Bandung – Bern: Perjalanan Panjang yang Melelahkan Namun Mengasyikan

Veröffentlicht: September 11, 2009 in Momen

6 September 2009 bertepatan dengan hari minggu dan merupakan minggu kedua di bulan suci ramadhan 1430 H. Pukul 14.00 aku diantar anggota keluargaku mulai bergegas ke pool bis yang terletak di salah satu mal terbesar di kota Bandung. Bis yang memiliki sebutan `Pemandu Moda` itu memiliki jadwal menuju ke bandara soekarno-Hatta hampir setiap jam.  Tarif cukup murah hanya Rp. 75.000,- saja untuk satu orang. Sementara itu barang bawaan di bagasi harus memiliki berat maksimal 20 kg. Jika lebih dari itu maka penumpang dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 3.000,- perkilonya. Di tempat tersebut aku tiba kira-kira pukul 14.30 dan menncoba untuk mengetahui berat barang bawaanku. Ternyata setelah ditimbang koperku memiliki berat 31 kg, sementara handbag 12 kg. Maka aku putuskan untuk mengeluarkan beberapa barang yang memang membuat berat dan fungsinya tidak begitu vital, seperti baju hangat karena aku pikir itu dapat dibeli lagi. Hingga akhirnya berat koperku sekarang tinggal 28 kg. Petugas Pemandu Moda mengharuskan aku membayar 5 kg kelebihan saja, arinya Rp. 15.000,- yang harus aku bayar.

Pada saat penghantaran tidak hanya keluargaku saja yang ada di sana, tetapi juga guru bahasa Jerman yang sudah seperti ibuku sendiri beserta dengan seorang anak laki-lakinya, dan seorang adik kelasku di SMA. Mereka sengaja datang untuk melepasku setelah pada minggu-minggu sebelumnya sewaktu aku di Bandung banyak waktu yang aku habiskan bersama-sama dengan mereka. Beberapa kali aku misalnya melatih adik-adik kelasku untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Jerman tingkat Propinsi di sekolahku dulu waktu SMA. Lombanya telah dilaksanakan pada tiga hari sebelumnya, dan salah satu siswa di sekolah tersebut berhak maju ke lomba tingkat nasional setelah menjadi juara pertama dari 93 peserta yang mengikuti lomba dari seluruh Jawa Barat. Di menit-menit akhir sebelum aku berangkat, salah satu teman kuliahku datang memintaku untuk memberikan titipannya pada temannya yang sekarang ada di Austria.

Tepat pukul 16.00 bis melaju menuju Cengkareng Jakarta. Perlu waktu dua setengah jam hingga bis tiba di bandara. Karena puasa, sementara waktu buka telah tiba, maka aku buka puasa di tengah perjalananku. Makanannya pun seadanya saja, yaitu cokelat dan air putih. Penumpang yang ada disebelahku adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi ilmu kesehatan di Bandung semester tiga yang hendak pulang kampung untuk berlebaran di daerah asalnya yaitu Ternate. Dia cukup ramah dan ketika tahu kkalau aku akan melanjutkan kuliah di Swiss maka dia mengucapkan selamat padaku.

Begitu tiba di bandara, maka tempat yang pertama aku cari adalah mushola karena waktu untuk sholat maghrib sudah hampir habis. Setelah selesai sholat aku makan fast food yang telah dibeli seblumnya di Bandung, jadi tidak perlu mencari tempat makan di bandara.

Hampir dua jam aku menunggu hingga gate untuk pesawatku dibuka. Saat itu aku gunakan maskapai Qatar Airways dan check in baru bisa pada pukul 21.40. Mengapa Qatar Airways?  Karena itu yang paling murah diantara maskapai yang lain untuk masuk ke Swiss. Harganya adalah USD 625. Berkali-kali aku melihat papan informasi keberangkatan pesawatku, tapi masih belum ada konfirmasi juga. Kebetulan di ruang tunggu ada seorang bapak sekitar 40 tahunan dan akan menuju Doha, Qatar, untuk bekerja di sana selama dua tahun lamanya. Maka kami menunggu bersama di ruangan tersebut. Namun hingga pukul 21.10 lagi-lagi belum ada juga konfirmasi gate dibuka. Disaat-saat bosan menunggu tersebut banyak sekali SMS dan telpon yang masuk untuk mengucapkan selamat jalan padaku. Pada pukul 21.30 ternyata kami lihat di papan bahwa penumpang Qatar Airways sudah harus melakukan boarding pass. Oleh karena itu kami dengan cepat bergegas menuju ke dalam ruangan check in.

Pada saat check in diumumkan bahwa semua penumpang Qatar airways sudah harus masuk pesawat, dan itu adalah panggilan terakhir. Padahal aku baru saja check in. Aku diminta cepat-cepat oleh petugas di sana. Mereka kemudian menimbang kedua barang bawaanku. Setelah ditimbang ternyata aku membawa barang yang sangat lebih dan diminta untuk membayar perkilonya USD 58,3 atau mengeluarkan sebagian barang-barangku untuk ditinggal. Dengan sisa waktu yang tidak banyak, maka aku sangat kalut. Entah barang apa yang harus aku keluarkan. Tanpa pikir banyak buku-buku bawaanku aku keluarkan, tetapi masih belum juga mencukupi. Barang yang diijinkan untuk masuk bagasi adalah seberat 25 kg, sementara handbag harus 8 kg. Aku betul-betul merelakan makanan yang tidak bisa kubawa, beberapa barang penting, hingga buku-buku. Setelah semua beres maka petugas tersebut mempersilahkanku untuk membayar airport tax sebesar Rp. 150.000,- dan mengurus bebas fiskal sebesar Rp. 2.500.000,-. Untungnya didompetku masih tersisa Rp. 220.000,- dan beberapa uang ribuan. Kalau tidak mungkin aku harus membayar airport tax tersebut dengan mata uang Franken. Akan tetapi karena aku seorang pegawai negeri, maka aku dibebaskan membayar fiskal dengan hanya menunjukkan paspor dinasku dan kartu NPWP. Semua urusan tetek bengek bandara telah kulalui. Di tengah jalan ketika hendak boarding, petugas tadi sepertinya merasa iba membiarkan aku meninggalkan buku-bukuku. Maka dia berusaha mengejarku untuk memasukkan buku ke dalam handbagku. Awalnya aku menolak karena kesal dan marah. Tapi akhirnya aku ambil juga.

Pesawat tinggal landas pada pukul 22.20 WIB. Aku mendapat kursi di dekat gang. Sementara itu, dua kursi di sebelah kiriku tampak kosong. Entah mengapa selalu seperti itu. Pada saat beberapa tahun sebelumnya aku pergi ke luar negeri, kursi sebelah kirikupun kosong. Dan itu berlangsung hingga pesawat sampai di Doha. Akan tetapi, pada pukul 01.45 waktu Singapura pesawat harus transit terlebih dahulu di bandara Changi singapura dan itu berlangsung sekitar 30 menit.

Ternyata banyak orang Indonesia yang hendak bepergian ke luar negeri. Di bandara aku bertemu dengan seorang perempuan yang terlihat dari gayanya, sepertinya dia mahasiswi. Ternyata memang benar. Ia akan melanjutkan perjalanan ke Stockholm. Di bandara Changi lagi-lagi kami harus check in dan di sini aturan benar-benar keras. Aku lihat seorang bapak yang membawa laptop harus membuka semua barang bawaannya. Sementara ada seorang pemuda yang membawa sebuah benda seperti senapan, benda tersebut sepertinya disita pihak petugas bandara. Tidak lama kemudian kami semua masuk pesawat dengan nomor duduk yang sama. Tidak ada yang berbeda. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Doha. Diperkirakan di sana akan tiba pada pukul 04.20 waktu setempat. Selama perjalanan kami diberikan hidangan yang rasanya benar-benar grandiose. Ditambah para pramugari yang cantik dan ramah, maka penerbangan terasa begitu menyenangkan.

Pesawat tiba di Doha pada pukul 4.20 untuk selanjutnya menuju ke Jenewa, Swiss, pada pukul 08.50. cukup lama waktu menunggu di bandara internasional Doha tersebut. Karena waktu telah menunjukkan Shubuh, maka aku mencari tempat sholat. Keluar dari toilet setelah mengambil wudhu aku bertemu dengan bapak yang tadi diperiksa laptopnya di Singapura. Kami sholat dan aku tanya pada dia, hendak menuju kemana. Dia lalu menjawab, bahwa dia ada urusan di Madrid. Maka akupun mengikuti dia untuk menunggu bersama sambil sedikit berbincang-bincang. Dia di Madrid ternyata akan melakukan pameran barang-barang handycraftnya. Dia dengan 14 orang pengusaha lainnya akan melakukan pameran di Madrid sekitar dua bulan. Pada saat kami mengobrol, ada pemuda sekitar akhir awal tigapuluh tahunan yang menyapaku dengan bahasa Sunda karena dia mungkin mendengar kalau aku berasal dari Bandung. Dia juga salah satu peserta pameran yang dikirim oleh dinas perdagangan. Dia berasal dari Tasikmalaya dan sewaktu transit di Singapura barangnya disita karena menyerupai senjata tajam, padahal itu adalah stand untuk banner. Kami begitu penasaran dengan keadaan kota Tasikmalaya sebagai daerah episentrum pasca gempa dengan kekuatan 7,3 skala richter pada beberapa hari sebelumnya. Dia mengatakan kalau rumahnya tidak apa-apa. Namun, beberapa supliernya ada yang terkena dampak gempa tersebut. Dia juga mengenalkanku pada seorang peserta lainnya yang berasal dari Bandung. Mereka memberiku kartu nama dan aku bertanya banyak hal mengenai proses hingga mereka bisa pameran intenasional seperti sekarang ini.

Karena kami merasa masih harus menunggu lama, maka kami memutuskan untuk melihat-lihat seputaran bandara. Tempat yang kami tuju adalah Duty Free. Barang-barang di sini tetapi tidak sebagus di Dubai. Mereka bertanya padaku tujuanku pergi ke Swiss. Pada saat waktu menunjukkan 06.30 kami kembali ke ruang tunggu dan aku berpisah dari mereka karena aku lihat di gate 10 tempat pesawatku boarding para penumpang telah antri. Setelah aku ikut antrian ternyata itu adalah pesawat ke Manchester pukul 07.30, maka aku kembali ke tempat duduk. Di sana ada seorang bapak sedang membaca buku. Aku mencoba menyapanya, dan dia bernama Peter. Dia lahir dan besar di Luxemburg, tetapi banyak waktu yang ia habiskan sebagai ahli di bidang psikologi di luar negeri seperti di New York selama dua tahun, Hawaii, Jepang, dan terakhir Kuwait. Pada saat boarding, salah satu petugas perempuan dari maskapai di pintu tiba-tiba bertanya „Sendirian saja Pak?“. Aku heran dan kembali bertanya “Excuse me!”. Ternyata dia adalah orang Indonesia.

Hari ini hingga beberapa hari ke depan Robert punya urusan di Swiss. Sungguh sangat kebetulan juga karena tempat duduk kita tidaklah jauh, aku 10C sedangkan dia 10A. Kami masuk ke dalam pesawat bersama-sama. Berbeda dengan pesawat sebelumnya dari Jakarta, pesawat yang kami tumpangi ini lebih kecil seperti pesawat-pesawat domestik di negara kita. Mungkin karena pembawaan Robert yang ramah, dia menyapa penumpang perempuan yang telah duduk terlebih dahulu di nomor 10B. Dia seorang gadis Swiss yang baru saja menyelesaikan studi di Qatar. Dari Jenewa dia akan melanjutkan perjalanan berikutnya ke kota Zürich, yaitu sekitar 2 jam perjalanan dengan kereta. Di Universitas Zürich dia akan menyelesaikan kuliah yang sebelumnya dia tinggalkan di bidang bisnis. Perjalanan Doha-Jenewa memakkan waktu sekitar 6 jam. Tepat pada saat tengah hari  suhu di dalam ruangan pesawat tidak seperti biasanya yang selalu dingin karena AC. Tidak banyak yang aku lakukan di dalam pesawat selain mendengarkan musik dan menonton film dari layar TV pesawat. Sementara itu, Robert sepanjang perjalanan asyik dengan buku yang dibacanya.

Pada pukul 15.20 waktu Swiss, pesawat mendarat. Dari atas udara pemandangan di bawah sangat terasa indah. Nuansa hijau menyelimuti Swiss. Pegunungan tinggi menjulang. Perumahan tertata dengan rapi. Kami kemudian keluar dari pesawat dan berpisah satu sama lainnya.

Perjalanan aku lanjutkan ke stasiun Jenewa yang masih berada di kawasan bandara. Atas saran beberapa teman aku diminta untuk membeli Halbtax-Abonement. Ini berfungsi untuk membuat harga ticket kemanapun kita bepergian di negara Swiss menjadi 50% dari harga seharusnya. Halbtax ini sendiri harganya CHF 150 dan berlaku untuk satu tahun. Syarat pembuatannya adalah dengan menunjukan paspor kita dan memberikan pas foto satu lembar. Petugas yang melayaniku di locket tampak sangat kental sekali aksen Prancisnya. Itu wajar karena daerah ini berbatasan langsung dengan negara Prancis. Tetapi yang lucu pada saat dia berbicara bahasa Inggris sekalipun aku tidak dapat memahaminya karena aksennya itu.

Dari Jenewa aku langsung menuju ke Bern tepatnya ke stasiun Bümpliz Nord, yang letaknya tidak begitu jauh dari stasiun utama. Ticket yang seharusnya aku bayar CHF 50 karena Halbtax tadi kini menjadi CHF 25. Pada pukul 15.36 kereta menuju ke kota bern dengan melewati kota-kota lainnya seperti Laussane, Fribourg, dan kota-kota kecil lainnya. Memang seperti apa yang sering aku lihat di acara-acara TV, swiss betul-betul indah dengan pemandangannya yang begitu mempesona. Siapappun pasti akan senang tinggal di negara yang indah seperti ini. Tiba sekitar pukul 17.26 di stasiun Bern, aku langsung ganti kereta atau lebih tepatnya trem sampai ke asrama tempatku tinggal beberapa saat ke depan. Pada saat di Jenewa aku memang janjian dengan seorang teman baru yang juga penerima beasiswa sepertiku dari pemerintah Swiss. Dia kini kuliah tahun kedua atau tahun terakhir di jurusan Klimatologi Universitas Bern sama halnya dengan universitasku. Setiap tahunnya pemerintah Swiss memberikan dua beasiswa untuk kurang lebih 200 pelamar di Indonesia. Akan tetapi karena aku sudah naik trem terlebih dahulu, maka kita hendak bertemu di asrama saja. Ternyata dia juga tinggal di asrama yang aku tempati sekarang. Hanya saja dia tinggal di lantai 5 sedangkan aku di lantai 2.

Kommentare
  1. Van Persie Endonesa sagt:

    Weweweee…….

    Pengen ikutttt……

  2. Wahyu sagt:

    @Van Persie Endonesa : Lernen Sie immer fleissig!
    hahahahahaha

    ist das richtig?

  3. sobara sagt:

    Genau! Robbie, Lernen Sie vorher fleißig, dann können Sie in Europa weiter studieren.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s