Kunjungan ke rumah Eyang Goethe

Veröffentlicht: Januar 29, 2010 in Ekskursi

Lebih dari satu jam aku harus menunggu hingga pukul 18.00. Sabrina memberitahuku, bahwa dia datang dengan mobil berplat nomor FR BH. Sebelumnya aku mencoba mencari kalau-kalau dia telah datang lebih awal dari waktu yang telah kami sepakati sebelumnya. Ia katanya akan parkir di seberang Volksbank. Di luar sttasiun udara sangat dingin sekali dan turun salju. Tas ranselku masih belum aku ambil di dalam Schließfach. Tas tersebut aku masukkan sebelum pergi ke Titisee, dan aku harus memasukkan uang sebesar 4 Euro dan bisa berlaku 24 jam.

Tidak lama lagi aku akan pergi ke Frankfurt am Main. Lagi-lagi menumpang mobil orang. Di seberang Volksbank memang berderet taxi yang dapat menghantar kita kemana saja di kota Freiburg. Aku melihat ada seorang wanita di antara deretan taxi-taxi tersebut. Ia membawa banyak barang belanjaan sepertinya dan membawa ransel sepertiku. Aku pikir pasti ini adalah salah satu penumpang juga. Aku mendekati wanita tersebut, namun tidak mengajaknya bicara karena takut-takut dia hanya menunggu jemputan. Tepat pukul 18.00 mobil berplat nomor FR BH mmeluncur di hadapan kami.

“Hallo! Du bist Iwa, gell?”, sapa perempuan yang baru saja keluar dari dalam mobil. Parasnya cantik mirip bintang model Indonesia Bianca Adinegoro. Ternyata perempuan tadi yang menunggu di pinggir jalan tersebut adallah penumpang lain selain aku. Kami bertiga akan melakukan perjalanan menuju Frankfurt. Sabrina rupanya banyak membawa barang di dalam bagasi. Tapi untungnya ranselku masih bisa masuk.

Aku memperkirakan kami akan tiba di Frankfurt pukul 20.00. Namun, ternyata aku salah. Menurut GPS, kami baru akan tiba di sana sekitar pukul 20.50. Aku lalu benar-benar bingung, karena aku janjian dengan dua orang teman yang akan menjemputku di sana pukul 20.00, sementara handphone yang aku bawa juga sudah tidak berisi pulsa lagi karena roaming. Nomor Swiss bila digunakan di luar negeri seperti Jerman atau Austria, maka cepat sekali habis pulsanya. Tapi aku berusaha tetap tenang, mudah-mudahan kami bisa tiba di sana kurang dari jam tersebut, harapku.

Sabrina bekerja di Frankfurt pada perusahaan periklanan, sementara Tatjana, wanita yang duduk di sebelahnya adalah seorang guru Bahasa Inggris merangkap guru BP di salah satu Realschule. Tatjana baru saja melepas masa lajangnya seminggu yang lalu. Mereka berdua terlihat sangat akrab dari pembicaraan yang aku dengarkan. Ternyata, Tatjana adalah salah satu teman dari pacarnya Sabrina. Ia pergi ke Freiburg pada jumat lalu, juga bersama-sama Sabrina. Dari situ mereka pertama kali berkenalan.

Sepanjang jalan hujan salju turun. Sabrina betul-betul hati-hati membawa mobil. Jalanan sepanjang jalan menuju ke Frankfurt lumayan padat malam itu. Sementara mereka berdua berbicara satu sama lainnya, aku hanya diam dan mendengarkan lagu-lagu yang dipasang oleh Sabrina di tape mobil. Lagu-lagu seperti dari Black eyed peas, Pink, Xavier Naidoo, Ich+Ich, dan masih banyak lagi menemani kami sepanjang perjalanan.

Sabrina awalnya hanya bisa menghantarkanku hingga sebuah halte tram saja, dari sana aku bisa ke Hauptbahnhof sendiri katanya, karena hanya dua halte saja. Dia tidak begitu kenal kota ini dengan baik. Namun, GPS membantunya mencari di mana Hauptbahnhof berada. Sampailah kami di parkiran stasiun pusat Frankfurt. Aku turun dari mobil dan menepi. Aku hanya harus membayar 17 Euro dari Freiburg ke Frankfurt. Padahal, kalau menggunakan kereta bisa hingga 29 Euro.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s