Korelasi antara Bakat dengan Penguasaan Bahasa Asing

Veröffentlicht: Februar 16, 2010 in Studi

Sering sekali kita mendengar pertanyaan, apakah ada hubungan antara bakat seseorang dengan kemampuan berbahasa?

Banyak yang beranggapan, bahwa bakat atau intelegensia yang ada pada diri seseorang dapat menjadi penentu keberhasilan penguasaan sebuah bahasa asing. Padahal itu tidaklah benar. Kita coba ambil contoh seorang siswa SMA, ia barangkali tidak berbakat dalam hal pengetahuan alam (science). Akan tetapi, ia dapat memperoleh nilai cukup untuk matapelajarannya tersebut. Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli yang menyebutkan, bahwa faktor intelegensia hanya memberi kontribusi sekitar 25% pada prestasi seseorang. Sementara itu, faktor lain seperti proses pembelajaran, kebiasaan atau tipe pembelajar, kepribadian guru, serta situasi keluarga pembelajar memiliki peran yang sangat besar (G. Schmid-Schönbein, 1988).

Oleh karena itu, tidak alasan untuk menyebut bahwa karena keterbatasan intelegensia seseorang, maka ia tidak dapat menguasai suatu bahasa asing. Ada beberapa alasan yang memungkinkan untuk menjawab kasus semacam ini, di antaranya adalah:

  1. Pengalaman kurang baik saat berada di bangku sekolah
  2. Tidak sejalannya antara gaya seorang guru, metode pembelajaran, serta tipe pembelajar
  3. Hasil belajar tidak memuaskan, karena kesalahan dalam belajar
  4. Tidak adanya kesempatan pembelajar untuk berbicara serta adanya rasa malu untuk berbicara.

Belum ada penelitian yang menyatakan, bahwa ada korelasi antara bakat dengan kemampuan bahasa seseorang adalah 100% benar. Mungkin pertanyaan bisa kita ubah dengan formulasi kalimat seperti ini, bagaimanakah seseorang dapat berhasil dalam mempelajari suatu bahasa asing?

Berlitz, seorang pendiri sekolah bahasa, pernah menyatakan bahwa memaang bakat sangat berpengaruh pada keberhasilan seseorang belajar bahasa. Tapi itu merupakan berdasarkan pengalaman pribadinya setelah mempelajari 50 bahasa. Bagi dia, tentu saja pada saat mempelajari bahasa yang ke-50 akan lebih mudah setelah sebelumnya mempelajari 49 bahasa yang berbeda. Jika demikian, hal itu tentunya memudahkan siapa saja untuk mempelajari bahasa berikutnya, karena biar bagaimana pun ia telah menemukan metode, teknik, serta rasa bahasa. Dalam hal ini, intelegensia seseorang tidaklah berdasarkan bawaan dari orang tua, melainkan diperoleh melalui sikap pasif ataupun aktif orang tersebut (Huberman, 1975).

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s