Ketika skripsi menjadi sebuah neraka dunia…

Veröffentlicht: April 27, 2014 in Allgemein

Sebelum saya menjadi seorang pengajar seperti saat ini, saya juga pernah mengalami masa sibuk harus menulis skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan pendidikan S1 saya. Pada saat kuliah, saya juga sudah beraktivitas di berbagai lembaga pendidikan di Bandung sebagai pengajar. Tercatat setidaknya ada empat tempat saya mengajar ketika itu. Sebagai salah seorang pengajar  saya juga dipercaya untuk menjadi pengurus organisasi guru. Undangan seminar, pelatihan, simposium dan masih banyak lagi tidak pernah saya lewatkan untuk saya ikuti. Selain itu, karena status saya yang masih menjadi mahasiswa, saya juga dipercaya untuk mengetuai sebuah acara besar bertaraf nasional untuk mahasiswa serumpun. Namun, dengan senang hati saya pergi hampir setiap hari ke perpustakaan Goethe Institut di Bandung untuk mencari bahan skripsi saya. Selalu ada yang bisa saya tulis setiap harinya dari bacaan saya tersebut. Selalu ada ide yang dapat dituangkan dengan membaca banyak buku di sana.

Proses bimbingan saya sebetulnya tidak terlalu moncer, karena saat itu salah satu dosen pembimbing skripsi saya sedang disibukkan proses pernikahannya. Tapi itu semua tidak terlalu menjadi hambatan yang harus dijadikan keluh kesah tak ada hentinya. Saya selalu berpikir, pasti nanti juga semuanya beres. Waktu ujian sidang skripsi terasa berlalu lebih cepat dari pada seharusnya. Draf skripsi saya saat itu belum pernah disentuh sekali pun oleh pembimbing, padahal waktu kurang dari sebulan lagi menuju ujian. Di samping itu, karena pendidikan saya  saat itu bahasa Jerman, maka ada keharusan skripsi ditulis dalam bahasa Jerman. Itu belum seberapa. Pada zaman saya, selain mahasiswa harus menulis skripsi, mereka juga harus membaca karya sastra berbahasa Jerman sebanyak sepuluh buah yang sudah ditentukan oleh pihak jurusan untuk dibuat sinopsisnya. Bacaan-bacaan itu pada saat ujian akan ditanyakan secara random oleh para penguji.

Setelah pembimbing saya selesai dengan semua prosesi pernikahannya, maka beliau menyediakan waktu untuk membimbing saya. Proses bimbingan cukup dua kali saja. Tidak terlalu banyak koreksian pada tulisan saya tersebut.

Waktu ujian tiba, cukup banyak mahasiswa yang mengikuti ujian pada saat itu. Ujian dilaksakan secara serentak pada hari yang sama untuk puluhan mahasiswa. Syukurlah saya dapat menjawab semua pertanyaan dari para penguji dengan penuh percaya diri. Hasil ujian diumumkan saat hari itu juga dan hasilnya adalah saya dapat meraih nilai maksimal dan menjadi lulusan terbaik satu jurusan pada saat wisuda. Gott sei Dank!

Masa tersebut sudah berlalu cukup lama. Sekarang saya sering memperhatikan mahasiswa yang sukanya mengeluh karena dapat koreksian tulisannya dari pembimbing, hingga mereka harus mencela pembimbing, menyalahkan semua keadaan, dan menganggap menulis skripsi seperti “dicelupkan ke neraka yang paling dasar”. Padahal kebanyakan dari mereka hanya berstatus sebagai mahasiswa yang tugas sebetulnya fokus saja pada tulisannya. Namun, beban yang diemban seolah seperti seorang kuli yang mengangkut puluhan kilo belerang di pegunungan Ijen. Entahlah, mungkin karena mahasiswa saat ini sudah terlalu dimanja keadaan, sehingga pada saat diberi tanggung jawab seperti itu saja sudah mengeluh tiada tara. Coba saja intip status-statusnya di account facebook, twitter, path atau posting di instagram mereka.

Time is (not) money

Veröffentlicht: Januar 3, 2014 in Allgemein
Schlagwörter:,

Bild

Foto: http://hellinahandbasket.net

Peribahasa yang mengatakan bahwa waktu itu adalah uang di Indonesia tidaklah berlaku, karena sebagian besar orang Indonesia masih belum menganggap arti pentingnya waktu. Hal itu bisa dibuktikan seperti di tempat-tempat umum seperti di stasiun kereta atau terminal misalnya, kita akan kesulitan menemukan jam. Di sekolah atau kampus sekalipun, itu jarang sekali ada. Suatu hari seorang praktikan asal Jerman yang sedang melakukan praktik mengajar di kampus mengajarkan tema “Uhrzeit” pada mahasiswa saya. Dia menjelaskan bahwa bagi orang Jerman waktu itu sangat berharga. Tak heran jika kita berada di Jerman banyak sekali akan menemukan jam, bahkan di jalan raya sekalipun. Namun, setelah beberapa lama ia tinggal di Indonesia, ia dapat menyimpulkan bahwa bagi sebagian besar bangsa ini waktu tidak begitu berarti. Ia banyak menemukan bukti seperti moda transportasi umum yang selalu terlambat, mahasiswa datang sering tidak tepat waktu, acara dimulai lebih dari waktu yang ditentukan, dan serentetan keterlambatan lainnya.

Pada tanggal 7 Desember 2013, saya mencoba menggunakan kereta Penataran Express dari Surabaya menuju Malang. Kereta diberangkatkan tepat seperti yang tertera di tiket, yaitu pukul 17.45. Kereta seharusnya tiba di Malang pada pukul 19.53 waktu setempat. Tidak ada perbedaan waktu antara kota Surabaya dan Malang. Namun, apa yang terjadi? Ketika kereta transit di stasiun Lawang, kereta harus berhenti selama 30 menit dari pukul 20.00 hingga 20.30. Tidak ada informasi apapun dari petugas. Saya yang penasaran kemudian bertanya pada kondektur berseragam PT KAI yang memeriksa karcis penumpang. Petugas tersebut menjawab dengan tenang, „Ada persimpangan.“ Jawaban yang keluar dari mulut petugas “tidak kurang“ dan „tidak lebih“ seperti itu. Entah apa yang ada di benak para pegawai PT KAI ketika merugikan penumpang seperti kejadian itu. Tidak ada sama sekali raut muka menyesal atau bersalah. Keadaan seperti ini tentunya tidak akan terjadi di negara yang memiliki budaya tepat waktu seperti di negara-negara Eropa. Setidaknya petugas akan menginformasikan pada pengeras suara di dalam kereta perihal masalah yang dihadapi kereta dan tentu saja meminta maaf atas ketidaknyamanan ini. Hal tersebut sudah barang tentu merugikan para penumpang. Tapi di Indonesia rupanya konsumen harus selalu dirugikan dan tidak memiliki hak untuk menuntut apapun. Seolah-olah perusahaan jasa seperti PT KAI tersebut berkata „Emang gue pikirin? Bodo amat lu mau ada janjian dengan rekan bisnis lu kek, lu mau ngelanjutin perjalanan berikutnya kek, sodara lu sekarat dan mau mati sekalipun bukan urusan gue! Lu mau pake kereta gue sukur, kagak pun ya gapapa! Yang penting lu bayar dan gue untung!“ Beruntung dengan minimnya tanggung jawab mereka itu, penumpang tidak ada satupun yang complain. Mereka happy happy saja kelihatannya, meskipun kereta baru tiba satu jam berikutnya, yaitu pada pukul 20.53. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah mulai hari ini ada perbedaan waktu antara Surabaya dengan Malang seperti Waktu Indonesia bagian Barat dengan Waktu Indonesia bagian Tengah selama satu jam?

Time is not money. Time is only time in this country. 

EU-Präsentationen

Eine informative Web-Site über die EU, mit Power-Point Präsentationen.

Verweis  —  Veröffentlicht: Juni 23, 2013 in Allgemein

SERAMBI Jazz: R&R Duo

Veröffentlicht: Juni 23, 2013 in Allgemein

 

 

Untuk pertama kalinya Goethe Institut menyelenggarakan konser Jazz dalam rangka program SERAMBI Jazz di Surabaya. Duo R&R yang akan tampil di Vista Jazz Bake and Bistro, merupakan proyek terbaru Riza Arshad dan Robert Mulyarahardja.

Riza dan Robert sudah lama berteman dekat serta keduanya saling berbagi minat dan kegemaran dalam bermain musik jazz. Mereka sudah bermain dalam berbagai format. ”Target utama kami”, kata Riza Arshad, ”adalah menciptakan suasana yang mampu menggerakkan dan menginspirasi pendengar, terutama para generasi muda. Kami ingin memberi mereka petunjuk bagaimana cara menciptakan sebuah dialog dalam musik. Dan tantangan terbesar dari semua itu adalah bagaimana kami – sebagai individu – mendidik diri kami sendiri untuk belajar menghormati, menghargai dan memahami satu sama lain melalui pertunjukan musik.”

Riza Arshad merupakan salah satu musisi jazz Indonesia paling penting sebagai penyambung antara musik tradisional dengan musik jazz: Melalui proyek bernama “simakDialog”, dia mengganti instrumen drum dengan instrumen tradisional Sunda, ”Kendang”, dan menggunakan bahan-bahan logam sebagai bagian dari perkusi. Enam album telah berhasil dirilis oleh proyek ”simakDialog” selama 2 dekade terakhir dan mendapat penghargaan dari para kritikus serta musisi jazz seluruh dunia. Bekerja sama dengan konduktor orkestra Aksan Sjuman, Riza membentuk sebuah grup funk ”#3scapes”, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Trioscapes. Selain berprofesi sebagai musisi, Riza saat ini juga bekerja sebagai kurator program Serambi Jazz yang diluncurkan oleh Goethe Institut Jakarta pada tahun 2009, dan Jazz Aula Barat ITB. Secara konsisten, dia terus memberi masukan dan dukungan kepada para musisi jazz muda untuk mengembangkan diri mereka dengan mengajaknya bermain sepanggung. Riza Arshad berpendapat: ”Bagi saya, musik jazz adalah sebuah budaya dengan berbagai macam isi yang benar-benar harus kita pahami. Otak saya menciptakan musik jazz dalam ranah yang luas”.

Robert Mulyarahard ja adalah seorang gitaris jazz dan dosen yang tinggal di Jakarta. Pada tahun 2008, dia berhasil lulus bergelar Performance dari Sekolah Musik Berklee. Setelah kembali ke Indonesia, Robert ikut andil dalam mendirikan ”The Shadow Puppets Quartet”, sebuah proyek kerjasama yang berhasil merilis dua album dan tak terhitung lagi tampil dalam berbagai panggung dan festival di seluruh tanah air. Dia juga pernah berkolaborasi dengan berbagai musisi dan grup seperti: Joe Lovano di Boston (2008) dan orkestra The Charlie Haden Liberation pada Festival Musik Mosaic (2011) di Singapura. Robert Mulyarahardja juga merupakan anggota aktif dari The Singapore based Orchestral Paradigm, Kwintet Bubi Chen dan seorang partner duet dengan Riza Arshad. Saat ini Robert adalah Ketua Jurusan Seni Pertunjukan di Institut Musik indonesia serta menjadi pengajar dalam kuliah Theory dan Ensemble di Universitas Pelita Harapan.

Tiket gratis, pendaftaran di info@wisma-jerman.or.id.

 

Deutsch


SERAMBI Jazz: R&R Duo

 

Zum ersten Mal veranstaltet das Goethe Institut in Surabaya ein Jazzkonzert im Rahmen seines SERAMBI Jazz Programms. Das Duo R&R, das im Vista Jazz Bake and Resto auftreten wird, ist eines der jüngsten Projekte der indonesischen Musiker Riza Arshad und Robert Mulyarahardja.

Riza und Robert sind seit vielen Jahren gute Freunde und teilen das Interesse und die Leidenschaft für Jazz-Musik. Sie haben bereits in verschiedenen Formationen zusammen gespielt. „Unser wichtigstes Ziel“, sagt Riza Arshad“, „ist es, eine Atmosphäre zu schaffen, die unsere Zuhörer inspiriert und bewegt. Dabei liegt uns die jüngere Generation besonders am Herzen. Wir möchten ihnen vermitteln was es heißt, einen Dialog zwischen den Kulturen zu schaffen. Die größte Herausforderung ist dabei wie wir – als Individuen – uns selbst dazu erziehen, respektvoll miteinander umzugehen, uns gegenseitig schätzen und uns in uns in unseren musikalischen Darbietungen untereinander verstehen.

Riza Arshad ist einer der wichtigsten indonesischen Jazz-Musiker, der sich selbst als Mittler zwischen traditioneller Musik und Jazz sieht. In seinem Projekt „simakDialog“ ersetzt er beispielsweise das Schlagzeug mit den tradionellen Sundanesischen Trommeln (Kendang) und verwendet Blechspielzeug als Teil der Percussion. Sechs Alben wurden mit „simakDialog“ in den letzten zwei Jahrzehnten veröffentlicht. Zusammen mit Aksan Sjuman gründete Riza das Funk-Ensemble „# 3scapes“, auch bekannt als Trioscapes. Neben seinen Auftritten als Musiker arbeitet Riza derzeit als Kurator des Serambi-Jazz-Programms, welches 2009 vom Goethe-Institut Jakarta ins Leben gerufen wurde. Er berät und unterstützt unablässig jüngere Jazzer und fordert sie dazu auf, mit ihm auf der Bühne zu spielen. Riza Arshad sagt selbst: „Für mich kann Jazz Werte vermitteln, die wir verstehen müssen. In weiten Bereichen produziert mein Gehirn Jazz.”

Robert Mulyarahardja ist Jazz-Gitarrist und Dozent. Er lebt in Jakarta. 2008 graduierte Robert Mulyarahardja vom Berklee College of Music. Nach seiner Rückkehr nach Indonesien gründete er das „Shadow Puppets Quartett“. Das Quartett hat bereits zwei Alben veröffentlicht und auf unzähligen Festivals und Bühnen gespielt. Zudem hat Robert mit renommierten Musikern und Formationen zusammen gearbeitet, wie mit „Joe Lovano“ in Boston (2008) oder dem „Charlie Haden Liberation Orchestra“ auf dem „Mosaic Music Festival“ (2011). Robert Mulyarahardja ist ein aktives Mitglied des in Singapur ansässigen Orchestral Paradigm sowie des letzten Bubi Chen Quintets und er ist Duo-Partner von Riza Arshad. Derzeit ist er zudem Leiter der „Performance Departments“ des „Indonesian Music Institutes“ sowie Dozent an der Universitas Pelita Harapan.

Tickets sind umsonst, Anmeldung durch info@wisma-jerman.or.id

 

Touristische Attraktionen In Lumajang Ost Java

Veröffentlicht: Juni 23, 2013 in Allgemein

RANU BEDALI

Ranu Bedali ist ein unberührter See mit einer sehr bezaubernden Schönheit. Dieses Touristenziel liegt auf einer Höhe von 700 Metern über dem Meeresspiegel. Der See ist ca. 25 Hektar groß. Ranu Bedali befindet sich in der Ortschaft von Ranu Bedali, im Bezirk Ranuyoso. Dieser See grenzt an Lumajang im Norden und gehört zu einem der dreieckigen Seen. Ranu Bedali kann sowohl mit einem Motorrad als auch ein Auto erreicht werden.

RANU KLAKAH

Ranu Klakah liegt im Dorf Tegal Randu im Bezirk Klakah. Er ist etwa 5 Km von Ranu Bedali entfernt. Wie Ranu Bedali, Ranu Klakah gehört zu einem der dreieckigen Seen. Dieser See hat atemberaubende natürliche Schönheit, weil er frische Luft hat und in der Nähe von dem Lamongan Berg liegt. Man kann dort viel unternehmen. Speed ​​Boat, Kajak, Jet Ski, Swan Boat, Bambusfloß, Fischenteich, Fischmarkt sowie gebratene Fische, Mehrzweckhalle, Hotel und  Sportszentum stehen dort zur Verfügung. Ranu Klakah kann sowohl mit einem Motorrad als auch ein Auto erreicht werden.

RANU PAKIS

Ranu Pakis ist ein See, der einen schönen Panoramablick und kühle Luft hat. Da es eine Vielzahl von Spezialitäten aus frischen Fischen gibt, können deshalb die Touristen nicht nur seine natürliche Schönheit, sondern auch eine kulinarische Tour genießen. Ranu Pakis liegt im Dorf Ranu Pakis, im Bezirk Klakah. Ranu Pakis ist etwa 1 km von Ranu Klakah entfernt. Ranu Pakis kann sowohl mit einem Motorrad als auch ein Auto erreicht werden.

RANU PANE

Ranu Pane liegt im Dorf Ranupane, im Bezirk Senduro. Ranu Pane hat eine sehr schöne Landschaft und kühles Wetter, weil es sich auf den Hängen des Semeru Berges im Nationalpark der Bromo Tengger Semeru befindet und der einzige Weg zum Gipfel des Semeru ist. Ranu Pane kann von Stadt Lumajang ca. 25 Km mit Motorrädern oder Autos erreicht werden. Hier gibt es viele Homestays, die meistens von den ausländischen Touristen beliebt sind.

RANU REGULO

Ranu Regulo befindet sich angrenzend an Ranu Pane im Dorf Ranupane, etwa 25 km von der Stadt Lumajang. Ranu Regulo hat eine sehr schöne Natur und kühle Luft. Ranu Regulo ist eine gute Gegend zum Camping machen. Hier können die Touristen die natürliche Schönheit und kühle Luft genießen.

RANU KUMBOLO

Ranu Kumbolo ist ein See im Dorf Ranu Pane, im Bezirk Senduro und der einzige Weg zum Gipfel des Semeru Berges. Ranu Kumbolo wird von vielen in- und ausländischen Touristen wegen der Schönheit der unberührten Natur und der kühlen Luft besucht.  Außerdem steht hier ein Campingplatz für Bergsteiger zur Verfügung, bevor sie an die Spitze des Semeru Berges steigen.

RANU LADING

Ranu Lading ist ein See in der Mitte des in der niederländischen Kolonialzeit Kaffee-Plantage, im Sumberwringin Dorf, in der Nähe des Sees Klakah. Hier gibt es eine Hütte, die eine von der Kolonialherrschaft der Niederlande ist. Dennoch ist die Hütte noch gut erhalten. Der See ist etwa 25 km von der Stadt Lumajang entfernt.

Di mana anda bulan madu?

Veröffentlicht: Juni 18, 2013 in Allgemein

Hari ini saya dipusingkan dengan email di yahoo saya. Tiba-tiba saja email tersebut tidak bisa dibuka. Kata sandi yang saya masukan berkali-kali ditolak. Saya yakin 100%, bahwa kata sandi tersebut valid karena selama ini saya tidak mengubahnya. Setelah saya mencari informasi di google tentang kasus yang sama, tips yang saya dapatkan adalah dengan memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook, google+, atau twitter untuk login ke akun email Yahoo. Namun, lagi-lagi tidak berhasil. Masalah besar yang saya alami yaitu ketika Yahoo memberikan kode verifikasi yang bisa saya dapatkan via email lain yang saya daftarkan atau no hand phone. Celakanya adalah keduanya sudah tidak aktif. Di tengah kebingungan saya ersebut, kemudia saya coba kembali untuk login dengan kata sandi yang sama, tapi masih saja belum berhasil. Lagi-lagi Yahoo memberi alternatif pada saya untuk mendapatkan kode verifikasi. Kali ini ada tiga pilihan, yaitu sms atau voice lewat nomor hand phone yang kita cantumkan saat kita mengisi data di akun email Yahoo kita, email alternatif, dan pilihan terakhir adalah pertanyaan rahasia. Saya sebetulnya pesimistis dapat menjawab dua pertanyaan rahasia tersebut, karena terakhir saya mengeditnya pada bulan mei tahun 2009. Namun, saya tidak putus asa akan hal itu. Pertanyaan pertama adalah “Di mana anda bulan madu?” Pertanyaan yang tidak sulit untuk dijawab. Akan tetapi, jawaban demi jawaban yang saya masukan ternyata meleset. Saya mencoba memasukkan nama-nama tempat yang pernah dan ingin saya kunjungi, tapi salah semua. Akhirnya saya memasukan sebuah nama Negara dan jawabannya benar. Pertanyaan berikutnya adalah “Siapakah nama belakang boss  pertama anda?” Untuk menjawab pertanyaan ini, saya hanya cukup menyebutkan dua nama boss saya dan BINGO! Email saya di Yahoo bisa kembali aktif. Pesan dari kejadian ini adalah jangan pernah menyepelekan pertanyaan rahasia. Saat kita menjawabnya, usahakan jawaban tersebut yang riil dan tidak mengada-ada.

TestAs

Veröffentlicht: März 5, 2013 in Allgemein

Anmeldung zur TestAs-Prüfung

Liebe TestAs-Prüfungsteilnehmer,

Melden Sie sich bitte für den TestAs-Prüfungstermin an.
Die Anmeldungsfrist ist am 15.3.2013.
Zur Anmeldung bitte klicken:

http://www.testas.de

Für weitere Fragen stehe ich Ihnen zur Verfügung.

Iwa Sobara, M.A.