Kalimat Eksplisit dan Implisit

Veröffentlicht: Mai 14, 2010 in Studi

Contoh kalimat-kalimat di dalam Bahasa Jerman berikut ini dikategorikan kalimat eksplisit (direkter Sprechakt), karena makna kalimatnya jelas dan tersurat .

  1. „Ich verspreche hiermit, X zu tun“. (Saya berjajnji akan mengerjakannya.)
  2. 2. „Hiermit taufe ich dieses Schiff auf den Namen Y“. (Perahu ini saya namakan Y.)

Kedua kata kerja di dalam kalimat-kalimat tersebut « versprechen » dan « taufen » merupakan kata kerja performa yang mengisyaratkan kalimat-kalimat di atas sebagai kalimat eksplisit. Artinya adalah bahwa si pembicara mengungkapkan sesuatu yang bermakna sama dengan apa yang diucapkannya. Akan tetapi, coba kita bandingkan dengan kalimat berikutnya:

„Kannst du mir mal das Salz reichen?“ (Bisakah kamu mengambilkan garam itu?)

Kalimat tersebut mengisyaratkan bahwa pembicara ingin agar pendengar mengambilkan garam tersebut untuknya (misalnya saat makan bersama). Namun, strategi yang digunakan oleh pembicara pada pendengar atau lawan bicaranya dalam kalimat tersebut adalah dengan cara mengajukan pertanyaan (eine Frage) tidal langsung menyuruh (eine Bitte). Kata kerja perintah (eine Bitte) dalam hal ini termasuk kategori tindak tutur ilokusi (illokutionärer Akt). Oleh karenanya, pendengar harus faham betul dengan maksud yang diutarakan oleh pembicara tersebut.

Secara kontrastif bisa kita lihat dari kedua contoh kalimat ini:

„Mach bitte das Fenster zu!“ (Tolong jendelanya ditutup!)

Ungkapan yang diutarakan oleh pembicara sangat jelas (Sprechintention wortwörtlich). Maka, kalimat tersebut bisa kita namakan kalimat eksplisit.

„Es ist kalt.“ (Dingin sekali di sini.)

Maksud yang diutarakan oleh pembicara pada kalimat ini diungkapkan secara tidak langsung atau tersurat (Sprechintention nicht wortwörtlich). Kalimat tersebut termasuk dalam kalimat implisit, karena maksud pembicara dapat diinterpretasikan berbeda oleh lawan bicaranya. Misalnya: pendengar diminta untuk menutup jendela rumah, pembicara ingin meminjam baju hangat, pembicara ingin agar lawan bicaranya mengecilkan AC di dalam ruangan tersebut, dan lain sebagainya. Apa yang dimaksudkan oleh pembicara tersebut akan mendapatkan respon yang tepat dari pendengar, jika pendengar memahami betul situasi pada saat itu.

Maka, dapat kita simpulkan bahwa kalimat

„Kannst du mir mal das Salz reichen?“ (Bisakah kamu mengambilkan garam itu?)

sama maknanya dengan

„Gib mir bitte das Salz!“ (tolong ambilkan garam itu!).

Sökeland (1980) menjelaskan bahwa baik itu kalimat eksplisit ataupun kalimat implisit harus dipahami secara simultan. Karena bisa jadi sebuah kalimat perintah atau imperatif tidak selamanya bermakna menyuruh atau meminta pendengar melakukan sesuatu, misalnya

„Rauchen verboten!“ (Dilarang merokok!)

Kalimat ini bisa dimaknakan, bahwa rokok tidaklah baik untuk kesehatan, atau bisa jadi juga isyarat bahwa hal tersebut bisa membawa malapetaka seperti kebakaran jika dilakukan di pom bensin, dan lain-lain.

Contoh kalimat lainnya adalah, seperti

„Weisst du, wie spät ist es?“ (Kamu tahu tidak sekarang jam berapa?)

Kalimat tanya di atas barangkali dimaksudkan pembicaranya bukan bertanya mengenai waktu saat itu menunjukkan pukul berapa, melainkan lebih dari itu. Misalnya seorang anak perempuan yang pulang larut malam sampai rumahnya. Lalu orang tuanya berkata demikian.

Atau bentuk kalimat futur seperti

„Nach fünf Minuten wird der Tee bitter.“ (Jika lebih dari lima menit, teh tersebut akan terasa pahit)

Yang dimaksud pembicara dalam hal ini adalah agar lawan bicaranya untuk menuangkan teh tersebut secepatnya.

Teori kesantunan berbahasa (Konversationsmaximen) yang dikemukakan oleh Grice dalam hal ini diperlukan, yakni:

Untuk pembicara à bersikaplah apa adanya serta relevan!

Untuk pendengar à carilah makna sesungguhnya!

Dengan demikian, pembicaraan pasti tidak akan mengalami kesulitan. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa keduanya haruslah memiliki perspektif yang sama.

Namun, permasalahan selanjutnya adalah bahwa prinsip kesantunan berbahasa ini adakalanya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun demikian, dalam banyak situasi kita sebagai pendengar dapat mengerti apa yang diinginkan oleh lawan bicara kita. Fenomena kebahasaan seperti ini disebut dengan istilah implikatur.

Menurut Grice, konsep implikatur berbahasa dalam percakapan sehari-hari dapat kita pahami dari:

  • Arti ucapan;
  • Prinsip-prinsip interaksi serta kerja sama pada saat berbicara ; dan
  • Pengetahuan tentang konteks.

Grice (1978) menambahkan lewat teori implikaturnya tersebut, bahwa senantiasa seorang pembicara berusaha lebih banyak menjelaskan yang diutarakannya secara tersurat, sementara pendengar berusaha memahaminya secara harfiah.

Contoh implikatur dapat kita cermati pada dialog berikut ini:

A memberhentikan mobilnya di sebelah mobil B, kemudian A membuka kaca jendela mobilnya sambil berkata

A: I’m out of gas.

B: There’s a Shell station after the next stop light.

A: Thanks.

Menurut pemahaman logis, percakapan tersebut tidaklah cocok satu sama lain. Akan tetapi, jika pernyataan yang dilontarkan oleh B dapat diterima oleh A, maka percakapan bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh A.

Sumber:

Grice, H. P. H. Paul. 1978:  Further notes on logic and conversation / H. Paul Grice. -  In:  Pragmatics

Sökeland, Werner. -  Indirektheit von Sprechhandlungen : eine linguistische Untersuchung / Werner Sökeland. -  Tübingen : Max Niemeyer, 1980

Wikipedia

About these ads

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ photo

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s