Buka Puasa Bersama di KBRI Bern

Veröffentlicht: September 13, 2009 in Indonesia, Momen

IMG_008713.9.09: Buka Puasa Bersama di KBRI Bern

Hari sabtu ini setelah menghabiskan waktu di kota Fribourg untuk berbelanja pakaian musim dingin, aku dan temanku akan pergi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Negara Swiss. Letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota cukup 20 menit saja dengan menggunakan bis. Kantornya berada di jalan Elfenauweg 51, 3006 Bern‎. Di halte kami bertemu dengan seorang perempuan dengan kedua orang anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah menengah dan dasar. Dia adalah seorang Swiss namun fasih berbahasa Indonesia. Mereka juga akan menuju ke tempat yang sama. Dan tidak lama kemudian ada seorang perempuan Indonesia lain yang menghampiri kami. Begitupun demikian, dia akan menuju ke kantor KBRI untuk buka puasa bersama di sana.

Pada siang harinya kami berdua pergi ke kota Fribourg yang dapat ditempuh dengan 20 menit perjalanan dengan menggunakan kereta regional. Di sana menurut salah satu kawan Indonesia lain sedang ada obral di sebuah toko pakaian yang bernama `Fashion Outlet`. Kami membeli beberapa pakaian untuk musim dingin seperti baju, celana, dan jaket. Setelah itu kami berkeliling kota sebentar. Di sana kami menemukan sebuah restoran Indonesia yang bernama `Warung Maysar`. Tempat makan ini menyajikan menu-menu masakan khas Indonesia, seperti nasi goreng, bakmi goring, sate ayam/kambing, rending daging, dan lain-lain.

Di kota Fribourg ini penduduknya betul-betul bilingualisme. Mereka dalam pergaulan sehari-hari menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Jerman dan Prancis. Kotanya tidak begitu besar namun menyenangkan. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di sini, karena temanku memiliki janji dengan salah satu mahasiswa S3 ITB yang kebetulan akan mengikuti konferensi di kota Ascona. Kota ini terletak di bagian selatan Swiss dan hamper berbatasan dengan Italia.

Kami bertemu dengan dia di stasiun dekat asrama. Beberapa saat kemudian kami menuju asrama untuk menyimpan barang bawaan teman baru kami tersebut. Setelah itu, kami pergi bergegas menuju KBRI untuk buka puasa bersama dengan staf KBRI dan penduduk Indonesia yang sedang tinggal di Swiss. Dengan menggunakan bis jalur 19, kami menuju ke KBRI. Bersama-sama dengan dua orang perempuan serta dua anak perempuan yang kami jumpai di halte kami menuju tempat tersebut. Di tengah perjalanan, perempuan beranak dua itu bercerita padaku bahwa dia pernah tinggal di Medan dan suaminya seorang Indonesia. Bahkan anak-anaknya lahir dan pernah bersekolah di sana. Sementara yang satunya, berasal dari kota Banyuwangi, Jawa Timur.

Kami tiba di KBRI dan tampak telah banyak orang Indonesia yang lain di sana. Mereka sangat hangat menyambut kedatangan kami. Beberapa ibu dan remaja puteri sibuk mempersiapkan sajian buka, sementara bapak-bapak duduk dan membaca Al-Quran. Aku dikenalkan ke semua orang yang ada di sana, yang keseluruhan kira-kira berjumlah 30 orang. Mereka bertanya perihal apa yang kulakukan di Bern. 20 menit sebelum waktu adzan tiba, temanku didaulat untuk memberikan siraman rohani karena ustadz Arifin yang biasa memberikan ceramah berada di Jenewa. Ia di sana memberikan ceramah mengenai Nuzulul Quran.

Pukul 19.48 kami berbuka puasa. Menu tajilnya adalah bubur kacang, kue-kue kecil, kurma, dan ada sesuatu yang menarik yaitu Tempe Goreng. Makanan yang telah lama tidak aku temui. Semua yang hadir tampak menikmati semua makanan tersebut tidak terkecuali kami bertiga, karena pada pagi hari sebelumnya aku hanya makan buah untuk sahur. Teman satu asramaku malah tidak makan sama sekali, sedangkan teman baruku baru datang dari kota Luzern.

Setelah selesai sholat maghrib berjamaah, kami mengobrol sebentar satu sama lain. Dan tibalah saat yang dinanti-nanti. Di meja makan sudah menanti hidangan lezat seperti soto ayam, ayam goreng, ikan, tempe goreng, perkedel jagung, dan kerupuk.  Seperti makan sehari-hari di rumah sendiri.

Selesai makan aku berkenalan dengan seorang pria Swiss yang menikah dengan perempuan Indonesia asal Bandung. Mereka baru menikah pada bulan desember tahun lalu. Thomas, nama pria tersebut, sangat ingin sekali belajar bahasa Indonesia dariku. Dia menganggap bahwa itu dia perlukan pada saat dia ke Indonesia dan bertemu dengan keluarga istrinya. Dengan sang istri dia berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Dia berkata padaku, bahwa istrinya tidak terlalu banyak mengajarkan bahasa Indonesia kepadanya.

Thomas adalah seorang ahli pijat atau Therapeut, dan enam tahu yang lalu bekerja selama satu tahun di Bali. Di sanalah dia bertemu dengan istrinya. Ada tiga orang Swiss yang memiliki keyakinan yang sama denganku di tempat tersebut.

Banyak pengalaman yang aku dapatkan dari acara pada malam hari ini. Mereka memintaku untuk ikut serta di berbagai kesempatan yang mereka adakan.

Kommentare
  1. Emmy sagt:

    Wa, lumayan tu dah dapat job pertama. Insya Allah ada yang berikutnya, lumayan untuk nambah biaya jalan-jalan.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s