Vienna City Tour

Veröffentlicht: Dezember 29, 2009 in Ekskursi

Stephansdom, Vienna

Stephansdom, Vienna

Pagi hari di kala orang-orang hendak pergi ke gereja untuk beribadah di hari natal ini, aku dan temanku juga sudah menuju Stephansdom. Di sana suasana sangat meriah. Tidak hanya orang-orang yang merayakan hari natal, melainkan turis-turis asing yang datang dari seluruh belahan bumi.

Stephansdom merupakan identitas bagi kota Wina. Bangunannya sangat megah dan terletak di tengah kota. Banyak pria-pria yang mengenakan pakaian berjubah merah pada hari itu. Ternyata mereka adalah penjual ticket untuk konser orkestra pada hari natal dan tahun baru. Harganya mulai dari 39 Euro. Namun aku tidak begitu tertarik, karena ingin menghabiskan waktu di kota ini dengan kegiatan lain.

Pagi di hari Natal di Vienna

Pagi di hari Natal di Vienna

Dari Stephansdom kami menuju ke Hofburg, tempat ini sekarang dijadikan tempat pemerintahan. Aku lihat di sini pun pengunjung tidak kalah banyak. Aku lihat ada dua orang yang berbicara bahasa Indonesia sedang mengambil gambar mereka. Kami berkenalan dan mereka adalah pegawai Telkom yang sedang dikirim untuk studi di Belanda. Tidak hanya itu, kamipun menemukan keluarga Indonesia lain yang sedang wisata di sini dari jakarta. Ternyata dominasi Jepang dan Cina memang betul dalam hal pariwisata sekarang ini, meskipun sebagian kecil orang-orang Indonesia yang melancong ke luar negeri kadang aku jumpai juga. Kami kemudian pergi sekali lagi ke gedung parlemen Wina yang letaknya tidak begitu jauh dengan Rathaus.

Tempat-tempat menarik satu-persatu aku kunjungi. Tak lupa Schloss Belvedere yang indah ketika musim semi, karena banyak ditumbuhi bunga-bunga indah ditambah luas lahan puri ini yang begitu besar.  Cuaca di sini memang tidak begitu bagus, namun juga tidak terlalu jelek. Angin memang di kota Wina ini sering berhembus dengan kencang. Sesuai dengan nama kota ini di dalam bahasa Jerman „Wien“. Menurut cerita, itu memang ada hubungannya dengan „Wind“ atau angin.

Tidak lama kemudian, kami menuju ke tempat hiburan yang sangat terkenal dan menjadi kebanggaan kota Wina, Prater. Di Jakarta, tempat ini serupa dengan Dufan. Riesenrad yang begitu tersohor membuatku ingin mencobanya. Berbeda dengan Dufan, di sini pengunjung dapat dengan bebas memasuki kawasan Prater tanpa membayar ticket masuk. Namun, kita diharuskan membayar jika kita ingin menaiki sebuah wahana. Hari ini mungkin karena berbarengan dengan natal, pengunjung tidak membludak. Aku dan temanku beserta tiga orang lainnya memasuki Riesenrad yang seukuran mobil kijang. Dari atas Riesenrad ini, kami dapat melihat pemandangan kota dengan cukup jelas. Namun, kalau aku boleh jujur Prater tidaklah lebih bagus dibandingkan dengan Dufan. Malahan sebaliknya, Dufan menurutku lebih bagus.

Ketika kami telah puas di Prater, kami kemudian menuju ke sebuah tempat makan. Kebetulan temanku yang dari Bandung beberapa saat yang lalu berulang tahun, maka kami meminta dia untuk mentraktir kami makan siang. Hujan agak lebat ketika itu. Tiba kami bertiga di tempat makan, ternyata hari ini tidak ada buffet karena hari natal. Kami memutuskan pergi ke tempat lain. Nama tempatnya adalah Mai Kai. Kita bisa makan sepuasnya di sini seharga 5,8 Euro, tapi belum termasuk minum. Makan siang yang sudah terlambatpun kami mulai. Menunya mulai dari salad, sup, masakan India, Cina, kue-kue, dan masih banyak lagi.

Di tempat ini, kebanyakan pengunjung adalah orang-orang asing. Mereka tinggal di kota Wina. Aku juga merasa sedikit heran, karena di kota ini di pusat-pusat keramaian seperti di dalam U-Bahn, di pertokoan, restoran, dan tempat lainnya yang kutemui orang-orang asing. Memang ternyata kota Wina ini 70% penduduknya adalah orang asing yang menetap. Sementara sisanya baru penduduk setempat.

Tour untuk hari ini kami sudahi sampai di situ. Namun, aku dibawa pergi mengunjungi salah satu sahabat mereka berdua yang berasal dari Medan. Ia menikah dengan perempuan Austria, namun sekarang telah berpisah.

Im Stadtszentrum, Wien

Im Stadtszentrum, Wien

Schwarzfahrer

Sedikit intermezzo: Contoh yang sebetulnya tidak patut untuk ditiru adalah beberapa kali aku menggunakan kendaraan seperti U-Bahn ataupun Strassenbahn tanpa menggunakan tiket atau yang biasa dikenal dengan penumpang gelap (Schwarzfahrer). Selama aku di Wina, petugas yang biasa mengontrol tiket ini tak pernah kutemui. Namun, bagaimanapun juga perasaan ini sangat tidak aman khawatir kalau-kalau petugas tersebut  bertanya tiket padaku. sebetulnya aku punya 8-Tageskarte yaitu tiket harian untuk selama 8 hari seharga 28,5 Euro, namun karena aku menggunakannya hanya untuk satu atau dua stasiun saja, maka tiket aku simpan saja tanpa distempel. Beruntung selama itu, karena kalau ketahuan maka kita harus membayar denda sebesar 70 Euro.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s