Napak Tilas di Freiburg im Breisgau

Veröffentlicht: Januar 28, 2010 in Ekskursi

Kota ini masih tetap seperti sedia kala ketika aku untuk pertama kali menginjakkan kakiku di Eropa beberapa tahun lalu. Indah. Satu kata yang bisa kuucapkan. Tidak terlalu banyak perubahan yang terjadi pada kota ini. Aku masih mengenang kota ini hingga kini sebagai kota di Jerman yang pertama yang kukunjungi. Saat itu, aku diundang oleh Goethe-Institut yang berpusat di kota München untuk mengikuti seminar Bahasa Jerman. Sebetulnya bisa saja aku ketika itu menghadiri seminar di kota lain ketika perhelatan sepak bola terbesar di dunia sedang di gelar di Jerman. Namun, takdir menghantarkanku untuk berkenalan dengan kota ini. Aku berada di sini ketika piala dunia 2006 telah berakhir, bersama-sama dengan puluhan guru Bahasa Jerman dari berbagai negara di dunia. Seminar tersebut mengangkat tema Bahasa Jerman untuk pariwisata dan ekonomi. Tidak begitu lama seminar tersebut berlangsung, hanya dua minggu lamanya.

Sebulan yang lalu, aku mendapatkan email dari beberapa siswa di Bandung yang isinya mereka kemungkinan besar akan dikirim ke Freiburg im Breisgau untuk mengikuti kursus musim dingin selama tiga minggu. Mereka berhasil menyisihkan siswa-siswa lainnya pada saat ujian Bahasa Jerman di Bandung. Oleh sebab itu, aku berencana untuk mengunjungi mereka pada saat berada di kota tersebut. Hitung-hitung kembali bernostalgia dengan kota yang menyimpan sejuta keindahan ini. Maka akupun sibuk untuk mencari kemungkinan menginap selama aku berada di sana. Salah satu mahasiswiku di Konstanz memberitahukan, bahwa dia punya kenalan seorang dosen Bahasa Indonesia yang mengajar di Universitas Freiburg. Singkat cerita aku bisa menginap di rumah beliau.

Kamis malam aku menerima telepon dari Mariela, gadis yang baru aku kenal lewat web site Mitfahrtgelegenheit. Web site tersebut memungkinkan orang-orang di Eropa untuk bepergian dengan cara menumpang mobil orang lain dan membayar ongkos jauh lebih murah dibandingkan angkutan publik. Mariela dengan aksen Spanyol namun berbicara Bahasa Jerman berkata padaku di telepon, bahwa kami akan bertemu pada hari sabtu pagi sekitar jam 09.30 di Länggasse. Dia juga salah satu penumpang pada mobil tersebut dan tahu informasi tersebut dari Armand. Cukup efektif dan membantu perjalan dengan Mitfahrt ini. Karena ongkos yang seharusnya CHF 43, kini hanya perlu aku bayar CHF 9.

Pukul 08.47 aku pergi dari asrama tempat tinggalku menuju ke stasiun. Dari sana aku melanjutkan perjalanan dengan bis sekitar 7 menit menuju terminal akhir bis bernomor 12. Masih sangat banyak waktuku hingga pukul 09.30. Seperti biasa ketika punya janji dengan orang lain, maka aku berusaha untuk datang lebih awal dari mereka.

Jam 09.30 tepat seperti yang dijanjikan mobil fiat punto  berwarna biru berjalan di hadapanku. Dari mobil tersebut keluar Armand Yerly, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota Laussane jurusan fotografi, yang membawa mobil tersebut. Dia datang berdua dengan Anna yang tinggal di kota Fribourg. Armand kemudian menyapaku „Hallo, bist du Gregor?“, kemudian aku menjawab „Nein, ich bin Iwa.“  Gregor adalah seorang ahli proyektor untuk bioskop.

Kami merasa heran, karena Mariela belum terlihat juga hingga saat ini. Padahal menurut pengakuan Armand, dia adalah orang pertama yang mendaftar. Akhirnya dia datang juga dengan membawa tas ransel besar, padahal mobil yang kami tumpangi tersebut sudah sangat dipenuhi dengan barang-barang bawaan. Mobil sekecil itu harus dapat membawa 5 penumpang dan barang-barang kami. Tanpa banyak kata, kami pun pergi meninggalkan kota Bern menuju Freiburg di Jerman dengan bantuan navigasi GPS.

Armand sebelumnya meminta maaf karena kondisi seperti ini. Ia terpaksa melakukannya, karena aku, Mariela, dan Anna hanya akan pergi menuju kota Freiburg. Sementara itu, dia akan pergi dengan tujuan akhir Berlin. Meskipun terlihat kecil, di dalam mobil aku merasa nyaman. Aku duduk  di belakang di antara Gregor dan Anna.

Gregor seperti halnya Armand akan pergi ke Berlin untuk lima minggu lamanya. Sebagai seorang proyektornis, dia akan bekerja di sana pada acara Festival Film Berlin atau Berliner Bär. Dia terpaksa harus duduk di ujung karena harus memegangi gitarnya.

Mobil melaju dengan kecepatan maksimum 120 km/jam di jalan tol menuju arah kota Freiburg. Sepanjang jalan yang dilewati, aku menghitung kira-kira ada 3 terowongan yang dilalui. Terowongan-terowongan tersebut sangat panjang. Mungkin karena hari ini sabtu, jalanan pun agak padat. Banyak kendaraan yang juga menuju ke Jerman. Di tengah perjalanan, kami berhenti sesaat untuk beristirahat. Kurang dari dua jam kami telah tiba di kota Freiburg im Breisgau.

Sehari sebelumnya aku sudah memberitahukan kedatanganku di kota Freiburg ini pada Ibu Nirina. Namun, karena satu dan lain hal maka aku harus menunggu beliau di stasiun beberapa saat. Ibu Nirina datang ditemani suami beserta seorang anak lelakinya yang masih duduk di bangku SD kelas 4. Suaminya betul-betul sangat fasih berbicara Bahasa Indonesia. Beliau dulu pernah tinggal lama di Indonesia untuk keperluan penelitian mengenai gunung merapi dan gempa bumi. Sementara kami bertiga pergi berjalan-jalan menuju kota, Rudolf, suami Ibu Nirina pergi kembali bekerja ke kantor dan menyarankanku untuk menitipkan barang-barangku di mobilnya.

Kami berjalan kaki hingga ke pusat keramaian kota yang letaknya tidaklah jauh. Di sebuah restoran Vietnam kami makan siang terlebih dahulu. Letak restoran tepat berada di jalan Kartäuserstrasse. Ketiga siswa yang akan aku kunjungi di Freiburg ini kebetulan juga tinggal di Kartäuserstrasse.Nama restorannya adalah Reisgarten. Makanan yang disajikan pun lumayan menggugah selera dan berporsi sangat besar. Harga makan serta minumannya tidaklah begitu mahal.

Cukup lama kami makan di sana, hingga pelayan memberitahukan dengan sopan kalau mereka akan segera tutup. Maka Ibu Nirina segera membayar semua makanan tersebut, dengan alasan karena aku tamunya. Keluar dari restoran, kami memutuskan mencari alamat tinggal siswa di Kartäuserstrasse. Aku lihat pada catatan di handphone mereka tinggal di nomor 15, berarti sangat dekat dengan letak restoran. Kami kemudian menuju ke tempat tersebut. Namun, ternyata itu hanyalah flat biasa. Setelah aku lihat untuk kedua kalinya, ternyata bukan nomor 15 melainkan nomor 151.

Mau tidak mau kami terus mencarinya, melihat nomor satu persatu. Butuh waktu lama hingga kami dapat menemukannya. Kami telah berjalan kurang lebih 4 km melewati banyak blok perumahan, tetapi belum juga menemukannya. Sangatlah aneh, jika kami tidak berhasil menemukannya. Kami berjalan sudah sangat jauh meninggalkan kota melewati hutan, sungai, serta bendungan. Di tengah perjalanan Ibu Nirina bertanya pada seorang wanita tua yang membawa sepeda « Entschuldigung, darf ich etwas fragen ? Wissen Sie, wo ist hier Jugendherberge ? ». Wanita tersebut menjawab masih agak jauh, tepatnya di balik bukit. Meskipun demikian, ia merasa tidak yakin apakah itu penginapan remaja yang dimaksud atau bukan.

Dengan terpaksa kami melanjutkan perjalanan. Henry, putera Ibu Nirina, terus-menerus bertanya kapan kami tiba di tempat tersebut. Dari kejauhan kami melihat ada gedung besar dan sedikit terpencil dan satu-satunya gedung di sana. Ternyata benar, itu adalah tempat menginap 24 siswa Indonesia yang mengikuti program kursus di kota Freiburg. Letak hostel tersebut berhadap-hadapan dengan stadion FC Basel terhalang oleh jalan, lapangan rumput yang sangat besar serta sungai.

Dengan perasaan senang, kami langsung masuk ke dalam penginapan tersebut. Ada dua orang laki-laki di bagian resepsionis yang menyambut kami. Sayangnya ketika itu, semua peserta kursus sedang melakukan perjalanan ke Schauinsland dan baru tiba pukul 17.45 saat makan malam. Kami meninggalkan tempat tersebut dengan berbekal peta yang diberi oleh salah satu petugas resepsionis. Sebetulnya kami bisa naik tram dari kota, karena memang jaraknya sangat jauh. Namun, apa boleh buat, ketika itu kami tidak tahu sejauh itu, lagi pula tram menuju ke sana berada di jalan berbeda. Kami harus melalui lapangan, sungai, menyeberangi jembatan, melewati stadion serta kompleks olahraga sebelumnya.

Kami naik tram berbalik arah menuju kota. Kebetulan pada pukul 18.00, Ibu Nirina sudah ada janji di Institut dengan beberapa mahasiswanya. Namun jam masih menunjukkan kurang dari pukul 17.00. Kami kemudian mencari tempat untuk bersantai meminum kopi. Di Markthalle kami berhenti sejenak. Di sini, kita bisa menemui berbagai makanan dan minuman dari berbagai negara, seperti Mexiko, Brasil, China, Jepang, Arab, Turki dan masih banyak lagi.

Di depan Institut sudah menunggu beberapa mahasiswi. Kami kemudian masuk bersama-sama ke dalam gedung kampus. Di sana juga telah menunggu seorang perempuan bernama Ibu Euis dari Bandung yang telah 28 tahun tinggal di Freiburg. Hari ini adalah pertemuan kedua untuk berlatih angklung. Para mahasiswa tersebut adalah mahasiswa jurusan Etnologi yang belajar Bahasa Indonesia dan mempersiapkan pertunukkan angklung untuk acara perpisahan salah satu profesor yang telah pensiun. Ada tiga lagu yang dilatih waktu itu, yaitu lagu Burung Kakatua, Nyiur Hijau, serta lagu Jerman Alle Vögel sind schon da.

Ibu Euis memimpin kelompok tersebut. Karena salah satu dari mahasiswa tersebut tidak bisa hadir pada hari ini, maka akupun memainkan salah satu instrumen. Mereka  cukup antusias berlatih. Latihan jeda sesaat untuk makan malam. Menu pada malam itu adalah gado-gado buatan Ibu Nirina. Semua terlihat makan dengan lahap. Setelah selesai makan, kami melanjutkan berlatih hingga pukul 21.00.

Dari institut kami menuju ke rumah Ibu Nirina dijemput oleh Rudolf. Tiba di sana sekitar pukul 22.30. Ibu Nirina memiliki dua puteri serta satu anak laki-laki. Yang paling besar, Katharina, kini sedang menempuh kuliah di jurusan kedokteran Uni Freiburg. Ia sedang dalam masalah besar, karena ia mendapatkan beasiswa dari negara bagian yaitu Baden Würtemberg, setelah menyisihkan ratusan mahasiswa lainnya. Namun, ia harus mencari sendiri universitas di Inggris. Sementara kemungkinan lainnya adalah di Amerika. Ia harus secepat mungkin menentukan pilihan. Ciri khas orang pintar yang beruntung, selalu dihadapkan dengan pilihan yang menurut kita dua-duanya sangat baik.

Ketika tsunami di Nias dan Sumatera Utara, Katharina menjadi relawan di sana membantu medis Indonesia di pulau terpencil. Ia juga selain berencana mengambil kuliah di Amerika atau Inggris selama setahun tersebut, ingin ke Afrika. Diskusi sangat alot antara ayah, ibu, dan Katharina pada malam tersebut. Hingga akhirnya mereka berpisah satu sama lainnya karena belum menemukan solusi terbaik.

Pada pagi harinya setelah sarapan, aku dan Ibu Nirina pergi sekali lagi menuju ke penginapan siswa-siswa Indonesia di Kartäuserstrasse. Tiba di sana kami disambut oleh beberapa siswa. Kami sangat senang sekali karena bisa bertemu. Namun, kami tidak bisa berlama-lama karena pada siang hari setelah makan siang mereka akan menuju ke sebuah desa yang bernama Hochdorf. Di sana ada perayaan karnaval atau Fastnacht. Namun, karena letaknya yang jauh dan aku juga sudah ada janji dengan orang yang akan pergi ke Frankfurt am Main, maka kami berpisah di tram.

« Sabrina Schwab », suara perempuan di telepon tersebut. Ia adalah orang yang hendak ke Frankfurt dan aku menumpang pada mobilnya sekitar 2 jam lagi. Namun, ternyata dia mengubah jam keberangkatan menjadi pukul 18.00, satu jam lebih telat dari yang dijanjikan. Mengingat waktuku masih 3-4 jam, maka aku dan Ibu Nirina memutuskan ke Titisee yang terletak di Schwarzwald. Dengan kereta, waktu yang diperlukan menuju tempat tersebut cukup satu jam saja.

Di musim panas danau ini berwarna hijau dan sangat indah sekali. Namun, pada musim dingin seperti sekarang danau yang luas ini hanya menampakkan permukaan yang dilapisi es saja. Maskipun demikian, masih banyak juga pengunjung yang datang. Oleh-oleh khas dari sini adalah Kuckucksuhr. Setellah puas melihat-lihat cindera mata dan membelinya, maka kami kembali lagi ke stasiun. Untungnya Ibu Nirina memiliki Regiokarte yang bisa digunakan untuk berdua pada akhir pekan. Jadi, aku tidak perlu membeli tiket seharian tersebut.

Di stasiun kami berpisah. Aku mengucapkan terimakasih pada beliau karena sudah mau menerimaku di rumnya untuk menginap serta menemaniku seharian di Freiburg.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s