Bergumulnya para diplomat muda Swiss

Veröffentlicht: Februar 19, 2010 in Momen

Hari telah berlalu dan berubah menjadi gelap. Malam ini aku dan beberapa teman berencana untuk pergi ke kota melihat perayaan Fastnacht. Hari ini merupakan hari perdana perayaan Fastnacht di kota Bern. Dikebanyakan kota di Jerman, Fastnacht telah dirayakan pada bulan Januari. Begitupun di kota Luzern, Swiss, perayaannya sudah seminggu yang lalu. Di sana, perayaan ini sangat meriah dan boleh dibilang yang paling hebat di seantero Swiss.

Namun, rencanaku tersebut ternyata harus berlalu begitu saja setelah sesaat aku melihat pada Terminkalender yang terletak di atas meja belajar tepat di hadapanku. Hari ini tanggal 18 Februari, di sana ternyata aku telah menulis sesuatu. « Celaka!», ucapku dalam hati. Hari ini aku harus pergi ke rumah Anna di Spiegel. Jauh-jauh hari ia mengundangku untuk menghadiri Apèro di rumahnya.

Jam telah menunjukkan pukul 18.09 ketika aku teringat janjiku tersebut. Aku coba lihat lagi undangan yang aku terima pada tanggal 5 Februari lalu di email. Ternyata memang benar hari ini tepatnya pada pukul 18.00. Aku begitu kalut, karena belum siap apapun. Sesegera mungkin aku telpon Anna untuk memberitahukan kalau aku akan datang terlambat di rumahnya. Aku berbicara dengannya di telpon setelah itu dan dia berkata tidak apa-apa, karena teman-teman undangan yang lainnya pun belum ada yang datang ketika itu. Aku berkata padanya, kemungkinan baru bisa datang pukul 19.00.

Permasalahan lain adalah malam ini juga aku janji dengan teman di asrama untuk pergi bersama-sama pada pukul 19.00 melihat Fastnacht. Aku kemudian mengirim SMS pada salah satu teman dan meminta maaf karena aku terpaksa tidak bisa pergi ke kota karena alasan tadi. Untungnya temanku tidak mempermasalahkan hal itu. Maka akupun bergegas menuju stasiun di depan asrama mengambil kereta yang pukul 18.34 menuju stasiun utama. Lima menit kemudian kereta tiba dan aku segera melesat menuju halte bis nomor 19 ke arah Blinzern.

Untungnya kira-kira 10 hari yang lalu aku sudah pernah ke rumahnya, waktu itu aku diundang Anna makan Raclette. Oleh karenanya, aku tidak perlu sulit mencari rumahnya. Turun dari bis di halte Spiegel, lonceng dari gereja terdengar dari berbagai penjuru. Itu berarti waktu telah menunjukkan pukul 19.00. Padahal sebelumnya aku begitu pesimistis untuk bisa datang seperti perkiraanku pukul 19.00. Tapi aku bisa datang seperti harapanku juga. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang tidak tepat waktu, karena bagaimanapun ini akan membuat citra bangsa kita semakin buruk di hadapan bangsa lain.

Di depan rumah aku pijit bel berkali-kali. Namun, yang ada hanya kegaduhan yang terdengar dari rumah Anna. Akhirnya aku putuskan untuk telpon dia. Anna segera datang membukakan pintu. Untungnya di tengah kekalutanku tadi aku masih ingat untuk membawa kartu ucapan yang telah kubeli beberapa hari sebelumnya di toko buku Orelli Füssli di pusat perbelanjaan terbesar saat ini di kota Bern yang bernama West Side. Aku menulis „Sukses selalu!“ pada kartu tersebut. Anna sangat berterimakasih padaku.

Di tengah rumah sudah tampak hadir banyak undangan. Mereka berpakaian rapi layaknya eksekutif-eksekutif muda. Aku dikenalkan pada semua teman Anna yang ada di sana. Satu-persatu aku salami mereka. Mereka terlihat cukup ramah. Biar bagaimana pun aku di sini tidak merasa sebagai outsider, melainkan sebaliknya bagian dari mereka. Di atas meja telah tersedia berbagai makanan kecil, kue-kue, salad, berbagai minuman mulai dari air mineral, juice, hingga anggur.

Percakapan di antara mereka sangat hangat sekali. Beberapa orang di sana pun menghampiriku dan bertanya tentang yang aku lakukan di Swiss. Aku menjelaskan pada mereka. Kini giliranku untuk bertanya pada mereka. Ternyata dari 12 orang yang hadir di situ yang didominasi perempuan, 10 orang di antaranya adalah diplomat muda Swiss. Undangan laki-lakinya hanya aku dan slah satu diplomat lainnya yang  hanya berbicara Bahasa Prancis dan Inggris.

Aku ternyata bukan satu-satunya undangan yang datang terlambat. Banyak yang lainnya yang datang setelah aku. Salah satunya Tanja. Ia pernah bertugas di Papua selama dua tahun. Ketika itu, ia adalah relawan yang menangani masalah perdamaian di Papua. Tahun pertama ia habiskan waktunya di Jayapura, sementara tahun kedua di Wamena. Ia berbicara Bahasa Indonesia dengan sangat lancar dan selalu membubuhkan tertawa kecil di setiap pembicaraan. Banyak hal yang kami bicarakan.

Waktu telah larut, dan satu-persatu tamu berpamitan. Beberapa di antara mereka melanjutkan makan malam di kota dengan menu Fondue. Beberapa yang lainnya harus langsung pulang ke kotanya masing-masing, karena ada yang berasal dari Fribourg dan ada juga yang dari Zürich. Termasuk Tanja, ia harus pulang secepat mungkin karena ia tinggal di Zürich. Sebelum pulang Tanja mengundangku makan siang kapanpun aku mau bersama dengan dia di salah satu restoran di kota. Aku dengan sigap mengiyakan dan berterimakasih atas undangan tersebut.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s