Opa Kurt Kläusler

Veröffentlicht: November 9, 2009 in Ekskursi

2Dua akhir pekan ini hanya terlewatkan begitu saja tanpa ada kegiatan hiburan, karena tugas-tugas kampus banyak sekali. Makannya akhir pekan ini aku putuskan untuk pergi ke Basel. Di kota ini ada Opa Kurt yang bisa aku kunjungi, selain itu juga ada Om Felix Stauber. Empat tahun yang lalu Opa Kurt melakukan praktikum selama satu bulan di tempatku mengajar sekarang, yaitu Universitas Negeri Malang. Sebelum berangkat ke Swiss, beberapa temanku di kantor menganjurkan untuk menghubungi beliau setibanya di sana. Sementara Om felix adalah seorang Indonesia yang tinggal selama puluhan tahun di Basel, Swiss. Beberapa kali bertemu beliau di acara pengajian di KBRI, halal bihalal lebaran, dan beberapa acara lainnya. Seperti biasa aku selalu memanfaatkan kenalan-kenalan tersebut.

Jumat sore aku mencoba menghubungi keduanya. Mereka dengan senang hati akan menerima kedatanganku di Basel. Lalu, aku coba melihat-lihat jadwal keberangkatan kereta di internet. Jadwal kereta menuju Basel adalah setiap satu jam sekali dari Bern, dengan tarif CHF 18,50 satu kali berangkat dengan menggunakan Halbtax. Aku ingin betul-betul menikmati akhir pekan kali ini. Oleh karenanya aku mengambil kereta sepagi mungkin, yaitu pukul 09.04. Padahal setiap harinya pukul 08.00 masih gelap di luar rumah. Opa Kurt akan menjemputku di dekat kereta yang aku naiki, begitu dia menjawab pada emailnya.

Kereta yang menuju Basel pada jam-jam tertentu adalah kereta ICE yang akan menempuh route ke beberapa kota Jerman seperti Freiburg im Breisgau, Mannheim, Frankfurt am Main, hingga ke Berlin. Sama halnya dengan aku pertama kali dari Frankfurt menuju Freiburg tiga tahun yang lalu. Waktu yang ditempuh dari Bern hingga ke Basel adalah hanya sekitar 55 menit. Pukul 10.55 aku telah tiba di stasiun Basel. Opa menyambut kedatanganku di pagi hari yang dingin ini. Sebelumnya kami belum pernah bertemu. Hanya cerita dari teman-teman di kantor saja tentang beliau. Kami sudah memanggil „du“ satu sama lain sejak masih di email. Dari stasiun kami berjalan kaki menuju ke rumah beliau yang berjarak 15 menit dengan berjalan kaki. Pagi itu Opa membawa sepeda, tetapi karena kami berdua jadi pada saat pulang sepeda hanya beliau dorong saja. Akupun memberi sedikit oleh-oleh untuk beliau, yaitu beberapa kantong kroepoek, yang sebelumnya aku beli di Migros seharga CHF 1,60.

Di sepanjang perjalanan beliau bercerita bagaimana dulu ketika di Malang. Setelah beberapa saat kemudian, kami tiba di flat tempat Opa tinggal. Beliau tinggal di lantai dua, sementara istrinya di lantai pertama. Pada saat aku datang istrinya masih berada di tempatnya bekerja yang bernama ABC-Darium. Istrinya seorang Jerman, yang sama halnya dengan Opa telah pensiun. Beliau sekarang ini adalah seorang pengajar bahasa Jerman untuk guru-guru yang berasal dari luar negeri, yang harus mengajar di Swiss demi kepentingan murid-murid dari berbagai negara. Ada kurang lebih 34 kursus bahasa berbeda untuk anak-anak tersebut. Kebanyakan adalah negara yang dilanda konflik atau tidak migran yang lama tinggal di Swiss. Sayangnya dari perkawinannya tersebut mereka tidak dikaruniai anak. Anak laki-lakinya adalah anak adopsi berdarah Korea Selatan, yang sekarang menikah dengan seorang Italia.

Tiba di flat dengan harga sewa perbulannya sekitar CHF 1400, aku ditawari minum. Kami pun minum teh hangat bersama. Kemudian, kami pergi berkeliling kota hingga tiba saatnya makan siang.

Kommentare
  1. primardiana sagt:

    Wa, mungkin ksrena sibuk, ceritanya tidak selengkap dulu.
    Dulu tuh gambaran sepanjang perjalanan, pemandangan, tempat yang dikunjungi itu bagaimana, di kereta bagaimana sangat jelas dan rinci, jadi yang baca bisa membayangkan bagaimana perjalanan Iwa, alias ikut merasakan segala suasananya. Nu ieu mah meni garing, kunaon nya? apa kesan ke situasi sekitar sudah luntur akibat dari sudah terbiasa, kalau dulu kan masih kesan pertama jadi semua terperhatikan?
    Oya… bukannya Kurt teh hanya zusammenleben dengan Frau eta? saya lupa namanya, tapi tidak mencantumkan nama Klaeusler, meskipun Kurt panggilna meine Frau?
    Selamat dech… saya ikut senang kalau masih adq waktu untuk hilangkan stress.

  2. Nu Kasep sagt:

    ah can anggeus dongengna ge jigana teh, matak ganggarateun ieu mah.

  3. Anonymous sagt:

    sengaja ceritanya diringkas, biar pembacanya gak bosen…ini disesuaikan dengan lesekultur masyarakat kita, hehehe

    itu juga udah dibuat jadi 3 bagian cerita dan pendek2, biar tidak terkesan banyak.

    thx masukannya =)

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s