ITB Berlin: Mega Pameran Pariwisata Dunia

Veröffentlicht: März 25, 2018 in Allgemein

 

„Una volta che hai conosciuto il volo, camminerai sulla terra con gli occhi rivolti sempre in alto, perchè là sei già stato, e là agogni a tornare.“

Hal itu pernah diungkapkan oleh tokoh Italia yang salah satu mahakarya lukisannya yaitu ‘Mona Lisa’ masih jadi perdebatan hingga saat ini. Ia adalah Leonardo Da Vici. Ia menyebutkan bahwa seseorang yang pernah terbang maka dia berjalan di bumi namun pandangannya selalu tertuju ke arah langit karena ia sudah pernah berada di sana.

Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin telah menjadi pameran terkemuka bagi industri pariwisata global sejak tahun 1966. Pada tahun 2018, edisi ke-52 ITB Berlin berlangsung mulai 7 hingga 11 Maret yang lalu. Ini adalah salah satu calender event kota Berlin di awal tahun yang menyedot banyak perhatian warga Jerman dan dunia. Pameran bertempat di Berlin ExpoCenter City dan diselenggarakan oleh Messe Berlin GmbH. Negara, kota, operator tur, portal pemesanan dan hotel serta banyak penyedia layanan jasa pariwisata lainnya yang berasal dari lebih 180 negara mempresentasikan penawaran mereka di ITB Berlin. Acara ini berlangsung setiap tahun di minggu pertama pada bulan Maret.

Setiap tahun, sebuah negara mitra dipilih. Indonesia yang memiliki berjuta pesona keindahan alam serta budaya pernah menjadi negara mitra di pameran ini pada tahun 2013. Negara mitra hadir untuk para pengunjung ITB Berlin dengan menyuguhkan acara yang penuh warna seperti pada upacara pembukaan pameran. Pada tahun ini terpilih sebagai negara mitra Mecklenburg-Vorpommern, yaitu salah satu dari 16 negara bagian Jerman. Ini adalah untuk pertama kalinya sebuah negara Jerman menjadi negara mitra. Tahun 2019, negeri Jiran Malaysia terpilih untuk mempromosikan potensi wisatanya pada acara ITB Berlin edisi ke-53 sebagai negara mitra.

Sebagai mega pameran pariwisata di dunia setiap tahunnya tidak kurang dari 11.000 peserta pameran serta 170.000 pengunjung tercatat menghadiri acara ini. Pameran yang berlangsung selama lima hari terbuka untuk umum di dua hari terakhir. Tiga hari pertama pameran digunakan sebagai ajang perdagangan untuk digunakan oleh para pebisnis khususnya di bidang pariwisata.

„Experience & Experts“ adalah konsep dari ITB Berlin. Konsep tersebut sangatlah tepat karena menjanjikan pengalaman yang memperkaya pengalaman para peserta melalui pertemuan dengan orang-orang dari seluruh dunia serta pengetahuan yang berharga melalui pertukaran pribadi dengan para ahli internasional.

Tema yang diusung oleh Indonesia lewat Kementerian Pariwisata pada ITB Berlin 2018 ini adalah „Maritim, Keanekaragaman Bali, dan Budaya“. Para pengunjung akan disuguhi kehebatan perahu pinisi dengan pernak-pernik kebudayaan Indonesia dan berbagai informasi perjalanan wisata serta tidak ketinggalan kuliner khas Indonesia.

Pameran dikemas sedemikian menarik bagi pengunjung. Di samping berbagai informasi mengenai perjalanan, ada juga presentasi dari salah satu blogger yang bernama Jana Heinzmann. Ia mengisahkan perjalanan hiking dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia juga meberikan tipps bagi para pendaki gunung pemula seperti bagaimana memilih peralatan hiking yang bagus namu tidak terlalu mahal.

Di sudut-sudut lain terlihat pula berbagai workshop yang diselenggarakan panitia baik untuk anak-anak, remaja atau dewasa. Seperti workshop bertajuk “Youth Incoming Germany”. Ada pula berbagai pertunjukan di banyak booth peserta pameran, seperti tarian khas negara China, Mongolia, Kirgistan, Kolombia, Sudan dan masih banyak lagi. Atau pertunjukan musik dari asal Negara masing-masing.

Karina Syahna pemenang None Jakarta 2017 mengungkapkan rasa syukurnya karena ia dapat menjadi representasi Indonesia pada ITB Berlin kali ini. Ada pula pengunjung Indonesia bernama Verra yang kini tengah menempuh studi S3 di Universitas Postdam. Ia tengah berburu tiket dari Berlin ke Australia karena akan mengikuti International Conference di sana. Sementara satu mahasiswi Indonesia lain bernama Gaby yang berkuliah di Jurusan Kimia di Freie Universität Berlin sengaja datang ke ITB Berlin untuk melihat atmosfer pameran terbesar di dunia. Ia senang sekali bisa mencoba kain sari India untuk pertama kalinya.

Pada tahun ini ini Indonesia harus puas di posisi tiga besar “The best exhibitor Award”. Dua tahun berturut-turut, yaitu pada tahun 2016 dan 2017 raihan Indonesia di ITB Berlin adalah sebagai The Best Exhibitor untuk kategori Asia, Australia, dan Oceania. Kala itu ‘Wonderful’ Indonesia mengalahkan para pesaing terdekatnya seperti ‘Imagine’ milik Korea Selatan dan ‘Amazing’ Thailand pada tahun 2017. Adapun dua tahun sebelumnya mengalahkan  ‘Imagine’ Korsel dan ‘Incredible’ India.

Semoga ungkapan yang disebutkan Leonardo Da Vinci di atas bisa membawa wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Biar raganya berada di luar Indonesia namun mereka selalu ingin berlibur ke negeri penuh potensi wisata ini.

Tulisan ini dipublikasikan juga di:

http://manado.tribunnews.com/2018/03/15/internationale-tourismus-brse-berlin-1-mega-pameran-pariwisata-di-dunia

http://manado.tribunnews.com/2018/03/20/internationale-tourismus-brse-berlin-2-adu-cantik-11-ribu-peserta

http://manado.tribunnews.com/2018/03/20/internationale-tourismus-brse-berlin-3-habis-pikat-hati-turis-untuk-kembali

Advertisements

Publik Jerman Terpana oleh Film “Sekala Niskala”

Veröffentlicht: März 9, 2018 in Allgemein

Antrian penonton di Zoo Palast, salah satu bioskop yang terletak di jantung ibu kota Jerman, sudah tampak mulai pukul 9.30 waktu setempat pada hari Minggu 18 Februari 2018. Di hari minggu yang cerah di penghujung musim dingin tersebut film Indonesia yang berjudul “Sekala Niskala” ditayangkan secara perdana di Berlin International Film Festival atau yang dikenal dengan Berlinale. Penonton yang rata-rata orang Jerman ini antusias untuk menonton film yang dalam bahasa Jerman dialihbahasakan menjadi “Sichtbar und Unsichtbar”.

Di antara 400-an film yang ikut berlomba pada ajang film tahunan bagi para sineas dari seluruh dunia ini, film Sekala Niskala merupakan satu-satunya film yang merepresentasikan Indonesia kepada publik Jerman pada khsususnya dan internasional pada umumnya.

Film yang bercerita mengenai kembar buncing ini mengambil setting tempat di Bali dengan semua elemen budaya kental khas Bali. Adapun pemeran anak-anak kembar di dalam film tersebut adalah mereka Ni Kadek Thaly Titi Kasih sebagai Tantri dan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena sebagai Tantra.

Kisahnya dimulai ketika Tantra harus dirawat di rumah sakit karena sistem syarafnya semakin melemah. Nasib malang ini membuat Tantri tidak ingin kehilangan Tantra. Untuk menghilangkan nuansa kerinduan, akhirnya mereka bergabung dalam dunia fantasi. Di tengah malam Tantri terbangun dan selalu melihat adiknya. Pertemuan tersebut merupakan kesempatan bagi mereka untuk bermain bersama. Tantri bisa menari dengan makhluk tak terlihat. Perjalanan magis Tantri membuatnya dapat menjalin hubungan emosional dengan saudara kembarnya itu. Hal itu ia tunjukkan melalui ekspresi tubuh.

Tayangan perdana film Sekala Niskala di bioskop Zoo Palast ini dihadiri lebih dari 250 penonton yang memadati gedung berkapasitas 341 kursi penonton di dalam studio 2 yang berukuran 420 meter kuadrat.

Film Sekala Niskala diputar sebanyak empat kali selama perhelatan Berlinale ini. Di setiap akhir pemutaran film panitia menyediakan waktu khusus bagi para penonton bertanya mengenai film yang telah mereka tonton. Di sesi tanya jawab hari pertama sang sutradara ditanya mengenai ide pembuatan film tersebut. Kamila Andini, puteri salah satu sineas Indonesia kenamaan Garin Nugroho, mulai menjelaskan. Dia pernah mendengar sebuah filosofi dalam budaya Bali bahwa orang Bali hidup dalam dualism. Mereka memercayai adanya Sekala dan Niskala. “Hal ini mencerminkan bahwa kita sebagai manusia hidup secara holistik. Kita hidup dengan segala sesuatu yang bisa kita lihat dan apa yang tidak dapat kita lihat. Hidup itu selaras. Ini menunjukkan kehidupan orang Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya. Bagaimana kita berdiri satu sama lain? Saya ingin memvisualisasikan ini dalam bentuk film. Saya ingin bermain secara visual dengan kedua kata tersebut”, ungkap Kamila menjawab pertanyaan dari salah satu penonton.

Pada salah satu adegan di rumah sakit ketika Tantri dan Tantra harus menari ayam, penonton begitu terpana melihat adu acting dari kedua pemain. Mereka disuguhi tontonan tidak biasa. Keduanya sangat berbakat dalam gerak tubuh.

Namun, ada hal yang sangat menarik pada sesi tanya jawab pemutaran hari ketiga. Pertanyaan penonton didominasi oleh penonton anak-anak usia SD kelas 4-6. Hal ini tidaklah mengherankan karena film ini dapat ditonton oleh anak-anak. Pada pemutaran kedua dan ketiga, terlihat guru-guru SD membawa rombongan kelasnya untuk menyaksikan film ini. Pertanyaan-pertanyaan polos mereka yang ditujukan kepada para pemain pun menarik untuk disimak, seperti “Apakah di dunia nyata kalian bersaudara?”, “Bagaimana perasaan kalian memainkan peran tersebut?” hingga “Siapakah nama asli kalian?” Pertanyaan yang terdengar sederhana tapi melihat inisiatif serta keberanian anak-anak bertanya tanpa harus disuruh oleh orang tua atau guru sangatlah menarik. Itulah budaya Jerman!

Sebelum tayang di Berlinale, film ini telah mendapat berbagai penghargaan di ajang festival film lain baik nasional ataupun internasional, seperti  nominasi Festival Film Tempo 2017, Grand Prize di Tokyo FILMeX International Film Festival 2017 dan mendapatkan Best Youth Feature Film di Asia Pacific Screen Awards 2017.

Di Indonesia film Sekala Niskala akan tayang di bioskop-bioskop mulai tanggal 8 maret 2018. Apakah publik Indonesia akan sama halnya dengan publik Jerman? Kita lihat antusisme masyarakat Indonesia awal Maret nanti.

 

Tulisan ini dapat dibaca juga di:

http://www.malangtimes.com/baca/25333/20180225/145735/publik-jerman-terpana-film-sekala-niskala-garapan-putri-garin-nugroho/

Film “Sekala Niskala”: Promosi Indonesia di Mata Dunia

Veröffentlicht: März 9, 2018 in Allgemein

„Saya sangat bangga bisa main di film ‚Sekala Niskala‘ ini karena bisa memperkenalkan Indonesia khususnya Bali pada dunia“, terang Sena pada sesi tanya jawab setelah pemutaran film Sekala Niskala di ajang Berlin International Film Festival atau Berlinale. Serentak tepuk tangan dari penonton yang memadati gedung Haus der Kulturen der Welt di Berlin menggema.

Ajang tahunan level internasional Berlinale yang tahun ini telah menginjak ke-68 telah dimulai pada tanggal 15 Februari 2018 dan akan berlangsung hingga 25 Februari 2018 mendatang. Sekitar 400 film dari seluruh dunia berlomba untuk mendapatkan penghargaan tertinggi pada ajang ini, yaitu der Goldene Bär atau Beruang Emas.

Film Sekala Niskala menjadi film satu-satunya dari Indonesia yang berkompetisi di ajang Berlinale ini. Film tersebut masuk ke dalam kategori Generation KPlus. Film yang dapat dinikmati oleh anak-anak hingga dewasa.

Film Sekala Niskala pada ajang Berlinale ini diputar sebanyak empat kali di tempat yang berbeda. Pemutaran pertama pada hari Minggu 18 Februari 2018 sukses ditonton lebih dari 250 penonton. Penonton yang mayoritas orang Jerman ini begitu antusias untuk menonton film yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman menjadi “Sichtbar und Unsichtbar”.

Kisah film Sekala Niskala yang ditulis dan disutradarai oleh Kamila Andini ini bercerita mengenai kembar buncing, yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Adapun setting tempat film berlokasi di Bali. Pemeran anak-anak kembar di dalam film tersebut adalah mereka Ni Kadek Thaly Titi Kasih (12) sebagai Tantri dan Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena (14) sebagai Tantra. Keduanya berasal dari Gianyar Bali.

Tantra diceritakan harus dirawat di rumah sakit karena sistem syarafnya semakin melemah. Sebagai saudara kembar tentu saja Tantri tidak ingin saudara kembarnya tersebut meninggal. Layaknya anak-anak di usia mereka, bermain bersama di tengah malam selalu mereka lakukan sebagaimana anak-anak lainnya. Hal itu untuk menghilangkan rasa rindu satu sama lain. Di tengah malam Tantri terbangun dan selalu melihat adiknya.

Tantri mulai menjadi sensitif ketika ayahnya bercerita kepada ibunya, bahwa kondisi kesehatan Tantra semakin hari semakin memburuk. Ia lalu dapat merasakan kehadiran dari anak-anak yang tidak dapat dilihat secara kasat mata. Namun, orang Bali meyakini bahwa anak-anak selain bermain dan berteman dengan anak-anak yang terlihat, mereka juga memiliki teman-teman yang tidak terlihat. Tantri kemudian pada salah satu adegan menari dan bermain bersama dengan makhluk tak terlihat. Perjalanan magisnya itu membuat dia dapat menjalin hubungan emosional dengan Tantra yang tengah sakit. Hal itu mereka tunjukkan melalui gerak tubuh.

Di setiap akhir pemutaran film penonton berkesempatan untuk berdiskusi dengan crew film. Di setiap sesi tanya jawab pertanyaan yang diajukan oleh penonton selalu menarik. Di depan penonton semua sang sutradara dengan detail menceritakan ide pembuatan film. Lalu aspek koreografi yang sangat kuat di dalam film dijelaskan oleh koreografer yang menggarap film tersebut, yaitu Ida Ayu Wayan Arya Satyani. Adapun Thaly dan Sena (Tantri dan Tantra) biasanya ditanya oleh penonton mengenai kesan mereka bermain di film tersebut.

Ida Ayu sebagai orang Bali asli mengungkapkan bahwa konsep Sekala Niskala merupakan konsep yang sulit untuk dijelaskan khususnya kepada anak-anak. Namun, menurut dia Kamila Andini sudah menyampaikannya pada film ini dengan menarik dan dapat dipahami oleh anak-anak.

„Sebagai manusia kita hidup secara holistik. Kita hidup dengan segala sesuatu yang bisa kita lihat dan apa yang tidak dapat kita lihat. Hidup itu selaras. Ini menunjukkan kehidupan orang Indonesia pada umumnya dan Bali pada khususnya. Bagaimana kita berdiri satu sama lain? Saya ingin memvisualisasikan ini dalam bentuk film. Saya ingin bermain secara visual dengan kedua kata tersebut”, ungkap Kamila menjawab pertanyaan dari salah satu penonton di salah satu sesi tanya jawab.

Di sebuah adegan di rumah sakit Tantri harus berperan sebagai seekor kera. Sontak penonton yang kebanyakan anak-anak pada saat melihat adegan tersebut tertawa melihat bagaimana gerak tubuh Tantri menyerupai kera. Tidak hanya itu, beberapa adegan lain menunjukkan kekuatan gerak tubuh dari para pemainnya. Hal tersebut tentu saja menyuguhkan tontonan sangat berbeda dari biasanya.

Banyak penonton yang terkesan dengan film Sekala Niskala ini. Beberapa dari penonton mengaku sangat tersentuh dengan cerita mengenai penyakit yang diderita Tantra dan bagaimana Tantri tidak ingin kehilangan saudara kembarnya itu. Ada juga penonton yang berkeinginan pergi ke Indonesia untuk lebih mengenal negara dan budayanya. Secara tidak langsung film ini turut mempromosikan Indonesia, khususnya Bali, kepada dunia.

 

Tulisan ini dapat dibaca juga pada:

 

http://manado.tribunnews.com/2018/02/26/film-sekala-niskala-promosi-indonesia-di-mata-dunia

 

 

 

 

Patung Kepala Lenin di Zitadelle Berlin

Veröffentlicht: Februar 23, 2018 in Allgemein

 

Mungkin di Indonesia tidak banyak yang mengenal tokoh yang bernama Vladimir Ilyich Ulyanov. Akan tetapi jika disebut nama Lenin, orang akan mengaitkannya dengan pelajaran sejarah ketika di bangku sekolah. Ya, Lenin merupakan seorang negarawan revolusioner Uni Sovyet (sekarang Rusia) kenamaan selain Karl Marx. Kedua tokoh tersebut identik dengan ideologi komunis dan Marxisme-Leninisme yang masih tabu untuk dibicarakan di negara kita.

Lenin meninggal pada tahun 1924, namun teori Marxisnya memiliki pengaruh yang menentukan pada negara Jerman Timur, saat Jerman terpecah menjadi dua negara. Ideologi Marxisme-Leninisme adalah doktrin Marxis yang dikembangkan oleh Lenin dan menjadi matakuliah wajib di perguruan tinggi yang harus dipelajari oleh mahasiswa di Jerman Timur saat itu.

Maka muncul Institut yang bernama “Marxisme-Leninisme” yang khusus diciptakan untuk menegakkan negara Jerman Timur yang berhaluan kiri. Prinsip kepemimpinan dan organisasi „Sentralisme Demokratik“ tersebut dikembangkan oleh Lenin. Hal serupa berawal dan berkembang di bekas negara Uni Soviet yang merupakan „Big Brother“ bagi Jerman Timur kala itu dan tentu saja negara-negara Eropa Timur lainnya yang mempunyai ideologi serupa.

Terlepas dari ideologi tersebut dalam tulisan ini saya hanya ingin mengangkat sebuah tempat di Jerman yang menyimpan sejarah mengenai tokoh Lenin. Tempat tersebut bernama Zitadelle yang berlokasi Di Spandau, Berlin, Jerman.

Zitadelle (Citadel) merupakan salah satu benteng terpenting dan terpelihara terbaik saat berlangsungnya era Renaissance di Eropa. Benteng ini dibangun pada abad pertengahan yaitu sekitar tahun 1559-1594 dan terletak di timur laut kota Spandau di seberang sungai Havel.

Sejarah panjang Jerman yang membagi negara tersebut menjadi dua bagian pada tahun 1989 terputus. Jerman Barat dan Jerman Timur kembali bersatu. Kota Berlin yang kala itu terbagi menjadi dua bagian pun kembali menjadi satu Berlin. Saat Berlin kembali bersatu, monumen terbesar simbol Jerman Timur saat itu hilang. Simbol tersebut adalah Patung Lenin. Patung yang memiliki tinggi 19 meter dan terbuat dari batu granit yang berasal dari Ukraina.

Patung Lenin tersebut dulu terletak dengan gagah di salah satu bagian kota Berlin, yaitu di Friedrichshain, tepatnya di Leninplatz yang sekarang telah berubah menjadi kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa. Patung Lenin sendiri selesai dibuat di bawah arahan pematung Uni Sovyet bernama Nikolai Tomski pada tahun 1970, beberapa hari sebelum ulang tahun Lenin yang ke-100.

Saat Jerman bersatu patung tersebut dihancurkan dan kepala Lenin terkubur selama 24 tahun di hutan Köpenick. Sekarang Lenin sudah kembali. Kepalanya kini beristirahat dalam sebuah tempat pameran di Zitadelle.

Di galeri pameran Zitadelle selain terdapat patung kepala Lenin juga ada puluhan skulptur lainnya yang merupakan monumen di seluruh Jerman.

Tulisan ini dapat dibaca pula di:

http://www.jatimtimes.com/baca/165608/20180122/161827/goodbye-lenin-menilik-monumen-seluruh-berlin-di-galeri-zitadelle-/

Christmas Garden Berlin 2017

Veröffentlicht: Februar 23, 2018 in Allgemein

Setelah sukses untuk kali pertama di penghujung tahun 2016 lalu, Christmas Garden Berlin menghiasi kembali ibu kota Republik Federal Jerman mulai 16 November 2017 hingga 7 Januari 2018. Kebun raya botani atau Botanischer Garden yang terletak di Königin-Luise-Straße 6-8, Berlin, memiliki luas lebih dari 43 hektar. Di kebun ini terdapat sekitar 22.000 spesies tanaman yang berbeda dari seluruh belahan bumi. Kebun raya botani ini merupakan kebun raya botani terbesar di Jerman yang disulap selama sekitar dua bulan lamanya menjadi sebuah hutan impian berpakaian sinar cahaya.

Tepat pada pukul 16.30 setiap harinya kebun dibuka untuk umum yang ingin menikmati indahnya pemandangan warna warni lampu baik yang digantung pada pohon yang telah berusia ratusan tahun atau dibentuk menjadi kado natal, sinterklas dengan kereta rusa, bunga raksasa, dan berbagai ornamen lainnya. Pada musim dingin seperti saat ini matahari sudah tidak lagi menampakkan dirinya mulai pukul 16.00, sehingga mulai jam 16.30 para pengunjung dapat masuk dan berjalan-jalan hingga pukul 22.00. Pengunjung dewasa harus terlebih dahulu membeli tiket masuk seharga 17 Euro dan untuk anak-anak seharga 14,50 Euro. Dengan tiket masuk tersebut para pengunjung dapat menelusuri rute sepanjang dua kilometer dengan pemandangan indah beraneka warna menarik. Ada sekitar 30 instalasi cahaya di area tersebut dengan lebih dari 1.500.000 lampu, sehingga kebun yang tiap malamnya gelap gulita menjadi terang selama Christmas Garden berlangsung. Tua, muda, anak-anak bersuka cita serta mengagumi  berbagai instalasi cahaya yang ada. Terlebih menjelang atau setelah natal dan mendekati tahun baru, kawasan ini selalu dipenuhi pengunjung setiap malamnya. Pada tahun 2016 silam, sekitar 120.000 pengunjung mengalami sendiri keindahan Christmas Garden ini. Mereka berdatangan dari berbagai pelosok negeri.

Tidak hanya disuguhi berbagai instalasi cahaya, para pengunjung khususnya anak kecil, juga dapat menikmati berseluncur di atas es. Sementara anak-anaknya bermain-main, orang tua mereka dapat menikmati hidangan khas Jerman serta minuman yang dapat menghangatkan badan.

Artikel ini dapat juga dibaca di:

http://manado.tribunnews.com/2018/01/08/perjalanan-magis-dimulai-saat-cahaya-temaram

 

 

 

Miniatur Wunderland

Veröffentlicht: Februar 23, 2018 in Allgemein

Miniatur 1

Tentu semua sudah tahu bahwa alat transportasi yang banyak digunakan di berbagai negara maju seperti Jerman, Swiss, atau Jepang adalah kereta api. Dengan berkereta dari rumah ke tempat yang hendak dituju beberapa keuntungan dapat diraih oleh penumpang. Selama di perjalanan mereka masih dapat melakukan aktivitas lain. Sebut saja menyiapkan presentasi atau materi rapat menggunakan laptop, menonton film atau mendengarkan musik dari telpon genggam, bersenda gurau, bermain kartu dengan teman, atau sekedar menikmati pemandangan indah di luar.

Jika Anda mengunjungi kota Hamburg yang terletak di negara Jerman sebelah utara, luangkan waktu untuk mengunjungi sebuah obyek wisata bernama Miniatur Wunderland. Di sini pengunjung akan diajak untuk mengunjungi berbagai tempat menarik dan seolah nyata namun dalam bentuk miniatur tempat-tempat tersebut.

Miniatur Wunderland di Hamburg adalah model sistem kereta api terbesar di dunia yang terletak di kawasan Speicherstadt yang bersejarah dan telah ada sejak Desember 2000. Hingga Oktober 2017 jika ditotalkan terdapat sekitar 15,4 kilometer jalur kereta dalam skala 1:87 di area seluas 1490 meter persegi ini. Sekitar 1.040 kereta api mini berjalan di atas rel yang dikontrol secara digital.

Bagi mereka penggemar miniatur kereta api, tentu saja tempat ini dapat menjadi surga tersendiri. Pengunjung dapat mengamati bagaimana kereta-kereta api tersebut beroperasi lengkap dengan lokasi yang dibuat menyerupai tempat aslinya. Hingga September 2017 terdapat sembilan bagian yang masing-masing memiliki luas 60 sampai 300 meter persegi.

Bagian-bagian tersebut antara lain kawasan Jerman tengah dan selatan. Di kawasan ini pengunjung dapat melihat kereta api cepat di Jerman, yaitu Inter City Express atau biasa disingkat dengan ICE.

Pada bagian lain, pengunjung dapat mengunjungi Pegunungan Alpen yang berada di kawasan Austria. Di sini tentu saja pemandangan gunung yang berbukit-bukit, rumah-rumah kayu di pedesaan yang khas, serta hijaunya pepohonan saat musim panas dan gunung es abadi jelas terlihat.

Bagian menarik lainnya adalah kawasan Amerika Serikat yang dipresentasikan oleh kota Las Vegas serta Miami. Di Amerika pengunjung juga dapat berkelana di Wild West yang terkenal di film-film cowboy.

Bagian Skandinavia berfokus pada permukaan air laut yang dibuat seperti nyata. Gelombang pasang dan surut juga disimulasikan di sini. Selain itu, pada bagian ini pengunjung juga dapat melihat operasi pertambangan Kiruna pada saat musim dingin.

Bagian lain yang paling menarik perhatian para pengunjung yaitu negara pegunungan Alpen lainnya, negeri indah Swiss. Pemandangan kanton atau negara bagian Swiss di bagian selatan yang berbatasan langsung dengan negara Italia, yaitu Ticino dan Graubünden, sangat mempesona pengunjung. Bagian yang memiliki luas 100 meter persegi ini memperlihatkan pegunungan yang mencapai ketinggian hampir enam meter dan menerobos dua lantai sekaligus. Di sini tentu saja pemandangan khas negara Swiss yang terlihat seperti di buku-buku cerita atau dongeng dapat terlihat dalam bentuk miniatur yang menakjubkan.

Pengunjung juga dapat merasakan nuansa waktu yang berbeda. Ketika malam datang maka seisi ruangan menjadi gelap. Lampu-lampu malam menyala seperti halnya di sebuah kota. Kemudian pagi menjelang, ruangan menjadi kembali terang dan aktivitas sehari-hari yang ditunjukkan oleh kereta api dan berbagai alat transportasi lainnya seperti mobil, kapal laut, hingga pesawat terbang membawa pengunjung merasakan hari-hari di kota yang tengah dikunjunginya tersebut.

Jika Anda ingin berkunjung ke Miniatur Wunderland, maka sebaiknya Anda reservasi tiket terlebih dahulu. Di saat tertentu, seperti liburan musim panas atau liburan akhir tahun, pengunjung biasanya membludak. Pengunjung biasanya pada saat membeli tiket diberi tahu jam berapa mereka baru dapat masuk. Hal ini tentu saja untuk menghindari penumpukkan pengunjung di dalam ruang pameran. Adapun harga tiket masuk adalah mulai dari 9 Euro.

Artikel ini bisa dibaca juga pada:

http://manado.tribunnews.com/2018/01/17/kereta-api-di-negeri-impian

Mahalnya harga informasi dari birokrat

Veröffentlicht: Januar 6, 2018 in Allgemein

Kebiasaan berkomunikasi di negara maju menggunakan surat elektronik rupanya masih sangat tidak lazim bagi kebanyakan masyarakat Indonesia terlebih untuk birokrat. Departemen apa yang tidak mempunyai alamat surat elektronik? Semua pasti memilikinya. Permasalahaannya adalah ketika warganya ingin dengan praktis bertanya tentang hal yang tidak jelas dari instansi tersebut melalui surat elektronik, tidak semua surat dijawab. Intinya surat elektronik tersebut hanya dibuat sebagai dekorasi kop surat saja biasanya dan tidak berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi antara birokrat dengan warganya. Bahakan di jaman yang serba elektronik ini departemen tertentu di pemerintahan lebih senang jika mereka menerima fax dibandingkan surat elektronik. Masih ada tidak saat sekarang ini warung telekomunikasi yang menawarkan jasa fax? Jika ada harganya sangatlah mahal dan sudah kuno alias tidak praktis. Atau tidak sedikit juga yang hanya ingin berkomunikasi lewat saluran whatsapp untuk hal resmi sekalipun, dengan alasan lebih cepat. Sungguh aneh luar biasa!