Christkind

Veröffentlicht: Dezember 29, 2009 in Momen

Perjalananku dari Zürich menuju Wina harus kuhabiskan di kereta selama 9 Jam lebih. Pemandangan selama di perjalanan tidak begitu istimewa, berbeda ketika aku bepergian di dalam negara Swiss. Hampir-hampir aku selalu terheran-heran dengan indahnya pemandangan selama di perjalanan. Ditambah pula kereta Austria (ÖBB)  yang aku tumpangi tidak jauh berbeda dengan kereta Mutiara Selatan yang biasa menghantarku dari Bandung ke Surabaya, tidak sebagus kereta-kereta api Swiss (SBB) ataupun Jerman (DB). Selama itu juga aku habiskan waktuku untuk membaca buku yang aku bawa, judulnya adalah „Menyusuri lorong-lorong dunia“ yang ditulis oleh Sigit Susanto. Buku ini berkisah tentang pengalaman penulis yang melakukan kunjungan ke berbagai negara. Buku ini aku pinjam langsung dari penulis, ketika beberapa waktu sebelumnya bertemu di St. Gallen, pada saat ulang tahun Indonesia Swiss Club.

Tidak terasa waktu cepat berlalu. 9 Jam telah kulalui di kereta. Kereta terlambat 20 menit pada saat tiba di Wien Südbahnhof. Temanku menjemput di stasiun tersebut. Dari sana kami langsung pergi ke rumah keluarga angkat temanku. Kota Wina begitu ramai ketika itu. Hanya beberapa stasiun saja dari sana menuju ke rumah. Ketika hampir tiba, di depan rumah, ayah angkat temanku juga kebetulan menuju ke rumah. Kami berkenalan di sana. Thomas adalah seorang arsitek muda. Usianya sekitar 34 tahun.

Masuk ke dalam rumah, kami disambut oleh Lilly, istri Thomas. Ia adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di kota Wina. Di sana juga ada Brigitta, ibu Lilly, yang akan sama-sama merayakan natal di rumah mereka berdua. Tidak ketinggalan dua anak mereka, Ludwig yang berusia 4 tahun dan Anton yang baru berusia 1,5 tahun. Mereka sangat ramah sekali menerima kedatanganku. Tapi aku tidak berlama-lama di sana.

Beberapa saat kemudian, kami berkemas untuk pergi ke kantor Thomas di pusat kota. Awalnya memang temanku dijanjikan diberikan wohnung. Tetapi sayangnya wohnung tersebut belum selesai, masih perlu renovasi. Oleh karena itulah, aku harus menginap di kantor Thomas biasa bekerja. Kami seperti yang akan pindahan rumah, membawa berbagai peralatan tidur seperti bantal, kasur, dan lain-lain. Temanku juga diberi uang belanja untukku selama di sana 40 Euro.

Mobil yang dibawa Thomas melaju ke arah kantor. Kedua anaknya ikut serta menghantarku. Kantornya sangat besar. Aku menginap di lantai dua kantor tersebut. Di sana juga dilengkapi dapur, sehingga aku bisa memasak apa saja. Tidak lupa Thomas menyiapkan internet untuk kami. Setelah semua selesai, mereka kembali ke rumah dan  memintaku datang esok hari.

Tempat semuanya sudah tertata dengan rapi. Kebetulan sampai tanggal 24 Desember di depan Rathaus ada Christkindlmarkt atau Pasar Natal, seperti halnya di kota-kota lain yang pernah aku kunjungi. Aku dan temanku langsung bergegas menuju ke sana. Salah satu temanku juga dihubungi oleh temanku. Ia juga kuliah di tempat yang sama dulu di Bandung. Sementara teman yang satu adalah lagi teman dari Yogya.

Kami semua bertemu di depan Rathaus. Kota Wina memang sangat indah, dari kesan pertama yang aku dapatkan. Koatnya pun sangat besar dan begitu hidup.

24 Desember 2009, pukul 16.30

Aku dan temanku sudah datang ke rumah Lilly dan Thom pukul 16.30. Di sana Lilly telah tampak mengenakan pakaian rapi dan terlihat cantik. Ia waktu itu mengenakan blus berwarna merah bermotif tulisan Cina. Sementara Brigitta memakai baju serba hitam dan masih terlihat elegan. Thom tidak lama berselang keluar dari kamar dan mengenakan stelan jas. Mereka telah siap merayakan malam natal. Ada yang hilang di sini. Kedua anak mereka ternyata sedang dibawa jalan-jalan oleh ibu Thom di kota.

Kami membenahi pohon cemara dengan ornamen seperti lilin, cokelat, dan hiasan lainnya. Tepat pukul 17.00 si kecil Anton dan Ludwig telah datang. Mereka diberitahu kalau Christkind, sebutan untuk Santa Klaus di Austria, pasti memberi berbagai hadiah untuk mereka. Dari bawah suara mereka telah terdengar. Namun, beberapa saat Thom coba untuk mencegat mereka agar tidak naik dulu ke rumah karena kami masih mempersiapkan lilin. Semua sudah selesai, lonceng kecil dibunyikan tanda mereka sudah bisa menaiki tangga rumah. Ludwig langsung berlari kegirangan. Ia melihat banyak sekali hadiah yang ada di rumahnya. Begitupun Anton. Mereka membuka satu-persatu kado-kado tersebut. Isinya berbagai macam. Mulai dari buku bacaan, sarung tangan serta helm untuk ski, mainan bongkar pasan, robot, hingga pakaian serta motor dan mobil mainan. Semua orang dewasa di sana ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua anak tadi.

Temanku selalu salah ucap, kalau hadiah yang sengaja ia berikan darinya itu memang dari dia, dan dia menyuruh membuka kado darinya itu. Padahal kedua orangtua anak tersebut menyebutkan itu semua dari Christkind. Maka, terkadang Ludwig yang sudah lebih besar memprotesnya kalau itu semua dari Christkind. Disela-sela kebahagiaan Ludwig itu, Lilly memberitahukan pesan dari Christkind untuk Ludwig. Ia boleh memiliki itu semua dengan syarat semua mainan lamanya harus diberikan pada anak-anak miskin. Memang ia ingin memberikan mainan lama anak-anaknya itu  untuk dikirim ke Indonesia.

Tidak hanya anak-anak saja yang mendapatkan hadiah. Di antara mereka pun ada kebahagiaan karena masing-masing mendapat kado dari yang lainnya. Yang paling membuatku terkejut ketika ibunya Thom membuka kado. Ia mendapatkan sebuah laptop dari anaknya tersebut. Kontan ia bergembira seketika itu juga. Padahal temanku yang berharap mendapatkan hadiah itu untuk dirinya. Namun, ia juga mendapat hadiah natal dari mereka. Sebuah syal yang didisain oleh kakaknya Lilly serta sejumlah uang.

Ketika tukar-menukar kado telah selesai, kami langsung ke ruang makan untuk makan malam bersama. Menu pembuka malam ini adalah roti toast yang diberi ikan salmon di atasnya. Agak lama kami menunggu masakan menu utama, karena setelah kami selesai Lilly dan ibunya baru mempersiapkan menu tersebut. Brustente. Steak dari daging bebek tersebut merupakan salah satu masakan khas di hari natal bagi mereka. Aku betul-betul makan banyak di malam itu.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s