Tamu dari Surabaya

Veröffentlicht: Mai 5, 2012 in Ekskursi

Sisa waktu satu bulan sebelum aku meninggalkan benua Eropa ini. Hampir setiap hari teman-teman Indonesia di berbagai kota mengundangku untuk dating ke rumahnya untuk terakhir kalinya sebelum aku pulang ke tanah air. Dalam seminggu pasti lebih dari tiga undangan makan siang di kota berbeda. Hari senin di Zürich, besoknya di Solothurn, beberapa hari berikutnya di Luzern lalu ke Basel dan hampir semua kota di Swiss. Begitulah sebulan terakhirku di Swiss. Aku sangat beruntung memiliki banyak sekali teman sekaligus saudara di sini. Mereka selalu dengan senang hati membantuku saat aku mengalami kesulitan. Berbagai pesta perpisahan pun sengaja disiapkan oleh teman-teman. Mulai dari seorang teman Malaysia, teman kuliah, teman-teman mahasiswa PPI Swiss, ibu-ibu, hingga pihak Kedutaan.

Sebulan sebelum kepulanganku KBRI Swiss mengadakan sebuah pagelaran untuk mempromosikan berbagai produk unggulan Indonesia pada masyarakat Swiss. Sehari sebelumnya aku dihubungi salah seorang pegawai KBRI. Ia bertanya padaku apakah aku bersedia untuk jadi guide seorang pengusaha peserta pameran? Karena saat itu aku telah menyelesaikan ujian thesisku, maka aku menyanggupinya. Di depan Bern Hauptbahnhof kami bertemu. Seorang pengusaha wanita asal kota Surabaya. Ia di sana rupanya tidak sendiri, tapi didampingi oleh putrinya.

Pihak KBRI saat itu sedang disibukkan dengan kunjungan tamu-tamu dari Jakarta. Oleh karena itulah, ia mempercayakan hal ini padaku. Aku membawa ibu pengusaha beserta putrinya itu jalan-jalan keliling kota Bern. Mereka menginap di Hotel Etap yang berlokasi tidak terlalu jauh dari pusat kota. Aku membawa mereka ke Rosengarten, Bärengraben, Bundesplatz, dan berbagai tempat menarik lainnya yang biasa aku tunjukkan ketika tamu-tamu datang berkunjung ke kota ini. Setelah cukup puas berkeliling kota, maka aku menghantar mereka ke hotel tempat menginap dan akan kembali menjemput mereka pada malam hari nanti. Kami berencana untuk melihat pertunjukkan laser di Bundesplatz.

Acara promosi produk berhasil diselenggarakan dengan cukup sukses. Keesokan harinya kami bertiga merencanakan untuk pergi ke kota Freiburg im Breisgau di Jerman. Aku memilih kota ini lantaran pada akhir pekan turis asing bisa memanfaatkan tiket yang bernama Schönes Wochenende Ticket. Harga satu tiket ini hanya 40 Euro dan berlaku untuk maksimal lima orang untuk seluruh Jerman. Namun, kereta yang bisa ditumpangi adalah kereta biasa selain ICE dan berlaku untuk satu hari penuh.

Di Freiburg aku menghubungi salah satu adik kelasku. Ia baru saja datang di Jerman beberapa bulan ini untuk program Au Pair. Kami bertemu di Mc Donald stasiun Freiburg. Bagiku ini adalah kunjungan yang kesekian kalinya di kota Freiburg ini. Jadi setiap jengkal kota pasti aku kenal. Seharian kami menghabiskan sabtu hari kami yang cerah ini di kota Freiburg yang indah. Sementara ibu dan anak tersebut belanja di pertokoan di Freiburg, aku dan temanku asyik bercakap-cakap karena sudah lama tidak pernah berjumpa. Kami berasal dari SMA dan kampus yang sama di Bandung. Tak terasa hari telah beranjak sore dan kami memutuskan untuk kembali ke Swiss. Rina, temanku pun aku ajak untuk pergi ke Basel. Setelah mendapatkan ijin dari keluarga angkatnya, maka kamipun menuju kota Basel. Di sana kami melihat-lihat kota. Pada malam harinya kami berpisah dengan Rina. Ia kembali lagi ke freiburg, sementara itu kami bertiga melanjutkan perjalanan ke Bern. Di tengah perjalanan aku menghubungi temanku di Lugano. Sebelumnya aku minta ia untuk ikut bersama perjalanan ke Milan pada hari senin nanti. Namun kabar duka yang aku terima darinya.  Ayahnya baru saja meninggal dunia. Untuk itu hari minggu besok ia harus pulang ke Jakarta. Keesokan harinya pada hari minggu, kami jalan-jalan di beberapa kota di Swiss seperti Luzern, Interlaken dan Thun.

Hari senin pagi sekali aku sudah mandi dan berlari menuju stasiun kereta dekat apartemen, Bern Bümpliz Nord. Aku ternyata salah memperkirakan waktu. Aku harus mengejar kereta pukul 06.49 ini untuk pergi ke Milan sepagi mungkin. Padahal waktu telah menunjukkan 06.44. keluar rumah dengan cepat aku berlari menuju stasiun. Jarak normal biasa dengan jalan cepat aku perlu waktu sekitar 7 menit. Sekarang sisa waktuku hanya kurang dari lima menit. Akupun melesat berlari di tengah dinginnya pagi di musim gugur ini. Aku tiba di stasiun kereta tepat pukul 06.49, tapi masih harus menaiki tangga terlebih dahulu. Ketika tiba dan aku pencet tombol pintu otomatis kereta, pintu tampak sudah tidak bisa dibuka lagi. Dengan pasrah aku membalikkan badan. Namun entah kenapa masinis kereta masih berbaik hati membukakan pintu, padahal waktu telah menunjukkan pukul 06.50. Akupun masuk kereta dengan kelelahan dan tanpa bisa membuka mata serta hampir pingsan. Tiga orang ibu di seberang kursi tampak melihatku dengan serius. Tapi aku sudah tak bisa membuka mataku ini lagi. Lima menit kemudian kereta tiba di stasiun kota. Aku menjelaskan kejadian tadi, tapi untungnya masih bisa pergi dengan kereta yang telah kami jadwalkan sebelumnya, karena jika terlambat maka kami harus menunggu sekitar satu jam lagi.

Kami tiba di kota Milan, Italia, relatif masih sangat pagi. Kami lalu membeli tiket transportasi harian untuk perjalanan di Milan ini. Kebetulan putri dari ibu pengusaha tersebut seorang desainer dan memiliki usaha di bidang fashion. Maka ajakanku untuk ke Milan tersebut disambut sukacita. Mereka ingin melihat bagaimana tren mode dunia saat ini. Selain itu putrinya juga memiliki usaha lain yaitu di bidang properti. Di depan katedral yang sangat terkenal di Milan, kami hendak berfoto. Tiba-tiba datang seorang laki-laki menyapa kami. „Assalamualaikum!“ Maka kamipun menjawab salam tersebut. Pria timur tengah tersebut kemudian memberikan segenggam jagung pada Ika, putri ibu pengusaha. Ia pun dengan polos mengambil jagung tersebut dan pria timur tengah tadi menyuruhku untuk mengabadikan Ika yang dikerubunin burung merpati. Namun karena aku berpikir pasti ia nanti harus membayar, maka aku tidak melakukannya. Pria tadi lalu menarik kamera dari tanganku. Lalu ia mengambil gambar. Setelah selesai ia pun meminta uang sebesar 20 Euro. Aku spontan menolak. Aku berbicara padanya bahwa itu adalah sebuah pemerasan. Ini bukan kali pertama di Italia aku mendapat pengalaman seperti ini karena sebelumnya pernah waktu di Roma dulu. Maka kamipun pergi dengan hanya memberi ia uang 5 Euro.

Tidak jauh dari lokasi tadi, aku lihat ada kios yang menjual es krim dan Maroni. Aku ingin mengganjal perutku dengan maroni. Namun entah kenapa penjual es krim salah pengertian. Disangkanya aku ingin membeli es krim. Padahal cuaca sedingin ini. Ia pun memarahiku dalam bahasa Italia. Beruntung aku tidak mengerti apa yang diucapkannya.

 

About these ads
Kommentare
  1. cewekbumi sagt:

    Saat membaca paragraf terakhir, saya langsung LOL :)) nice experience ;)

  2. iwa sobara sagt:

    masa sih? :D

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ photo

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s