No Kangaroos in Austria

Veröffentlicht: Dezember 28, 2009 in Ekskursi

Minggu terakhir di semester pertama ini betul-betul aku lewati dengan sangat berat. Bagaimana tidak, ujian beberapa matakuliah harus aku jalani, presentasi pada matakuliah lain, mengganti perkuliahan hingga jam 8 malam karena professornya tempo hari tidak bisa datang, dan segudang tugas lainnya. Tapi besok aku sudah dapat melewati itu semua. Pagi di hari Jumat ini aku sudah ada di perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku yang aku pinjam, dan meminjam buku lainnya untuk membuat makalah pada saat liburan nanti. Kemudian aku melangkahkan kakiku ke sebuah tempat untuk keperluanku memesan ticket untuk kepergianku minggu depan. Tiba-tiba saja aku menerima SMS dari temanku di Wina, Austria, bahwa aku diundang keluarga angkatnya makan malam menjelang natal di rumahnya. Selain itu aku juga sudah disiapkan tempat tinggal untuk menginap selama aku berada di Wina.

Ticket yang harus aku bayar untuk perjalanan Bern-Zürich dengan kereta ternyata cukup mahal juga, sekitar CHF 200. Itu mungkin karena aku berangkat menjelang hari natal dan baru kembali setelah tahun baru, jadi harga ticket naik. Rencana pergi ke Wina ini sudah sebetulnya lama, ketika salah satu teman baik kuliahku di Bandung yang akan datang ke kota Dresden untuk mengikuti seminar dari Goethe Institut, ingin agar kami berkumpul di Wina. Sementara temanku yang sekarang berada di Wina, dia sedang kursus bahasa di sana dan tinggal di sebuah kelurga muda Austria dengan dua anak. Kami bertiga kalau boleh dibilang pada saat kuliah dulu adalah tiga terbaik. Satu sama lain bersaing dengan positif. Aku masih ingat ketika harus kursus malam-malam di Goethe Institut Bandung. Setiap akhir semester pasti kami membanding-bandingkan nilai IPK masing-masing. Pun pada saat kedua temanku mendapatkan beasiswa pertukaran mahasiswa dari PH Heidelberg, aku yang terakhir mendapatkan kesempatan pergi ke Jerman denga mengikuti beasiswa dari Goethe Institut. Di tahun ini, kami semua berada di Eropa meski di tiga negara berbeda: Jerman, Austria, dan Swiss. Namun sayang kesempatan untuk kembali berkumpul pupus, karena temanku tersebut harus kembali lagi ke Indonesia setelah seminar di Dresden nanti karena tidak mendapatkan cuti dari tempatnya bekerja.

23 Desember 2009

Kereta yang akan membawaku ke Wina, berangkat dari Bern pukul 07.32. Tentu saja masih sangat pagi pada saat musim dingin seperti sekarang ini. Kereta pertama-tama akan menuju ke Zürich. Hingga sana diperkirakan tiba satu jam berikutnya, kemudian aku harus ganti dengan kereta berikutnya menuju ke Wina. Banyak orang yang juga ternyata bepergian pada hari ini, terutama mahasiswa. Ini merupakan hari-hari terakhir perkuliahan. Di depanku duduk seorang remaja yang tengah berada di bangku kuliah dan hendak menuju Zürich. Pada saat di luar kereta tadi, aku tidak sengaja memperhatikan gerak-gerik anak tersebut. Ia berpenampilan cukup mencolok, tapi sayangnya meludah sembarangan. Kini, ia berada di depanku.  Ia mengeluarkan makanan dan minuman. Tampak seperti meja pada saat lebaran di rumahku, ada kacang goreng, permen, cokelat dan minuman. Tanpa basa-basi ia menyodorkan sebatang cokelat Swiss padaku. „Ini buat kamu, aku tidak begitu suka. Ambil saja!“. Beberapa cokelat berbentuk lainnya, ia juga berikan padaku. Aku salah menilai anak ini, pikirku.

Di perjalanan dia cerita tentang kelompok musik yang bernama Stress. Sayangnya aku baru kali ini mendengar nama kelompok tersebut jadi tidak begitu banyak tahu. Sehari sebelumnya aku diberi dua buah kartu oleh temanku dari India masing-masing seharga CHF 10 yang dapat digunakan di restoran di atas kereta api. Ia memberikan itu karena sayang menurutnya, daripada tidak digunakan, karena ia sendiri akan pergi ke Polandia. Aku gunakan kartu tersebut dan sarapan pagi di restoran di dalam kereta menuju ke Zürich. Baru kali ini aku ada di gerbong restorasi. Aku minum kopi dan makan satu croissant, sementara aku membeli satu buah lagi untuk anak tadi. Semuanya sekitar CHF 7,6. Kemudian, tidak lama berselang aku berikan croissant tersebut pada dia.

Tidak terasa satu jam sangat cepat berlalu. Pada ticket yang kupegang belum dicantumkan pada rel berapa kereta menuju Wina. Anak tadi membimbingku ke arah papan informasi. Dari sana, kami kemudian berpisah.

Bersambung…

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s