sangat sibuk, banyak orang yang berlalu lalang. Tapi kebanyakan dari mereka menuju arah yang sama, yaitu seputaran Bundesplatz. Acara karnaval baru dimulai pada pukul 15.00. Penonton sudah sangat antusias melihat tokoh-tokoh yang dibawakan oleh peserta karnaval kali ini. Mereka merapat ke jalan yang telah dibatasi dengan pagar besi oleh polisi. Peserta pertama muncul dan penonton pun menyambut gembira. Alunan musik ceria yang dibawakan oleh kelompok ini membawa suasana semakin meriah. Kostum warna-warni serta lucu membuat penonto enggan beranjak. Kostum yang dikenakan satu kelompok marching band dengan yang lainnya sangat bervariasi. Mulai dari yang lucu, bertema film kartun, oriental, indian, safarai, dan masih banyak lagi lainnya. Sekitar 51 kelompok marching konvoi menuju ke Bundesplatz dengan lagu-lagu yang menghentak-hentak.

Setelah semuanya tampil, kami semuanya berkumpul di depan Bundesplatz. Di sana sudah berkumpul semua peserta karnaval di depan lapangan Bundesplatz. Dari salah satu gedung di seberang gedung Bundesplatz, keluar beberapa orang berkostum beruang yang merupakan simbol kota Bern, serta pembawa acara ini. Beberapa tokoh kota ini muncul satu-persatu dan memimpin kelompok marching band yang kini telah melebur jadi kelompok yang sangat besar. Kalau kita pernah berkunjung ke Saung Angklung Ujo di Bandung, maka nuansa kebersamaannya tidak begitu berbeda.

Yang menarik adalah, tokoh yang berada di atas balkon gedung tersebut cukup memberikan aba-aba dengan nada dasar sebbuah lagu yang akan dimainkan oleh marching band. Maka, tidak lama kemudian para pemain musik terlatih ini pun bersama-sama memainkannya. Suaranya sangat beraturan, tidak ada yang sumbang. Semua warga kota tampak sangat senang dengan hiburan ini, terlebih anak-anak kecil dan para manula.


Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s