All night long

Veröffentlicht: November 9, 2009 in Ekskursi

Pukul 18.58 aku tiba di rumah Opa. Opa sedang melihat pertandingan tenis antara Roger Federer melawan pemain asal Swiss juga. Sesekali Opa juga bertemu dengan mereka di klub tempat Opa bermain tenis. Federer akhirnya dapat memenangkan pertandingan dan melaju ke final.

Kami diberitahu istri Opa lewat bel, bahwa makan malam telah siap. Menunya cukup sederhana hanya Gemüsesuppe. Suasana di luar sekitaran rumah sangat hening. Kami bertiga makan malam di flat istri Opa. Kami banyak membahas banyak hal. Mulai dari studiku, pekerjaan istri Opa, kegiatan weekend mereka, dan banyak hal lainnya.  Istri Opa belum pernah ke Indonesia, makannya ia tidak tahu sama sekali tentang Indonesia. Bahkan terkesan menganggap rendah pembelajar bahasa Jerman di Indonesia, karena letak negara kita yang jauh dari negara bahasa sasaran.

Setelah makan malam, kami bermain tebak kata seperti puzzle. Aku berdua dengan Opa melawan istrinya. Selama ini memang istrinya tidak pernah kalah. Pada tengah pertandingan banyak kata-kata baru yang aku temukan. Pada saat kata tersebut tidak aku mengerti maka keduanya menerangkan kata tersebut. Kadang dengan kamus, dengan gerak-gerik mereka, atau dengan alat yang ada di sekitarnya, dan tugasku adalah mencatat kata-kata baru tersebut untuk perbendaharaan kosakataku. Istri Opa memang sepertinya dominan di rumah ini. Kami sebetulnya hampir menang, namun pada akhir pertandingan ternyata kami harus mengakui kekalahan juga dari istri Opa tersebut. Tidak terasa waktu terus beranjak malam. Aku merasa lelah sekali karena seharian ini berjalan terus. Kami pun berpisah satu sama lain untuk tidur.

Keesokan harinya kamipun sarapan bersama. Di sela-sela sarapan Opa menjelaskan tugas kuliahku yang telah beliau koreksi sebelumnya. Aku memang meminta bantuan Opa untuk memeriksa pekerjaanku di kampus utuk beberapa matakuliahku. Istri Opa suka sekali dengan puisi. Ia bahkan membacakan sebuah puisi yang masih dihafalnya. Ada sekitar 25 buah puisi yang hingga saat ini masih ada di dalam kepalanya. Namun, karena waktu sudah menuju siang hari aku harus berkemas-kemas untuk kembali ke Bern, karena pada minggu ini pukul 12.00 ada pengajian di KBRI. Maka aku pamit dari keluarga yang baru aku kenal tersebut dan berharap suatu ketika bisa bertemu kembali.

Aku pergi menuju stasiun sendiri untuk mengejar kereta pukul 10.00. cukup 15 menit waktu yang aku butuhkan dengan menggunakan tram dan membeli tiket di loket. Aku kemudian menuju kereta di rel 5. Beberapa gerbong ternyata sudah direservasi. Aku mencari gerbong yang masih kosong. Dan pada saat duduk ternyata Opa di luar kereta seperti yang mencariku. Untungnya aku melihatnya, dan aku mengikutinya. Beberapa menit sebelum keberangkatan kereta tersebut Opa memberiku uang sebagai ganti transportasiku ke Basel. Opa memang sangat baik dan aku berhutang banyak padanya.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s