Basler Herbstmesse 2009

Veröffentlicht: November 9, 2009 in Ekskursi

5Sabtu siang hari itu, aku dan Opa Kurt berkeliling mengitari kota Basel. Di pusat kota sedang berlangsung basar atau disebut dengan Basler Herbstmesse. Aku lebih menyebut basar, karena pengunjung dapat menikmati suasana tersebut serupa basar. Di sana mereka bisa membeli barang, makan, hingga berbagai wahana permainan dapat kita jumpai. Ini merupakan agenda tahunan pada musim gugur dan berlangsung selama 2 minggu. Sayangnya hari ini cuaca kurang begitu bagus.

Sampailah kami di sungai Rhein yang membatasi kota Basel menjadi Groß Basel dan Klein Basel. Kami berdua menaiki perahu kecil yang menyebrangi sungai tersebut. Setiap penumpang dikenakan tarif sebesar CHF 1,60. Aku jadi ingat ketika SMP dulu. Ada satu orang temanku yang rumahnya di seberang sungai yang lumayan besar. Aku dan temanku harus menyeberangi sungai tersebut dengan rakit terlebih dahulu untuk dapat tiba di rumahnya. Prinsip kerja perahu di sungai Rhein itu hampir sama denga rakit tersebut, karena tidak menggunakan mesin. Akan tetapi tidak juga ada campur tangan petugas untuk mengailnya. Perahu menggunakan sistem kerja angin dan tali yang membentang sejauh lebar sungai tersebut.

Dari sana kami kemudian melanjutkan perjalanan. Dan tidak terasa waktu makan siang sudah tiba. Kami harus bergegas pulang ke rumah, karena istri Opa sudah menyiapkan makan siang. Opa janji akan tiba di rumah pukul 13.00, tapi kami baru tiba pada pukul 13.10. Menu makan siangnya adalah menu yang biasa mereka makan setiap hari, seperti kalau kita piknik. Ada roti, berbagai macam keju, susu, jus, daging mentah, lobak merah, dan lain-lain. Mereka adalah pasangan yang sudah betul-betul matang. Pada tahun ini saja Opa telah menginjak usia yang ke 68 tahun. Suasana pun begitu santai tapi sangat serius. Karena istrinya seorang mantan guru bahasa Jerman, maka setiap kali pelafalan bahasa Jermanku kurang tepat terutama untuk kata-kata yang berawalan `sch` maka langsung dikoreksi.

Selesai makan siang, aku mencoba menghubungi Om Felix. Beliau sedang berada di pusat kota. Kami janjian di InterDiscount. Itu adalah tempat yang menjual berbagai jenis alat-alat elektronik. Aku kemudian meminta ijin pada mereka untuk menemui Om Felix. Dari sana aku pergi sendiri ke stasiun menggunakan tram. Di halte terdekat rumah Opa, aku membeli ticket pada mesin otomatis. Seseorang memberitahuku bagaimana caranya menuju ke stasiun. Dari bahasa Jermannya yang tidak begitu lancar aku tahu kalau pria tersebut adalah pasti seorang pendatang. Ternyata dia adalah seorang Afghanistan, yang telah tinggal selama 8 tahun di Swiss.

Aku dan Om Felix bertemu di stasiun. Dan Om Felix baru saja selesai denga urusannya di InterDiscount. Beliau dulunya pernah bekerja di perusahaan Swiss, tetapi sekarang bekerja privat. Kemudian, kami berjalan menyusuri jembatan yang menghubungkan Groß basel dengan Klein Basel. Karena kami sudah makan siang sebelumnya, maka kami mencari tempat untuk minum kopi. Kami singgah di Manor. Ini adalah sebuah pusat perbelanjaan, dan tepat di lantai tiga ada tempat makan dengan sistem buffet seperti halnya di tempat-tempat lain. Om Felix sengaja mentraktirku untuk minum kopi tersebut. Di sana pula kami bertemu orang Indonesia lainnya yang berasal dari Yogya dan bersuamikan orang Swiss. Perempuan tersebut baru pulang liburan dari Shang Hai, Cina, sambil menengok anaknya yang sedang bekerja di sana. Semenatar satu anak lainnya, kini sedang berada di Argentina. Dia liburan selama enam bulan di sana, karena selama ini kerjanya telah melebihi jam seharusnya.

Selesai minum kopi, kami kemudian keluar dari Manor dan menuju Saturn. Belumlah sampai di Saturn, Om Felix yang aku kasih tahu bahwa besok minggu ada pengajian di Bern, maka menelpon temannya yang lain. Dia memberitahu teman Indonesia tersebut untuk pergi bersama-sama ke Bern untuk pengajian tersebut. Om Felix kemudian disuruh untuk datang ke rumahnya yang tidak jauh dari sana. Tepatnya di klein Basel. Hanya beberapa halte dari pusat kota untuk tiba di rumah Om Felix tersebut. Beberapa menit kemudian kami tiba. Ternyata beberapa jam sebelumnya anak dari teman Om Felix tersebut merayakan ulang tahunnya yang keempat.

Teman Om Felix tersebut baru saja dioperasi pada kaki kanannya, karena kecelakaan selepas bermain sepak bola. Setelah berkenalan dan berbicara daerah asal dari Indonesia, ternyata Pardi teman Om Felix tersebut berasal dari Pangandaran. Ia tinggal di Basel telah lama, dan memiliki 3 orang anak perempuan. Yang paling besar adalah hasil perkawinannya dengan istrinya yang pertama, seorang Swiss. Tapi sekarang sudah berpisah. Yang paling kecil baru berusia dua bulan. Sementara istrinya pernah kuliah di Universitas Kristen Maranatha bandung jurusan kedokteran. Pardi bekerja di Panti Asuhan, sedangkan istrinya karena punya bayi sementara ini tidak lagi bekerja.

Setelah kami sholat maghrib bersama, maka kami pamit. Pardi tetapi ikut bersama dengan kami untuk melihat Herbstmesse. Suasana di Herbstmesse semakin malam ternyata semakin seru. Wahana mainan tidak jauh berbeda dengan yang ada seperti di Dufan kalau di Indonesia. Kami tadinya ingin naik `Riesenrad`atau bianglala. Tetapi, antrian pengunjung tidak memungkinkan kami untuk menunggu lama. Selain itu hujan pada malam ini juga cukup deras. Di samping itu aku telah ditunggu Opa beserta istri untuk makan malam bersama di rumah. Maka, kami pun berpisah di salah satu halte tram. Ternyata aku harus menunggu agak lama hingga tram tersebut melaju, karena tampaknya ada kemacetan tram.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s