Mahar: Orang Frankfurt yang aneh

Veröffentlicht: Februar 1, 2010 in Momen

Salju turun seperti air hujan pada malam ini. Cukup deras sekali. Kami tiba di stasiun utama kota Frankfurt am Main seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, meskipun Sabrina mengaku mengalami kesulitan mencarinya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan setelah menghantarkanku hingga stasiun. Sebelumnya pada siang hari tadi, ketika aku masih di Freiburg, aku menghubungi salah satu teman kantorku yang kini ada di Frankfurt. Ibu Dewi Kartika Ardhyani. Tapi aku biasa memanggil dia mbak Dewi. Ia tinggal di Frankfurt untuk tiga minggu sebagai guru pendamping 24 siswa dari Indonesia yang mengikuti kursus musim dingin, sama halnya dengan siswa-siswa di kota Freiburg.

Ia menentukan tempat kami bertemu. Burger King. Tempatnya berada di bagian sebelah kanan stasiun dan mudah ditemukan. Selain dengan dia, temanku yang lain yang telah tinggal hampir dua tahun di kota ini berjanji akan menjemputku begitu aku tiba. Ia bernama Mahar. Tapi kami sebagai teman-temannya biasa memanggil dengan sebutan „Kembu“. Aku kenal dia ketika kami sama-sama dalam kepanitiaan kongres mahasiswa di Bandung. Aku berencana akan tinggal di rumah orang tua angkatnya selama di sini. Ia bekerja sebagai Aupair-Junge. Namun, tidak sama dengan teman-temanku lainnya, dia setiap hari tidak mengurus anak kecil melainkan seekor binatang besar bernama Zodiak. Zodiak adalah seekor anjing.

Begitu sampai aku langsung menuju ke Burger King. Sebelumnya aku mencoba untuk mencari keduanya terlebih dahulu ke dalam stasiun. Stasiun Frankfurt am Main ternyata sangat besar. Oleh karena itu, aku menuju ke Burger King seperti janji semula. Di bawah guyuran salju aku melangkahkan kakiku lagi menuju tempat tersebut. Namun, lagi-lagi setelah aku melihat ke sekeliling ruangan tempat makan cepat saji tersebut tidak ada. Di depan kulihat ada telepon umum yang bisa kugunakan untuk menghubungi keduanya. Tapi ternyata telpon seperti tidak berfungsi dengan baik. Aku coba kembali lagi masuk ke stasiun utama. Saat itu aku mengenakan jaket berwarna biru dan topi cowboy.

„Hey!“, suara itu mengarah padaku. Mbak Dewi ternyata telah menungguku di sana. Nomor telepon seluler Swiss yang aku bawa masih juga tidak berfungsi. Seketika itu juga aku meminjam handphone mbak Dewi untuk menghubungi Mahar. Saat aku coba mengontaknya, ternyata dari tempat duduk di ruang tunggu stasiun tiba-tiba berdiri seorang pria. Aku langsung menghentikan handphone karena tahu itu adalah Mahar.

Sebetulnya aku ingin memberitahukan hal tersebut sebelumnya pada mbak Dewi, namun karena pada saat aku telpon koinku habis, maka tidak jadi. Kami bertiga lalu menuju ke tempat tinggal mbak Dewi menggunakan S-Bahn. Mereka berdua ternyata salah arah. Kami jadinya harus naik turun eskalator di stasiun. Tidak lama kemudian, kami tiba di Wohnung. Di sana sudah ada seorang guru dari Vietnam. Dia sedang menonton acara televisi ketika kami datang. Kami kemudian berkenalan satu sama lain.

Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Kami harus sesegera mungkin pulang. Tas ranselku serta barang bawaan lain aku tinggalkan di rumah ini. Mahar dan aku bergegas karena cuaca di luar sangat dingin. Cuaca di kota Frankfurt belakangan ini memang sangat tidak bersahabat. Seminggu sebelum hari Natal malah cuaca di kota ini hingga mencapai -20°C. Banyak penerbangan dari dan ke bandara terbesar kedua di dunia ini yang terpaksa harus dibatalkan.

Dari Wohnung tersebut kami berjalan hingga halte bis terdekat ke arah Südbahhof. Namun, Mahar tidak yakin kalau itu adalah halte bis ke arah rumahnya. Oleh karena itu, kami menyebrangi jalan menuju halte di seberang. Akan tetapi di sana tidak ada bis dengan nomor yang akan kami tumpangi. Kami kemudian menyebrangi jalan lainnya dan mencoba mendekati seorang perempuan yang tengah berjalan. Namun, perempuan tadi berjalan tampak semakin cepat dan meninggalkan kami. Kami akhirnya sampai di halte pertama tempat kami menunggu bis sebelumnya. Aku melihat arah panah menuju ke Südbahnhof. Ternyata arahnya sudah benar. Itu sebetulnya halte yang benar. Namun bis tidak juga datang. Maka kami putuskan untuk berjalan kaki saja. Sepanjang jalan kami tertawa mengingat kejadian tadi. Kami harus mengelilingi perempatan tersebut di tengah malam hari saat cuaca sangat dingin.

Setelah sekitar 30 menit perjalanan kami tiba di rumah Mahar tinggal. Wohnungnya cukup besar. Di sini tinggal empat kepala keluarga. Ayah angkatnya berprofesi sebagai pegawai bank, sementara ibunya bekerja freelance sebagai desain interior. Di rumah ini sudah sangat banyak sekali orang Indonesia yang mampir. Mereka biasanya harus transit semalam di Frankfurt untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Seperti halnya mantan dosenku. Ia mampir ke rumah ini untuk melanjutkan perjalanan ke kota Paris. Ia diberi saran oleh salah satu adik kelasku di kampus. Masih banyak lagi yang lainnya. Sehingga mahar menyebut rumah tersebut dengan rumah singgah.

Kamar dia terletak di lantai bawah (partere). Di ruangan depannya terletak sebuah ruang kerja dan sudah menunggu di sana Zodiak. Aku adalah orang yang tidak suka terhadap binatang-binatang piaraan, termasuk kucing sekalipun. Apalagi yang ada di depanku ini adalah seekor anjing, dan besar pula. Aku betul-betul `takut`. Namun, Mahar mengajaknya bicara ketika aku hendak memasuki kamar.

Karena kelelahan maka kami tidur pulas. Esok hari kami akan ke rumah mbak Dewi dan bertemu di sana. Pagi sekali Mahar telah bangun. Dia lalu keluar karena hendak bertemu ayah angkatnya. Tiba-tiba aku ingin ke toilet, tapi untungnya Mahar tidak lama kemudian datang. Zodiak seperti kedatangan kami sebelumnya ada di ruang kerja. Dia tertidur di sana. Mahar kembali menjaganya. Aku lalu masuk toilet. Beberapa menit kemudian aku keluar dari toilet dan melihat Zodiak tepat berada di depan pintu kamar. Sementara Mahar berada di dalam kamar dengan pintu tertutup rapat. Aku berusaha memanggilnya, tapi barangkali ia tidak mendengarnya. Atau aku pikir dia sepertinya tidur lagi.

Hampir 30 menit aku terkurung di ruang toilet, karena beberapa kali aku keluar Zodiak masih juga berada di depan pintu tidak beranjak sama sekali. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Untuk keluar rumah dan memanggil Mahar dari jendela di luar rumah sangat tidak mungkin, karena salju sangat tebal.

Tidak lama kemudian Zodiak menggonggong dengan keras. Aku semakin takut dengan gonggongan tersebut dan mengira itu menuju ke arahku. Zodiak setelah tidak lama kemudian menuju ruangan atas, tempat orang tua Mahar berada. Maka aku pun bisa kembali ke kamar. Aku menceritakan kejadian tadi pada Mahar. Ia mengira kalau Zodiak sudah di bawa keluar oleh ibu asuhnya, karena hari ini dia libur bekerja dan bagian ibunya yang harus membawa dia jalan-jalan selama setengah jam.

Setelah semuanya siap, Mahar kemudian menelpon mbak Dewi. Kami akan tiba di Wohnungnya sekitar sepuluh menit dari sekarang. Baik Mahar ataupun aku tidak punya pulsa pada ponsel kami masing-masing. Setelah jalan cukup lama, maka kami akhirnya menemukan Wohnung tersebut. Masalah lain tapi muncul, kami tidak tahu siapa yang harus kami hubungi atau siapa nama pemilik Wohnung tersebut. Kemarin malam kami tidak memperhatikan hal itu. Akhirnya kami mencari telpon umum terdekat. Sekitar 5 menit dari Wohnung tersebut di depan toko roti ada telpon umum. Dari sana kami menghubungi mbak Dewi. Akhirnya kami tiba juga setelah hamper satu jam.

Mahar memang tetap aneh seperti yang kukenal dulu.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s