What a Day!

Veröffentlicht: September 24, 2009 in Momen

Sehari setelah hari raya Idul fitri 1430 H, KBRI mengadakan acara open house di wisma yang bertempat di Gümmligen. Tempatnya agak jauh dari pusat kota. Kita harus menggunakan tram, kemudian ganti pakai bis yang jadwalnya hanya pada jam-jam tertentu saja. Hari itu adalah hari senin, 21 September 2009, minggu kedua perkuliahanku. Acara dimulai pada pukul 11.30 dan berakhir pada pukul 14.00. Pagi harinya aku masuk kelas Konstruktionsgrammatik pada pukul 10.00-12.00. Setelah perkuliahan selesai, aku langsung pergi ke wisma KBRI tersebut. Tiba di tempat acara kurang lebih pukul 12.45. di sana acara telah berlangsung, dan tampak banyak tamu undangan mengenakan pakaian batik. Aku dan salah seorang temanku menuju wisma tersebut. Dari kejauhan kami disambut oleh seorang sekuritas.

Musik islami sudah mulai terdengar. Tamu undangan sedang menyantap makanan. Kami pun menyalami orang-orang yang hadir di situ. Dan ibu Duta Besar RI untuk Swiss  menyambut kami dengan hangat. Kami tidak merasa asing di sini, justru sebaliknya, inilah rumah kami. Selang beberapa saat kami menyantap hidangan yang telah disediakan. Menunya hampir sama dengan yang biasa disajikan di acara open house lebaran di tanah air. Sambil makan aku berbincang-bincang dengan orang yang baru saja dikenali. Salah satunya adalah seorang perwakilan Indonesia untuk PBB di Jenewa bidang ekonomi. Setelah saing bertanya asal masing-masing ternyata kami dari kota yang sama di Indonesia. Oleh karena itu, kami berbicara dalam bahasa Sunda. Banyak tamu yang lainnya dari Jenewa perwakilan di PBB yang ternyata berasal dari Bandung.

Hadir di tempat ini juga seorang yang sudah tidak asing lagi bagi penikmat musik Jazz tanah air, Candra Darusman. Ia sekarang memang bermukim di Geneva dan bekerja sebagai perwakilan dari Indonesia di Organisasi Hak atas Kekayaan Intelektual Dunia atau disebut juga World Intellectual Property Organization (WIPO).

Pada pukul 14.00 sampai 16.00 sebetulnya aku masih ada kelas. Dilanjutkan pada pukul 16.00 hingga pukul 18.00 untuk matakuliah yang lainnya. Akan tetapi aku mengurungkan masuk kuliah pada sore hari ini mengingat suasana lebaran yang saying untuk dilewatkan. Setelah semua bubar, aku membantu panitia kegiatan membereskan ruangan. Salah satu diplomat senior KBRI mengundangku untuk datang ke rumahnya untuk menghadiri open house berikutnya pada pukul 16.00. Bersama-sama dengan beberapa pegawai KBRI kami kemudian menuju ke tempat open house berikutnya.

Rumah yang kami kunjungi berada di lantai 5. Kami menggunakan lift untuk menuju ke rumah tersebut, dan pintu lift akan langsung menggiring kita masuk ke rumah yang sangat mewah. Harga sewa perbulannya adalah CHF 4.000. Ada balkon yang cukup luas tempat untuk makan dan bersantai, dan di sini kami membakar sate untuk makanan kami. Pemilik rumah merupakan pegawai senior KBRI dan memiliki 4 orang anak. Anak lelaki yang paling besarnya kuliah di Universitas Geneva di jurusan Komunikasi. Sebelumnya ia kuliah di Kuala Lumpur pada jurusan yang sama, ketika ayahnya masih bertugas di sana.

Tamu undangan yang tadi sebelumnya datang di acara open house di wisma KBRI, satu-persatu kini datang kembali. Rumahhpun menjadi terasa riang dengan kehadiran anak-anak. Menu di sini tidak kalah menarik, ada sate, siomay, pempek, kue-kue, dan masih ada beberapa makanan lainnya yang hanya bisa kita dapatkan di Indonesia. Sayangnya, pada pukul 18.00 aku harus menghadiri acara lainnya di kampus. Oleh karena itu, aku harus melewatkan semua itu.

Apero. Itu adalah acara penyambutan untuk mahasiswa pemegang beasiswa dari pemerintah Swiss. Kami dikumpulkan di sebuah tempat tidak jauh dari Hauptgebäude atau gedung rektorat Uni Bern. Gedung ini sendiri terletak tepat di atas stasiun Bern atau Bern Hauptbahnhof.  Peserta seluruhnya yang telah mendaftarkan diri untuk datang adalah 24 orang mahasiswa ditambah dengan 3 orang perwakilan universitas. Mereka adalah Jasmin Fallahi yang bertugas sebagai contact person mahasiswa luar negeri khususnya beasiswan ESKAS atau Swiss Government scholarships for university beserta asistennya Anita, dan salah seorang profesor perwakilan Federal Commission for Scholarships for Foreign Students (FCS).

Dari 24 mahasiswa tersebut, ada beberapa yang merupakan pemegang beasiswa pada tahun sebelumnya yaitu tahun 2008 dan ini merupakan tahun terakhir bagi mereka. Setelah acara dibuka dan sambutan kurang lebih 5 menit, kami dipersilahkan mengambil makanan dan minuman. Kami berkenalan satu sama lain. Kami berdatangan dari berbagai negara dengan jurusan yang berbeda-beda. Untuk tahun ini, FCS memberikkan kurang lebih 250 beasiswa. Namun, para beasiswan tersebar di berbagai universitas di Swiss. Acara diakhiri dengan foto bersama.

Aku kemudian pulang bersama dengan tetangga sebelah asramaku yang ternyata baru aku tahu kalau dia merupakan beasiswa ESKAS. Dia adalah seorang peneliti dari Kenya dan bekerja pada Departemen Pertanian di negaranya. Namanya adalah Edward Matata Bikketi. Ia memiliki tubuh tinggi besar dan tentu saja berkulit gelap. Menyusul kemudian teman lainnya dari Ukraina waktu kami jalan menuju stasiun, Oleksandr Pastukhov. Bertiga kami berbincang sepanjang jalan hingga masuk kereta. Kami tinggal di asrama yang sama di dekat stasiun Bümpliz Nord. Kereta kami seharusnya hanya memerlukan waktu lima menit dari stasiun bern. Akan tetapi, ternyata kami keliru masuk kereta. Kereta yang kami tumpangi ini melewati stasiun yang seharusnya kami tuju. Hingga sepuluh menit kemudian kereta belum juga berhenti di stasiun berikutnya. Kami bertiga khawatir, jangan-jangan kereta ini menuju luar kota. Padahal kami hanya memiliki Monatskarte yang hanya berlaku di zona 11 dan 12. Kalau saja sampai ada kontrol petugas, maka kami harus membayar denda CHF 80 (sekitar Rp. 800.000,-). Itu yang kami pikirkan.

Setelah duapuluh menit kereta berhenti juga. Stasiunnya bernama Kerzers. Kami khawatir bahwa kereta yang kami tuumpangi ini akan membawa kami ke kota lain, seperti Jenewa. Tapi untungnya, tidak. Beberapa menit kemudian, kami lihat di jadwal ada kereta ke arah sebaliknya. Maka kami menunggu dan berharap kami tidak kena kontrol petugas. Akhirnya kereta datang dan kami tiba di stasiun yang seharusnya. Niatku untuk pulang lebih awal karena banyak sekali tugas esok hari, jadi lebih malam.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s