Kisah Pengemis dan sepotong Käsekuchen

Veröffentlicht: Februar 1, 2010 in Momen

Di tengah kepesimisanku untuk pulang dengan menumpang pada mobil yang menuju ke kota Bern, ternyata secara tidak sengaja hari ini ada orang yang meuju ke kota Basel. Di sana tertera no ponsel yang bisa dihubungi. Namun, ia meminta untuk tidak menelponnya, karena itu nomor luar negeri. Maka aku meski tidak begitu serius menulis sms padanya. Dengan harapan aku bisa kembali mengirit pengeluaran untuk transportku menuju pulang ke Bern.

Hari rabu ini, Mahar harus bekerja sehari penuh. Sore harinya ia pergi kursus bahasa Jerman sebagai persiapannya untuk kuliah di Jerman. Maka pagi hari sekali ketika ia harus mengajak Zodiak jalan-jalan pagi, kami harus berpisah. Pagi itu cuaca sangat dingin dan masih gelap. Waktu menunjukkan 07.30, di mana-mana aku lihat anak-anak sekolah. Aku, Mahar, dan Zodiak pergi ke arah Schweizerstrasse. Sepagi ini aku terpaksa bangun tidur dan meninggalkan rumahnya menuju Wohnung mbak Dewi. Aku janji datang kira-kira pukul 08.00.

Setelah diantar oleh Mahar dan Zodiak, aku berjalan sendiri. Tidak sulit menentukan arah, namun memang jalannya cukup jauh dan salju sangat tebal, sehingga aku sangat lelah berjalan. Aku tiba di sana pukul delapan lebih.

Para peserta kursus siang hari ini akan melaksanakan ujian. Sementara mbak Dewi dan Tui harus mengikuti program hospitasi. Aku terpaksa harus tinggal sendiri di Wohnung.

Pukul 13.30 kami berjalan menuju S-Bahn. Di sana aku menuju ke stasiun pusat, semenatar mbak Dewi ke tempat para siswa menginap. Kami akan bertemu lagi sekitar pukul 14.30. Suasana di stasiun sangat ramai. Banyak orang hilir mudik. Aku menunggu di tempat duduk persis seperti Mahar menungguku saat pertama kali tiba. Tidak lama berselang, mbak Dewi pun datang.

Kami mencari tempat untuk makan siang. Menu makan siang kami kali ini adalah Döner Kebab. Di dalam stasiun kebetulan ada restoran yang menjual Döner Kebab. Karena mobil yang akan membawaku ke kota Basel tiba di Frankfurt sekitar pukul 16.00, maka kami tidak beranjak duduk dari sana menunggu hingga waktu tiba.

Tiba-tiba orang yang akan menjemputku mengirim sms yang berisi, bahwa dia masih di perjalanan ke arah Frankfurt. Kini ia masih di Kassel dan baru akan tiba sekitar pukul 18.00. apa boleh buat aku harus menunggunya, karena kereta dari Frankfurt yang ke arah Bern routenya sangat rumit. Aku harus naik turun ganti hingga delapan kali kereta dan diperkirakan tiba pukul 23.00. Oleh karena itu, aku putuskan untuk menunggu dia.

Aku dan mbak Dewi kemudian beranjak menuju ke McCafe yang berada di ujung kiri stasiun. Kami hanya akan minum kopi saja di sana. Tempatnya tidak sebagus McCafe yang pernah aku kunjungi di kota Wina. Saat kami minum kopi dan menyantap Käsekuchen, tiba-tiba seorang pria berambut panjang dan bertopi berselendangkan tas kecil menghampiri kami. Kejadian tersebut mengingatkanku pada terminal Cicaheum di Bandung. Selalu pada saat aku akan menuju ke kota Malang, bis terlebih dahulu masuk ke dalam terminal dari jalan Ambon. Maka di sana berhamburan para penjaja makanan dengan sedikit memaksa, penjual koran dan majalah, serta pengamen memasuki bis yang ku tumpangi. Seorang anak kecil dengan bicara bernada lirih tapi tidak jelas bermain peran untuk mendapat empati penumpang bis. Ia meminta uang dari mereka.

Kembali pada pria di McCafe tadi, ia ternyata seorang pengemis. Persis gelagatnya seperti anak kecil yang kuceritakan tadi. Memohon untuk diberi uang dengan cara membongkokkan badan serta beraut muka sedih. Kami berdua spontan heran bercampur khawatir. Heran, karena di negara seperti Jerman dan di tempat seperti McCafe yang bonafit ada pengemis. Khawatir, karena takutnya jika tidak diberi ia akan emosi, tapi di lain pihak kalau aku memberinya nanti berurusan dengan petugas. Mengingat di berita yang aku lihat beberapa hari sebelumnya, seseorang yang memberi uang pada pengamen di tram di Jerman terpaksa harus membayar denda.

Namun, karena kami merasa tidak nyaman, maka uang 20 cent yang aku temukan terjatuh tepat di bawah mejaku sebelum dia datang aku berikan padanya. Ia seketika itu juga melihatnya dan dari gerak-geriknya aku tahu kalau itu sangat sedikit sekali. Aku tidak habis akal, kebetulan di saku jaketku ada uang logam Frank Swiss. Aku coba beri dia 2 Frank sambil berkata dalam bahasa Inggris, bahwa sayangnya aku hanya punya uang tersebut dan itu tidak bisa ia gunakan di sini dan aku tidak punya uang Euro seperti yang dikehendakinya. Ia menoleh uang tersebut sesaat, dan mengiyakan bahwa uang itu tidak bisa ia gunakan. Aku dan mbak Dewi bingung dengan orang tersebut, yang terus-terusan berdiri di hadapan kami. Orang-orang yang ada pada waktu itu seolah tak perduli. Padahal kami tepat duduk di depan antrian pengunjung.

Pengemis berbadan sehat tersebut akhirnya meninggalkan kami juga. Namun, ia kemudian menghampiri tempat pemesanan. Ia meminta pada pekerja di sana. Tidak satupun petugas keamanan yang ada di sana. Tapi setelah beberapa saat, ada tiga orang keamanan stasiun yang berseragam lengkap memasuki McCafe.

Kommentare
  1. Robby sagt:

    nice,,

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s