Tidak,
Bagiku tidak ada kalah dan menang
Sebab sudah kuputuskan,
bahwa kemenangan sudah pasti untukku saja.
Kalah, tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh bila terjatuh,
Yang menangis bila teriris,
Yang berjalan berputar-putar dalam belantara.

Puisi berjudul “Kalah dan Menang” di atas adalah salah satu karya pujangga kenamaan Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana. Puisi tersebut bertema mengenai perjuangan.

Haus der indonesischen Kulturen atau Rumah Budaya Indonesia (RBI) yang berlokasi di Theodor-Francke-Strasse 11 di Berlin kembali menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Temu Sastra. Acara tersebut diinisiasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin.

Duta Besar Indonesia untuk Republik Federal Jerman yang baru saja bertugas pertengahan April 2018, Dr. Arif Havas Oegroseno, SH., MH., membuka langsung acara Temu Sastra ini. Lewat kegiatan ini ia berharap generasi milenial sekarang dapat mempelajari sejarah masa lalu bangsa dengan membaca karya-karya sastra.

Pada acara Temu Sastra yang berlangsung pada tanggal 24 Mei 2018 tersebut, panitia menghadirkan mantan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia (1996-2000) Dr. Heinrich Seemann. Beliau pernah menjabat juga sebagai Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Amerika Serikat, Nepal, Jepang, dan Mali.

Pria kelahiran Stuttgart 22 Mei 1935 yang silam ini menerjemahkan novel berjudul „Kalah dan Menang“ karya Sutan Takdir Alisyahbana. Selain menerjemahkan, Heinrich Seemann juga pernah menulis beberapa karya yang berhubungan dengan Asia Timur.

Drama epik Alisyahbana dalam novel „Kalah dan Menang“ membawa pembaca ke masa Perang Dunia II di Asia. Di dalam karya tersebut Alisyahbana mengangkat kisah seorang perwira Jepang bernama Okura, seorang nasionalis Indonesia, Hidayat, dan seorang perempuan humanis keturunan Jerman-Swiss, Elisabeth. Peristiwa-peristiwa historis pada masa itu diangkat secara apik dengan bahasa yang mudah dipahami.

„Kalah dan Menang“ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman oleh Seemann menjadi „Verlieren und Gewinnen“ ini berkisah tentang perang dan perdamaian, tentang cinta dan kematian, tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan Jepang dan kekuasaan kolonial Belanda.

Sebelum presentasi Dr. Heinrich Seemann dimulai, seorang pakar tentang Asia Tenggara Dr. Werner Kraus memberi pengantar tentang kehidupan Sutan Takdir Alisyahbana. Dr. Kraus menyelesaikan kuliahnya mengenai Studi Asia Tenggara di Universitas Heidelberg dan Cornell University di New York. Ia adalah salah satu pendiri sekaligus Ketua Studi Asia Tenggara di Universitas Passau, Jerman. Dr. Kraus merupakan penulis biografi pelukis Jawa Raden Saleh dan saat ini direktur Pusat Dokumentasi Seni Asia Tenggara di Passau, Jerman.

Audiens yang hadir sebagian besar adalah orang Jerman yang antusias terhadap Indonesia. Mereka dengan semangat menyimak pemaparan yang disampaikan oleh Seemann hingga acara berakhir. Diskusi hangat terjalin antara kedua pembicara dengan audiens yang antara lain mengupas sisi-sisi kehidupan Sutan Takdir Alisyahbana. Dr. Kraus tampak sangat menguasai tema pembahasan sang maestro yang ditanyakan oleh beberapa audiens.

 

Tulisan ini dimuat juga di:

http://www.malangtimes.com/baca/27959/19700101/070000/kupas-tuntas-novel-kalah-dan-menang-pada-acara-temu-sastra-di-jerman/

Advertisements

 

Prestasi membanggakan ditorehkan oleh empat orang mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM). Adalah Cloudia Putri Sekarsari, Hana Anggita, Ken Laksmi Muninggar dari Jurusan Sastra Jerman dan Rachma Meidinar Latupono dari Jurusan Sastra Indonesia. Mereka adalah alumni dari sekolah-sekolah binaan proyek PASCH. Mereka menjuarai lomba di Jerman untuk kategori video alumni PASCH yang dihelat oleh Kementerian Luar Negeri Jerman dalam rangka 10 tahun proyek global mereka yang bernama PASCH: Schulen Partner der Zukunft (Sekolah Mitra Masa Depan). Di kota Malang sendiri ada dua sekolah binaan PASCH yaitu SMAN 1 dan SMAN 5 Malang.

Empat mahasiswa tersebut diundang untuk menghadiri perayaan serta penganugerahan hadiah ke Berlin, Jerman. Video mereka telah diunggah di laman youtube dengan link https://www.youtube.com/watch?v=6LjMtSYMtYY. Mereka menggambarkan seorang mantan siswa PASCH yang senang dengan resep kue Jerman, menerima surat dari alumni PASCH dari seluruh dunia dan mendapatkan pekerjaan karena kesamaannya dengan pimpinan perusahaan saat proses wawancara, yaitu cakap berbahasa Jerman.

Proyek ini telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 2.000 sekolah di sekitar 120 negara setelah sepuluh tahun didirikan. Lebih dari 600.000 siswa berkesempatan untuk belajar bahasa Jerman lebih mendalam di sekolah PASCH. Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, memberikan pidato sambutannya pada upacara peringatan 10 tahun PASCH di Berlin pada 6 Juni sekaligus menyelamati empat mahasiswa UM tersebut di atas podium sebagai juara. Hadir sekitar 850 undangan dari berbagai kalangan seperti bidang politik, ekonomi, dan pendidikan. Acara perayaan tersebut digelar pada 6 Juni 2018 di Westhafen Event and Convention Center, Berlin.

Menariknya adalah Menteri Luar Negeri Jerman menyinggung mahasiswi Sastra Jerman UM, Cloudia Sekarsari, dalam sambutannya berulang-ulang.

“Cloudia, saya tahu ada buah-buahan yang rasanya manis dibandingkan jeruk lemon. Ada bahasa asing lain yang lebih mudah dipelajari daripada bahasa Jerman. Tetapi pepatah bahasa Jerman mengatakan: „Sauer macht lustig“ (Masam membuat senang).

Tentunya Anda sudah tahu pepatah tersebut. Di dalam video yang Anda buat, Anda telah membuat pepatah baru: „Wenn das Leben Dir Zitronen gibt, backe Zitronenkuchen daraus.“ (Jika hidup memberimu lemon, buatlah kue lemon darinya)

Dengan optimisme seperti yang telah Anda sebutkan dalam film, tampaknya tidak ada hal yang berat di dunia ini. Termasuk mempelajari bahasa Jerman yang sulit.“

Tepuk tangan bergema dari audiens yang memadati ruangan. Menteri Heiko Maas mengungkapkan pula bahwa mereka pemelajar bahasa Jerman adalah duta bagi negaranya masing-masing serta untuk Jerman. Mereka telah disiapkan oleh Jerman melalui pendidikan dengan proyek globalnya yang bernama PASCH agar dapat menjadi bagian dunia global di masa datang.

 

Tulisan pernah dimuat di:

http://manado.tribunnews.com/2018/06/14/menlu-jerman-pun-selamati-mahasiswa-asal-indonesia

 

Gending Jawa yang dibawakan kelompok gamelan “Lindhu Raras” yang sebagian besar pemainnya adalah warga negara asing membuka acara “Lomba Pidato dan Bercerita Rakyat 2018” untuk para penutur asing di Jerman. Kegiatan lomba dilaksanakan di aula Rumah Budaya Indonesia yang terletak di Theodor-Franke-Strasse 11, Berlin, pukul 15.00 waktu setempat.

Tema dari lomba pidato tahun ini adalah „Persatuan dalam Keberagaman“. Sementara itu, „Cerita Rakyat Indonesia“ menjadi tema lomba bercerita.

Dalam sambutannya, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Dr. Achmad Saufi mengutarakan „Negara Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke di 17.000 pulau. Keberagaman yang begitu besar tersebut sudah merupakan suratan takdir dari Tuhan. Namun, bagaimana kita mengikatnya dalam persatuan?”

Sebanyak sepuluh peserta yang semuanya masih menyandang status mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Jerman tampil pada acara puncak final lomba. Enam orang peserta lomba tengah studi di perguruan tinggi HTWG Konstanz pada jurusan Studi Terapan Bahasa-bahasa Ekonomi se-Dunia, satu orang dari Universitas Leipzig di jurusan Ilmu tentang Islam, dan tiga peserta lainnya dari Universitas Hamburg yang sedang mendalami ilmu Bahasa dan Budaya Asia Tenggara.

Lomba Pidato dan Bercerita Rakyat merupakan program rutin tahunan KBRI. Kegiatan lomba ini sudah digelar sejak tahun 2012. Lomba pidato dan bercerita rakyat di KBRI Berlin khususnya telah memasuki tahun yang kedua.

Kegiatan lomba bertujuan untuk memotivasi warga negara asing untuk belajar bahasa Indonesia. Lomba ini diharapkan dapat menjadi wadah pendukung untuk meningkatkan kompetensi penutur asing berbahasa Indonesia baik secara lisan ataupun tulisan. Selain itu, lomba ini dapat menjadi sarana untuk menyalurkan bakat pemelajar bahasa Indonesia dalam berpidato dan bercerita.

Tampil sebagai pemenang lomba pidato pada tahun ini adalah Leon (22) dari Universitas Hamburg yang tengah mengambil jurusan Bachelor on East Asia and South East Asia dengan fokus bahasa Indonesia. Pidatonya berisi mengenai kebersamaan komunitas Indonesia di dalam dan di luar negeri. Meski baru enam bulan belajar bahasa Indonesia, namun penggunaan bahasa Indonesia dan pelafalannya hampir sempurna. Leon pernah melakukan magang di Kalimantan Barat selama 2,5 bulan.

Di dalam pidatonya ia juga menyisipkan pengalaman menariknya ketika ia berada di Kalimantan Barat. Ia merasa kagum dengan kehidupan tiga komunitas besar di Kalimantan Barat, yaitu masyarakat suku Dayak, Melayu, dan Tionghoa.

Leon memaparkan kekaguman lainnya. Komunitas Indonesia di luar negeri seperti di kota Hamburg, Jerman, sering mengadakan pertemuan dengan sesama orang Indonesia. Mereka memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman. Tradisi arisan dan gotong royong orang Indonesia yang tidak dimiliki oleh komunitas lainnya sangat membuatnya terkesan.

Sementara itu, pemenang lomba bercerita rakyat tahun ini adalah Samantha Grace (23) mahasiswi dari HTWG Konstanz. Ia sedang menempuh jurusan Bahasa Perekonomian Asia dan Manajemen. Menurutnya melodi bahasa Indonesia sangatlah Indah. Oleh karenanya, ia mendalami bahasa Indonesia.

Pada lomba tahun 2017 sebelumnya, ia masih belum berhasil menjadi pemenang. Dongeng “Timun Mas” yang dikisahkan pada tahun ini membawanya sebagai pemenang lomba mengalahkan peserta lainnya. Bagaimana ia berkisah membuat penonton seisi ruangan berdecak kagum. Ia bercerita seperti halnya penutur asli bahasa Indonesia. Media bantu yang dibawa saat bercerita membuat penonton dapat lebih dengan asyik menyimak dongeng yang dibawakannya.

Kedua pemenang lomba berhak untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, serta mendapatkan hadiah berupa kesempatan untuk melakukan kunjungan budaya ke situs-situs bersejarah di Indonesia.

 

Tulisan ini dimuat juga di:

http://www.malangtimes.com/baca/28093/19700101/070000/seru-orang-jerman-berpidato-dan-mendongeng-cerita-rakyat-indonesia/

Muslim Indonesia Puasa Ekstrem di Berlin

Veröffentlicht: Juni 24, 2018 in Allgemein

 

Bulan Ramadhan tahun ini baru saja berlalu. Bulan Ramadhan di Jerman tahun ini cukup ekstrem karena umat muslim  harus berpuasa selama hampir 19 jam sehari. Hal itu tapi tidak menyurutkan semangat ibadah umat muslim Indonesia khususnya yang sedang bermukim di Berlin, Jerman.

Tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang dilakukan muslim di tanah air saat Ramadhan, umat muslim Indonesia di Berlin mengisi kegiatan sehari-hari dengan berbagai kegiatan ibadah. Setiap hari masjid Al-Falah yang terletak di Feldzeugmeisterstraße 1, Berlin, selalu diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan.

Masjid Al-Falah didirikan pada tahun 1986. Masjid ini dikenal juga dengan nama Indonesisches Weisheits- und Kulturzentrum e.V. atau IWKZ, yaitu semacam Pusat Kajian Budaya Indonesia khususnya masalah Islam. Masjid ini dapat menampung sekitar 300 orang untuk shalat berjamaah.

Khusus di bulan Ramadhan hari-hari di masjid Al-Falah diisi dengan kegiatan seperti Kibas atau Kajian Ba’da Subuh selama Ramadhan. Berbagai tema dikaji setiap harinya, di antaranya Siroh Nabawiyyah, serta Sejarah Nabi dan Khilafiyah. Jamaah yang tidak dapat langsung datang ke masjid dapat menyaksikan melalui Live Instastory Instagram @IWKZ.

Ada pula Kajian Menjelang Magrib selama Ramadhan (Karib). Tafsir Juz ke-28 menjadi fokus bahan kajian Karib untuk tahun ini. Selain itu, pengurus masjid juga menawarkan Pengajian Pemuda yang membahas tema seputar Fiqih Keluarga dan sekelumit kehidupan pranikah. Tidaklah heran, karena banyak mahasiswa muslim Indonesia yang tengah menempuh studi di berbagai kampus kenamaan di ibukota Jerman ini. Tidak ketinggalan pula pengajian serta tadarus Al-Qur’an untuk pemudi.

Untuk kaum ibu, pengurus masjid memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengikuti pengajian ibu-ibu (Ummul Falah) setiap hari rabu dan kamis. Sementara itu, untuk pengajian bapak-bapak (Al-Hisab) digelar setiap hari minggu sore. Bagi anak-anak usia TK, ada Taman Pendidikan Al-Quran untuk Anak-anak. Mereka belajar mengenai fiqih, tata cara sholat, serta hapalan surat-surat Al-Quran.

Nuansa Ramadhan di tanah air masih dapat tetap terasa ketika muslim Indonesia menghabiskan waktunya di masjid Al-Falah atau IWKZ Berlin ini. Kegiatan-kegiatan Ramadhan 1439 H di sini sebetulnya hampir sama dengan bulan Ramadhan pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka dapat berbuka puasa bersama setiap hari, shalat Tarawih berjamaah, dan makan sahur bersama. Tahun ini masjid Al-Falah mengundang Ustadz Muhibudin dari Indonesia sebagai penceramah dan narasumber berbagai kajian selama bulan Ramadhan.

Hal tersebut juga diungkapkan salah satu Jamaah, Harry Rizky, anak rantau Minang yang juga mahasiswa master di Technische Universität Berlin. „Meskipun jauh dari kampung halaman, nuansa Ramadhan di Berlin masih terasa hangat, karena IWKZ bisa memberikan fasilitas kajian-kajian Islam selama Bulan Ramadhan bagi jamaah muslim Indonesia. Bertemu dengan teman-teman perantau, ikut merayakan kegiatan-kegiatan Ramadhan dari mulai Sahur sampai Tarawih berjamaah bisa kita temukan di sini“, tutur Harry.

Menariknya adalah panitia Ramadhan di sini terdiri dari anak-anak muda. Mereka bertugas di bawah arahan Muhammad Juan Akbar. Buka puasa bersama setiap hari dapat terselenggara berkat sumbangan dari para donatur. Untuk masalah zakat, infaq dan fidyah masjid Al-Falah atau IWKZ Berlin bekerja sama dengan PKPU Indonesia serta KBRI Berlin.

Jadi, tidak ada alasan umat muslim di sini rindu akan nuansa Ramadhan di tanah air. Puasa ekstrem selama hampir 19 jam juga bukan kendala untuk mereka bermalas-malasan. Sebaliknya, hal itu merupakan tantangan tersendiri terlebih di tengah cuaca musim semi menuju musim panas seperti saat ini.

 

Tulisan ini dimuat juga di:

http://www.malangtimes.com/baca/28390/20180608/064151/hampir-20-jam-berpuasa-simak-perjuangan-muslim-indonesia-saat-berada-di-jerman/

 

Mogok Makan

Veröffentlicht: April 30, 2018 in Allgemein

 

Kalau kita coba ingat-ingat lagi jaman kita kecil dulu pasti sekali waktu pernah mogok makan. Hal itu biasanya ditujukan atas ketidakpuasan pada seseorang yang ada di rumah, biasanya ayah atau ibu kita. Namun, tidak hanya anak kecil yang melakukan mogok makan. Orang dewasa juga biasanya mogok makan lantaran keinginannya tidak terpenuhi, misalnya buruh sebuah pabrik yang tidak diberi pesangon oleh perusahaannya selama berbulan-bulan. Akibat dari ogok makan tersebut tentu saja bagi kesehatan slaah satunya bisa dehidrasi atau gangguan alat tubuh lainnya. Tidak ada salahnya jika memang berniat untuk mogok makan seperti halnya orang yang puasa sunat dalam Islam, tapi tentunya ada batasan waktunya agar tidak merepotkan orang di sekitarnya. Sebagaimana puasa sunat, orang yang menjalankannya pada saat maghrib tiba berbuka puasa dan melanjutkan puasa di hari berikutnya atau di hari tertentu J

 

Museum Seni Islam di Berlin

Veröffentlicht: April 30, 2018 in Allgemein

 

Di kota Berlin terdapat sebuah kawasan bernama Museuminsel atau Museum Island yang terletak sebelah utara sungai Spree yang melintasi ibukota Jerman. Di kawasan ini terdapat enam museum dengan koleksi berbeda, yaitu Altes Museum (Old Museum), Neues Museum (New Museum), Alte Nationalgalerie (Old National Gallery), Bode Museum, Pergamon Museum dan Humboldt Forum. Museum terakhir baru akan diresmikan dan dibuka untuk umum pada tahun 2019.

Perlu waktu lebih dari satu hari penuh untuk mengunjungi seluruh museum yang ada di Museuminsel ini. Salah satu museum yang menarik dan banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai tempat dan negara adalah Pergamon Museum.

Nama Pergamon sendiri berasal dari sebuah kota Yunani kuno di dekat pantai barat Asia Kecil. Lokasinya saat ini berada di negara Turki. Letak kotanya berada sekitar 80 km sebelah utara kota Izmir. Pada masa sekitar abad ke-3 dan ke-2 SM, Pergamon merupakan ibu kota Kekaisaran Pergamon. Wilayah kekuasaan kekaisaran Pergamon mencakup sebagian besar Asia Kecil bagian barat.

Namanya kini diabadikan menjadi nama salah satu museum di kota Berlin. Pengunjung yang datang ke museum ini setiap tahunnya sekitar 700.000 orang. Rekor tertinggi kunjungan yang pernah tercatat adalah pada tahun 2011. Sekitar 1,5 juta pengunjung berkunjung untuk menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri sejarah Pergamon dahulu kala. Itu merupakan angka yang sangat fantastis untuk jumlah pengunjung sebuah museum seni.

Ada hal menarik lain ketika kita mengunjungi Pergamon Museum. Pada lantai dua museum kita bisa mempelajari seni masyarakat Islam mulai dari abad ke-8 hingga ke-19. Tempatnya bernama Museum für Islamische Kunst atau Museum untuk Karya Seni Islam. Berbagai koleksi antik dari masyarakat Islam yang terbentang antara Spanyol dan India dipamerkan di sini. Berbagai koleksi menarik seperti lukisan kaligrafi dan miniatur dari Kekaisaran Mughal (India) sekitar tahun 1526 bis 1858 atau karya seni yang terbuat dari gading gajah atau mammut dari Sisilia bisa dijumpai di sini.

Karya seni penting lainnya antara lain adalah Façade Mschatta yang dipenuhi relief tempat tinggal gurun di Mschatta Yordania mulai pertengahan abad ke-8. Ada pula Ruang Aleppo yaitu sebuah bangunan sebagai ruang penerimaan tamu perumahan di Aleppo. Rumah pribadi megah di distrik yang dihuni orang Kristen di kota Aleppo Suriah ini sebelum perang terjadi dialihfungsikan menjadi sebuah hotel. Ada juga kubah dari kompleks istana yang megah di Granada (Spanyol) yang menjadi salah satu koleksi luar biasa di Museum Seni Islam ini.

Selain menampilkan karya-karya tersebut, Museum Seni Islam juga merupakan salah satu lembaga penelitian terkemuka di bidang Islam. Selain itu, museum ini juga menjadi pusat konservasi, perlindungan warisan budaya di negara-negara Islam, pertukaran budaya internasional, dan pendidikan interkultural di Jerman.

Khusus bagi anak-anak usia 6-12 tahun yang berkunjung ke museum Pergamon ataupun ke Museum Seni Islam ini, mereka ditawarkan Ausstellungsgespräch atau pembahasan obyek pameran yang dibimbing oleh petugas museum. Mereka  dapat juga mengikuti kegiatan workshop seperti membuat karya dengan bantuan sablon. Kegiatan tersebut berlangsung pada akhir pekan.

Megahnya Gerbang Babilonia di Museum Pergamon

Veröffentlicht: April 30, 2018 in Allgemein

Pergamon adalah sebuah kota Yunani kuno di dekat pantai barat Asia Kecil yang saat ini dikenal dengan negara Turki. Letak kota ini berada sekitar 80 km sebelah utara kota Izmir. Pada abad ke-3 dan ke-2 SM, Pergamon merupakan ibu kota Kekaisaran Pergamon. Wilayah kekuasaannya mencakup sebagian besar Asia Kecil bagian barat.

Pergamon diabadikan menjadi nama salah satu museum di Berlin yang setiap tahunnya didatangi pengunjung sekitar 700.000 orang. Bahkan pada tahun 2011 museum Pergamon mencapai rekor tertinggi dengan dikunjungi 1,5 juta pengunjung. Angka yang fantastis untuk jumlah pengunjung sebuah museum seni.

Di museum ini pengunjung dapat menyaksikan kemegahan dan keindahan Gerbang Ishtar. Salah satu gerbang kota yang berada di kota Babel atau Babilon. Babel adalah ibu kota Babilonia yang terletak di daerah Efrat. Daerah tersebut kini menjadi salah satu bagian negara Irak.

Gerbang Ishtar sudah sejak tahun 1930 menjadi salah satu koleksi Museum Pergamon di Berlin. Gerbang yang merupakan bagian dari tembok Babel ini konon termasuk ke dalam tujuh keajaiban dunia kuno. Selain gerbang Ishtar, pengunjung juga dapat melihat altar Pergamon. Altar ini berasal dari zaman purba dan salah satu konstruksi permanen yang menjadi pajangan dari Museum Pergamon.

Siapapun pasti akan terkesan dengan megahnya ukuran bangunan dengan fasade gerbang yang indah dan memperlihatkan sosok kemegahan zaman antik. Ini menjadi sebuah perjalanan ke sebuah dunia lain bagi sebagian besar pengunjung yang berasal dari negara Jerman atau negara-negara Eropa lainnya.

Seketika itu pula para pengunjung akan bertanya-tanya: Apa arti dari relief berbagai binatang di fasade Gerbang Ishtar? Bagaimana Gerbang Ishtar bisa berada di Berlin?

Fasade gerbang sendiri tersusun dari batu bata mengkilap berwarna biru dengan relief binatang yang menawan. Pada relief-relief tersebut kita bisa melihat binatang sapi jantan yang gagah sebagai simbol dewa cuaca Adad. Ada pula relief mitos binatang bernama Muschushu. Binatang tersebut digambarkan dengan kepala ular bertanduk, kaki kucing pada bagian depan, kaki belakang seekor burung pemangsa dan ekornya dipersenjatai dengan sengatan kalajengking. Muschushu adalah simbol dewa utama kota Marduk.

Setelah Perang Dunia pertama berakhir, tepatnya pada tahun 1928, rekonstruksi bagian-bagian gerbang Ishtar dimulai. Ini adalah lanjutan dari hasil penemuan puing-puing Gerbang Ishtar di Irak yang diangkut ke Berlin. Diperlukan rekonstruksi banyak naga, singa, dan lembu jantan dari puluhan ribu batu bata dan pecahan batu bata terkecil untuk relief gerbang tersebut.

Di museum Pergamon ini pengunjung diajak untuk kembali ke masa lampau. Masa kejayaan Babilonia sekitar 600 sebelum Masehi. Seperti kata Proklamator Bung Karno „Jas Merah: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!“. Sebuah ungkapan yang tepat untuk melihat sejarah masa lalu melawan lupa generasi saat ini.

Tulisan ini sudah dipublikasikan sebelumnya yang dapat Anda baca pada link berikut ini:

http://manado.tribunnews.com/2018/03/27/megahnya-gerbang-ishtar-babilonia-di-pergamon-berlin?page=all