Mahalnya harga informasi dari birokrat

Veröffentlicht: Januar 6, 2018 in Allgemein

Kebiasaan berkomunikasi di negara maju menggunakan surat elektronik rupanya masih sangat tidak lazim bagi kebanyakan masyarakat Indonesia terlebih untuk birokrat. Departemen apa yang tidak mempunyai alamat surat elektronik? Semua pasti memilikinya. Permasalahaannya adalah ketika warganya ingin dengan praktis bertanya tentang hal yang tidak jelas dari instansi tersebut melalui surat elektronik, tidak semua surat dijawab. Intinya surat elektronik tersebut hanya dibuat sebagai dekorasi kop surat saja biasanya dan tidak berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi antara birokrat dengan warganya. Bahakan di jaman yang serba elektronik ini departemen tertentu di pemerintahan lebih senang jika mereka menerima fax dibandingkan surat elektronik. Masih ada tidak saat sekarang ini warung telekomunikasi yang menawarkan jasa fax? Jika ada harganya sangatlah mahal dan sudah kuno alias tidak praktis. Atau tidak sedikit juga yang hanya ingin berkomunikasi lewat saluran whatsapp untuk hal resmi sekalipun, dengan alasan lebih cepat. Sungguh aneh luar biasa!

Advertisements

Debat Kusir

Veröffentlicht: Dezember 17, 2017 in Allgemein

Memang tidak salah kalau manusia diciptakan memiliki dua telinga agar dengannya kita dapat lebih bijak mendengarkan lawan bicara kita dan hanya satu mulut yang dengannya disengaja atau tidak kita bisa menyakiti orang lain. Dalam berkomunikasi tentunya ada yang bertanya ada yang menjawab. Ada yang berbicara dan ada yang mendengar. Namun, tidak jarang orang hanya lebih senang kalau pendapatnya saja yang harus didengar lawan bicaranya tanpa memberi kesempatan pada orang lain untuk mengemukakan pendapat. Dalam interaksi yang demikian tidak berimbang tentu saja ada pihak yang terlalu dominan. Terlebih dalam sebuah diskusi, jika ada dua pihak yang berbeda pendapat, itu bukanlah hal yang luar biasa karena itu merupakan hal yang sangat wajar terjadi. Ketika A meminta opini B, maka sewajarnya B pun memberikan pendapatnya, pandangannya bahkan bila diperlukan sebuah saran. Tapi, sering kali A tidak sejalan dengan B atau semua yang dikemukakan B tidak sesuai pendapatnya. A bereaksi dan hanya menganggap kalau B hanya “nothing” atau orang yang tidak tahu apa-apa. Jadi percuma saja sebetulnya A dalam hal ini berdiskusi dengan B. Hakikat sebuah diskusi itu adalah bertukar pikiran. Jika muncul sebuah masalah selayaknya diselesaikan dengan mencari solusi. Namun, jika diskusi itu hanya mengumbar ego masing-masing dan mendatangkan permasalahan baru apalah arti sebuah diskusi dalam hal ini? Yang ada nantinya hanya debat kusir seperti layaknya orang-orang tidak berpendidikan yang beradu jotos.

Berapa puluh jam sehari kamu bermesraan dengan gadgetmu?

Veröffentlicht: Dezember 17, 2017 in Allgemein

Pertanyaan tersebut tampaknya sepele, namun bisa jadi bencana tersendiri bagi kamu terlebih jika di lingkunganmu ada seorang anak kecil. Anak kecil biasanya hanya meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya atau di hadapannya. Seorang teman dari Perancis bercerita tentang hal itu. Anaknya yang belum genap tiga tahun sangat senang sekali bermain gadget. Dia menonton tayangan-tayangan di youtube, bermain games dan sebagainya. Kedua orang tuanya sampai kesal dengan kelakuan anaknya itu. Namun, anak tidak bisa disalahkan karena sekali lagi, apa yang dicontohkan orang tua itu yang juga dilakukan mereka. Begitu ibu, ayah, kakek, nenek atau siapa saja yang di hadapannya memegang gadget sambil bersantai dengan posisi tidur dan menikmati, maka anakpun menirunya. Jika dia sudah merasa senang maka anak pun kecanduan.

Syubhat

Veröffentlicht: Dezember 12, 2017 in Allgemein

Saya tidak mau memakan jamuan yang dihidangkan oleh orang yang tidak ikhlas. Ini namanya syubhat!“ Rini  berfikir sejenak apa yang dimaksud oleh Roula di tengah emosinya yang memuncak itu?

 

Waktu telah menunjukkan pukul 14.05 ketika mereka berdua kembali ke tempat bekerja. Siang hari itu Rini dan Roula diundang makan siang oleh dua orang rekannya satu divisi. Tujuan dari undangan tersebut adalah karena dua rekannya yaitu Doni dan Deri telah mendapatkan bonus dari perusahaan. Aturan tidak tertulis di divisi mereka ketika siapa saja yang mendapatkan bonus dari perusahaan maka hukumnya wajib untuk traktir semua temannya di satu divisi.

Hujan yang cukup deras mulai jam 11.10 tidak menggoyahkan Rini, Roula dan seluruh rekan satu divisi Doni dan Deri untuk pergi memenuhi undangan makan siang tersebut. Letak tumah makan yang telah ditentukan tidaklah jauh dari tempat kerja mereka. Namun, siang itu Deri tidak terlihat di kantor hingga menjelang acara dimulai. Pukul 12.30 semua undangan sudah memenuhi kursi yang telah direservasi Doni dan Deri sebelumnya.

Doni tampak tidak tenang karena hingga waktu yang telah disepakati Deri masih belum juga datang. Ia mencoba menelepon Deri berkali-kali. Namun, telepon tidak diangkat. Selang beberapa saat setelah itu, Doni menerima sms dari istri Deri. Ia mengabari Doni bahwa handphone Deri ketinggalan di rumah.

Acara makan siang bersama saat itu tanpa kehadiran Deri tetap dimulai. Doni memohon maaf kepada seluruh tamu undangan. Ia mengira kalau hujan deras sepertinya menghalangi Deri untuk pergi ke rumah makan tersebut. Beberapa teman yang lain menyangka kalau Deri tidak tahu alamat rumah makan ini. Namun, itu tidak mungkin karena mereka sudah sering makan di tempat tersebut.

Di kantor Deri terlihat tenang seperti tidak ada apa-apa bekerja menghadap monitor pc. Semua teman yang lain mulai kembali berdatangan. Ada yang terlihat kesal dengan tingkah laku Deri tersebut. Tapi ada yang menanggapi biasa saja karena Deri dikenal semua teman satu divisi sebagai orang yang menarik diri dari pergaulan. Mereka yang tampak kesal adalah terutama yang lebih senior. Roula memperlihatkan kekesalannya tersebut dengan muka yang tidak sedap dipandang siapa saja orang yang melihatnya. Saking kesalnya, ia bicara di keesokan hari kepada semua rekan kerjanya. Sebaiknya mereka mengembalikan uang traktiran yang sudah dikeluarkan Deri kalau memang dia tidak ikhlas. Menurutnya, itu sama saja dengan syubhat dan benar-benar haram. Sejak saat itu Roula benci terhadap Deri. Meskipun itu tidak berlangsung lama.

Difitnah Menzalimi

Veröffentlicht: Januar 31, 2016 in Allgemein

Hari itu, Selasa tanggal 14 Juli 2015. Beberapa hari menjelang hari raya. Tengah hari menjelang shalat dhuhur. Di kala semua muslim tengah menjalankan ibadah puasa. Seorang perempuan setengah baya tanpa tedeng aling-aling seperti yang kemasukan setan. Di dalam sebuah ruang perkantoran yang tidak begitu besar hanya ada seorang pegawai pria berumur 30-an tahun, seorang mahasiswi yang tidak jelas sedang melakukan apa, dan perempuan setengah baya tadi.

„Kenapa saya tidak dikasih tahu?“, perempuan setengah baya tadi memulai kemarahannya. Amarahnya tersebut ditujukan pada si pria yang kala itu memiliki istri yang tengah hamil tua. Muka perempuan tersebut merah padam seperti bara api dalam tungku.

„Soal apa bu?“, jawab si pria tenang. „Soal acara konferensi di Kualalumpur bulan november!!!“ Suara perempuan setengah baya menggelegar laksana membelah langit ketujuh.

Si pria kebingungan dengan jawaban nenek sihir tersebut. Mengapa dia ditanya tentang suatu hal yang dia sendiri tidak mengerti. Tak lama kemudian si pria teringat bahwa dia iseng dengan beberapa teman kerjanya untuk applied mengikuti konferensi di Kualalumpur tersebut. Tapi ia lupa, informasi itu didapat dari mana. Ia teringat kawannya yang berada di luar kota yang sangat rajin share informasi pada semua temannya di kantor. Beberapa saat kemudian, Desi yang sebenarnya tengah tugas luar kota memasuki ruangan. Si pria langsung mencari ‚perlindungan‘ dari terkaman macan yang ada di hadapannya itu. Ia menanyakan sumber informasi mengenai konferensi tersebut.

Desi yang semula datang dengan raut muka sumringah, seketika terlihat ketakutan dan menjawab „Itu kan semua orang dapat lewat email yang dikirim komunitas yang berkedudukan di Solo.“ Di tengah ketakutannya itu, Desi merogoh tasnya. Diambil dari dalam tas tersebut sebuah telpon genggam. Ia mencari email yang didapatnya beberapa bulan lalu tentang konferensi di Kualalumpur. Ia menunjukkan padaku email yang ditulis seorang pengurus di Solo itu. Tertulis dengan jelas nama serta alamat email perempuan setengah baya tadi. Email tersebut tak lupa ia tunjukkan juga pada perempuan yang kian murka.

„Itu kan emailku yang sudah lama gak dipake!!!“ Ia tidak mau tahu dengan alamat email yang sangat jelas terpampang namanya sendiri. Tak mau berdebat kusir si pria langsung menghubungi pengurus di Solo yang biasanya share info lewat mailing list komunitas. Ia berikan telpon genggam miliknya tersebut pada si perempuan setengah baya. Berbicara ditelpon dengan orang yang tidak terlalu ia kenal baik pun seolah tak mau tahu, pengurus itu dimurkainya. Ia tidak terima karena ia adalah orang satu-satunya yang tidak menerima info itu. Padahal ia merasa berhak atas semua itu. Perkara dia ikut atau tidak ke Kualalumpur itu masalah dia.

Tanpa bilang terima kasih ia kembalikan telpon genggam si pria. Terlihat matanya semakin ingin menerkam hewan di depannya.  Ia lalu meninggalkan ruangan dengan amarah yang tiada tara. Mulai saat itu si perempuan membenci si pria.

Tak cukup hanya membenci, yang ia tunjukkan dengan muka masamnya ketika memasuki ruangan, ia juga menganggap si pria itu telah mati. Tidak pernah ditegur. Sekalipun berpapasan ia seolah melihat sekelebat mahluk halus di hadapannya.

Beberapa kali si pria mengundang temannya untuk makan bersama dengan semua teman kantor. Sebagian besar datang ke acara yang dihelat si pria. Namun, perempuan setengah baya tadi ogah untuk memenuhi semua undangan si pria.

Kejadian demi kejadian membuat semakin hubungan keduanya merenggang. Hingga suatu hari ia dengan terang-terangan berkata dengan keras kepada beberapa teman kantornya. Ia senantiasa mendoakan orang yang menzaliminya agar diazab oleh Tuhan YME. Suatu doa dari seorang yang sudah cukup usia, berpendidikan tinggi, dan berkecukupan materi. Dalam rapat ia selalu berusaha untuk menjungkirbalikan semua kebiasaan selama ini yang sudah menjadi kebiasaan baik. Salah satunya ingin agar pungutan yang hanya 10.000 perak dihapuskan. Padahal dari 10.000 perak per bulan sari tiap pegawai kantor itu suatu saat dia pernah meminjamnya untuk kebutuhan hidupnya. Selain itu, dia dengan sangat arogan berkata „Pokoknya saya tidak mau mengerjakan hal yang akan MENYITA WAKTU saya!!!“ di forum rapat dengan dewan direksi.

Ia betul-betul merasa dizalimi oleh si pria yang juga menjadi pengurus komunitas yang berkedudukan di Solo. Pada saat debat tanggal 14 Juli 2015, ia berkata bahwa ia telah memutakhirkan data pada tahun 2011. Namun, ia kecewa karena datanya masih salah. Si pria sangat merasa heran  dan bingung. Ia diangkat menjadi pengurus barulah awal tahun 2015. Ketika tahun 2011 dia kebetulan sedang bertugas di Perancis. Adapun data yang diperoleh pengurus di Solo adalah warisan pengurus lama, termasuk alamat-alamat email yang menjadi alamat mailing list semua anggota. Rasa dizaliminya itu membawa fitnah yang sangat besar bagi si pria.

Ketika skripsi menjadi sebuah neraka dunia…

Veröffentlicht: April 27, 2014 in Allgemein

Sebelum saya menjadi seorang pengajar seperti saat ini, saya juga pernah mengalami masa sibuk harus menulis skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan pendidikan S1 saya. Pada saat kuliah, saya juga sudah beraktivitas di berbagai lembaga pendidikan di Bandung sebagai pengajar. Tercatat setidaknya ada empat tempat saya mengajar ketika itu. Sebagai salah seorang pengajar  saya juga dipercaya untuk menjadi pengurus organisasi guru. Undangan seminar, pelatihan, simposium dan masih banyak lagi tidak pernah saya lewatkan untuk saya ikuti. Selain itu, karena status saya yang masih menjadi mahasiswa, saya juga dipercaya untuk mengetuai sebuah acara besar bertaraf nasional untuk mahasiswa serumpun. Namun, dengan senang hati saya pergi hampir setiap hari ke perpustakaan Goethe Institut di Bandung untuk mencari bahan skripsi saya. Selalu ada yang bisa saya tulis setiap harinya dari bacaan saya tersebut. Selalu ada ide yang dapat dituangkan dengan membaca banyak buku di sana.

Proses bimbingan saya sebetulnya tidak terlalu moncer, karena saat itu salah satu dosen pembimbing skripsi saya sedang disibukkan proses pernikahannya. Tapi itu semua tidak terlalu menjadi hambatan yang harus dijadikan keluh kesah tak ada hentinya. Saya selalu berpikir, pasti nanti juga semuanya beres. Waktu ujian sidang skripsi terasa berlalu lebih cepat dari pada seharusnya. Draf skripsi saya saat itu belum pernah disentuh sekali pun oleh pembimbing, padahal waktu kurang dari sebulan lagi menuju ujian. Di samping itu, karena pendidikan saya  saat itu bahasa Jerman, maka ada keharusan skripsi ditulis dalam bahasa Jerman. Itu belum seberapa. Pada zaman saya, selain mahasiswa harus menulis skripsi, mereka juga harus membaca karya sastra berbahasa Jerman sebanyak sepuluh buah yang sudah ditentukan oleh pihak jurusan untuk dibuat sinopsisnya. Bacaan-bacaan itu pada saat ujian akan ditanyakan secara random oleh para penguji.

Setelah pembimbing saya selesai dengan semua prosesi pernikahannya, maka beliau menyediakan waktu untuk membimbing saya. Proses bimbingan cukup dua kali saja. Tidak terlalu banyak koreksian pada tulisan saya tersebut.

Waktu ujian tiba, cukup banyak mahasiswa yang mengikuti ujian pada saat itu. Ujian dilaksakan secara serentak pada hari yang sama untuk puluhan mahasiswa. Syukurlah saya dapat menjawab semua pertanyaan dari para penguji dengan penuh percaya diri. Hasil ujian diumumkan saat hari itu juga dan hasilnya adalah saya dapat meraih nilai maksimal dan menjadi lulusan terbaik satu jurusan pada saat wisuda. Gott sei Dank!

Masa tersebut sudah berlalu cukup lama. Sekarang saya sering memperhatikan mahasiswa yang sukanya mengeluh karena dapat koreksian tulisannya dari pembimbing, hingga mereka harus mencela pembimbing, menyalahkan semua keadaan, dan menganggap menulis skripsi seperti “dicelupkan ke neraka yang paling dasar”. Padahal kebanyakan dari mereka hanya berstatus sebagai mahasiswa yang tugas sebetulnya fokus saja pada tulisannya. Namun, beban yang diemban seolah seperti seorang kuli yang mengangkut puluhan kilo belerang di pegunungan Ijen. Entahlah, mungkin karena mahasiswa saat ini sudah terlalu dimanja keadaan, sehingga pada saat diberi tanggung jawab seperti itu saja sudah mengeluh tiada tara. Coba saja intip status-statusnya di account facebook, twitter, path atau posting di instagram mereka.

Time is (not) money

Veröffentlicht: Januar 3, 2014 in Allgemein
Schlagwörter:,

Bild

Foto: http://hellinahandbasket.net

Peribahasa yang mengatakan bahwa waktu itu adalah uang di Indonesia tidaklah berlaku, karena sebagian besar orang Indonesia masih belum menganggap arti pentingnya waktu. Hal itu bisa dibuktikan seperti di tempat-tempat umum seperti di stasiun kereta atau terminal misalnya, kita akan kesulitan menemukan jam. Di sekolah atau kampus sekalipun, itu jarang sekali ada. Suatu hari seorang praktikan asal Jerman yang sedang melakukan praktik mengajar di kampus mengajarkan tema “Uhrzeit” pada mahasiswa saya. Dia menjelaskan bahwa bagi orang Jerman waktu itu sangat berharga. Tak heran jika kita berada di Jerman banyak sekali akan menemukan jam, bahkan di jalan raya sekalipun. Namun, setelah beberapa lama ia tinggal di Indonesia, ia dapat menyimpulkan bahwa bagi sebagian besar bangsa ini waktu tidak begitu berarti. Ia banyak menemukan bukti seperti moda transportasi umum yang selalu terlambat, mahasiswa datang sering tidak tepat waktu, acara dimulai lebih dari waktu yang ditentukan, dan serentetan keterlambatan lainnya.

Pada tanggal 7 Desember 2013, saya mencoba menggunakan kereta Penataran Express dari Surabaya menuju Malang. Kereta diberangkatkan tepat seperti yang tertera di tiket, yaitu pukul 17.45. Kereta seharusnya tiba di Malang pada pukul 19.53 waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu antara kota Surabaya dan Malang. Namun, apa yang terjadi? Ketika kereta transit di stasiun Lawang, kereta harus berhenti selama 30 menit dari pukul 20.00 hingga 20.30. Tidak ada informasi apapun dari petugas. Saya yang penasaran kemudian bertanya pada kondektur berseragam PT KAI yang memeriksa karcis penumpang. Petugas tersebut menjawab dengan tenang, „Ada persimpangan.“ Jawaban yang keluar dari mulut petugas “tidak kurang“ dan „tidak lebih“ seperti itu. Entah apa yang ada di benak para pegawai PT KAI ketika merugikan penumpang seperti kejadian itu. Tidak ada sama sekali raut muka menyesal atau bersalah. Keadaan seperti ini tentunya tidak akan terjadi di negara yang memiliki budaya tepat waktu seperti di negara-negara Eropa. Setidaknya petugas akan menginformasikan pada pengeras suara di dalam kereta perihal masalah yang dihadapi kereta dan tentu saja meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Hal tersebut sudah barang tentu merugikan para penumpang. Tapi di Indonesia rupanya konsumen harus selalu dirugikan dan tidak memiliki hak untuk menuntut apapun. Seolah-olah perusahaan jasa seperti PT KAI tersebut berkata „Emang gue pikirin? Bodo amat lu mau ada janjian dengan rekan bisnis lu kek, lu mau ngelanjutin perjalanan berikutnya kek, sodara lu sekarat dan mau mati sekalipun bukan urusan gue! Lu mau pake kereta gue sukur, kagak pun ya gapapa! Yang penting lu bayar dan gue untung!“ Beruntung dengan minimnya tanggung jawab mereka itu, penumpang tidak ada satupun yang complain. Mereka happy happy saja kelihatannya, meskipun kereta baru tiba satu jam berikutnya, yaitu pada pukul 20.53. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah mulai hari ini ada perbedaan waktu antara Surabaya dengan Malang seperti Waktu Indonesia bagian Barat dengan Waktu Indonesia bagian Tengah selama satu jam?

Time is not money. Time is only time in this country.